Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Bersikap Tegas!


__ADS_3

Karena Bu Sri tidak merespon ucapan Aisyah, gadis itupun berlari keluar hendak memanggil dokter. Namun belum sampai Aisyah keluar, pintu sudah terbuka. Dokter pun masuk.


"Nona?"


"Dokter, ibu saya kok tiba-tiba diam lagi," kata Aisyah dengan raut wajah cemas.


Dokter pun segera berjalan menghampiri Bu Sri, dia memeriksa wanita itu. Tak lama terdengar dengkuran pelan dari arah wanita tersebut.


Dokter pun tersenyum kemudian menoleh ke arah Soraya. "Ibu kamu tidak apa-apa hanya tertidur saja, seperti yang sudah saya katakan bahwa kondisi ibu anda masih lemah, dan belum bisa banyak bergerak ataupun bicara."


Aisyah pun bernapas lega, kemudian dokter keluar dari ruangan. Aisyah dengan setia menunggu ibunya.


Tak terasa hari menjelang sore. Aisyah melihat Bu Sri masih memejamkan mata, dengan napas lemahnya.


'Mungkin benar juga kata dokter, ibu biar dirawat dulu di sini. Kalau aku bawa pulang terus kenapa-napa, aku pasti kewalahan karna nggak ada yang bantu aku, Kak Zae nggak bisa diandalkan,' pikir Aisyah.


Akhirnya Aisyah berpamitan kepada dokter dan memasrahkan ibunya untuk dirawat di tempat itu.


Kini Aisyah telah tiba di rumahnya. Gadis itu segera membersihkan diri kemudian masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Aisyah menatap kosong ke arah dinding kamar.


Beberapa saat kemudian, Aisyah meraih ponselnya yang sudah penuh tercharger. Gadis itu menelpon Hassan, dan menyuruh datang ke rumahnya.


****


"Kamu itu apa-apaan sih, sudah saya bilang jangan telpon dulu kalau saya belum telpon, untung saya di tempat kerja dan istri saya tidak tahu," omel Hassan yang kini telah berada di rumah Aisyah.


"Anda itu mau enaknya sendiri, Mas," ketus Aisyah.


"Lho, lho, kok bisa begitu? Bukankah kita sama-sama merasakan enak?" kata Hassan tenang.


"Bukan itu maksud saya," balas Aisyah.


"Lantas, apa yang kamu inginkan? Saya sudah berbaik hati menuruti permintaanmu. Apa kamu tahu, saya rela membohongi istri supaya bisa bersama kamu," tegas Hassan.


"Malam ini menginaplah di sini, pulang besok," pinta Aisyah mengalihkan pembicaraan.


Hassan terbelalak mendengar permintaan gila Aisyah.


"Apa kamu sudah gila?" ujar Hassan heran.


"Ya, saya memang sudah gila akan cinta anda!" kata Aisyah dengan lantang.


"Syah, saya ini punya istri, dan dia di rumah pasti menunggu, tolong kamu mengerti sedikit saja," ucap Hassan mengiba.


"Tapi saya juga calon istri anda, Mas! Dan saya sekarang sedang mengandung anak anda, keturunan anda. Apa anda sadar? Kenapa masih mementingkan istri sementara dia mandul tidak bisa memberikan keturunan buat anda! Maaf, kalau omongan saya sudah menyinggung perasaan anda."

__ADS_1


Hassan benar-benar tak menyangka bahwa Aisyah yang awalnya lugu dan pendiam, sekarang sudah berani bersikap tegas terhadap dirinya.


Dalam hati, Pria itupun menyadari bahwa dirinya memang berada di posisi yang salah. Dia merasa sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Namun apalah daya, nasi susah menjadi bubur dan semua sudah terjadi begitu saja. Saat itu Hassan seperti memakan buah simalakama. Dia benar-benar dihadapkan pada pilihan yang sulit.


Hendak meninggalkan Aisyah, namun dia menginginkan benih cinta yang telah tumbuh di rahim gadis itu. Buah hati yang Hassan dambakan selama sepuluh tahun. Sebaliknya, dia ingin menceraikan istrinya demi Aisyah yang telah mengandung anaknya, pun tidak bisa.


Bagi Hassan, Hanum adalah penyelamat hidup keluarganya. Pria itu bisa bertahan hingga saat itu berkat orang tua Hanum. Terlebih orang tua Hanum meninggal karena mementingkan hidup ayah Hassan. Hal itulah yang membuat Hassan berhutang nyawa terhadap orang tua Hanum. Untuk itulah Hassan bersumpah tidak akan meninggalkan Hanum apapun yang terjadi, dan bagaimanapun kondisi wanita itu.


"Mas, kenapa diam?" Aisyah membuyarkan lamunan Hassan.


Hassan pun terkesiap. "Em, ya sudah saya akan menginap di sini, tapi kamu lapor dulu sama pak RT, jangan seenaknya. Nanti kalau dimasa bisa repot, saya juga tidak bisa menemui kamu lagi."


"Tentu saja saya akan laporan ke pak RT. Atau sekarang saja, sebelum terdengar omongan-omongan yang tidak enak dari para tetangga," ujar Aisyah.


"Baiklah," pasrah Hassan.


Beberapa menit kemudian, Aisyah dan Hassan berjalan menuju rumah ketua desa yang letaknya tak jauh dari rumah Aisyah.


Sampai di depan rumah yang dimaksud, Aisyah mengetuk pintu dan tak lama pintu terbuka. Seorang pria paruh baya keluar, dia adalah ketua desa. Pria itu menatap ke arah Aisyah.


"Kamu, Syah?" ujarnya.


"Silahkan masuk," kata pria itu.


Aisyah dan Hassan pun masuk dan duduk di tempat yang telah tersedia. Tak lupa mereka bersalaman dengan ketua desa itu.


"Jadi begini, Pak, Mas ini ada kepentingan sama ibu saya. Dan karna ibu sedang di rumah sakit, jadi saya ingin mengantar dia ke rumah sakit. Tapi berhubung ini sudah malam, sepertinya kurang afdol. Jadi kita berencana ke rumah sakit besok pagi. Dan karna mas ini mungkin tidak mau repot-repot bolak balik, jadi dia ingin menginap di sini satu malam."


"Oh begitu, ya sudah tidak apa-apa, yang penting kamu sudah lapor. Tapi ingat, jangan membuat onar ya," pesan ketua desa.


"Baik, Pak, ya sudah kami permisi dulu," pamit Aisyah.


Ketua desa mengangguk ramah, kemudian Aisyah beranjak dari duduknya dan melangkah keluar diikuti oleh Hassan mengekor di belakang.


"Ternyata kamu punya bakat untuk berbohong," celetuk Hassan ketika langkah kaki mereka hampir tiba di rumah Aisyah.


Aisyah pun terkekeh sambil meringis. "Anda juga kan yang sudah mengajari saya, hehe."


"Mana ada?" sangkal Hassan.


"Ada lah," kata Aisyah mempercepat langkahnya meninggalkan Hassan hingga masuk ke rumah.


Hassan hanya menggelengkan kepalanya, merasa gemas dengan tingkah Aisyah. Dia pun ikut masuk ke rumah dan segera mengunci pintu.

__ADS_1


"Hape anda matikan saja, Mas, nanti istri anda telpon terus," titah Aisyah.


"Iya, tapi saya mau kirim pesan dulu, kalau saya menginap di rumah klien," ujar Hassan.


"Tuh kan, anda juga tukang bohong," ledek Aisyah.


Hassan hanya meringis tanpa menoleh ke arah gadis tersebut.


Aisyah kemudian duduk di ruang tengah, dia menyalakan televisi. Hassan pun mendekatinya.


"Ini sudah malam, tidak baik lho orang hamil tidur larut malam." Hassan berusaha mengingatkan Aisyah.


"Saya belum ngantuk, mau nonton sinetron sebentar," sahut Aisyah.


"Nanti jadi korban sinetron malah repot," ledek Hassan.


Ah, sok tahu anda, Mas," balas Aisyah.


Hassan pun tertawa terpingkal, dan untuk pertama kalinya Aisyah melihat Hassan tertawa seceria itu. Biasanya Aisyah selalu mendapati sikap Hassan yang begitu dingin.


"Anda sepertinya sedang bahagia, Mas," ujar Aisyah.


"Nanti kalau saya sedih, dikira tidak bahagia sama kamu," sahut Hassan dengan tenangnya.


Aisyah pun terdiam, dia tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Dan kamu juga kenapa sekarang panggil aku mas terus?" Hassan balik bertanya.


Aisyah melirik ke wajah Hassan, seulas senyum tersungging di bibirnya. "Biar lebih dekat saja, biar lebih mesra juga dan tidak terlihat seperti asisten dan Bos."


"Hahaha, kamu ini menggemaskan," tawa Hassan.


Aisyah pun tersipu, pipinya merah padam.


"Oh iya, kamu sudah makan atau belum? Pesan sekalian lewat delivery, nanti biar saya yang bayar," kata Hassan.


"Saya malas makan, di kulkas ada jus kok nanti saya minum jus saja," tolak Aisyah.


Hassan pun mengangguk, dia baru ingat kalau gadis itu sedang mengandung, jadi nafsu makannya berkurang.


Tok ... tok ... tok ....


"Syah! Buka!


Sebuah ketukan pintu diiringi seruan memanggil nama Aisyah, membuat gadis itu mengerutkan keningnya. "Siapa sih malam-malam begini teriak-teriak."

__ADS_1


__ADS_2