
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
JANGAN LUPA LIKE!
Sudah dua jam Theo menerima berbagai macam informasi yang masuk ke dalam pikiran nya, tapi sampai saat ini informasi tersebut masih belum berhenti masuk ke dalam pikiran.
Mata Theo mengeluarkan air mata darah yang terus mengalir membasahi pipi nya. Alasan kenapa sampai bisa mengeluarkan darah karena eye of agamoto tingkat 3 membutuhkan mana yang besar, sehingga dapat menyebabkan mudah lelah karena mana terus tersedot ke mata.
Untung saja ia sedang berada di atas ketinggian sehingga penyerapan mana bekerja 2Ă— lipat lebih cepat. Jika menerima berbagai macam informasi selama dua jam lamanya di bawah sana, maka akan dipastikan Theo sudah lama pingsan karena kehabisan mana.
Sepuluh menit kemudian, informasi yang masuk ke dalam pikiran nya berhenti. Theo menghela napas lelah lalu memejamkan mata.
“Sekarang giliran kalian...” gumam Theo yang langsung terjun bebas dalam keadaan pingsan.
***
Pemuda berusia 15 tahun perlahan membuka matanya. Iris safir dan rambut coklatnya nya berkibar tertiup angin. Ia adalah Arthur Abelard, Pangeran pertama Kerajaan Ilussio.
Arthur menatap menara dengan datar, tapi netra nya menampilkan kecemasan akan keselematan adiknya.
Seorang pemuda beriris safir dan berambut hitam datang memberi hormat tanpa suara pada Arthur, setelah mendapat anggukan Arthur, ia berdiri di samping Arthur sambil menatap menara.
“Kak Theo akan menginap di istana” gumamnya tanpa mengalihkan pandangan dari menara. Dia adalah William Abelard, Pengeran Kedua Kerajaan Abelard. Saat ini usianya 9 tahun dan merupakan anak terkahir.
“Dari ayah?” balas Arthur yang mirip gumaman.
“Dari ku” kata Will. Ia sangat mencemaskan keadaan kakak keduanya, meskipun wajahnya datar dan bersikap tenang, tapi di dalam lubuk hatinya ia sedang sangat cemas.
Arthur tersenyum tipis, sangat tipis sehingga tidak ada yang bisa membedakan perubahan wajah datarnya. Telapak tangan kirinya mengusap surai hitam Will dengan lembut tanpa mengatakan sepatah kata.
Netra safir mereka mendapati seseorang yang baru saja muncul dari langit, ia adalah Theo yang sedang tidak sadarkan diri.
Arthur terus menatap Theo yang sedang terjun bebas tanpa menghentikan elusannya di puncak kepala Will.
Will yang melihat kakak keduanya sedang terjun bebas dalam keadaan tak sadarkan diri masih bersikap tenang dengan wajah datarnya. Tapi jika lebih diperhatikan dengan teliti, wajah Will berkali-kali lipat lebih datar dari sebelumnya dan juga tampak pias.
*Note: Perhatikan menggunakan sedotan, jika tidak, maka kalian tidak akan menemukan perubahan apapun pada wajah keluarga Abelard.
'Kepala kakak akan terbentur lebih dulu jika mendarat dalam posisi itu' batin Will khawatir.
Arthur menghentikan elusannya setelah memastikan jarak Theo dengan tanah.
“Tetap awasi sekitar” gumam Arthur memberi perintah lalu pergi mendekati menara. Will menjawabnya dengan anggukan kecil sebagai jawaban.
__ADS_1
***
Dalam ketinggian 10 meter dari tanah, Arthur menggunakan sihir anginnya untuk mengubah posisi terjun Theo menjadi tengkurap dan menahan kecepatan jatuh Theo dengan sihir anginnya.
Setelah memasuki ketinggian 5 meter dari tanah, Arthur melompat lalu menggendong Theo di punggungnya.
Theo mengerjapkan mata dan mendapati dirinya sedang berada di gendongan kakaknya. Ia bernapas lega setelah mendapati kenyataan seseorang yang menggendongnya adalah keluarga nya.
“Sepertinya kamu makan dengan baik di asrama” gumam Arthur setelah merasakan kesadaran Theo telah kembali.
“Hmm” balas Theo.
“Baguslah” kata Arthur sambil berlari gesit menuju istana. “Tidurlah, ini sudah malam” lanjutnya.
Theo kembali memejamkan mata. Ia harus mengistirahatkan diri agar tampil maksimal pada babak final besok. Mengenai keselamatan nya malam ini, ia percayakan sepenuhnya pada Arthur dan Shadow.
***
Theo membuka mata lalu beranjak dari kasur. Sekarang ia berada di kamar pribadinya di istana.
Theo mengeluarkan arloji dan melihat waktu yang menunjukkan waktu dini hari. Ia berjalan ke sofa menghampiri Arthur yang sepertinya memang menunggunya bangun.
Di atas meja terdapat teh dan camilan yang telah disiapkan pelayan atas perintah Arthur.
Theo duduk di sofa lain lalu meraih cangkir teh miliknya.
“Sejauh ini tidak” balas Arthur yang mengerti ke khawatiran Theo padanya karena harus memantau ketertiban ibukota selama pertandingan. Theo mengangguk mengerti.
Arthur memberikan selembar perkamen pada Theo.
Theo menerimanya lalu menatap isi perkamen tersebut.
Isi dalam perkamen tersebut adalah peta mengenai inti setiap elemen yang tersebar di berbagai wilayah dan Kerajaan, adapula yang berada di benua lain.
Theo menebak pasti Leon memberitahukan informasi mengenai dirinya yang sedang mencari semua inti elemen pada Arthur, sehingga Arthur memberi perkamen peta ini.
“Apa perlu aku suruh orang mengambilnya untuk mu?” tanya Arthur.
Alih-alih bertanya manfaat setiap inti elemen, Arthur malah menawarkan bantuan untuk memudahkan nya.
Theo menggulung perkamen tersebut dan ia masukkan ke dalam dompet penyimpanan.
“Aku akan mengambilnya sendiri” balas Theo yang menjadikan perjalanan nya mencari inti elemen sebagai mencari pengalaman.
__ADS_1
Arthur mengangguk mengerti, “Berhati-hatilah” kata Arthur sambil memberikan satu kertas teleportasi.
Theo menatap Arthur lamat-lamat. Ia sangat bersyukur pada kehidupan sebelumnya maupun sekarang yang mendapat keluarga yang cocok dijadikan rumah tanpa harus mencari di luar---, dan ia juga bersyukur mempunyai kepekaan tinggi seperti keluarga nya yang lain.
Keluarga nya saat ini sangat minim ekspresi. Jika tidak memahami mereka, mungkin ia akan berpikir keluarga nya sangat membosankan dan tidak menyayangi nya, sehingga akan terjadi pemberontakan karena merasa tidak puas.
Jika tidak memahami mereka, mungkin ia akan mencari kesenangan di luar sana dan mencari sesuatu yang pantas disebut rumah, padahal hanya perlu memahami, rumah mu berada dekat dengan mu.
“Terimakasih” kata Theo sambil tersenyum hingga menampilkan kedua lesung pipinya. “Sampaikan salam pada Ayah, Ibu dan Ibunda”
Hanya pada keluarga nya, Theo tersenyum tulus hingga menampilkan lesung pipi.
Arthur mengangguk sebagai tanggapan.
Theo merobek kertas teleportasi menuju kamar peserta.
Setelah kepergian Theo, Arthur meletakkan cangkir teh nya sambil tersenyum. Bukan senyum tipis yang hanya bisa dilihat dari sedotan melainkan senyum lembut yang terpatri di wajah tampannya saat ini.
“Apa aku harus menganggapnya sudah besar? Yang pasti dia tetap adik kecil ku.” gumam Arthur setelah itu keluar dari kamar Theo.
Bersambung...
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
JANGAN LUPA LIKE!
đź‘‘Keluarga Kerajaan Ilussio
Raja Falen Abelard - 41 tahun (Sihir Petir, Air, Api | Rambut Coklat | Mata Safir)
Ratu Sofia - Istri pertama - Ibu Arthur & Arabella (41 tahun | Sihir Angin & Tanah | Rambut Hijau | Mata Merah)
Ratu Natalie - Istri Kedua - Ibu Theodoric & William (40 tahun | Sihir Kegelapan & Api | Rambut Hitam | Mata Hitam)
Arthur Abelard - Anak pertama - 15 tahun (Sihir Petir & Angin | Rambut Coklat | Mata Safir)
Theodoric Abelard - Anak kedua - 12 tahun (Semua sihir | Rambut Hitam | Mata Safir)
Arabella Abelard - Anak ketiga - 10 tahun (Sihir Petir & Tanah | Rambut Coklat | Mata Safir)
William Abelard - Anak keempat - 9 tahun (Sihir Petir & Api | Rambut Hitam | Mata Safir)
__ADS_1
LIKE!