Extraordinary Prince

Extraordinary Prince
Bab 20 ~ Alasan


__ADS_3

πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘


Seharian Theo terus berlatih di bawah bimbingan Mister Cedrik. Malam nya ia habiskan dengan membaca buku yang ia pinjam, setelah itu Theo pun tidur.


Pagi pun tiba. Seperti biasa ia datang ke akademi sambil menahan uap.


Di tengah pelajaran, Theo memilih tidur disaat Mister menerangkan materi. Karena tidak kuat lagi menahan kantuk, ia pun izin ke toilet.


"Ada apa, Murid Theo?" tanya Mister melihat Theo mengangkat satu tangan.


"Murid izin ke toilet"


"Silahkan"


Theo pun beranjak lalu keluar kelas. Bukannya pergi ke toilet, Theo malah masuk ke uks. Entah keberuntungan dari mana, hari ini uks sangat sepi tidak ada yang menjaga. Sepertinya tabib sedang sarapan.


Ia pun berbaring di salah satu ranjang lalu memejamkan mata.


'Ini lebih baik daripada mengikuti kelas' katanya dalam hati.


Tanpa terasa Theo tidur hingga masuk ke pelajaran selanjutnya.


Pelajaran selanjutnya diisi oleh Mister Cedrik, ia memperhatikan barisan belakang dan tidak mendapati Theo di sana.


"Apa hari ini Murid Theo tidak masuk?" tanya Mister Cedrik.


"Theodoric sedang di toilet, Mister. Apa perlu murid ini menjemputnya?" tanya ketua kelas yang bernama Luth.


"Tidak perlu"


Mister Cedrik membaca sebuah mantra lalu muncul gambar seperti layar infokus yang menelusuri setiap sudut akademi kecuali toilet.


Murid kelas 1-1 memperhatikan layar tersebut dengan kagum. Tiba di ruangan uks, layar tersebut memperlihatkan Theo yang sedang tertidur pulas.


Wajah tampannya tampak damai seolah tidak akan ada bencana.


"Bukannya Theodoric pergi ke toilet? Kenapa bisa ada di uks?" kata salah satu murid.


"Apa dia sedang sakit?"


"Sepertinya dia tidak sakit sama sekali"


Disaat semua orang sedang berdiskusi, Rafael malah tertawa terbahak-bahak melihat rivalnya tidur nyenyak di uks.


"Hahahhaha"


Tertawaannya mengundang atensi semua orang


Berbeda dengan Mister Cedrik yang malah kesal melihat muridnya bersantai ria.


Ia pun mengirim layar tersebut ke semua kelas dari tingkat 1 sampai tingkat 3.


Di salah satu kelas 2.


"Bukannya dia Theodoric? Hahaha, bisa-bisanya dia tidur disaat jam pelajaran"


Semua kelas pun menertawakan Theodoric yang sedang tertidur pulas itu.

__ADS_1


Master salah satu kelas 2 memerintahkan salah seorang muridnya untuk memberi pelajaran pada pemuda di dalam layar tersebut.


"Murid Lei, bangunkan dia" kata Master tersebut.


Leizen bangkit lalu menundukkan sedikit kepala dan mulai meninggalkan kelas.


Leizen adalah murid beasiswa yang berprestasi. Rambutnya putih, iris matanya biru dan berelement petir dan air.


Ia berjalan menuju ruang uks dengan wajah datar. Sebelas dua belas sama Theo, tapi ia jarang bicara tidak seperti Theo yang masih bisa diajak berkomunikasi.


Itulah sebabnya Leizen tidak punya teman karena ia akan cenderung menghindar.


Layar proyeksi masih menampilkan keadaan di ruang uks.


Beberapa saat kemudian akhirnya Leizen tiba. Ia menatap pemuda yang sedang tertidur pulas.


"..."


Tangan Leizen terulur tepat di atas wajah Theo yang sedang tidur. Telapak tangannya mengeluarkan bola air dan ia mencampurkan petir ke dalamnya, setelah itu...


Byurr


Ckiit ckiit (anggap suara listrik)


Mata Theo langsung terbuka lebar merasakan sengatan listrik di wajahnya.


"Arg!" pekik Theo.


"Hahahahhah!" tawa semua kelas pecah melihat keterkejutan Theo di layar proyeksi.


Naga biru berukuran sedang langsung menyemburkan api biru bercampur petir sedangkan Theo dengan cepat meninju perut Leizen dengan telapak tangannya.


"Holy Rose!" kata Theo lirih dengan suara khas bangun tidur.


Serangan Theo sangat cepat hingga Leizen terpaksa menerima serangan itu.


Boooommmmm!


Uks tersebut langsung hancur berantakan akibat serangan dahsyat Theo. Untungnya ruang uks berpisah dengan bangunan akademi sehingga kerusakannya tidak menyebar kemana-mana.


Leizen terpental beberapa meter jauhnya sambil memegangi perutnya yang terasa terbakar.


Booom!


Ledakan kembali terdengar ketika Leizen menabrak sebuah pilar besar akademi.


"...."


"...."


Hening.


Tidak ada tertawaan seperti tadi di semua kelas. Bagaimana pun Leizen adalah murid berbakat, bisa mengalahkan Leizen ketika masih di tingkat 1 adalah hal yang sulit dipercaya.


Sekarang di layar proyektor terdapat garis tengah yang menampilkan keadaan Leizen dan Theo di tempat berbeda.


Kepulan asap di uks mereda menampilkan Theo yang menatap tajam Leizen dari kejauhan. Dibelakangnya naga biru mengepakkan sayap menunggu perintah selanjutnya.

__ADS_1


'Tatapan itu ... sangat menyeramkan!' batin mereka yang terus memperhatikan layar proyeksi.


Dua orang master muncul di hadapan Leizen dan Theo.


Mister Cedrik berdiri di depan Leizen yang menampilkan wajah pucat pasi menahan sakit. Di perutnya terdapat api biru yang berkobar dengan ganasnya.


Sebelumnya seluruh tubuh Leizen terselimuti api biru dan sengatan listrik akibat serangan naga biru. Leizen pun cepat-cepat mengeluarkan sihir air untuk memadamkan api di seluruh tubuhnya, tapi hanya api dari serangan Theo yang tidak bisa padam.


Saat ini Leizen terus berusaha memadamkan api di perutnya sambil menahan sakit. Datang seorang master berelement air membantu memadamkan api di perut Leizen, tapi api itu seperti api abadi yang tidak akan pernah padam.


Di tempat Theo berada, Mister Alphonso menenangkan Theo yang terlihat murka.


"Murid Theo, tenangkan dirimu!"


Theo yang melihat seseorang menutupi pandangannya pun menatap tajam Mister Alphonso, tapi setelah tau orang di depannya adalah salah satu master di akademi, Theo pun segera merubah tatapannya.


Dalam sekejap Theo sudah kembali mendapatkan ketenangannya.


"Maaf atas ketidak-sopanan murid ini, Mister." Theo berkata sambil sedikit menundukkan kepala juga menarik kembali naga biru yang kini masih melayang. Naga biru itu terserap ke dalam punggung Theo lalu menghilang.


Theo merasa bersalah karena telah menatap Mister Alphonso dengan tatapan yang tidak seharusnya dilakukan murid pada guru.


Sebelumnya Mister Alphonso terkejut dengan tatapan Theo padanya, tapi setelah itu ia lega karena sebelumnya Theo hanya belum menyadari keberadaanya sebagai guru.


"Tidak apa-apa, Murid Theo" balas Mister Alphonso sambil memegang pundak Theo untuk menenangkannya.


"Kenapa Murid Theo tidur di uks pada saat jam pelajaran? Bukankah sebelumnya murid Theo izin pergi ke toilet?" tanya Mister Alphonso sambil melepaskan tangannya di pundak Theo.


"Maaf atas kelancangan murid ini, Mister. Sebenarnya murid ini kehabisan mana hingga membuat murid hampir pingsan di kelas.


Maka dari itu, murid ini pergi ke uks agar tidak mengangganggu proses belajar mengajar.


Maaf karena murid ini sebelumnya tidak menjelaskan yang sebenarnya dan malah meminta izin ke toilet" kata Theo penuh penyesalan pada Mister Alphonso yang memang pada saat itu ia izin pada Mister Alphonso pergi ke toilet.


'Dia murid yang baik tapi sedikit kaku' pikir Mister Alphonso.


"Kemarikan tangan mu, biar ku periksa" kata Mister Alphonso.


Theo mengulurkan tangannya dan Mister Alphonso pun segera memeriksa denyut nadi Theo.


Saat ini ia terkejut ketika merasakan aliran mana yang begitu sedikit di tubuh Theo. Mana di tubuh Theo hanya tersisa satu sendok ramen.


'Pantas saja ia pingsan, setelah bangun dari pingsan pun mananya hanya terisi satu sendok' pikir Mister Alphonso.


"Sepertinya murid Theo tidak berbohong" katany Mister Alphonso melepaskan tangan Theo.


Slass


Slass


Mister Cedrik dan satu mister lainnya menghampiri mereka dengan Leizen di gendongan Mister Cedrik.


"Maaf mengganggu. Murid Theo, bisakah kamu memadamkan api ini terlebih dahulu?" kata Mister Cedrik.


Bersambung...


πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘

__ADS_1


__ADS_2