Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Hati Menjerit


__ADS_3

Namun, hingga sepuluh tahun pernikahan mereka, Hanum tak kunjung mengandung anak dari Hassan. Kedua orang tua Hassan terus saja mendesak mereka, agar segera mendapat momongan. Berbagai usaha telah mereka lakukan, namun tetap saja tidak ada hasil. Kendati demikian, Hassan tetap menyayangi istrinya, karena sudah berkorban menyelamatkan aset perusahaannya ayahnya.


Hassan sudah bersumpah, tidak akan meninggalkan Hanum, apapun kondisinya. Hanya saja, Hassan mulai jenuh karena tidak memiliki momongan, akhirnya dia sering singgah di diskotik, dan juga membeli wanita untuk memuaskan hasratnya. Hingga akhirnya, pria itu bertemu dengan Aisyah, dan merasakan bahwa tubuh gadis itu sangatlah nikmat, meskipun gadis itu masih kaku dalam melayani dirinya.


****


Sementara di tempat lain, Hanum yang merupakan istri dari Hassan, pun merasa gelisah. Saat itu hari sudah larut malam.


"Papah kemana, sih? Kenapa akhir-akhir ini sering sekali pulang malam? Masa iya dia lembur terus," gumam Hanum.


Kemudian wanita itu menelpon Hassan, namun tidak tersambung.


"Duh, kok tidak aktif sih?"


Akhirnya, Hanum menelpon salah satu karyawan yang merupakan rekan kerja Hassan, bernama Geri.


Panggilan tersambung .... "Halo, Mas?"


[Halo, bu Hanum, ada apa, ya?] Jawab suara dari seberang sana.


"Halo, Mas Geri, apakah suami saya masih lembur?" tanya Hanum.


Mendadak Geri terdiam, dan seketika dia teringat pesan Hassan. Bahwasanya jika ada telpon dari istrinya, yang menanyakan keberadaaan Hassan, Geri harus menjawab bahwa Hassan masih sibuk dengan pekerjaan kantornya.


[Eh, i-iya, Bu. Tapi saya sudah pulang dari tadi, karna anak saya rewel.]


Geri sengaja mencari alasan, karena dia sangat yakin, kalau Hanum akan menyuruhnya memberikan ponselnya kepada Hassan, lantaran ponsel Hassan non aktif.


"Ya sudah, Mas, maaf mengganggu waktunya."


[Tidak apa-apa, Bu, santai.]


Panggilan pun berakhir.


Geri menggelengkan kepala. 'Pasti ada yang tidak beres, nih,' batinnya.


****


Pagi hari, Aisyah membuka matanya, dia pun terduduk di atas kasur. Kemudian gadis itu melirik ke arah pria yang terbaring di sampingnya. Seketika, gadis itu menggoyangkan tubuhnya.


"Mas, bangun, sudah siang ini."


Perlahan Hassan membuka matanya, dia melihat jam tangan yang tergeletak di samping bantal. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Kedua bola mata Hassan membulat seketika. "Astaga! Sudah hampir siang."


Kemudian Hassan memakai pakaiannya, dan mengaktifkan ponselnya. Banyak sekali panggilan masuk dari istrinya.


Tiba-tiba ponsel Hassan berbunyi, ada satu pesan masuk dari Geri. Dia memberitahukan, bahwa semalam istrinya menelpon.


Hassan segera bersiap. Dia menoleh ke arah Aisyah, yang telah berpakaian. "Ayo, saya antar pulang."


Aisyah pun dapat menebak, apa yang terjadi dengan Hassan.

__ADS_1


"Saya naik taxi saja, Mas," kata gadis itu.


"Rumah kita searah, jadi kamu ikutlah dengan saya." Hassan bersikeras.


Akhirnya, Aisyah pun pasrah mengikuti perkataan Hassan. Kini keduanya telah berada di dalam mobil. Hassan mengemudikan mobilnya perlahan.


"Mas, maafkan saya tidak membangunkan anda. Karna saya juga baru saja bangun." Aisyah mendadak merasa bersalah.


"Kenapa harus minta maaf? Kita telah melakukan dosa bersama."


Ucapan Hassan membuat hati Aisyah trenyuh seketika.


Tak terasa, mereka tiba di depan rumah Aisyah. Hassan turun terlebih dulu membawa harang-barang belanjaan Aisyah. Kemudian pria itu berjalan menuju rumah Aisyah diikuti oleh Aisyah. Beberapa tetangga saling berbisik dan mencibir, namun Hasan menyuruh Aisyah untuk tidak mempedulikan hal itu.


"Ayo kita masuk," ujar Hassan.


Sampai di dalam rumah, Hassan langsung berpamitan kepada Aisyah. Sebelumnya, pria itu mengecup lembut kening gadis itu, membuatnya melayang.


"Maaf, saya harus pergi, satu minggu saya akan kesini lagi."


"Baik, Mas," angguk Aisyah.


"Dan, ingat ... jaga baik-baik anak saya," lanjut Hassan.


'Anak anda? Hei, dia juga anakku,' gerutu Aisyah dalam hati.


"Hei, kamu suka sekali melamun." Hassan membuyarkan lamunan Aisyah, membuat gadis itu terkesiap.


"Eh, iya, Mas. Tentu saja saya akan menjaga anak ini," kata Aisyah menekankan kata anak.


'Betul itu anakmu, Syah. Tapi dia akan segera menjadi milikku. Maafkan aku, Syah ... andai saja kamu bertemu aku selagi belum menikah, pasti aku akan menikahi mu secara resmi, dan menyayangimu sepenuh hati. Karena sejatinya, aku tidak suka memiliki istri ganda,' batin Hassan seraya menggerakkan stang bundar, hingga mobil melaju dan menjauh.


****


Setelah Hassan pergi, Aisyah segera menutup dan mengunci pintu rumah. Saat gadis itu membalikkan tubuhnya, dia pun tersentak karena seseorang terlah berdiri di hadapannya, menatap tajam ke arahnya.


Siapa lagi, kalau bukan Zaenal!


"Kakak?" lirih Aisyah.


"Ternyata selama ini kamu jadi pelacur, ya? Dasar menjijikan," cibir Zaenal.


"Kak, apa Kakak bilang? Pelacur? Hati-hati kalau bicara," ketus Aisyah menatap tak suka kepada sang kakak.


"Alah, udahlah, gak usah ngeles. Aku udah tau semuanya. Dan gosip tentang kamu, udah menyebar luas di lingkungan ini," ujar Zaenal memojokkan adiknya itu.


"Denger yaz Kak, apapun kerjaan ku, Kakak juga ikut ngerasain duitnya, kan? Jadi tolong deh, berhenti julid sama aku." Aisyah mulai hilang kesabaran.


"Ya udah, sekarang bagi duit," palak Zaenal.


"Gak ada," ketus Aisyah.


"Oh, sekarang pelit kamu ya. Kamu abis borong-borong, itu artinya tubuh kamu laku keras dong, pasti omsetnya gede, hahaha!" Zaenal menghina adiknya terang-terangan sembari menatap beberapa paper bag yang dipegang Aisyah.

__ADS_1


Tanpa disadari, netra Aisyah mulai basah, dalam hati dia membenarkan ejekan sang kakak, bahwa dirinya memang sudah menjual harga dirinya, demi rupiah.


'Tuhan, kuatkan aku,' batin Aisyah.


"Hei, cepetan bagi duit. Gue mau ngapelin si Vina," paksa Zaenal.


Karena enggan berdebat dengan kakaknya, Aisyah pun mengeluarkan dompet dari tas mungilnya. Pada saat gadis itu membuka dompet hendak mengambil uang, dengan sigap Zaenal merebutnya.


"Udah, gak usah diitung-itung." Zaenal pun mengambil semua uang dari dalam dompet adiknya tanpa tersisa sedikitpun. Uang itu berjumlah sekitar dua jutaan. Kemudian Zaenal mengembalikan dompet yang telah kosong kepada Aisyah.


Aisyah menggelengkan kepala, merasa kesal dengan sikap kakaknya.


'untung sebagian uangku ada di bank, dan Kak Zae nggak tahu,' batin Aisyah.


"Oh iya, ibu mana, kok gak keliatan?" tanya Zaenal kemudian.


"Apa peduli Kakak? Jawab aja sendiri," ketus Aisyah kemudian berlalu meninggalkan Zaenal.


Pria tersebut tersenyum smirk, 'sombong amat dia, mentang-mentang udah banyak duit. Tapi bodo amat yang penting hari ini gue dapet duit banyak, dan bisa ngajak si Vina shopping ' batinnya.


Zaenal pun segera keluar rumah ....


Di dalam kamar, Aisyah segera menata barang-barang yang telah dibelinya.


Kemudian Aisyah menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Setelah itu dia berjalan ke dapur. Gadis itu merasa lega, karena masih memiliki persediaan mie instan dan telur.


Rasa lapar membuat Aisyah segera memasak mie instan, kemudian segera melahapnya. Namun baru beberapa suap ....


"Hueeekkk!"


Gadis itu masih merasakan mual pada perutnya. Dia teringat dengan ucapan sang dokter, bahwa orang hamil akan mengalami morning sickness, yaitu mual di pagi hari, dan mengidam. Ingin memakan sesuatu. Rasanya harus terlaksanakan.


Kini Aisyah baru saja menyadari. "Tapi, aku kok nggak ngidam sama sekali, ya? Nggak pernah ingin makan apapun," lirihnya.


Dia pun teringat dengan Hassan saat menginginkan rujak buah. 'Masa iya, cowoknya yang ngidam, emang ada, ya?' batinnya.


Namun Aisyah segera menepis pikiran tersebut. Selesai makan, dia duduk di ruang tengah dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Aisyah mengingat kembali kejadian sewaktu dia di hotel semalam. Bagaimana Hassan memberikan perhatiannya. Sampai-sampai, Hassan rela membersihkan **** *************.


Tanpa sadar, Soraya senyum-senyum sendiri. 'Coba saja Mas Hassan jadi suamiku beneran, aku pasti bahagia sekali. Sayangnya, kita hanya akan merasakan kebersamaan secara singkat.' batinnya.


Soraya mengelus perutnya yang masih datar. Harusnya saat itu, Hassan sudah menikahi Aisyah. Namun, karena musibah yang menimpa Bu Sri, Hassan menunda niatnya.


'Tapi, aku akan jadi istri Mas Hassan, walaupun hanya sampai anak ini lahir. Sembilan bulan! Ya, selama sembilan bulan aku mengandung, selama itu juga aku akan hidup bersama Mas Hassan.'


Namun, Aisyah kembali merasa sedih. 'Enggak, aku nggak akan pernah tinggal bersama. Mas Hassan hanya akan mendatangiku setiap minggu, dan itupun entah menginap, atau tidak.'


Aisyah terus meracau dalam hati. Jujur di lubuk hati yang paling dalam, ternyata gadis itu telah jatuh cinta kepada pria berumur yang telah berkeluarga.


Namun sangat disayangkan, cinta mereka terhalang oleh status!


Aisyah kembali mengusap perut datarnya itu. 'Nggak apa-apa ya, Nak, kamu akan dirawat sama orang berada. Ibu yakin, hidup kamu pasti terjamin."

__ADS_1


Bulir bening pun berjatuhan di pipi Aisyah. Namun dia segera mengusapnya. 'Aku nggak boleh terus berlarut dalam kesedihan. Kasihan anakku nanti kalau ikut sedih juga.'


Kemudian Aisyah segera mengusap pipinya yang basah, dia pun masuk ke dalam kamarnya, dan menyambar jaket jeans untuk dipakainya. Lalu gadis itu melajukan kendaraannya, menuju kos Tini.


__ADS_2