Extraordinary Prince

Extraordinary Prince
Bab 36 ~ Apa Kamu Masih Mengingat Ku?


__ADS_3

Meskipun kurang dari 10 komentar di chp sebelumnya, Lux tetap up:"


どうもありがとう。。。untuk para pembaca Lux saat ini:"


👑👑👑



Leizen berjalan menuju kursi khusus 10 peserta dengan Saragas. Ketika ia beratatapan dengan Theo, kedua matanya berkedip dan Theo pun mengangguk, setelah itu ia duduk di kursi belakang.


Kenzi yang berada di samping Theo mengerutkan dahi melihat interaksi Theo dan Leizen yang sangat monoton.


'Apa semua murid Akademi Cumulus adalah orang-orang yang monoton?' tanyanya dalam hati.


“Peserta selanjutnya: Geffarin, Tingkat 2, Akademi Tartaros. Luciana, Tingkat 3, Akademi Bellezac. Haris, Tingkat 3, Akademi.... ”


Kesepuluh peserta naik ke atas arena.


Di tempat khusus pemenang, Theo menatap pemuda berambut perak dan bernetra biru yang sekarang berdiri di tengah arena bersama kesembilan peserta lainnya. Ia seperti pernah bertemu pemuda itu sebelumnya, tapi Theo lupa dimana mereka pernah bertemu.


'Geffarin? Sangat familiar.'


***


Pertandingan begitu intens di atas arena.


Theo memperhatikan Geffarin yang saat ini tubuhnya penuh luka, tapi pemuda itu sama sekali tidak mau menyerah.


Diantara semua peserta, hanya dia yang terlihat paling menyedihkan dan menjadi yang paling semangat.


“MASIH BELUM!” teriak Geffarin setelah mendapat serangan dan mundur beberapa langkah yang hampir saja akan keluar arena.


Geffarin melesat sambil mengerahkan sihir anginnya.


“WIND SPLASH!”


Sihir anginnya memadat lalu ia tembakkan pada lawannya saat ini.


Jurus Wind Splash milik Geffarin tidak terlalu kuat hingga lawan bisa dengan mudah menghancurkan jurus tersebut dengan wind splash miliknya.


“Sangat membosankan. Kenapa orang yang bahkan belum menguasai sihir bisa mengikuti kompetisi Viceroy. Apa Akademi Tartaros begitu kekurangan ahli?” kata Kenzi memberi komentar pada pertarungan Geffarin yang melawan sesama peserta berelemen angin.


Suara Kenzi lumayan besar hingga Saragas yang duduk di belakang Kenzi bisa mendengarnya. Tapi Saragas hanya tersenyum masam mendengar ejekan Kenzi.


Kenzi menoleh sambil melontarkan kata-kata hinaan pada Saragas.


“Oh aku lupa, bukankah kamu juga dari Akademi Tartaros? Kalau dipikir-pikir, kamu cukup beruntung bisa lolos ke babak selanjutnya. Aah, bahkan kemampuan mu tidak sebanding dengan tingkat 2 di samping mu”

__ADS_1


Leizen yang sedang fokus pada arena pun mengalihkan pandangan nya pada Kenzi yang membawa-bawa dirinya.


Saragas mengepalkan tangan menahan semua hinaan yang Kenzi lontarkan padanya. Kenzi yang melihat Saragas mengepalkan tangan pun tersenyum polos.


“Kenapa kamu terlihat marah? Bukankah yang aku katakan adalah fakta?” tanya Kenzi sambil tersenyum menantang.


Theo yang sedari tadi mendengarkan ocehan Kenzi nampak tidak peduli dan terus melihat ke arena. Dia sama sekali tidak berniat membela atau menghentikan ucapan Kenzi. Baginya, itu tidak ada hubungan dengannya.


'Sekarang aku ingat, dia adalah orang yang berusaha membantu Mara!'


Beberapa saat kemudian, pertandingan pun berakhir dan wasit segera mengumumkan pemenangnya.


“Pemenangnya, Geffarin, Akademi Tartaros. Dan Luciana, Akademi Bellezac.” kata wasit mengumumkan.


“Wooooo!”


Suara teriakan penonton menggema di Coloseum.


“Hah... Keberuntungan Akademi Tartaros sangat bagus” keluh Kenzi yang kemudian tersenyum penuh arti. “Aku penasaran sejauh mana keberuntungan itu akan bertahan?”


“Peserta selanjutnya: Revan, Tingkat 3, Akademi Nordik.


Clara, Tingkat 3, Akademi Perak.


Stevan, Tingkat 3, Akademi Bronze.


Helios, Tingkat 3, Akademi Cumulus.


Geffarin dan Luciana berjalan menuju kursi khusus pemenang. Tiba di sana, matanya menangkap sosok Theo yang duduk di barisan paling depan.


“Theo, apa kamu masih mengingat ku?” tanya Geffarin yang langsung menghampiri Theo sambil tersenyum lebar mengabaikan luka-luka di tubuhnya.


Theo melirik sekilas dan kembali fokus ke arena.


“Tidak” jawabnya singkat.


“Oh ayolah, coba ingat-ingat lagi. Kita pernah bekerjasama di kota Futo untuk menyelamatkan gadis berambut putih” desak Geffarin agar Theo mengingat nya.


“Oh, aku ingat” jawab Theo acuh berharap Geffarin segera pergi ke tempat duduknya di belakang.


“Benarkah? Akhirnya kamu ingat juga! Apa kamu tahu gadis berambut putih itu di serang siapa?” tanya Geffarin.


Theo mengalihkan pandangan pada Geffarin sambil memasang wajah tenangnya.


“Tidak. Memangnya ada kejadian seperti itu?” tanya Theo berbohong tanpa berkedip. Ia merasa tertarik dengan apa yang dibicarakan Geffarin.


“Dia di serang dan hampir mati. Aku mencari seseorang untuk menolong nya, tapi di sana tidak ada siapapun. Dan kamu tahu apa yang terjadi?”

__ADS_1


'Hampir mati? Itu berarti....' Hati Theo mulai terasa gundah.


Melihat keterdiaman Theo, Geffarin melanjutkan ucapannya.


“Seseorang yang tidak pernah di sangka kedatangan nya datang dan menolong gadis itu” kata Geffarin membuat Theo memejamkan mata.


'Hakai no Bara adalah jurus terkuat ciptaan ku. Tidak mungkin jurus itu bisa di patahkan begitu saja meskipun pilar cahaya membantunya.' Pikiran Theo berkecamuk memikirkan beberapa kemungkinan yang masuk akal.


“Apa kamu tahu siapa itu? Dia adalah seorang pilar! Terlebih dia adalah pilar cahaya yang punya kekuatan penyeeuh tinggi dengan elemen cahayanya.” Geffarin menjelaskan dengan bersemangat. Ia tidak akan melupakan momen di mana seorang pilar menggunakan kekuatan nya yang dahsyat.


Theo membuka mata lalu menatap Geffarin.


“Segeralah duduk di tempat mu. Kamu terlihat menyedihkan dengan luka-luka itu” kata Theo sedikit sarkas.


“Hahaha, kamu memang tidak berubah” kata Geffarin yang tidak memasukkan ke dalam hati ucapan Theo.


Geffarin berjalan ke tempat duduknya lalu mulai menyerap mana.


***


“Hahaha, aku akan menghancurkan kalian semua!” teriak Revan yang satu-satunya peserta yang mempunyai elemen es.


Ia menyerang dengan membabi buta dengan sihirnya. Tak tanggung-tanggung, Revan menyerang sekaligus kesembilan peserta lainnya.


Ia memiliki rambut putih keperakan yang menjadi ciri khas pengguna elemen es.


Di dunia ini, hanya pengguna elemen es dan elemen cahaya yang mempunyai ciri khas pada rambut.


Ciri khas pengguna elemen es adalah rambut putih keperakan. Sedangkan pengguna elemen cahaya adalah rambut putih susu.


Untuk elemen lainnya tidak memiliki ciri khas seperti kedua elemen tersebut. Selain kedua elemen itu, elemen lainnya tidak bisa di tebak dari warna rambut mereka.


Kembali ke pertandingan.


Zeno dan Helios sedikit kewalahan menghadapi serangan Revan yang tidak beraturan. Mereka seperti berhadapan dengan hewan buas yang serangannya cenderung berantakan dan tidak bisa di tebak.


Sudah ada empat peserta yang gugur karena serangan Revan yang begitu dahsyat.


“Dia sama sekali tidak tahu cara menahan diri!” kata Helios sambil melompat menghindari es yang akan menghantamnya.


“Jika begini terus, aku akan kehabisan mana sebelum berhasil menyerang!” lanjutnya.


Dua peserta lainnya gugur karena kehabisan mana yang hanya di gunakan untuk menghindari serangan Revan tanpa sekalipun melawan.


Kini di atas arena hanya tinggal tersisa empat orang, itu pun ketiga peserta lainnya juga seperti akan kehabisan mana seperti peserta yang gugur sebelumnya.


Bersambung...

__ADS_1


👑👑👑


LIKE!


__ADS_2