Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Debat PaSuTri


__ADS_3

Kini Hassan tiba di rumahnya, Hanum menyambut suaminya dengan raut wajah tidak bersahabat disertai senyum kecut.


"Pah, kamu ini mau sampai kapan seperti ini terus? Pulang kantor malamnya keluar lagi alasan ketemu klien. Apa kamu sudah bosan denganku? Apa karna aku tidak bisa hamil? Atau jangan-jangan kamu punya ...."


"Stop! Jangan bilang kalau kamu curiga, aku punya simpanan." Hassan menyela ucapan Hanum dengan lantang, walau sebenarnya pria itu pun gemetar.


Hanum pun terdiam, bagaimanapun wanita itu masih patuh terhadap suaminya. Hassan menatap wajah istrinya dalam-dalam kemudian mengulurkan tangan dan memeluknya, menekan kepala sang istri lalu menciuumnya dengan ganas.


Hanum hanya pasrah menerima ciuuman dari suaminya. Dia mendadak bergairah, namun dia tidak menunjukkan reaksi apapun.


Sementara di belakang, Bi Nah yang merupakan asisten rumah tangga di rumah itu, berjalan membawa keranjang berisi pakaian yang sudah dicuci. Dia akan menjemurnya di luar. Saat melewati ruang depan, wanita itu terperanjat melihat adegan panas kedua majikannya itu.


Bi Iyem pun kembali ke belakang. Dia menunda niatnya. 'Ya ampun, pagi-pagi sudah bermesraan. Kenapa juga nggak di kamar, huft ... ya sudah aku jemur bajunya nanti saja deh, daripada kena marah,' batinnya.


Setelah sebuah ciuman panas telah berlalu, Hassan membopong Hanum dan berjalan masuk ke dalam kamar. Pria itu membaringkan tubuh istrinya di atas kasur kemudian mengecupi seluruh tubuh Hanum.


"Ah ...." Hanum hanya mendesah tanpa reaksi.


Hassan pun mendadak nervous, jantungnya berdetak kencang dan nafasnya memburu.


Perlahan Hassan mengulang adegannya, mengecupi pipi Hanum kemudian turun ke leher dan ke bawah lagi.


"Ahhh ...."


Hanum kembali mendesah.


Setelah puas mengecupi bagian tubuh Hanum, Hassan kemudian melucuti semua pakaian yang melekat pada tubuh Hanum hingga tanpa sehelai benang pun tersisa.


Kini Hassan memasukan pusakanya yang sudah mengeras ke dalam sana, karena tidak tahan lagi.


Terdengar ******* lolos dari kedua insan itu dan akhirnya permainan pun selesai.


Keduanya terkulai lemas di atas kasur.


Lima belas menit kemudian, Hassan beranjak dari tempat tidurnya dan memakai bajunya kemudian berjalan keluar kamar. Pria itu meraih handuk di jemuran, kemudian masuk ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandinya.


Selesai mandi dan berpakaian rapi, Hassan menyeduh kopi, kemudian berjalan ke teras depan rumah. Dia duduk di sana sambil menyesap kopi buatannya.


'Hem, ini yang membuatku tidak betah di rumah, Hanum itu di atas ranjang seperti pohon pisang, diam saja seperti tidak punya gairah. Tapi gimanapun dia tetap istriku, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ah sudahlah, tidak perlu dipikir pusing, kan aku sudah punya Aisyah yang pandai melayani dan memuaskan ku,' Hassan meracau dalam hati.


Tak lama Bi Nah keluar. "Permisi, Tuan, saya mau menjemur baju," ucapnya kepada Hassan.


"Oh, silahkan, Bi," angguk Hassan sopan.


Kemudian, Bi Nah berjalan menuju ke samping rumah ....


Sementara Hassan terdiam, dia tampak sedang memikirkan sesuatu.


'Kenapa aku tidak kepikiran ada Bi Nah ya? Duh, semoga saja Bibi tidak lihat aku dan Sherly tadi,' batin Hassan sambil menyesap gelas kopi.


Beberapa saat kemudian, Hanum datang menghampiri Hassan. "Di sini ternyata kamu, Pah?"


Hassan menoleh ke arah Hanum. "Iya, Mah."


Hanum pun duduk di sebelah Hassan. "Kamu tidak ngantor, Pah?"

__ADS_1


"Sebentar lagi, aku akan bertemu dengan klien," sahut Hassan acuh.


"Bertemu dengan klien? Pulang besok lagi?" terka Hanum seolah sudah dapat menebak apa yang akan terjadi.


Deg!


Jantung Hassan berdetak kencang seketika.


"Aku perhatikan Mamah akhir-akhir ini curigaan, ya sudah begini saja, mulai sekarang Mamah ikut aku ke kantor. Jadi kalau aku ada janji ketemuan dengan klien sampai larut malam dan sampai pulang pagi, Mamah juga harus ikut pulang pagi."


Hanum mendadak lemas mendengar keputusan Hassan. Jujur wanita itu enggan sekali ikut suaminya untuk urusan yang membosankan baginya.


"Eh, tidak ah, aku tidak mau ikut Papah. Males deh," ucap Hanum sambil memonyongkan bibirnya.


"Pokoknya, kamu harus ikut!" Hassan pura-pura bersikukuh.


"Tidak, Pah, aku tidak mau, titik," bantah Hanum.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau ikut aku, kamu jangan ulangi lagi kejadian tadi. Suami pulang bukannya disambut yang mesra, malah dimarahin," ujar Hassan dengan senyum penuh kemenangan.


"Iya, Pah. Maafin aku ya," pasrah Hanum.


"Tidak perlu minta maaf, yang penting jangan diulangi lagi," sahut Hassan lega.


"Iya, Pah. Oh iya, Pah, apa tidak sebaiknya kita mengadopsi anak saja dari panti asuhan atau di rumah sakit kan banyak tuh, ibu yang habis melahirkan tapi dia tidak mau bayinya karna bermacam sebab," tutur Hanum tiba-tiba.


"Mah, mamah lupa, ya? Aku tidak suka anak adopsi, Mah. Aku hanya mau darah dagingku sendiri. Bukannya dulu kamu pernah membahas masalah ini di depan orang tuaku, dan hasilnya ... orang tuaku pun tidak setuju, kan?" ujar Hassan menolak usul istrinya.


Hanum mengesah kasar. "Huft, benar juga ya, aku lupa."


Hanum pun mengangguk pasrah ....


"Ya sudah aku berangkat dulu ya, sudah hampir siang, kamu baik-baik di rumah," kata Hassan kemudian mengecup kening Hanum.


Hanum pun tersenyum dalam anggukannya. Kemudian Hassan berlalu dari hadapan Hanum. Hanum memperhatikan mobil yang melaju meninggalkan halaman rumah. Dan, terbesitlah sebuah rencana dalam benak Hanum.


Wanita itu ingin sekali menyelidiki suaminya supaya dia tahu, aktifitas suaminya yang sebenarnya tanpa diketahui oleh suaminya itu. Namun, dia bingung bagaimana caranya. Hanum pun berusaha mencari cara.


Kemudian wanita itu tersenyum smirk. "Aku tahu, apa yang harus aku lakukan," lirihnya seraya masuk ke rumahnya.


Hanum pun mengambil ponselnya, dia membuka sosial media kemudian masuk ke aplikasi biru. Wanita itu mengetik sesuatu, kemudian tersenyum smirk.


Satu jam kemudian terdengar suara bel rumah berbunyi. Hanum segera membukakan pintu, sementara Bi Nah sedang memasak di dapur, dan wanita paruh bayar itupun pendengarannya sudah mulai berkurang, jadi dia tak mendengar suara bel rumah.


Hanum berjalan membukakan pintu rumah. Dia mengerutkan keningnya melihat seorang pria berusia lebih tua dari Hanum.


"Maaf, cari siapa, ya?" tanya Hanum ramah.


"Em, maaf juga, apakah dengan ibu Hanum?" pria itu balas bertanya.


"Iya, betul," angguk Hanum.


"Jadi gini, tadi saya tidak sengaja baca iklan di akun anda, katanya anda sedang mencari orang yang bisa memperbaiki AC. Dan saya juga lihat alamat lengkap di bawahnya, jadi saya kesini," papar pria itu.


"Oh, jadi anda yang akan memperbaiki AC di rumah saya?" tanya Hanum tersenyum penuh makna.

__ADS_1


"Betul sekali," angguk pria tersebut.


"Masuk dulu, yuk," ajak Hanum.


Pria itupun mengangguk kemudian berjalan mengikuti Hanum masuk dan duduk di tempat yang telah tersedia.


Hanum pun berjalan ke dapur, menghampiri Bi Nah. "Bi, itu di depan ada temannya suami saya, tolong buatkan teh manis ya."


Hanum sengaja berbohong entah apa tujuannya.


Sementara Bi Nah pun menghentikan aktifitasnya. "Baik, Nyonya, satu atau dua?"


"Satu saja, saya tadi sudah minum," ujar Hanum.


Setelah berkata demikian, Hanum kembali ke depan, dia duduk tak jauh dari pria tersebut.


"Oh iya, nama bapak siapa, ya?" tanya Hanum berbasa-basi.


"Nama saya Iwan, Bu," sahut pria itu.


"Baik Pak Iwan, saya minta nomer Bapak saja, sebenarnya kerjanya bukan hari ini, jadi besok saya hubungi," tutur Hanum.


"Oh gitu, baiklah, Bu." Iwan pun memberitahukan nomor ponselnya kepada Hanum.


Dan Hanum pun menyimpan nomor Iwan pada ponselnya.


"Tunggu sebentar." Hanum berjalan menuju ke kamar.


Selang beberapa menit, Bi Nah datang membawa cangkir berisi teh manis dan meletakkannya di atas meja.


"Silahkan diminum, Pak."


"Terimakasih, Bi," kata Iwan.


Bi Nah mengangguk kemudian kembali ke dapur, dan lima menit kemudian Hanum datang.


"Pak, anda bisa pulang sekarang, dan ini untuk mengganti uang bensin anda. Besok kalau saya hubungi, anda harus siap, ya?" kata Sherly sambil memberikan satu lembar uang seratus ribu kepada Iwan.


"Terimakasih, Bu. Ya sudah saya permisi dulu." Iwan pun meneguk teh manis hingga tinggal separuhnya, kemudian berlalu meninggalkan Hanum.


Hanum tersenyum penuh kemenangan. Tiba-tiba cacing dalam perut Hanum berdemo ria. Wanita itupun berjalan ke dapur.


"Bi, apa sudah matang?" tanyanya kepada Bi Nah yang tengah mencuci peralatan dapur.


"Kebetulan sekali sudah, Nyonya. Silahkan kalau mau makan," ujar Bi Nah.


"Ayo kita makan sama-sama, Bi," ajak Hanum.


"Duh maaf, Nyonya, saya nanti saja, Nyonya duluan saja." Bi Nah merasa tidak enak hati jika makan bersama dengan majikannya itu.


"Lho, kenapa? Ayolah jangan sungkan-sungkan. Anggap saja ini rumah sendiri, lagian saya tidak selera nanti kalau makan sendiri," paksa Hanum.


Akhirnya Bi Nah pun pasrah. Dan kini mereka berdua menyantap hidangan di hadapannya.


Hanum sangat menghormati Bi Nah, yang telah mengabdi selama sepuluh tahun. Pekerjaan Bi Nah sangatlah baik dan teliti, maka dari itu Hanum pun selalu merasa senang dengan Bi Nah.

__ADS_1


__ADS_2