
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
Theo mendongak menatap puncak menara yang sepenuhnya tertutup awan.
Di bawah menara pencakar langit, keadaan nampak sudah sepi, biasanya di bawah menara akan ramai oleh masyarakat yang menghabiskan waktu mereka untuk mendongak ke atas hanya untuk melihat puncak menara, hanya saja malam ini akan dilakukan pemeriksaan rutin menara sehingga kawasan hingga sepuluh meter akan di tutup dan di jaga ketat oleh pengawal.
Melihat kawasan yang telah sepi, Theo mengaktifkan Eye of Agamoto tingkat 1. Iris mata kanan Theo berubah sesuai tingkatan eye of agamoto (Bab 15).
Theo memusatkan mana pada kakinya, ia berlari di dinding tanpa takut terjatuh. Hal ini bisa juga dilakukan oleh seseorang yang telah menguasai 'Zone'. Theo tentu saja belum menguasai Zone, tapi dengan Eye of Agamoto, keadaan nya sama seperti memasuki Zone.
Dari jarak sepuluh meter kebelakang, banyak penduduk yang duduk di atap hanya untuk melihat seseorang yang berlari di dinding tanpa terjatuh, meskipun tidak terlihat jelas, tapi mereka bisa melihat samar bayangan yang sedang berlari di dinding.
Melihat penduduk Kerajaan Ilussio yang duduk di atap, banyak tamu (penonton kompetisi) yang penasaran dan berakhir ikut menatap bayangan samar yang berlari di dinding menara.
Seorang pemuda berjalan masuk ke dalam sebuah kedai yang ternyata sangat sepi, padahal kedai tersebut jelas masih buka, tapi tidak ada satupun orang disana. Pemuda itu melihat makanan dan minuman di meja-meja pelanggan, tapi tidak ada orang yang menikmati hidangan tersebut.
'Apa kedainya sudah tutup?' pikirnya berniat keluar dari kedai, tapi seorang pelayan berjalan menghampirinya.
“Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya si pelayan.
Pemuda berambut perak itu segera bertanya pada pelayan.
“Kenapa tempatnya sangat sepi? Jika sudah tutup, sebaiknya beri pengumuman di depan pintu” kata pemuda itu.
“Maaf, Tuan. Sebenarnya kami belum tutup, hanya saja malam ini kami berniat pergi ke atap untuk melihat menara pencakar langit” kata si pelayan dengan tulus.
“Memangnya ada apa dengan menara?” tanyanya penasaran.
“Malam ini sedang dilakukan pemeriksaan rutin menara pencakar langit, akan ada orang yang berlari di dinding menara” jelas si pelayan.
Pemuda itu segera pergi dari kedai tanpa sepatah katapun. Pelayan tersebut tidak mempermasalahkannya dan segera berjalan menuju ke lantai 2.
***
Di luar, pemuda itu memang melihat banyak orang duduk di atap dan melihat menara pencakar langit. Karena penasaran, ia memanjat dinding rumah salah seorang warga seperti seorang pencuri.
Di atas atap terdapat seorang paruh baya yang juga menatap menara di kejauhan. Ia dikejutkan oleh kemunculan seorang pemuda yang tidak dikenalnya. Merasakan tidak adanya ancaman dari pemuda tersebut, paruh baya itu tersenyum menyambut nya.
“Apa yang kamu lakukan anak muda?” tanyanya sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
“Paman, aku melihat banyak orang duduk di atap, jadi aku memanjat dinding rumah mu” balasnya sambil membenarkan pakaiannya.
“Oh, kamu pasti penasaran. Kemarilah, aku akan membuatkan mu teh” kata paruh baya itu mulai menyeduh teh di cangkir berbeda.
Pemuda berambut perak yang tak lain adalah Revan berjalan mendekat pada paruh baya tersebut.
Ia duduk di sampingnya sambil menatap menara yang menjulang tinggi di kejauhan.
“Selesai,” paruh baya itu meletakkan teh hangat di tengah-tengah mereka.
“Jadi apa yang dilakukan orang-orang itu, termasuk Paman?” tanya Revan penasaran sambil mengambil teh yang telah disiapkan.
“Kami sedang menatap menara” katanya sambil menatap menara.
“Memangnya apa yang menarik dari melihat seseorang yang berlari di dinding?”
“Kamu bisa melihat nya, anak muda?”
“Sangat jelas” balas Revan.
Paruh baya itu tersenyum tulus, “Kamu punya mata yang bagus, Anak Muda. Aku hanya bisa melihat samar bayangan nya saja”
'Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajahnya' pikir Revan karena ia hanya melihat punggungnya saja.
Melihat punggung itu, entah kenapa ia seperti pernah melihat nya, tapi dimana?
“Apa kamu bisa melihat sudah sejauh mana orang itu berlari, Anak Muda?” tanya paruh baya itu.
“19 meter” balas Revan.
“Sudah waktunya.” kata paruh baya itu.
“Ada apa?” pertanyaan itu terlontar diikuti paruh baya yang sudah tertidur lelap di atap.
Revan juga merasakan dirinya yang tiba-tiba ngantuk berat.
'Ada apa ini? Apa ada musuh?' pikir Revan sambil berusaha menjaga kesadarannya, tapi rasa kantuk yang menyerang nya sangat kuat sehingga ia ikut tertidur di atap.
Saat ini Kerajaan Ilussio sangat tenang, semua manusia yang berada di Kerajaan Ilussio tertidur lelap termasuk hewan-hewan di dalamnya. Mereka memasuki alam mimpi masing-masing.
__ADS_1
Kejadian ini adalah kelemahan Kerajaan Ilussio, bisa saja musuh menyerang disaat semua orang tertidur lelap, tapi itu hanyalah khayalan, karena disaat sumber daya sedang melemah, sebagai gantinya array akan semakin kuat hingga sangat sulit ditembus atau dihancurkan.
Jika awalnya sudah kuat, maka kali ini jauh lebih kuat.
Disaat semua orang tertidur, hanya Theo yang masih terjaga dan terus berlari di dinding menara. Eye of Agamoto nya telah berubah menjadi eye of agamoto tingkat 2, hal inilah yang membuat semua orang tertidur.
Ia mulai merasakan tekanan udara, salah fokus sedikit saja ia akan langsung jatuh.
Dua jam kemudian, Theo menembus awan. Ia melihat lautan awan membentang mengelilingi menara.
Jika dibawah sana sedang malam hari, maka tidak dengan di puncak menara yang seperti pagi hari.
'Meskipun aku sudah melihat pemandangan ini berkali-kali, tapi aku tetap tidak bisa tidak terus dibuat kagum oleh Maha Karya Tuhan.' kata Theo dalam hati.
Sinar mentari pagi menghangatkan tubuhnya yang semula dingin akibat diterpa angin malam.
Satu jam berikutnya, Theo berdiri di puncak menara sambil merentangkan kedua tangannya untuk merasakan kedamaian yang sangat sulit dijelaskan.
Puncak runcing menara tidak seruncing yang dipikirkan. Terdapat bebatuan datar yang cukup untuk duduk di atas sana.
Theo mengambil sikap lotus lalu mulai menyerap mana. Kecepatan menyerapnya dua kali lipat lebih cepat daripada menyerap mana di bawah menara. Sangat menguntungkan bagi seorang yang membutuhkan kebutuhan mana lebih banyak seperti Theo dan tidak memakan banyak waktu.
Satu jam kemudian, Theo membuka mata. Netranya menatap ke bawah yang hanya mendapati hamparan awan.
Theo mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkan nya secara perlahan. Eye of Agamoto berganti menjadi eye of Agamoto tingkat 3. Tingkat paling tinggi dari tingkat 1 dan 2.
Hamparan awan menghilang digantikan dengan rumah-rumah penduduk yang terlihat sangat jelas di mata Theo.
Pada saat ini, berbagai macam gambaran memasuki pikiran Theo. Gambaran tersebut adalah masa depan Kerajaan Ilussio.
Alasan kenapa Kerajaan Ilussio sangat kuat adalah pemeriksaan rutin menara pencakar langit yang terus dilakukan oleh pemilik eye of agamoto sejak zaman nenek moyang mereka sehingga dapat segera bertindak sebagai upaya pencegahan kehancuran Kerajaan Ilussio.
Bersambung...
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
__ADS_1
LIKE!