Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Terlambat Bulan


__ADS_3

Hassan menatap Aisyah sesaat kemudian mengangguk, seketika pria itu merasa iba terhadap gadis itu.


"Ya sudah, layani aku, setelah itu kita pulang lebih awal saja," kata Hassan pasrah.


Aisyah segera melucuti semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Kemudian, seperti biasa dua insan tersebut saling berpagutan, dan dilanjut dengan adegan ranjang yang panas.


Permainan selesai, Hassan segera memakai kembali pakaiannya, begitupun dengan Aisyah. Kemudian Hassan memberikan sejumlah uang kepada Aisyah, dan segera berlalu dari hadapan.


Sementara Aisyah duduk termenung di bibir ranjang .... "Sampai kapan aku akan seperti ini?" lirihnya.


Bulir bening kembali menetes di pipinya. Tak lama, terdengar Madam Jeni memanggil nama Aisyah. Dan Aisyah pun segera menghampiri.


"Ada apa, Madam?" tanya Aisyah setelah dirinya berada lebih dekat dengan Madam Jeni.


"Ini, uang kamu. Terus ... kamu kenapa lemas begitu?" tanya Madam Jeni memperhatikan wajah Aisyah yang terlihat pucat.


"Saya tidak apa-apa, Madam. Mungkin karna saya baru saja sembuh dari sakit, jadi muka saya masih pucat," tutur Aisyah berdalih.


"Oh ... ya sudah." Madam Jeni mengangguk.


Saya langsung pulang ya, Madam?" pamit Aisyah.


"Ya silahkan, ingat! Dua hari lagi, berangkat ya," pesan Madam Jeni tegas.


"Baik, Madam," kata Aisyah kemudian bergegas keluar dari tempat tersebut, tanpa masuk ke ruang stay terlebih dahulu. Dia enggan bertemu dengan teman-temannya yang bersikap tidak baik terhadapnya. Gadis itu ingin segera pulang ke rumah.


****


Dalam perjalanan, Aisyah tampak bingung, 'Kak Zae aku kasih satu juta saja deh, daripada nggak aku kasih sama sekali dia malah ribut nanti,' batinnya.


Terlintas di benak Aisyah, bahwa dirinya ingin sekali tinggal di kos seperti Tini. Namun Aisyah memikirkan ibunya. Aisyah sudah sangat kesal dengan sikap sang kakak terhadapnya. Kini gadis itu merasa tidak tenang menjalani hari-harinya.


Sesampainya, Aisyah segera masuk ke rumah. Pada saat dia membuka pintu, dirinya terkejut mendapati Zaenal sudah berdiri menghadang di hadapannya.


"Mana uangnya?" tanya Zaenal tanpa berbasa-basi lebih dulu.


"Aku ada satu juta, kalau lima juta gak ada. Kalo mau ya segitu, kalo gak ya terserah," ketus Aisyah.


Zaenal tampak berpikir .... "Tambahin dikit."


"Gak ada, kalo mau ya sejuta!" ujar Aisyah dengan nada tinggi kemudian segera melangkah masuk kamar.


"Ya udah mana sini," kata Zaenal setengah kesal.


Akhirnya Aisyah memberikan uang satu juta kepada Zaenal, dengan wajah tidak enak. Zaenal pun menerima uang tersebut, kemudian segera berlalu dari hadapan adiknya itu.

__ADS_1


'untung ibu udah tidur, huft,' batin Aisyah sambil menutup pintu kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.


****


Keesokan hari, Aisyah bangun lebih awal. Dia segera ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk dimasak, dan juga beberapa buah-buahan untuk dia buat rujak guna memenuhi permintaan Hassan.


Setelah membeli semua yang dibutuhkan, Aisyah pulang ke rumag. Sesampainya, dia melihat Bu Sri sedang menyapu halaman. Aisyah pun segera menghampirinya.


"Bu, Ibu kenapa nyapu segala? Aku sudah bilang, Ibu jangan capek-capek, ayo masuk."


Bu Sri menghentikan aktifitasnya, dan tersenyum ke arah Aisyah. "Kamu dari mana, Syah?"


"Aku dari pasar kecil, Bu, belanja. Hari ini aku mau masak opor ayam, sama mau buat rujak buah. Oh iya, habis masak aku mau ke tempat teman kerjaku, Buk. Kita sudah janji, mau makan rujak sama-sama," ujar Aisyah berbohong.


"Ya sudah, ayo kita masak," kata Bu Sri.


Aisyah tersenyum, kemudian masuk ke dalam. Sementara Bu Sri melanjutkan menyapu sampah-sampah yang berserakan di halaman. Aisyah sudah melarangnya, namun wanita paruh baya itu bersikeras ingin menyelesaikannya.


Selesai menyapu, Bu Sri masuk ke dalam, menuju ke dapur di mana Aisyah sedang berkutat dengan alat dapurnya.


"Biar Ibu bantu," kata Bu Sri.


"Tidak usah, Bu, cuma masak sedikit saja, kok. Ibu duduk saja, aku buatkan teh manis ya," cegah Aisyah.


Bu Sri pun menyesap teh itu perlahan.


"Kak Zae kemana, Bu?" celetuk Aisyah.


"Entahlah, Syah. Itu anak makin hari makin mengesalkan," keluh Bu Sri.


"Ya sudah, tidak udah dipikirin, Bu. Dia sudah besar, harusnya bisa jaga diri," kata Aisyah.


Bu Sri tersenyum. "Sudah matang atau belum? Ibu lapar sekali ...." Wanita itu terpaksa mengalihkan pembicaraan.


"Hampir matang, Bu. Ibu sabar sebentar ya?" kata Aisyah.


Tak lama masakan matang, Aisyah mengajak ibunya untuk makan bersama. Mereka menyantap hidangan yang tersaji dengan lahap.


Selesai makan, Aisyah berpamitan kepada ibunya, untuk pergi ke rumah temannya. Bu Sri pun mengijinkannya.


"Hati-hati, Syah ...."


"Baik, Bu ...."


Kini Aisyah berada di Alun-Alun. Dia segera mengirim pesan kepada Hassan.

__ADS_1


[Saya di Alun-Alun, Mas. Dan pesanan Mas sudah saya bawakan.]


Begitulah isi pesan dari Aisyah.


Satu jam kemudian, Hassan datang. Dia menghampiri Aisyah yang sedang duduk seorang diri.


"Mana rujak buahnya?" tanya Hassan tanpa basa-basi.


Aisyah segera memberikan bungkusan plastik, kepada Hassan. "Ini, Mas."


"Ya sudah, saya langsung pulang, tidak enak jika ada yang mengenal, dan melihat saya," kata Hassan seraya menerima bungkusan plastik dari tangan Aisyah.


"Iya, Mas ... hueeekkk!"


Tiba-tiba perut Aisyah merasa mual, spontan saja Hassan mendadak panik.


"Kamu kenapa?" tanya pria itu.


"Tidak tahu, Mas, akhir-akhir ini saya sering mual," ujar Aisyah.


"Mungkin karna kamu sering angin-anginan, kamu kan kerja malam. Angin malam memang tidak baik untuk gadis sepertimu. Saran saya, kamu sedia vitamin untuk berjaga-jaga," tutur Hassan.


"Iya, Mas," angguk Aisyah.


"Ya sudah, saya permisi, terimakasih rujaknya." Hassan segera berjalan masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Aisyah segera mengendarai sepeda motornya, dia memutuskan untuk pulang ke rumah.


Di dalam mobil mewahnya, Hassan segera membuka bungkusan pemberian Aisyah. Dia mengeluarkan tempat berbentuk persegi yang terbuat dari mika berisi berbagai macam buah, sudah terbentuk potongan kecil-kecil. Di sela-sela buah itu, terdapat plastik kecil berisi sambal kacang.


Hassan segera mengambil satu potongan buah, kemudian mencelupkan ke dalam sambal kacang, yang sudah dia keluarkan dari dalam plastik.


Hassan memasukkan buah tersebut ke dalam mulutnya, dan mengunyah perlahan. Kemudian mengulangi adegannya, hingga tanpa sadar habislah rujak buah itu tanpa tersisa.


"Em, enak juga," gumam Hassan kemudian menggerakkan stang bundarnya perlahan.


****


Dua minggu berlalu dengan cepat, hari itu adalah hari minggu. Aisyah sedang menonton televisi, sedangkan Bu Sri pergi mengikuti acara perkumpulan Ibu-ibu Rumah Tangga tak jauh dari rumahnya. Sedangkan Zaenal, entah kemana.


Sementara hari menjelang siang, matahari pun memancarkan sinarnya. Aisyah terus merasa mual-mual. Seketika, sesuatu melintas di benaknya.


"Kok aku baru sadar sekarang ya, sudah lama aku nggak datang bulan, harusnya dari kemaren kan sudah dapat. Aku juga baru ingat, kalau aku belum membeli pembalut, biasanya dua hari sebelum dapat, aku pasti selalu beli. Jangan-jangan ...."


Aisyah menutup mulutnya, berharap pemikirannya tidak benar. "Ah, nggak mungkin," lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2