
πππ
Hari ini Theo masuk ke dalam kelas dengan wajah lusuh. Rafael yang melihat wajah lusuh Theo segera menghampirinya lalu memegang pundak Theo.
"Apa semalam kamu tidak tidur, Theo?" tanyanya penasaran.
Theo melepaskan tangan Rafael di pundaknya lalu melewatinya begitu saja.
Rafael mengikuti Theo yang berjalan menuju mejanya di barisan paling belakang. Setelah itu Theo membenamkan kepalanya di atas meja dan menjadikan tas nya sebagai bantalan kepala. Wajah Theo menghadap keluar jendela lalu dia memejamkan mata.
Rafael duduk di sebelah Theo dan memperhatikan belakang kepala Theo yang menghadap keluar jendela.
Otak Rafael langsung traveling melihat Theo yang sekarang sedang tidur.
'Apa jangan-jangan...?!'
"Haha... Seperti yang di harapkan dari rival ku. Kamu pasti kelelahan setelah berolahraga malam!" katanya semangat.
"Katakan padaku, kamu bermain berapa ronde hingga membuat mu tidur di kelas?"
"Sepertinya aku kalah satu langkah dari mu, tapi tak apa. Aku akan segera menyusul mu! Aku yakin ... aku bisa bermain puluhan ronde dan dapat mengalahkan mu!"
Theo yang sedang memejamkan mata seketika melotot mendengar omong kosong Rafael.
__ADS_1
"Berapa banyak wanita yang kamu gagahi semalam? Aku akan menggagahi wanita yang lebih banyak darimu."
Bruk!
Tas yang tadi digunakan Theo sebagai bantal kini mendarat tepat di wajah Rafael. Theo berdiri dan menatap tajam Rafael.
Meskipun Rafael tidak merasakan sakit, tapi dia sangat terkejut ketika Theo melempar tas pada wajah tampannya.
'Sial! Sebenarnya apa yang ada di otak nya itu?!' gerutu Theo dalam hati.
"Berhenti bicara omong kosong dan pergi dari sini sekarang!" tegur Theo dingin dengan deep voice nya.
Theo tidak membentak, dia tetap berbicara dengan nada rendah nya. Tapi entah kenapa Rafael merasa terancam. Apalagi dengan tatapannya itu.
"Hmm...? Memangnya apa yang salah dengan ucapan ku?" tanya Rafael yang masih tidak mengerti kesalahannya.
Theo menghela napas pelan, entah kenapa dia sangat kesal hari ini. Dia kembali duduk setelah menenangkan diri.
"Huuh ... Pergilah! Bangunkan aku ketika bel masuk dan berhenti berpikir yang tidak-tidak tentang ku. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan."
Theo kembali membenamkan kepalanya di meja dan wajahnya menghadap jendela lalu memejamkan mata.
'Sepertinya aku terlalu meremehkan rival ku. Kalau dipikir-pikir, dia bukan pria seperti itu'
__ADS_1
Rafael mengelus dagunya sambil memperhatikan belakang kepala Theo.
'Lalu kenapa rival ku sangat lelah hari ini?'
Rafael berpikir sejenak, 'Apa jangan-jangan rival ku melakukan latihan secara pribadi?! Seperti yang di harapkan dari rival ku! Mulai hari ini aku akan melakukan latihan pribadi!'
Rafael meninggalkan tempat Theo dengan penuh tekad. Dia sudah membulatkan tekad untuk melakukan latihan pribadi setelah pulang dari akademi.
πππ
Jam pelajaran berganti. Semua murid di kelas Theo keluar menuju batranya masing-masing.
Theo berjalan menuju ruang potionering. Disana telah terdapat murid campuran dari 2 kelas lainnya yang seangkatan dengan Theo sedang mengerumuni seorang pemuda.
Pemuda itu murah senyum dan sangat ramah, tidak heran jika banyak yang menyukainya.
'Itu dia salah satu tokoh utamanya. Pangeran Oxyn dari Kerajaan Capella. Seorang Master potion di masa depan' kata Theo dalam hati sambil melihat sekilas pada Oxyn.
Sebenarnya Theo juga ingin berteman dengannya karena Oxyn adalah master pembuat potion di masa depan. Berteman dengannya akan sangat menguntungkan baginya.
Tetapi ketika Theo melihat pemuda itu di kerubuni oleh murid lainnya, dia mengurungkan niatnya dan seperti biasa memilih barisan paling belakang.
Bersambung...
__ADS_1
πππ
LIKE!