Dunia Aisyah

Dunia Aisyah
Depresi


__ADS_3

Kemudian Aisyah segera keluar ruangan mencari dokter. Sampai di sebuah lorong, Aisyah berpapasan dengan seorang perawat.


"Suster, dokter mana, ya?" tanya Aisyah lembut.


Suster itupun berhenti dan tersenyum kepada Aisyah. "Dokter sedang memeriksa pasien."


"Sus, ibu saya kenapa ya kok dia diam saja, saya ajak ngomong juga tetap diam, tapi dia tidak tidur?"


"Sebentar, pasien atas nama Ibu Sri, ya?" tanya suster itu.


"Iya, betul, Sus," angguk Aisyah.


"Maaf, Nona, saya kurang paham. Sebaiknya Nona tunggu dulu sampai dokter selesai memeriksa pasien lain, nanti saya sampaikan ke Dokter kalau Nona mencari dia," tutur suster itu.


"Baik, Sus, saya akan menunggu di kamar ibu saya," kata Aisyah kemudian segera berlalu dari hadapan Suster.


Aisyah pun kembali ke dalam ruang rawat ibunya. Dia menghampiri wanita paruh baya yang masih saja membuka mata seolah tersadar, namun tidak bergerak dan berbicara. Aisyah benar-benar sedih melihat kondisi ibunya. Dia tidak menyangka, bahwa ibunya akan semakin bertambah parah.


'Ibu, maafkan aku, kalau aku sudah bikin Ibu kecewa. Aku nggak berniat untuk melakukan ini semua, Bu. Aku hanya terpaksa demi semua masalah yang kita hadapi, demi kesehatan Ibu juga,' gumam Aisyah dalam hati.


Bulir bening kembali menetes di pipi Aisyah. Dia hanya bisa menangis, dan menangis.


Ceklek ....


Terdengar pintu dibuka, membuat Aisyah menoleh ke arah tersebut. Dia melihat Dokter masuk. Cepat-cepat Aisyah beranjak dari duduknya menghampiri sang dokter.


"Dokter, ibu saya kenapa? Kenapa dia diam saja tidak menjawab pertanyaan saya, padahal dia sadar, Dok."


Dokter pun mengajak Aisyah duduk di tempat yang telah tersedia.


"Nona, saya minta maaf kalau gagal membuat ibu anda sehat lagi seperti sedia kala. Ibu anda sekarang terkena depresi."


Aisyah terbelalak mendengar pengakuan Dokter. "Depresi, Dok?"


"Benar, jadi ibu anda terserang gangguan mental, akibat adanya ketegangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, dan juga gangguan terkait perubahan suasana hati akibat ketidakseimbangan hormon." Dokter menjelaskan secara detail.


"Jadi, gimana, Dok? Apa bisa ibu saya sembuh?" cemas Aisyah.


"Maaf, Nona, saya tidak bisa memastikan, semoga saja ada keajaiban, dan ibu Nona bisa segera pulih seperti sedia kala," tutur Dokter dengan raut wajah penuh sesal.


Aisyah kembali lemas. "Dok, apa ibu saya bisa dirawat di rumah saja? Jujur, saya ingin merawat ibu saya sendiri."

__ADS_1


"Maaf, Nona, saya sarankan sebaiknya ibu anda dirawat di sini dulu, sampai kondisinya memungkinkan. Karna dikhawatirkan kalau Nona membawa ibu anda pulang, kondisinya akan semakin parah karna penyakit ibu anda sangatlah serius," ujar Dokter.


"Tapi sampai kapan ibu saya akan berada di sini, Dok? Saya sudah ingin sekali berkumpul dengan ibu saya," harap Aisyah.


"Saya tidak bisa menentukan, yang pasti sampai ibu anda sembuh total. Dan Nona juga tidak bisa sering-sering menjenguk ibu anda, takut ibu anda akan bertambah buruk moodnya," saran Dokter.


Aisyah menghela napas kasar, dia pun akhirnya pasrah. "Ya sudah saya permisi pulang dulu, Dok."


"Baiklah, Nona," angguk Dokter dengan raut wajah sayu, dia turut prihatin dengan gadis itu.


Dan Aisyah pun segera berlalu meninggalkan rumah sakit, dia mencari taxi. Gadis itu berencana hendak ke rumah Tini.


Kini Aisyah telah sampai di rumah Tini. Dia menekan bel rumah, dan tak lama kemudian pintu terbuka.


"Aisyah?" Tini sudah berdiri di hadapan sahabatnya itu.


"Tin, aku ganggu gak?" tanya Aisyah tanpa basa-basi.


"Kamu itu kayak baru pertama kali aja main kesini," cibir Tini.


Aisyah meringis terpaksa, kemudian masuk ke dalam. Mereka duduk bersama.


"Gimana kabar kamu, Syah?" tanya Tini.


"Kok gak jelas?" Tini mengerutkan keningnya.


Aisyah pun menceritakan kondisi ibunya saat ini, membuat Tini merasa prihatin kepada sahabatnya itu.


"Ya ampun, Syah, kok bisa gitu? Bukannya ibu kamu kemarin itu udah sehat, ya?" ujar Tini.


"Betul, Tin, tapi ibu jadi drop lagi gara-gara ada dua orang tetanggaku yang jenguk ibuku," ungkap Aisyah.


"Siapa, Syah?" selidik Tini.


"Aku juga gak tahu siapa mereka, Tin. Tapi yang jelas setelah mereka jenguk ibu, kondisi ibu jadi seperti itu. Aku curiga mereka ngomong yang macem-macem tentang aku," papar Aisyah.


"Bisa jadi, Syah. Kamu juga bilang kan, kalau para tetangga kamu itu julid sama kamu," ucap Tini membenarkan ucapan Aisyah.


"Tapi siapa mereka, ya? Karna beberapa suster jaga yang aku tanya, mereka bilang gak tau. Dan waktu itu dokter juga gak jaga," tutur Aisyah.


Tini diam, dia tampak sedang berpikir ....

__ADS_1


"Kenapa rumah sakit bisa lalai gitu, ya? Kalau ada


orang jahat masuk, gimana? Harusnya kan ada yang jaga," gumam Tini.


"Yang jaga memang ada, Tin, tapi mungkin dia gak paham. Dia pikir kalau kedua tetanggaku emang mau jenguk ibuku," kata Aisyah merasa yakin.


"Terus, apa Tuan Hassan udah tau tentang ini?" tanya Tini.


"Belum, nanti aku coba bilang sama dia," sahut Aisyah.


"Terus, kamu udah nikah siri?" tanya Tini kepo.


"Belum juga, rencana sih kita mau nikah kalau ibuku udah sehat. Tapi ibuku malah sakit lagi, dan sekarang tambah parah gini," keluh Aisyah.


"Hem ... kamu yang sabar ya, Syah. Maaf, aku gak bisa bantu apa-apa, cuma bisa bantu doa aja," tutur Tini.


"Makasih, Tin, kamu gak perlu ikut repot mikirin aku, aku cuma ngerasa lega aja kalau udah curhat sama kamu," kata Aisyah sambil tersenyum.


"Oh iya, kamu udah makan, belum?" tanya Tini.


"Udah kok, Tin, aku udah kenyang." Aisyah tengah berbohong, padahal dirinya belum makan apapun sejak pagi tadi.


"Ya udah aku juga nanti aja makannya," kata Tini.


"Lho, kok gak jadi makan?" heran Aisyah.


"Makan gak ada temennya gak enak, Syah. Jadi gak selera," kata Tini acuh.


"Kamu itu modus, bilang aja biar aku mau ikut makan, kan?" kelakar Aisyah.


"Hehe, lagian kamu diajak makan susah amat kayak diajak nagih hutang aja," ucap Tini disertai sebuah kekehan.


"Emangnya kamu mau makan di mana?" tanya Aisyah.


"Em, gini deh ... aku ikut kamu aja. Kamu mau makan apa, aku juga makan," ujar Tini seolah memberi kesempatan kepada sahabatnya.


"Sebenernya aku pengin banget makan bubur ayam tadi pagi, tapi ... Om Hassan gak mau anter, dia yuruh aku pesen lainnya, jadi ya gagal makan deh," tutur Aisyah.


"Bubur ayam? Di alun-alun banyak, tapi ini udah siang, paling udah habis. Atau mau nyoba kesana? Kali aja masih," ujar Tini.


"Eh, gak, Tin. Duh, aku jadi ngrepotin kamu, kan?" sahut Aisyah merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Alah kamu ini kayak sama siapa aja, ayo kita ke alun-alun, kalau misal buburnya abis kita cari makanan lain, kan banyak tuh di alun-alun. Ya itu sih kalau kamu mau," ujar Tini.


"Em, gimana, ya?" Aisyah tampak bingung.


__ADS_2