Extraordinary Prince

Extraordinary Prince
Bab 33 ~ Orang Beruntung


__ADS_3

đź‘‘đź‘‘đź‘‘


Kembali ke kompetisi.


Tim Theo terus bergerak sambil terus menyerang dengan serangan jarak jauh.


Leizen dan Zeno tidak ikut menyerang karena mereka sedang fokus menggerakkan pilar air yang membawa mereka sedikit demi sedikit menuju daratan.


Boomm


Duarrr


Beberapa ledakan terdengar di belakang mereka. Para peserta mengalami kesulitan seperti Tim Theo.


Di jarak 6 meter di belakang Tim Theo, seorang pemuda berelemen es tampak kesulitan menyerang bebeapa monster.


“Si4l! Mereka tidak ada habisnya!” umpat pemuda es itu.


Ia menatap ke depan menatap Tim Theo yang berkonsentrasi mengajarkan pekerjaan masing-masing dan saling melindungi.


“Terima ini!” geramnya lalu menusuk perut monster seperti cumi-cumi.


Jelas sekali pemuda itu melihat Tim Theo bergerak sedikit demi sedikit hingga tercipta jarak yang semakin lebar diantara mereka. Sedangkan dia? Dia hanya sendiri.


Pergerakan pemuda es itu terhambat oleh para monster yang menyerang dari berbagai arah tanpa henti.


Meskipun serangan nya masih sangat mematikan, tapi jika dilihat lebih jelas ia tampak kelelahan. Mana nya sedikit demi sedikit menurun.


“5 serangan lagi, mana ku akan habis!” gumamnya.


Beberapa tim besar bahkan berhasil menyusulnya.


“Percuma punya otak jika tidak digunakan” ejek salah seorang dari tim lain yang melewatiya begitu saja.


“Ooh... Jadi ini orang yang sok kuat itu? Bahkan dia memperdulikan rekan satu tim nya” ejek tim lain.


“Hahaha... Kamu jangan bilang begitu, nanti kepercayaan dirinya hilang”


“Bye bye tampan”

__ADS_1


Pemuda es itu mengepalkan erat kedua tangannya karena geram dengan ejekan berbagai tim dari Akademi besar.


“Tunggu saja, aku akan jadi penyihir terkuat!” gumamnya.


Karena kemarahan nya telah di atas ubun-ubun, pemuda itu menggunakan sisa mana nya untuk membuat danau membeku.


Pemuda itu langsung berlari kencang setelah berhasil membuat jalan. Meskipun danau itu tidak sepenuhnya beku, setidaknya ia bebas bertarung di darat.


Beberapa menit kemudian, Tim Theo akhirnya berhasil melewati danau penuh monster itu dan menjadi tim yang pertama datang. Karena babak pertama bukan kompetisi antar tim, maka peringkat mereka tidak sama.


Yang pertama menginjakkan kaki di daratan adalah Zeno, yang kedua Leizen, yang ketiga Nafis, yang ke-empat Helios dan yang peringkat terakhir dalam tim adalah Theo. Karena kebetulan ia berada dalam formasi terakhir.


Babak pertama hanya untuk 100 peserta yang berhasil melewati sungai monster. Meskipun terbentuk sebuah tim, tetap dihitung perorangan. Jadi dari awal mereka tidak diwajibkan membuat tim.


Mereka membuat tim atas inisiatif dari para peserta masing-masing Akademi hingga tercipta lah tim yang berisi anggota dari Akademi yang sama.


“Aku tidak menyangka kita bisa bekerjasama dengan baik” kata Nafis berjalan bersama rekan satu timnya menuju tempat khusus para peserta menunggu.


“Hahaha, kau benar, Nafis. Padahal formasi itu hanya dirundingkan sekali tanpa di peraktekkan. Tak ku sangka akan sangat berpengaruh bagi keberhasilan kita” balas Helios yang juga tidak menyangkanya.


“Bekerjasama dengan junior Leizen dan junior Theodoric bagus juga.” puji Zeno pada keberadaan Leizen dan Theo.


“Hahah, betul” balas Nafis dan Helios setuju.


đź‘‘đź‘‘đź‘‘


Di aula Akademi Cumulus.


Para murid yang sedang menonton bertepuk tangan melihat Tim Theo berhasil menjadi yang pertama. Ada rasa bangga di dada mereka melihat keberhasilan Tim Theo.


đź‘‘đź‘‘đź‘‘


Beberapa menit kemudian, para peserta mulai berdatangan dan kursi bagi 100 orang mulai terisi. Para peserta yang masih berada di danau monster harus berjuang lebih keras untuk bisa menduduki kursi yang tersisa.


Tak lama kemudian, pemuda berelemen es itu masuk dengan tatapan tajam. Ia berjalan menuju tempat para peserta yang sedang menunggu kedatangan peserta lain.


Pemuda es itu duduk dalam diam dan tidak menyadari bahwa ia duduk di samping Theo. Theo sendiri tidak mempermasalahkannya, toh, dia tidak punya dendam apapun.


Pemuda itu menenangkan diri dan menyerap mana dalam diam karena stok mananya telah habis. Pemuda itu cukup beruntung tidak pingsan di saat-saat krusial.

__ADS_1


Setelah itu ia menoleh dan terkejut melihat salah seorang peserta dari Akademi besar yang tak lain adalah Theo.


Ia tersenyum mengejek pada Theo, “Kau cukup beruntung masuk ke salah satu Akademi besar” katanya menahan kesal.


Theo membuka mata lalu menoleh setelah mendengar ucapan pemuda es itu.


“Apa ada yang salah?” kata Theo yang malah bertanya.


“Tentu saja ada, aku membenci para murid dari Akademi besar!” balas pemuda es.


Theo mengangguk lalu mengalihkan pandangan nya dan kembali menutup mata.


Pemuda es itu mengerutkan dahi merasa tidak mengerti tindakan Theo yang hanya mengangguk saja.


“Apa kau meremehkan ku karena berasal dari Akademi kecil?!” katanya menarik kesimpulan dengan geram.


“Kau punya masalah dengan hatimu” kata Theo tanpa membuka mata.


“Apa maksudmu?!”


“Karena kebencian mu, kau semakin kuat secara fisik tetapi lemah secara mental.” kata Theo menjelaskan.


“Apa katamu?!” bentak pemuda es itu lalu berdiri sambil menatap Theo yang sedang memejamkan mata.


“Setidaknya beri wajah pada para Mister mu yang memperhatikan sejak tadi”


Pemuda itu menatap sekeliling dan mendapati ketiga misternya sedang menatapnya.


Pemuda itu kembali duduk lalu memejamkan mata. Ia sedang mengatur emosinya saat ini.


“Apa maksud dari ucapan mu itu?” tanya nya sedikit memelankan suara.


“Apa kamu tau kelemahan mu? Jika tidak ada yang pernah menyinggungnya, aku dengan senang hati memberi tahumu.” kata Theo tenang.


“Memangnya kau siapa, berani bersikap sombong seolah mengenalku hah?!” tekannya tidak terima.


“Aku, salah satu orang yang kau anggap beruntung” balas Theo tenang.


Bersambung...

__ADS_1


đź‘‘đź‘‘đź‘‘


Like!


__ADS_2