Extraordinary Prince

Extraordinary Prince
Bab 21 ~ Holy Rose


__ADS_3

πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘


"Maaf mengganggu. Murid Theo, bisakah kamu memadamkan api ini terlebih dahulu?" kata Mister Cedrik.


Leizen yang berada di gendongan Mister Cedrik menahan sakit yang teramat sangat pada perutnya. Saat ini api biru Theo sedikit demi sedikit merobek perut Leizen.


Tik!


Theo menjentikkan jari dan api biru abadi itupun padam seketika.


Di atas pusar Leizen, terdapat sebuah lubang seukuran jari kelingking akibat api biru. Untungnya Mister Cedrik bergegas menghampiri Theo, jika sampai telat, maka api biru Theo akan terus membakar tubuh Leizen hingga abu pun tak akan tersisa dari tubuhnya.


Meskipun api biru Theo telah padam, tapi luka yang ditinggalkan cukup fatal. Perut Leizen terus mengeluarkan darah segar yang mengalir melalui lubang tersebut.


"Sebaiknya kita bawa keruang Mister karena uks sudah tak tersisa" saran Mister Alphonso.


Mister Cedrik pun bergegas pergi tapi Theo segera mencegahnya.


"Tunggu dulu, Mister. Murid akan menghentikan pendarahannya terlebih dahulu agar dia tidak kehilangan banyak darah" kata Theo sambil mengeluarkan holy rose nya.


Api biru nya kembali membakar perut Leizen tetapi dengan kegunaan yang berbeda. Tiba-tiba Leizen merasakan dingin di perutnya hingga ia tidak merasakan sakit seperti sebelumnya.


"Bukankah ini akan menambah luka pada lukanya?" tanya Mister Bram khawatir karena luka tersebut diakibatkan oleh api biru Theo sebelumnya.


"Tidak, Mister."


"Mister Bram, sepertinya Leizen tidak lagi kesakitan. Sebaiknya kita obati dia" kata Mister Cedrik.


Mister Bram dan Mister Alphonso mengangguk lalu pergi menuju ruang Mister dan diikuti oleh Theo.


Tiba di ruang mister.


Mister Cedrik membaringkan Leizen di sofa sedangkan Mister Bram memanggil Tabib Eriana. Setelah tabib Eriana datang, ia langsung memeriksa kondisi Leizen yang masih sadar.


"Bisa padamkan dulu apinya? Aku akan segera menjahit lukanya" kata Tabib Eriana.


"Tabib bisa menjahitnya dalam keadaan seperti ini" balas Theo yakin.


"Murid Theo, sebelum tabib Eriana menjahit, mungkin tangannya akan terbakar terlebih dahulu." sanggah Mister Bram tidak puas.


Tanpa banyak bicara Mister Cedrik maju lalu memegang perut Leizen yang diselimuti api biru.

__ADS_1


"Api ini dingin" kata Mister Cedrik lalu melepaskan tangannya.


Mereka yang mendengar itu tidak percaya, mana mungkin ada api dingin? Sifat api dari jaman leluhur adalah panas bukan dingin! Tapi setelah mereka merasakannya sendiri, barulah mereka percaya.


"Ini sangat mustahil! Bagaimana bisa ada api dingin?!" kata Mister Bram terkejut.


"Apa dengan begini tabib bisa menjahitnya?" tanya Theo mengabaikan Mister Bram.


Tabib Eriana pun mengangguk meski ia masih tidak percaya ada api dingin. Tapi kenyataannya memang ada api dingin.


Beberapa menit setelah ia menjahit, Theo kembali menjentikkan jari dan holy rose pun menghilang.


Ini adalah proses menjahit tidak menyakitkan sedunia!


"Apa ada yang sakit?" tanya Tabib Eriana.


Leizen menggeleng, bahkan ia sedikit menepuk-nepuk perutnya. Harusnya ia merasakan sakit, apalagi di dunia ini belum ada obat bius, jadi biasanya proses menjahit dilakukan ketika pasien masih sadar.


Tapi saat ini, ia tidak merasakan sakit. Perutnya beroperasi seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sungguh Ajaib!


"Ajaib!" kata Tabib Eriana terkejut.


"Siapa nama mu?" tanya Tabib Eriana.


"Murid Theodoric. Bagaimana kamu bisa melakukannya? Api apa itu? Kenapa bisa memiliki kegunaan penyembuh seperti itu?!" tanya Tabib Eriana antusias.


Mister Bram dan Mister Alphonso menatap Theo bermaksud meminta penjelasan.


Theo melirik Masternya untuk meminta izin, Master Cedrik mengangguk kecil sebagai tanda mengizinkan karena ia sendiri pun tidak tahu Theo memiliki teknik seperti ini.


Theo menunjukkan api biru di telapak tangannya. Api biru itu membentuk sebuah bunga mawar berwarna biru yang indah.


"Murid menyebutnya Holy Rose. Ini adalah teknik buatan murid sendiri.


Karena murid adalah seorang alkemis, maka murid membuatnya dengan 2 kegunaan." kata Theo menjelaskan.


"Holy Rose Angel," Theo mengangkat tangan kanan sedada.


"dan ..." Theo mengangkat tangan kirinya lalu mengeluarkan holy rose lagi.


"Holy Rose Demon." kedua telapak tangan Theo terdapat bunga mawar biru yang berputar 360Β° dengan anggun.

__ADS_1


Mister dan Tabib Eriana tidak bisa berkata-kata. Mereka mengerti 'Angel' dan 'Demon' yang dimaksud oleh Theo.


Itu artinya, seorang alkemis bisa menolong layaknya malaikat dan bisa membunuh layaknya iblis. Sungguh makna yang luar biasa.


Bagaimana Theo bisa berpikir ke arah sana?!


Bahkan mata Leizen menatap lekat pada Holy Rose yang berputar anggun di telapak tangan Theo.


Breez!


Kedua holy rose di telapak tangan Theo menghilang. Ia pura-pura tidak tahu tatapan penuh minat dari mereka berempat.


'Haha, aku tidak akan membiarkan kalian menikmati holy rose ku!' ejek Theo dalam hati seolah mengerti setiap tatapan yang tertuju padanya.


"Murid Theodoric, kenapa kamu menghilangkan holy rose? Cepat keluarkan lagi!" protes Tabib Eriana yang masih belum puas memandangi bunga cantik itu.


"Maaf Tabib Eriana, sepertinya murid itu masih lemas. Bagaimana pun murid ini bersalah karena telah melukainya, jadi murid ini tidak ingin mengganggu pemulihannya." kata Theo sambil sedikit menundukkan kepala menunjukkan ia sangat merasa bersalah.


Padahal,


Ia sedang bersilat lidah.


Meski tidak puas, tapi yang dikatakan Theo memang benar. Leizen membutuhkan istirahat. Maka mau tidak mau ia menahan keinginannya.


'Dasar licik!' pikir Master Cedrik.


"Sebaiknya kita biarkan Leizen beristirahat" kata Tabib Eriana pada akhirnya.


"Aku akan menunggu di sini" kata Theo bermaksud ingin menebus kesalahannya dengan menemani Leizen.


Mereka berempat pun keluar meninggalkan Theo dan Leizen. Kebetulan bel istirahat berbunyi. Tadinya Theo berniat pergi ke perpustakaan, tapi bukan masalah jika mengganti tempat membaca.


"Sebaiknya kamu beristirahat, aku akan duduk di sana. Jika membutuhkan sesuatu, kamu tinggal panggil saja aku" kata Theo yang diangguki oleh Leizen.


Theo pun duduk di sofa lain sambil membaca buku yang ia keluarkan dari kartu perpustakaan miliknya, sedangkan Leizen memejamkan mata karena tubuhnya masih lemas.


Bersambung...


πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘


LIKE!

__ADS_1



__ADS_2