Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Lupa Segalanya


__ADS_3

(Hai para readers, mohon maaf ya kalau up nya agak slow, karna author mempunyai kesibukan di dunia nyata 🙏)


Setelah diam tak lagi berbicara, Hassan mengamati wajah Aisyah dengan seksama. Aisyah telah masuk ke alam mimpi, pengaruh alkohol membuat dirinya sudah tak bergeming lagi ketika Hassan mengguncang tubuhnya.


"Tidur juga akhirnya," gumam Hassan lirih.


Lama Hassan menatap wajah Aisyah, tanpa sadar pria itu senyum-senyum sendiri.


'Ternyata benar-benar cantik, bahkan lebih cantik dari Hanum. Jelas saja, secara dia masih sangat muda,' batin Hassan.


Perlahan tangan Hassan mulai merayap ke pipi Aisyah yang benar-benar mulus, bahkan tanpa tahi lalat pun.


Sementara Aisyah hanya diam tak bergeming, dia sudah pulas di alam mimpi. Jadi, gadis itu sama sekali tidak merasakan sentuhan tersebut.


"Sial, harusnya aku tidak melakukannya, saat kamu tidak sadarkan diri. Tapi ... mau bagaimana lagi, aku begitu menginginkanmu." umpat Hassan.


Pria itu mulai merangkak ke atas tubuh Aisyah. Dia tidak peduli dengan kondisi Aisyah saat itu. Yang dia inginkan hanyalah menuntaskan hasratnya saat itu.


Hassan mulai mengecup bibir Aisyah, kemudian berpindah ke leher jenjang gadis itu yang mengeluarkan aroma begitu memabukkan.


"Sial, aku tidak tahan lagi." Sekali lagi Hassan mengumpat.


Pria itu segera merobek baju yang melekat pada tubuh Hassan hingga terkoyak, dan melemparkan begitu saja ke lantai.


Hassan menjadi gelap mata ketika dua buah kembarnya terpampang indah di depan mata. Tanpa menunggu hitungan, pria itu mulai menyesapnya.


Aisyah yang semula pulas, pun tersadar. Namun, dia hanya bisa merasakan tanpa bisa bergerak. Hanya ******* kenikmatan saja yang keluar dari bibirnya, saat gerakan demi gerakan Hassan lakukan di atas tubuhnya.


"Kamu benar-benar nikmat Syah," lirih Hassan tanpa jawaban dari Aisyah.


Hassan terus melancarkan aksinya. Selesai bergulat sendiri, pria itupun tertidur pulas.


****


Keesokan hari, Aisyah menggerakkan tubuhnya yang serasa remuk redam, matanya mengerjap beberapa kali sebelum terbelalak. Tubuhnya menggeliat, kemudian dia duduk mengumpulkan nyawa. Kepalanya terasa pusing.


"Di mana aku?" tanya Aisyah pada diri sendiri.


"Kamu masih muda, tapi sudah pikun. Kamu ada di hotel."


Sebuah suara membuat Aisyah menoleh. Gadis itu melihat Hassan sedang duduk di sebelah ranjang, dengan penampilan rapi dan wangi. Tampaknya pria itu baru saja selesai mandi. Di tangannya terdapat secangkir kopi dengan asap yang masih mengepul.


Mas?" lirih Aisyah.

__ADS_1


"Mandilah, hari ini kita akan bertemu dengan ketua desa di tempat kamu, saya akan menikahi mu besok. Ya, walaupun hanya nikah siri, yang penting kita sudah sah, walaupun hanya secara agama," tutur Hassan kemudian menyesap kopi dalam cangkir yang dipegangnya.


Aisyah terbelalak mendengar penuturan Hassan. 'Nikah?' batinnya.


'Hem ... hanya nikah siri,' batinnya lagi.


"Kenapa diam? Cepat mandi, terus kita ke rumah kamu," kata Hassan lagi.


"Tapi, gimana sama ibu?" tanya Aisyah.


"Syah, kita tidak tahu kapan ibu kamu pulih. Saya menikahimu karna saya tanggung jawab sama kamu, jadi kita itu jauh dari kata zina. Biarpun hanya siri, tapi setidaknya hubungan kita sudah resmi, tidak jadi omongan orang. Paling tidak, kita sudah punya status," tutur Hassan.


"Percuma juga kita nikah, kalau setelah anak ini lahir, anda akan menceraikan saya, dan menyuruh saya untuk melupakan anda," ketus Aisyah. Matanya mulai berkabut.


"Atau kamu tidak mau nikah? Atau, kamu ingin kita nikah kalau ibu kamu sudah sembuh? Entah berapa lama dia sembuh," tantang Hassan.


'Dasar orang kaya, mentang-mentang banyak uang, seenaknya sendiri,' gerutu Aisyah dalam hati.


"Mas, kenapa anda tidak poligami saja? Anda nikahin saya secara resmi, saya mau kok jadi istri kedua anda asal bisa terus sama anda," mohon Aisyah.


Deg!


Jantung Hassan mendadak berdetak. Tak dipungkiri, pria itu sebenarnya juga menyukai Aisyah. Dia telah jatuh cinta sejak Aisyah hamil anak darinya. Namun Hassan tidak ingin gegabah, dia sangat menjunjung tinggi silsilah kekeluargaan.


'Nah, ibunya saja mempunyai penyakit jantung, harusnya dia juga bisa ikut merasakan, dan tahu apa yang ibuku rasakan,' batin Aisyah. Gadis itu kembali teringat, saat dirinya memohon kepada Hassan yang ingin bersama terus.


Begitu tidak punya hatinya Hassan. Namun kini keadaan telah berubah. Mereka telah jatuh cinta, walaupun entah kapan akhirnya harus kandas juga.


"Pokoknya, perjanjian tetaplah perjanjian, jangan disangkut pautkan dengan hubungan kita," tegas Hassan.


Aisyah pun diam mengakui kekalahannya. Gadis itu berdiri, dan matanya terbelalak melihat pakaian yang berserakan di lantai.


"Kenapa anda robek baju saya?"


"Maaf, semalam saya tidak bisa menahan nafsu, saya sudah menyuruh petugas hotel untuk membelikan baju ganti untukmu, itu di pojok," kata Hassan menunjuk ke arah sudut kasur.


Aisyah menoleh ke arah yang dimaksud, dia melihat baju terlipat rapi masih dibungkus plastik bening. Aisyah meraih baju itu.


"Beli di mana ini?" tanya Aisyah heran. Dia berpikir kalau toko atau mall, saat itu belum ada yang buka.


"Sudah jangan banyak tanya, mungkin beli di pasar, kan kalau pagi sudah ramai. Sudah sana mandi," sahut Hassan.


Aisyah pun segera masuk ke kamar mandi, dan tak lama dia keluar dan telah berpakaian.

__ADS_1


"Jadi gimana, dengan keputusan saya?" tanya Hassan memantapkan hati Aisyah.


"Terserah anda saja," pasrah Aisyah.


Hassan mengesah kasar, kemudian meraih cangkir berisi tah yang sudah hangat dan memberikannya kepada Aisyah.


"Minumlah, supaya badanmu agak enakan."


Aisyah meraih cangkir dari tangan Hassan, mendadak dia merasa sedih.


'Ya Tuhan, kenapa Kau temukan aku dengan laki-laki baik, kalau hanya sementara saja?' batin Aisyah.m sambil menyesap cangkir berisi teh.


Setelah menghabiskan minumannya, Hassan mengajak Aisyah keluar menuju ke mobil.


Tak lama mobil Hassan tiba di depan rumah Aisyah. Mereka berdua turun, dan langsung menuju ke rumah bapak ketua desa.


"Permisi ...."


Aisyah mengetuk pintu rumah itu, dan tak lama keluarlah bapak ketua desa.


"Silahkan," kata bapak ketua desa ramah.


Aisyah dan Hassan duduk di dalam, diikuti bapak ketua desa.


"Maaf, Pak, kedatangan saya kesini dengan tujuan meminta kepada Bapak, untuk menjadi saksi di pernikahan kami," ucap Hassan sopan kepada bapak ketua desa.


"Jadi, kalian mau nikah?" Bapak ketua desa memastikan sekali lagi.


"I-iya, Pak," angguk Hassan. Pria itu mendadak gugup.


"Kenapa saya harus menjadi saksi? Kalian kan bisa ke penghulu, dan saksi bisa teman atau tetangga kalian yang lain?" heran bapak ketua desa.


"Maaf, kami hanya nikah siri," sambung Aisyah dengan wajah tertunduk.


"Nikah siri? Kenapa?" Bapak ketua desa bertambah heran.


"Maaf, Pak, saya hanya menjalankan tanggung jawab saya. Saya menikahi Aisyah karna dia saat ini sedang hamil anak saya. Tapi saya sudah mempunyai istri, jadi saya hanya bisa menikahi dia secara siri." Hassan mengakui semuanya dengan tegas, karena dia tidak mau memberikan alasan lain yang akan menyulitkan Aisyah di kemudian hari.


Bapak ketua desa tampaknya memahami permasalahan Aisyah dan Hassan. Namun, dia memang tidak suka mencampuri urusan orang lain.


"Bagus, Mas, saya salut dengan kejujuran anda, ya sudah kalau gitu, jadi kapan kalian akan melaksanakannya?" ujar bapak ketua desa sambil tersenyum.


"Besok, Pak, jadi saya minta tolong, anda yang mendatangkan penghulu, dan acara saya lakukan di rumah Aisyah saja," tutur Hassan.

__ADS_1


"Terus, ibu kamu gimana, Syah?" tanya bapak ketua desa kepada Aisyah.


__ADS_2