Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Rencana Jahat


__ADS_3

Malam hari tiba dan waktu sudah menunjukkan delapan malam. Sementara itu, Hana mengirim pesan kepada Reta, mereka akan bertemu di suatu tempat.


Kemudian Hana mengendarai sepeda motornya menuju suatu tempat. Setibanya di tempat yang dituju, Hana kembali mengirim pesan kepada Reta, dan tak lama Reta datang menghampiri Hana.


"Gimana, kita jadi ke rumah sakit?" tanya Reta.


Hana mengangguk, kemudian kedua gadis itu mengendarai sepeda motornya masing-masing menuju tempat yang mereka sudah rencanakan.


Kini mereka berdua sampai di sebuah rumah sakit, dan setelah memarkirkan sepeda motornya masing-masing, mereka berdua masuk ke dalam.


Seorang perawat menyambut mereka berdua. "Selamat malam Nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Em, Sus, kita mau menjenguk Bu Sri, di kamar mana, ya?" sahut Hana sopan.


"Maaf, kalian siapanya?" tanya perawat tersebut tanpa curiga sedikitpun.


"Kita saudaranya," jawab Hana lagi sedangkan Reta tidak banyak bicara.


"Oh, mari saya antar ke kamarnya." Perawat itu berjalan diikuti kedua gadis di belakangnya. Kini mereka sudah sampai di depan ruang rawat Ibu Sri.


"Ini kamarnya pasien atas nama Ibu Sri, silahkan kalian masuk, saya tinggal ya," kata perawat itu sambil tersenyum ramah.


"Baik, Sus, terimakasih," angguk Hana.


Setelah perawat itu pergi, kedua gadis itu masuk ke dalam. Mereka berjalan mendekati seorang wanita yang tengah terbaring namun tidak tidur. Bu Sri yang menyadari kedatangan kedua gadis yang dia kenal, pun menoleh ke arah mereka.


"Lho, Hana, Reta? Tumben?"


"Iya, Bu, saya sama Reta mendengar kabar, kalau Ibu masuk rumah sakit. Dan maaf kita baru sempat jenguk Ibu," tutur Hana bersikap sesopan mungkin.


Bu Sri tersenyum. "Tidak apa-apa, oh iya kalian tidak bersama Aisyah?"


Hana dan Reta pun saling berpandangan, kemudian Hana menatap Bu Sri.


"Tidak, Bu, karna Aisyah sekarang jarang di rumah," ujar Hana santai.


"Iya, Nak, dia sekarang kerja di kafe," kata Bu Sri berusaha menjelaskan kepada kedua gadis tersebut.


"Kerja di kafe? Kafe apa, Bu?" Hana mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aisyah bilang sih, kafe makanan," jawab Bu Sri tenang.


"Tapi ...." Hana menghentikan ucapannya.


"Tapi apa, Nak?" Bu Sri ikut mengerutkan keningnya merasa heran.


"Em sebelumnya saya minta maaf, Bu. Begini, kalau saya dengar-dengar sih Aisyah katanya kerja di hotel melayani om-om."


Bu Sri terbelalak mendengar pengakuan Hana. "Huh? Kamu yakin?"


"I-iya, Bu, sebentar." Hana segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas mungilnya, kemudian mencari gambar Aisyah sedang bersama Hassan di depan sebuah hotel dalam sebuah galeri yang dia ambil tempo hari, kemudian memperlihatkan kepada Bu Sri.


Kedua bola mata Wanita paruh baya itu kembali membulat. Jantungnya terasa hampir copot, dia seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"A-Aisyah?" Mariam memperhatikan Aisyah dalam galeri ponsel Hana. Kemudian netranya beralih menatap pria yang berada di sebelah Aisyah. Bu Sri merasa tidak asing dengan pria tersebut.


'Itu bukannya ....' Bu Sri membatin namun tak melanjutkan ucapannya.


"Ya Tuhan, apa benar Aisyah bekerja seperti itu?" lirih Bu Sri.


Hana dan Reta pun kembali saling tatap. Kemudian Hana beralih menatap Bu Sri. "Saya juga tidak tahu pasti, Bu. Saya hanya dengar dari tetangga saja dan saya kasih tahu Ibu, bukan niat apa-apa tapi saya hanya kasihan saja sama Ibu."


"Jadi, benar apa yang saya dengar dari beberapa tetangga tempo hari yang lalu, kalau Aisyah memang bekerja menjual diri? Dan barang-barang mewah yang dia beli setiap minggunya itu, hasil dari menjual diri ... ya ampun Syah, kenapa kamu melakukan hal senekat itu, nak? Ibu tahu niat kamu baik, tapi tidak dengan cara itu juga, ibu malu. Pekerjaan itu adalah pekerjaan hina, Syah."


Hana dan Reta terkejut, mereka saling berpandangan ....


"Duh, gimana nih? Dia pingsan," ujar Hana kepada Reta.


"Kok gimana, bukannya ini rencana kamu?" tegas Reta.


"Aku kan hanya kasih tahu Bu Sri saja yang sebenarnya tentang Aisyah," kata Hana membela diri.


"Ya sudah kita pulang saja, yuk," ajak Reta mendadak merasa cemas.


Hana mengangguk kemudian mereka keluar dari ruangan, dan berjalan keluar. Mereka berpapasan dengan seorang perawat yang tadi mengantar ke ruang rawat Bu Sri.


"Selamat malam, apakah sudah selesai menjenguknya?" tanya perawat itu.


"Em, su-sudah, Sus. Kita mau pulang karna sudah malam," gagap Hana merasa tidak tenang.

__ADS_1


"Baik, silahkan," kata perawat itu ramah.


Hana dan Reta berjalan keluar rumah sakit dengan tergesa-gesa. Mereka segera mengendarai sepeda motornya masing-masing.


****


Keesokan hari Aisyah baru saja selesai mandi, setelah itu dia membuat mie instan untuk sarapan pagi karena gadis itu sedang tidak bernafsuu makan nasi.


Setelah mie matang, Aisyah segera menyantapnya. Namun baru saja Aisyah memasukkan sendok berisi mie ke dalam mulutnya, mendadak perasaannya tidak enak.


'Kok tiba-tiba perasaanku nggak enak ya, ada apa ini?' Aisyah membatin sambil mengaduk-aduk mie dalam mangkuk, dan mendadak saja selera makannya hilang.


Dan seketika itu juga Aisyah teringat akan ibunya ....


"Ibu ... aku harus ke rumah sakit sekarang juga, semoga ibu nggak kenapa-napa," pikir Aisyah kemudian mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih dan meminumnya. Dia tak menghabiskan sarapannya.


Setelah itu Aisyah mengendarai sepeda motornya menuju ke rumah sakit. Sesampainya, dia memarkirkan sepeda motornya dan berlari masuk ke dalam. Sampai di depan ruangan tempat Bu Sri dirawat, Aisyah berpapasan dengan Dokter.


"Dokter, gimana keadaan ibu saya?" tanya Aisyah harap-harap cemas.


Dokter menarik napas dalam-dalam, sambil menatap Aisyah. "Nona yang sabar ya, ibu anda sekarang koma."


Aisyah pun terbelalak. "Huh? Kok bisa, Dok? Bukannya kemarin sudah sehat, dan dua hari lagi sudah boleh pulang?"


"Benar, tapi tadi suster bilang semalam ada dua orang perempuan menjenguk ibu anda, mereka bilang tetangga ibu anda," papar sang Dokter.


Aisyah mengerutkan keningnya. " Tetangga ibu saya? Siapa ya, Dok?"


"Entahlah, saya pun baru datang hari ini, dan maaf atas keteledoran kami dan juga pihak rumah sakit, tidak menyelidiki lebih dulu orang yang ingin menjenguk pasien," kata Dokter itu.


"Terus, ibu saya kapan sehatnya, Dok? Kapan dia boleh pulang?" cicit Aisyah.


"Nona yang sabar, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik, selebihnya kita serahkan kepada yang yang kuasa," ucap Dokter dengan nada berat.


Aisyah mendadak lemas ....


"Oh ya, maaf juga ibu anda saat ini sedang ditangani secara khusus, jadi anda belum bisa menjenguk dulu," lanjut sang dokter.


"Baik, Dok, saya pulang dulu, tapi tolong lakukan yang terbaik untuk ibu saya," lirih Aisyah yang netranya sudah basah.

__ADS_1


"Tentu saja kami akan melakukan yang terbaik untuk ibu anda," sahut sang dokter.


Aisyah pun membalikkan tubuhnya, dan berjalan keluar rumah sakit. Dia mengendarai sepeda motornya dengan tidak fokus.


__ADS_2