
πππ
Theo tersenyum tipis menatap potion pertamanya tetapi dua lesung pipi dan matanya yang menyipit menyiratkan bahwa Theo sangat senang sekarang.
Seorang gadis yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Theo, pipinya memerah dan jantungnya berdegub kencang melihat senyum indah Theo.
Theo menyadari tatapan seseorang yang terarah padanya, senyum di wajahnya pun menghilang dan berubah menjadi ekspresi dingin seperti biasa.
Theo melirik sekilas gadis yang sedari tadi memperhatikannya lalu beralih pada Oxyn yang berada di barisan paling depan tengah menatapnya dengan mata berapi-api.
'Apa-apaan tatapan itu?!' kata Theo dalam hati.
Theo dan Oxyn saling bertatapan. Oxyn dengan tatapan berapi-apinya sedangkan Theo dengan tatapan bingungnya.
Mis Elena menilai satu per satu potion buatan muridnya. Wajahnya penuh semangat ketika melihat dua potion milik kedua muridnya.
"Murid Oxyn, murid Theo ... kalian melakukannya dengan baik. Kalian telah membuat ramuan dengan kemurnian tinggi.
Oxyn, 87% kemurnian dan Theo, 90% kemurnian." kata Mis Elena.
Mendengar ucapan Mis Elena, semua murid bertepuk tangan dan menatap Theo dan Oxyn secara bergantian.
Theo menggerutu dalam hati mendengar perkataan Mis Elena, 'Itu hanya 3%! Kenapa harus mengumumkannya!'
"Kelas hari ini selesai, pikirkan baik-baik pilihan kalian selama seminggu ini." kata Mis Elena lalu pergi.
Semua murid kecuali Theo dan Oxyn tersenyum pahit karena potion yang mereka buat di bawah tingkat rendah.
Theo memasukkan cairan merah buatannya ke dalam sebuah botol kaca lalu menyimpannya di saku celana. Setelah itu dia bangkit dan keluar mendahului murid lainnya.
__ADS_1
Oxyn juga bangkit dari duduknya dan segera keluar lab dengan perasaan penuh tekad.
Dia mengepalkan kedua tangan, 'Aku akan berusaha lebih keras lagi!' katanya dan telah menandai Theo sebagai rivalnya.
Kelas berakhir dengan cepat berbeda dengan batra lainnya yang masih belajar di ruang masing-masing batra.
Saat itu Theo berjalan di lorong dan seperti biasa dia menjadi bahan perbincangan murid lainnya.
Di ujung lorong terlihat Mister Cedrik sedang berdiri menyandar di dinding sambil melihat taman di depannya.
Mister Cedrik melirik Theo sekilas lalu pergi. Theo yang melihat itu langsung mengikuti Mister Cedrik dengan perasaan gelisah.
'Perasaan ku tidak enak!' kata Theo dalam hati sambil menatap punggung Mister Cedrik.
Setelah beberapa saat, Theo masuk ke dalam ruang Mister Cedrik dan terlihat Mister Cedrik telah duduk di kursinya.
Mister Cedrik mengibaskan tangan dan muncullah sebuah pedang yang melayang di depannya.
Dia meraih pedang tersebut dengan tangan kanannya dan berjalan ke arah Theo.
"Aku pinjamkan ini selama seminggu, dan kembalikan setelahnya" kata Mister Cedrik datar sambil mengulurkan pedang di tangannya.
Theo mengulurkan satu tangan untuk menerima pedang tersebut.
"Apa kamu tidak menghormati pedang ku?" tanya Mister Cedrik menatap tajam Theo.
Theo tersenyum kecut lalu berlutut dan mengulurkan kedua tangannya untuk menerima pedang dari Mister Cedrik secara hormat.
Mister Cedrik mengangguk puas lalu memberikan pedang di tangannya pada Theo.
__ADS_1
Trang!
Krak!
Theo membelalakkan mata ketika kedua tangannya terjatuh ke lantai tertimpa pedang yang tampak ringan itu.
Theo merasakan tangannya remuk di bawah pedang tersebut dan terasa begitu sakit.
"Aku lupa memberi tahu mu pedang itu sedikit berat." kata Mister Cedrik santai sambil berjalan kembali ke tempat duduknya.
Senyum puas terlukis di wajahnya setelah berhasil menjahili muridnya itu.
'Mata mu sedikit berat! Ini bahkan sangat berat! RIP TANGAN KU!!!' umpat Theo dalam hati.
"Kamu pasti sengaja, Master!" protes Theo menahan sakit pada tangannya yang remuk.
Mister Cedrik duduk lalu bersedekap menatap Theo yang sedang menahan sakit.
"Sudah berani kamu menuduh Master mu sendiri, Theo?"
"Lalu kenapa Master tidak memberi tahu ku sejak awal kalau pedang ini sangat berat?" protesnya.
Mister Cedrik mengedikkan bahu acuh, "Salahkan dirimu sendiri yang tidak bertanya!" jawabnya santai membuat alis Theo berkedut kesal.
Bersambung...
πππ
LIKE!
__ADS_1