Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Ke Diskotik


__ADS_3

Hana menatap sinis ke arah Aisyah. "Terus kalau cewek keluar malam dan pagi baru pulang, itu apa namanya kalau bukan ******?"


Aisyah hanya diam menahan kepiluan di dalam hati.


Setelah berkata demikian, Hana segera pergi meninggalkan Aisyah. Kemudian Aisyah langsung menutup pintu setengah dibanting.


Gadis itu segera berlari masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur, kemudian pecahlah tangisnya.


"Kenapa hidupku jadi seperti ini? Aku sudah terjun ke lembah hitam dan sekarang aku juga hamil di luar nikah, ditambah lagi aku sudah menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain. Benar kata orang-orang, aku sudah hina sekarang," ujar Aisyah di sela isak tangisnya.


Lama Aisyah menangis, kemudian dia tertidur. Dan beberapa jam kemudian Aisyah bangun dari tidurnya. Saat itu hari sudah petang. Gadis itu melirik jam dinding kamarnya.


"Jam sepuluh? Astaga, aku tidur dari jam berapa? Kenapa bisa lupa," gumamnya.


Aisyah pun segera beranjak dari tidurnya, dan menuju ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, dia mengenakan pakaian serba panjang kemudian duduk di ruang tengah.


Gadis itu termenung menatap televisi dengan layar gelap, karena dia enggan menghidupkannya. Mendadak Aisyah mendapat ide ....


"Apa aku gugurin saja kandunganku? Duh nggak, nggak, nggak. Bisa gawat nanti, Mas Hassan pasti akan menyuruhku mengembalikan semua uang yang dia kasih. Huft, aku sudah nggak punya pilihan lain."


Aisyah benar-benar frustasi. Dia sudah hilang akal sehat. Gadis itu segera beranjak dari duduknya, dan meninggalkan rumah dengan taxi. Saat itu dia sedang tidak ingin membawa kendaraannya sendiri.


Tak lama Aisyah tiba di sebuah diskotik, setelah membayar ongkos taxi Aisyah melangkah masuk ke dalam tempat dengan gemerlap lampu warna-warni. Gadis itu ingin menghibur diri di tempat tersebut.


Sebenarnya, Aisyah sama sekali tidak mengetahui tempat-tempat seperti diskotik. Namun sewaktu naik taxi, dia menyuruh supir taxi untuk mengantarkan ke diskotik. Namun bukan yang pernah Aisyah singgahi.


Gadis itu mengenakan pakaian serba panjang, dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya yang bangir. Surai panjangnya dia biarkan tergerai. Kini Aisyah telah duduk di salah satu tempat yang masih kosong. Selang beberapa menit, seorang pelayan menghampiri.


"Selamat malam, Nona ... apakah anda ingin memesan sesuatu?"


Aisyah mendongakkan kepalanya menatap sang pelayan, kemudian gadis itu menyunggingkan senyumnya.


"Saya minta minuman dengan kadar alkohol yang ringan saja, apakah ada?"


"Tentu saja ada, di sini lengkap minuman dari yang beralkohol ringan sampai yang berat," tutur pelayan itu.


Baiklah, saya minta satu saja," kata Aisyah.


Pelayan itu mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Aisyah. Dan beberapa saat kemudian, pelayan itu kembali lagi dengan membawa gelas berisi minuman dan meletakkannya di atas meja


"Silahkan, Nona."


Setelah pelayan pergi, Aisyah meraih gelas di atas meja kemudian meneguk minuman tersebut.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian tubuh Aisyah mulai terasa ringan, seolah tubuhnya tengah melayang di udara.


"Duh, pusing sekali aku," gumamnya lirih.


Semua orang yang berada di tempat itu mulai berjoget menikmati alunan musik disko, namun Aisyah tetap duduk menghabiskan minumannya, dia enggan berjoget seperti orang-orang tersebut.


Waktu terus berlalu dan malam semakin larut, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Suasana dalam diskotik bertambah ramai seiring berdatangan orang-orang baru.


"Halo, Nona, sendirian saja?"


Sebuah suara mengejutkan Aisyah, dia pun mendongakkan kepala ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya gadis itu mengetahui pria yang kini berdiri di hadapannya. Walaupun merasa pusing namun Aisyah masih bisa melihat dengan jelas, siapa orang yang telah menyapanya.


"Ma-Mas Ha-ssan?" gagap Aisyah.


Plakkk!


Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi tirus Aisyah.


"Aduh!"


Gadis itu mengaduh kesakitan sambil memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan tadi.


"Bagus sekali kelakuanmu. Ternyata di belakang saya, kamu seperti ini, ya? Dasar murahan, tidak tahu diuntung!" Hassan memaki Aisyah dengan geram.


Bukan hanya satu atau dua diskotik yang Hassan singgahi, namun semua diskotik di kota itu sudah dia jelajahi. Dan kebetulan saat itu, dia sedang berada di tempat itu.


Aisyah menatap ke arah Hassan. "Mas, aku baru kali ini men ...."


"Diam! Saya tidak ingin mendengar alasan apapun dari kamu. Sekarang, ikut saya!" Hassan langsung menarik tangan Aisyah dan menyeretnya keluar diskotik.


"Mana motor kamu?" tanya Hassan mencari keberadaan kendaraan milik Aisyah.


"Saya naik taxi, Mas," kata Aisyah di sela isak tangisnya.


"Oh, kamu mau menghilangkan jejak dariku, ya?" tukas Hassan.


Aisyah menggeleng lemah. "Tidak, Mas."


"Sekarang, cepat masuk ke mobil!" titah Hassan seraya menarik tangan Aisyah. Pria itu tampak marah sekali.


Kini Aisyah dan Hassan sudah berada di dalam mobil. Perlahan, mobil melaju dikendarai oleh Hassan.


Hening, tak ada percakapan sepanjang perjalanan. Setengah jam kemudian mobil berhenti di sebuah hotel mewah.

__ADS_1


"Turun," titah Hassan dingin.


Aisyah pun turun, tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pun bertambah pusing. Tak lama Hassan mengekor di belakang Aisyah.


Sampai di dalam, Hassan memesan sebuah kamar kepada petugas hotel dan mengajak Aisyah masuk ke dalam kamar tersebut.


Aisyah langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, namun Hassan segera menarik tangan Aisyah dan menyuruhnya duduk.


"Siapa yang suruh kamu tidur?"


Aisyah pun terpaksa duduk sambil memijat keningnya yang terasa sakit.


"Saya ngantuk, Mas," lirih Aisyah dengan nada mengiba.


"Ngantuk? Kalau ngantuk kenapa tidak tidur di rumah? Malah keluyuran tidak jelas! Sudah berani macam-macam kamu, ya?" bentak Hassan.


Aisyah kembali terisak, gadis itu memang belum terbiasa dibentak seperti itu oleh orang tuanya ....


"Tidak perlu nangis, aku tidak akan merasa kasihan sama kamu! Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan itu? Kamu itu perempuan, pergi ke bar minum-minum. Padahal kamu sedang hamil. Apa kamu sengaja ingin mencelakai bayi itu?" lanjut Hassan.


"Anda sendiri, ngapain di sana?" balas Aisyah yang mulai kesal.


"Hei, saya ini laki-laki. Wajar kalau ke sana, dan saya pun tidak macam-macam. Saya pusing dengan urusan kantor, jadi saya ingin mencari hiburan biar bisa lebih tenang. Kalau kamu perempuan, laki-laki dan perempuan itu beda. Pantas saja semua tetangga kamu merendahkan kamu. Jangan-jangan sebelum kenal saya, kamu memang sudah menjadi perempuan malam."


Ucapan Hassan membuat Aisyah merasa terhina, dia pun berdiri dan menatap intens kepada Hassan.


"Mas, aku tidak serendah yang anda kira. Dulu saya kerja di kantin dan tidak tahu apa-apa tentang dunia malam. Kalau saja ibuku tidak sakit parah, aku tidak mungkin jadi perempuan malam."


Hassan menghembuskan napas. "Terus kamu ngapain di sana? Kamu tahu ini jam berapa?"


"Saya tahu, saya juga sama seperti anda, pusing dengan masalah yang sedang saya hadapi sekarang," tutur Aisyah yang kini matanya terlihat sembab.


"Kenapa? Masalah omongan tetangga? Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan. Kalau perlu, besok saya carikan rumah kontrakan di tempat lain. Kamu bisa pindah dari rumah kamu untuk sementara waktu," usul Hassan.


Tapi ibu saya masih di rumah sakit," kata Aisyah.


"Memang apa masalahnya? Kamu bisa datang ke rumah sakit menjenguk ibu kamu. Atau saya akan nikahkan kamu sekalian di depan ibu kamu."


Deg!


Aisyah terkesiap mendengar keputusan Hassan.


"Kamu sudah gila ya, Mas?" ujar Aisyah ketus.

__ADS_1


__ADS_2