
👑👑👑
Pemuda itu melihat naga berwarna biru yang berada di barisan paling depan untuk membuka jalan.
Sekarang ia tahu kenapa dinding es nya hancur berkeping-keping padahal dinding tersebut sangat tebal, ternyata naga kecil itu yang melakukannya. Sedangkan tim Theo dilapisi barrier tipis agar tidak tertimpa puing-puing es.
Saat ledakan tadi, Theo telah berpindah posisi menjadi di tengah ke-empat seniornya untuk memasang barrier. Alhasil mereka dapat melewati runtuhan dinding es itu dengan aman.
Tim Theo berlari semakin dekat dengan pemuda itu membuat pemuda itu memasang kuda-kuda waspada.
“Abaikan saja dia, waktu kita terbatas” kata Nafis yang berada di barisan depan bersama Zeno.
Theo dan ketiga seniornya pun mengangguk, mereka juga berpikiran sama seperti Nafis.
Tim Theo semakin dekat, membuat pemuda itu tidak sabar untuk menghajar mereka.
Ketika Tim Theo sudah sangat dekat, pemuda itu segera menyerang Zeno yang berada paling depan barisan mengabaikan naga kecil Theo.
“Rasakan ini!” kata pemuda itu mengarahkan telapak tangan berselimut es pada wajah Zeno.
“Berpencar!” kata Zeno sebelum pukulan itu beberapa senti lagi mengenai wajahnya.
Tim Theo segera terbagi menjadi dua kelompok yang melewati pemuda itu begitu saja tanpa memperdulikan nya.
Zeno, Theo dan Helios bergerak ke kanan sedangkan Nafis dan Leizen bergerak ke kiri.
Seperti slow motion, pemuda itu melihat Theo melirik nya tanpa minat lalu menghilang begitu saja.
“Berani sekali mereka mengabaikan ku!”
Pemuda itu mengepalkan kedua tangannya lalu berbalik dan segera berlari menyusul tim Theo.
“Kembali!” kata Helios dan mereka pun kembali ke formasi semula.
Beberapa saat kemudian, Theo sudah tidak menggunakan naga kecil lagi karena tidak lagi dibutuhkan.
“Di depan ada danau, apa kita akan membuat perahu?” tanya Nafis.
“Itu akan memakan waktu” balas Zeno.
“Setidaknya kita akan menghasilkan uang jika membuat kapal besar dan membuat para peserta membayar ongkos jika ingin menyebrang” kata Nafis asal-asalan.
Theo dan Leizen lebih banyak diam mendengarkan obrolan ketiga seniornya karena mereka memang tidak suka banyak bicara.
“Itu tidak akan berguna, setidaknya kamu harus menggunakan nya di dermaga jika ingin kaya” balas Helios.
“Kamu benar juga, kalau begitu sudah ditentukan aku akan membuat kapal di dermaga” kata Nafis.
__ADS_1
“Baguslah”
“Jadi bagaimana? Apa kita akan berenang saja? Ah, sepertinya itu bukan ide yang bagus. Apa ada ide lain?” tanya Nafis pada semua tim nya.
“Jika kita membuka jalan menggunakan elemen tanah, aku yakin para monster itu akan mendobraknya.” kata Zeno ikut berpikir.
“Akan gawat jika kita terkepung di tengah danau” kata Helios menambahi.
“Sebaiknya kita membuat rakit, itu lebih baik daripada harus terkepung monster air di tengah danau.” kata Zeno.
Leizen mengangguk setuju dan yang lainnya pun ikut setuju.
“Baiklah, aku dan Leizen akan menebang bambu, kalian membuat tali. Waktunya 5 menit.” kata Zeno.
“Berpencar!” kata Helios.
Mereka pun berpencar mengerjakan tugas masing-masing.
1 menit kemudian, Leizen dan Zeno kembali dengan membawa masing-masing 5 bambu di tangan mereka. Sedangkan Nafis, Helios dan Theo hampir selesai membuat tali menggunakan akar dan serat tanaman dari alam.
3 menit kemudian, mereka pun segera merakit dengan cepat. Setelah itu mereka menggerakkan rakit menggunakan elemen sihir Helios.
Pemuda berelemen es yang baru saja tiba di tepi danau langsung berlari begitu saja tanpa menggunakan alat apapun untuk menyebrangi danau. Setiap ia melangkah, maka akan terbentuk sebuah jalan yang memudahkannya menyebrangi danau.
Theo menoleh dan mendapati pemuda es itu berada 1 meter di belakang nya.
“Bersiaplah kawan-kawan, kita kedatangan banyak tamu” kata Zeno melihat tubuh atas monster air seperti hiu sedang mendekat ke arah mereka dengan kecepatan penuh dari berbagai arah.
Theo dan ke-empat seniornya menarik pedang mereka, bersiap bertarung dengan para monster hiu.
Formasi saat ini, Leizen dan Nafis berada di bagian depan rakit, Helios dan Zeno berada di barisan kedua, sedangkan Theo berada di barisan terakhir.
Theo melihat pemuda es itu juga sedang dalam bahaya, tapi ia sama sekali tidak bersimpati atas hal itu. Lagipula pemuda es itu yang memutuskan untuk meninggalkan rekan se-akademinya.
“Kita butuh rencana!” kata Helios melihat banyaknya monster Hiu mendekati mereka.
“Biarkan mereka bertabrakan” kata Leizen setelah lama tidak buka suara, akhirnya ia membuka suara.
“Apa? Bagaimana?” tanya Helios yang masih belum mencerna perkataan Leizen karena sangking terpananya mendengar suara orang yang dianggap 'bisu'.
Entah kenapa ada rasa bahagia karena ia menjadi salah satu orang yang bisa mendengar suara si 'bisu'. Di sisi lain ia juga merasa ingin menangis karena perkataan Leizen tidak dapat ia cerna😭.
Leizen menatap Helios dalam diam seolah mengatakan sesuatu lewat tatapan mata.
'Oy oy... Aku tidak mengerti bahasa qolbu. Bicaralah bahasa manusia!' keluh Helios dalam hati.
Helios mengalihkan pandangan nya pada Nafis seolah mengatakan, 'Apa kamu mengerti maksudnya?'
__ADS_1
Nafis yang melihat tatapan mata Helios pun menggeleng lemah seolah mengatakan, 'Aku juga tidak mengerti!'
Cukup aneh bukan?
Zeno tersenyum masam karena kedua temannya tidak mudeng atas perkataan Leizen.
“Junior Leizen, bisakah kamu menjelaskannya pada kami?” kata Zeno yang malas menebak-nebak di saat situasi genting seperti saat ini.
Leizen beralih menatap Zeno, namun Zeno menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Junior Lei, aku sama sekali tidak mengerti arti tatapan mu” kata Zeno tersenyum kikuk.
'Sepertinya ini alasan junior Leizen tidak punya teman di akademi' kata Zeno dalam hati.
Theo menoleh dan mendapati tatapan dari Leizen, Theo mengangguk mengerti membuat ketiga seniornya tercengang.
'Kamu mengerti, Nak?'
'Astaga... syukurlah kau ada di sini!'
'Setidaknya kita punya penerjemah bahasa Qolbu!'
Mereka bertiga menatap Theo tidak sabar.
“Senior Leizen dan Senior Zeno sama-sama berelemen air, kalian akan bekerjasama membuat rakit kita melambung tinggi.
Setelah kita di atas, aku akan menangani pilar air kita agar tidak ada monster yang berani naik.
Sedangkan Senior Helios dan Senior Nafis akan menyerang monster yang berkumpul di bawah.” kata Theo menjelaskan secara perlahan dan tenang agar ketiga seniornya mengerti.
“Syukurlah kau ada di sini” kata Helios menepuk pundak Theo membuat Theo tersenyum simpul.
“Baiklah, kita lakukan sesuai rencana. Ikuti aba-aba ku” kata Helios serius dan semuanya pun kembali serius.
“3!”
“2!”
“1!”
“Sekarang!”
Booooommmm!
Bersambung....
👑👑👑
__ADS_1
LIKE!