
"Haus, Tin, kan aku udah bilang tadi, aku haus," kata Aisyah.
Tini terkekeh. "Beneran nih, kamu gak mau makan?" Tini bertanya sekali lagi.
"Benar, Tin, aku gak selera makan," yakin Aisyah.
"Em, kalo orang hamil emang gitu ya? Gak doyan makan. Mungkin bawaan bayi, dulu aku juga punya temen, dia hamil dan gak suka makan nasi. Maunya makan buah yang asam tiap hari, kayak orang ngidam gitu," tutur Laras.
"Tapi, aku gak pernah ngidam, Tin. Dan aku gak pernah ingin makan apa gitu, hanya mual-mual saja rasanya," kata Aisyah.
"Gak ngidam? Kok aneh ya. Kan kebanyakan orang hamil itu, pasti ngidam." Tini bersikeras.
"Tapi, tunggu deh ...." Aisyah pun terdiam sejenak.
"Kayaknya, yang ngidam itu, Om Hassan," lanjutnya.
"Huh? Cowok ngidam? Ah, yang bener aja kamu, Syah." Tini seolah tidak mempercayai ucapan temannya itu.
"Benar, Tin. Kemaren Om Hassan suruh aku nyari rujak buah, tapi karna udah malam, ya gak ada yang jual. Jadi besoknya aku buatin deh," papar Aisyah.
"Gitu ya? Ternyata ada juga cowok ngidam," gumam Tini.
"Iya, Tin," angguk Aisyah.
Tak terasa Tini pun telah menghabiskan makanannya. Kemudian dia menuju ke kasir, untuk membayar semua makanan yang dimakan bersama Aisyah.
Setelah membayar, Tini mengajak Aisyah lanjut ke tempat lain. Mereka berdua pun menuruni anak tangga. Dan sampai di lantai bawah, Aisyah disuguhkan dengan pemandangan yang tidak enak dilihat.
Sepasang suami istri sedang makan bersama. Mereka duduk berhadapan dengan sangat romantis.
"Mas Hassan?" gumam Aisyah lirih namun masih dapat didengar oleh Tini.
Tini pun mencari sosok yang dimaksud oleh Aisyah, netranya menyapu ke seluruh ruangan kafe itu. Dan benar saja, dia melihat Hassan, pria yang sering singgah di bar tempatnya bekerja sedang makan bersama istrinya. Mereka terlihat begitu romantis.
Tini pun mengusap lembut bahu Aisyah. "Kita pergi yuk, Syah." gadis itu sebenarnya mengerti apa yang dirasakan oleh Aisyah.
Entah mengapa, hati Aisyah merasa seperti diiris ribuan pisau yang tajam. Seketika dia merasakan cemburu yang amat sangat. Tak tahan dengan semua itu, gadis itu pun meneteskan air matanya. Hanya itulah senjata yang dia punya jika merasakan sebuah kesedihan.
Tini segera merangkul pundak Aisyah. Saat Aisyah melangkahkan kakinya, bertepatan dengan itu Hassan menoleh. Pria itu bermaksud memanggil pelayan, karena ingin menambah makanan.
Dan pada saat yang bersamaan pula, netra Hassan mengarah pada sosok Aisyah. Pria itupun terkesiap. 'Aisyah,' batinnya.
Sedangkan Aisyah masih menatap Hassan dengan tatapan tajam. Sedetik kemudian dia memalingkan muka, dan setengah berlari keluar dari tempat itu diikuti Tini mengekor di belakang.
"Syah, tunggu dong!" seru Tini mengejar langkah Aisyah.
__ADS_1
Namun Aisyah terus berlari menuju sepeda motor milik Tini.
Sementara itu, Hassan sangat merasa bersalah. Dia tidak menghabiskan makanannya. Pria itu meraih gelas berisi minuman di atas meja dan meneguknya hingga habis. Hanum yang memperhatikan tingkah suaminya, pun merasa heran. Beruntungnya wanita itu tidak melihat Aisyah, karena kepalanya tertunduk. Dia asik menikmati makanan di hadapannya.
"Pah, kamu kenapa? Kok makanannya tidak dihabiskan?"
"Em ... ini, Mah, mendadak aku kenyang. Mamah teruskan makannya, ya. Aku tunggu sampai selesai," bohong Hassan. Pria itu berusaha menyembunyikan sesuatu dari istrinya.
"Lho, bukannya tadi Papah mau nambah makanan?" selidik Hanum yang mulai curiga dengan gelagat suaminya.
"Iya, rencana mau pesan camilan buat di rumah, biar dibungkus sama pelayan. Tapi, sepertinya tidak jadi deh. Takutnya kalau sudah dingin jadi tidak enak, kan sayang kalau kebuang," tutur Hassan berusaha mencari alasan.
Ya ampun, Pah. Kan kita punya alat penghangat makanan," ujar Hanum merasa konyol dengan tingkah suaminya.
"Tapi aku tidak suka makanan yang dihangatkan, Mah. Aku beli makanan, ya maunya langsung dimakan habis. Nah, ini perutku kenyang sekali," kata Hassan masih berbohong.
"Ya sudah, ini aku juga sudah selesai makan, kita pulang yuk," kata Hanum melebarkan senyumnya.
"Okey, oh iya, Mah, nanti mampir di kios buah ya. Aku ingin mangga muda."
Ucapan Hassan membuat Hanum semakin merasa heran dengan suaminya. "Pah, kios buah mana ada yang jual mangga muda, semua buah yang dijual matang dan manis."
"Gitu, ya? Aku pikir ada mangga muda," gumam Hassan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Tidak tahu ini Mah, akhir-akhir ini aku suka sekali makan buah yang rasanya asam," ungkap Hassan.
Hanum hanya diam mencerna ucapan Hassan. Kalaupun suaminya serang mengidam, itu tidak mungkin karena Hanum sendiri saat ini sedang datang bulan, dan sudah mendekati selesai.
"Gini saja, Pah, tetangga kita kan punya pohon mangga. Aku suka lihat ada mangga yang belum matang. Nanti coba aku mintakan, semoga saja dikasih," tutur Hanum.
Oke deh, Ma. Maaf ya, sudah merepotkan kamu," kata Hassan merasa tidak enak hati seketika.
"Ah, Papah ini bicara apa sih? Tidak ada yang merasa direpotkan kok," bantah Hanum.
Hassan hanya tersenyum, kemudian membayar makanan yang mereka makan. Setelah itu dia berjalan beriringan dengan istrinya keluar Cafe. Sampai di parkiran, Hassan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Namun dia sudah tidak lagi melihat sosok Aisyah.
'Maafkan aku, Syah. Kamu harus melihatku bersama istriku. Aku tahu, kamu pasti cemburu,' batin Hassan.
"Pah, Papah cari siapa sih? Dari tadi kok celingak-celinguk." Hanum membuyarkan lamunan Hassan.
Hassan pun terperanjat. "Eh, itu, Ma. Aku tadi seperti melihat Geri "
Lagi-lagi Hassan berbohong ....
"Geri? Rekan kerja Papah?" tanya Hanum memastikan.
__ADS_1
"Betul, Mah," angguk Hassan.
Hanum pun segera mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu. "Mana dia?"
"Kan tadi aku hanya bilang seperti, ya bisa salah dong. Mungkin hanya mirip," ujar Hanum mulai meracau.
Hanum pun menggelengkan kepalanya. 'Sepertinya dia lelah,' batinnya.
"Ayo kita pulang saja, Pah. Terus kamu mandi biar fresh. Nah setelah itu istirahat," ajak Hanum
"Iya, Mah." Hassan segera masuk ke dalam mobil diikuti Hanum.
Mobil pun melaju meninggalkan Top Cafe.
****
Di tempat lain ....
Tini masih mengendarai sepeda motornya sambil sesekali melirik ke arah Aisyah melalui kaca spion motor. Aisyah terdiam menatap ke arah depan dengan pandangan kosong.
"Syah, kamu yang kuat ya. Mau gimana juga, Tuan Hassan itu sudah punya istri sebelum dia ketemu sama kamu." Laras berusaha menguatkan Aisyah.
Aisyah hanya mengangguk lemah ....
"Hem, kalo aja Tuan Hassan belum punya istri, dia pasti mau nikahin kamu secara sah. Karna menurutku, kayaknya dia baik dan perhatian." Tini ikut meracau.
"Gak mungkin juga deh, Tin," bantah Aisyah.
Tini pun mengerutkan keningnya. "Gak mungkin gimana, Syah."
"Dia itu orang kaya dan terpandang, sedangkan aku orang miskin. Kalaupun Om Hassan mau sama aku, pasti keluarganya tetep gak bakal setuju," tutur Aisyah begitu yakin.
"Bener juga sih ... oh iya, Syah, apa ibu kamu sampai sekarang belum sadar juga?" ujar Tini.
Aisyah menggeleng pelan. "Ibu pasti syok banget tahu aku hamil. Bahkan sampe sekarang, dia belum tau siapa yang menghamili aku."
Tini mengesah kasar. 'Kasihan banget Aisyah, sungguh berat beban hidupnya ... dan dia pasti begitu tertekan. Walaupun orang tuaku sudah meninggal, ternyata hidupku masih lebih baik dibandingin Aisyah,' batinnya.
"Oh iya, Syah, kamu mau kemana lagi? Biar aku anter," kata Tini berusaha menghilangkan kepedihan di hati temannya itu.
"Anter aku ke Rumah Sakit aja, aku mau tau keadaan ibuku. Dan kamu bisa langsung pulang, terus nanti aku pulang naik taxi aja."
Tini pun mengangguk, dia sangat memahami perasaan Aisyah saat itu. Mobil pun terus melaju hingga tiba di sebuah rumah sakit yang Aisyah maksud.
"Sudah sampai, Syah," kata Tini.
__ADS_1