Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Aksi Terbongkar


__ADS_3

"Katakan, siapa yang menyuruhmu?" Hassan mengulangi pertanyaannya kepada Iwan.


Iwan masih diam, dia tidak berani memberitahukan yang sebenarnya mengenai perintah istrinya.


"Memangnya kamu dibayar berapa sama orang yang menyuruhmu?" Satu pertanyaan belum Iwan jawab namun pertanyaan lain sudah terlontar dari mulut Hassan.


Iwan masih diam, dia sungguh bingung saat itu. Namun Hassan tersenyum smirk, dia meraih tas yang terletak pada sisi jok yang dia duduki kemudian mengeluarkan uang sebanyak lima juta dari dalam tas tersebut. Hassan memberikannya kepada Iwan.


"Ini bayaran untuk kamu, kalau kamu mau mengatakan siapa orang yang sudah berani bekerja sama denganmu."


Iwan pun terbelalak melihat jumlah uang yang bahkan seumur hidupnya dia tidak pernah memilikinya.


'Wah, gimana ya? Apa sebaiknya aku katakan saja, kalau istrinya yang menyuruhku. Lagian suaminya kasih uang lebih banyak. Paling Nyonya Hanum hanya akan kasih aku lima ratus saja,' pikir Iwan dalam hati. Dia pun terus berpikir, keputusan apa yang akan dia lakukan saat itu.


"Hei, kamu dari tadi saya ajak bicara malah melamun!" tegur Hassan yang mulai tidak sabaran dengan sikap Iwan.


"Eh, i-iya, Tuan. Tapi anda janji ya, jangan bilang-bilang kalau aku sudah mengadu sama anda."


"Saya tidak akan bilang sama orang itu, lagian siapa sih orang itu, kok kamu sampai takut begitu?" selidik Hassan.


Akhirnya, Iwan menceritakan asal mula dirinya mengikuti Hassan ....


"Apa? Jadi kamu disuruh istri saya menyelidiki saya?" tanya Hassan.


"I-iya, Tuan," angguk Iwan tanpa menatap ke arah Hassan.


"Hem pintar juga istriku, rupanya dia cari orang untuk memata-mataiku berkedok iklan AC di sosmed," gumam Hassan sambil tersenyum menertawakan tingkah istrinya. Sedangkan Iwan hanya diam menyimak ucapan Hassan.


Kemudian Hassan menatap ke arah Iwan. "Hei, kamu mau menuruti perintah istri saya hanya karna uang, kan?"


Iwan terkesiap. "Em ma-maaf, Tuan, saya ini hanya bekerja, jujur saya memang butuh uang untuk mencukupi kebutuhan anak dan istri saya. Saya bekerja memperbaiki AC yang rusak di rumah-rumah orang. Nah, awalnya saya pikir AC di rumah Tuan pun rusak ...."


Iwan tak meneruskan ucapannya, pandangannya tertunduk dan dia benar-benar merasa bersalah saat itu.


"Ya sudah sekarang kamu bekerja dengan saya saja, dan uang itu jadi milik kamu," tegas Hassan.


Kedua bola mata Iwan membulat seketika. "Ta-tapi, Tuan ... ini terlalu banyak, saya tidak enak."

__ADS_1


"Ambillah, dan sekarang kamu pulang. Tapi nanti malam kamu temui istri saya. Bilang sama dia kalau tidak ada yang mencurigakan, dan saya benar-benar bertemu dengan klien di kantor. Terus kamu pulang dan kamu blokir nomer istri saya," ujar Hassan lantang.


"Ba-baik, Tuan," kata Iwan.


"Tolong setelah ini, kamu jangan pernah muncul lagi dalam hidup saya dan istri saya." Hassan pun menutup pembicaraannya.


"Siap, Tuan, saya minta maaf dan terimakasih juga uangnya." Iwan pun segera keluar dari mobil Hassan.


'Dasar orang miskin,' batin Hassan sambil menggelengkan kepala.


Perlahan Hassan menggerakkan stang bundarnya. Dia kembali meneruskan perjalanannya ke kantor. Pada saat melewati alun-alun yang menghubungkan jalan menuju kantornya, Hassan tak sengaja memergoki Aisyah sedang duduk sendiri di sana.


Pria berahang tegas itupun mengerutkan keningnya. "Itu bukannya Aisyah? Ngapain dia di sana?"


Hassan pun kemudian memarkirkan mobilnya di pinggir lapangan alun-alun, kemudian dia turun dan berjalan menghampiri gadis yang dimaksud.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Hassan tanpa mengucap salam terlebih dahulu.


Aisyah terkesiap melihat kedatangan Hassan yang tiba-tiba. "Mas?"


"Kamu tidak jawab pertanyaan saya," kata Hassan menatap intens ke arah Aisyah.


"Sekarang kamu pulanglah, aku akan ke kantor. Nanti sore aku akan ke rumah kamu," ujar Hassan seolah mengerti apa yang tengah dirasakan oleh gadis di hadapannya.


Aisyah hanya mengangguk kemudian Hassan segera berlalu dari hadapan Aisyah.


Dengan malas Aisyah berjalan mendekati sepeda motornya, kemudian mengendarainya perlahan. Sampai di rumah Aisyah segera masuk dan mengunci pintu. Gadis itu masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. 'Kenapa hidupku jadi monoton begini?' batinnya.


****


Malam hari Iwan mendatangi Hanum di rumahnya. Dia menekan bel rumah. Tak lama keluarlah wanita paruh baya, dia adalah Bi Nah.


"Selamat malam, Mas, lho Masnya yang kemarin ya? Maaf ada perlu apa, ya?" sapa Bi Nah ramah.


"Malam, Bi, Nyonya ada?" balas Iwan.


"Oh ada, mari masuk biar saya panggilkan," ujar Bi Nah.

__ADS_1


Iwan pun masuk dan duduk di dalam, tak lama Hanum pun datang menghampiri.


Bagaimana?" tanya Hanum dengan raut wajah berseri-seri.


"Nyonya, saya sudah mengikuti suami anda dari dia berangkat sampai malam, tapi aman-aman saja. Sepertinya, suami anda memang benar-benar bertemu dengan klien. Karna saya nunggu di depan kantor tapi agak jauh sih, saya lihat suami anda keluar dengan laki-laki terus," lapor Iwan sesuai dengan yang diperintah oleh Hassan.


'Hem, ternyata suamiku memang setia, ya sudahlah berarti memang dia benar-benar ada urusan kantor sampai pulang pagi segala,' batin Hanum.


"Ya sudah, sebentar ...." Hanum berjalan menuju ke kamarnya dan keluar lagi. Dia memberikan Iwan lima lembar uang seratus ribuan.


"Ini bayaran kamu, makasih ya."


Iwan menerima uang tersebut, kemudian dia segera berpamitan kepada Hanum. Dia pun mengendarai sepeda motornya.


'Tuh kan, untung aku lebih memihak suaminya. Kalau cuma memihak nyonya Hanum, aku cuma dapat uang lima ratus ribu saja. Mimpi apa aku semalam, dapat rejeki nomplok lima juta,' batin Iwan sambil senyum-senyum sendiri dan terus mengendarai sepeda motornya menembus kegelapan malam.


****


**Hotel Pelangi


Kini Aisyah dan Hassan sedang duduk bersama di atas ranjang, di sebuah kamar hotel.


"Ada masalah apa lagi? Dan sedang apa kamu di alun-alun tadi pagi, aku tanya kamu malah diam saja," tanya Hassan.


"Ibuku koma sekarang," sahut Aisyah.


"Kenapa lagi dengan ibu kamu, bukannya dua hari lagi sudah boleh pulang?" Hassan menautkan kedua alisnya.


"Kata dokter kemarin malam ada dua orang tetanggaku menjenguk ibuku, dan setelah mereka pulang ibuku jadi koma. Ini aneh ... pasti mereka berbicara yang tidak-tidak sama ibu," papar Aisyah.


"Memangnya siapa tetangga yang menjenguk ibu kamu?" tanya Hassan.


"Aku tidak tahu, Mas. Dokter juga tidak tahu kan malam-malam jenguknya, mungkin penjaga rumah sakit sudah pada pulang. Orang dokter saja tidak ada waktu itu, cuma ada suster," ujar Aisyah.


"Rumah sakit macam apa sih, sampai penjagaan saja bisa lalai seperti itu? Masa ada orang menjenguk dibiarkan saja, harusnya ditanya siapa-siapanya," ketus Hassan.


"Sudahlah, Mas, yang penting ibu cepat sehat.

__ADS_1


"Ya sudah kamu tiduran dulu kalau ngantuk, kalau bangun layani aku," kata Hassan.


Wajah Aisyah merah padam, tak dipungkiri gadis itupun pun sebenarnya merindukan sentuhan hangat pria tersebut.


__ADS_2