
πππ
Giliran kelas 1-6 masuk ke dalam ring. Seorang pemuda berambut merah dan bermata rubi merah delima melesat hingga terdengar bunyi dentuman keras di arena.
Kepulan asap menutupi tubuhnya hingga ketika asap menghilang, pemuda tersebut sedang berdiri sambil berkacak pinggang.
Pemuda itu menatap Theo yang berada di luar arena sambil tersenyum provokasi padanya.
Theo pura-pura tidak melihatnya dan malah asik menengadah menatap langit.
'Orang gila itu!' kesalnya dalam hati. 'Kenapa aku harus bertemu Zeraslan si otak otot itu?!'
Rafael yang melihat pemuda tersebut tersenyum penuh provokasi pada Theo, mengerutkan dahi.
"Oy otak otot! Kamu hanya butiran debu di hadapan rival ku!" teriaknya pada pemuda tersebut.
Pemuda itu langsung mengalihkan pandangannya pada Rafael.
"Kamu bilang apa, hah?!" kesalnya.
Rafael malah tersenyum mengejek.
"Kamu bahkan tidak sebanding dengan ku!" ejek Rafael.
Theo melirik Rafael dengan kesal.
'Aku lupa di samping ku juga ada orang gila!'
Pemuda berambut merah itu mendengus kesal lalu mengalihkan pandangannya pada teman-teman sekelasnya.
"Oy kalian ... cepat sedikit! Aku tidak sabar merobek mulut si pirang itu" teriaknya pada teman-teman sekelasnya.
Beberapa saat kemudian pertandingan di mulai.
Zeraslan segera melesat dan menyerang dengan membabi buta pada teman-temannya.
Terdapat bola api di tangannya lalu dia lempar ke segala arah membuat teman-temannya yang sedang bertarung harus menghindari atau menangkis bola api Zeraslan.
Zeraslan menyatukan kedua telapak tangannya dan ia terlihat sangat serius.
Beberapa murid segera menyerang Zeraslan yang masih merapal mantra di dalam hati.
"EARTHQUAKE!" teriak salah seorang murid berelemen tanah.
__ADS_1
Arena tiba-tiba terguncang hingga membuat lantai retak lalu terpecah belah.
Zeraslan kehilangan fokus ketika ia sedang merapal mantra sihir tingkat tinggi dalam hati akibat pijakannya yang tiba-tiba menghilang dan membentuk sebuah lubang.
'Sial! Aku bahkan belum menunjukkan kehebatan ku!' gerutu Zeraslan kesal.
Sedangkan Theo menatap pemuda berambut coklat yang sekarang sedang menggunakan elemen tanahnya dengan 'sedikit' kagum.
"Kamu tahu siapa dia?" tanya Theo pada Rafael.
"Dia adalah Dale, murid beasiswa dari Kerajaan Amber" jawab Rafael yang juga kagum pada pemuda berambut coklat itu.
Tiba-tiba Rafael menoleh pada Theo, "Apa kamu tertarik padanya?"
"Aku pemuda normal!" tegas Theo.
"Haha, bukan begitu rival ku."
"Kalau begitu jangan bertanya dengan pertanyaan ambigu seperti itu!"
"Baiklah-baiklah maafkan aku. Maksudku ... apakah kamu tertarik pada elemen tanah nya?"
"Hanya sedikit" jawabnya datar.
πππ
Dari dalam lubang, Zeraslan melayang di udara setelah beberapa kali melompat dari dalam jurang.
"Oy, oy! Beraninya kamu menganggu rapalan sihir ku murid beasiswa!" bentaknya sambil menyatukan kedua tangan.
Muncul pusaran api yang menjadikan Zeraslan sebagai pusatnya.
Setelah itu Zeraslan merentangkan kedua tangannya lalu pusaran api itu bergerak menyapu apapun di dalam arena.
Murid yang berelemen air segera merapalkan mantra, tetapi sayangnya dia sedikit terlambat dan mau tidak mau murid tersebut tidak bisa menghindari pusaran api Zeraslan dan berakhir mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya lalu hilang kesadaran.
Dale dengan cepat merapalkan mantra dan terciptalah dinding yang menghalangi pusaran api Zeraslan.
Dinding tersebut berubah menjadi kubah yang mengurung Dale di dalamnya.
Pusaran api Zeraslan dengan ganas mencoba menghancurkan pertahanan Dale.
Boom!
__ADS_1
Terjadi ledakan ketika kubah tersebut berhasil di hancurkan, tetapi Dale tidak berada di dalam nya.
Krak!
Terjadi retakan di bawah kaki Zeraslan yang membuatnya harus menunduk.
Dug!
Tiba-tiba Dale muncul dari bawah tanah dan langsung melayangkan pukulan ke dagu Zeraslan hingga membuatnya melayang di udara.
Dale melompat lalu menendang Zeraslan di udara hingga terpental beberapa meter.
Zeraslan yang terkejut tidak bisa menghindari serangan kejutan Dale.
Dale melesat ke arahnya tetapi sebuah tombak menghalangi jalannya membuatnya melakukan salto ke belakang untuk menghindari tombak tersebut.
Tanpa basa-basi pengguna tombak langsung menyerang Dale dari jarak dekat sedangkan Zeraslan sedang bertarung melawan elemen air lainnya.
"Pertarungan selesai!" teriak Mister Mattews.
Keempat murid yang berada di dalam arena pun segera menghentikan pertarungan.
"Selamat kepada 5 orang tersisa. Silahkan kembali ke tempat!" kata Mister Mattews.
"5 orang? Bukankah mereka hanya 4 orang?" tanya murid di luar arena.
"Hei, lihat itu!" kata murid lainnya menunjuk ke perbatasan arena.
Semua mata tertuju pada perbatasan arena. Terlihat seorang gadis sedang berdiri ketakukan sambil memeluk pedangnya.
"Ya ampuun!" mereka pun menepuk jidat.
"Bukankah dari tadi dia hanya berdiri ketakukan tanpa melakukan gerakan apapun?" kata murid lainnya.
"Dia sangat beruntung, hahahh!"
Bersambung...
VOTE!
πππ
LIKE!
__ADS_1