
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
Ledakan tercipta ketika Leizen dan Zeno bekerjasama membuat pilar air yang mengangkat rakit yang mereka tumpangi bersamaan dengan monster hiu yang saling bertabrakan dibawah sana.
Theo langsung mengalirkan elemen petirnya ke bawah rakit agar pilar air yang mengangkat rakit mereka tidak di datangi oleh monster.
Helios dan Nafis menggunakan jurus jarak jauh untuk menyerang para monster di bawah mereka. Karena sekarang mereka berada di ketinggian, itu memudahkan Helios dan Nafis menyerang hingga jarak 1 meter.
Leizen dan Zeno menggerakkan pilar air yang membawa rakit mereka menuju finish.
Pemuda es yang melihat itu terpana akan kerjasama tim Theo yang berada di depannya itu. Tiba-tiba saja dadanya sesak dan api kemarahan menyelimutinya.
Peserta lainnya berhasil menyusul pemuda es setelah melewati berbagai macam rintangan yang ditinggalkan oleh pemuda es dan tim Theo.
Mereka sangat marah karena pemuda es dan Tim Theo sangat menghambat pergerakan mereka, tapi di sisi lain mereka juga sangat kagum akan kerjasama Tim Theo. Sedangkan pemuda es itu, mereka hanya menganggap dia beruntung memiliki elemen es.
Pemuda es itu bergerak lincah menghindari monster yang mencoba memakannya. Sesekali ia melakukan perlawanan di saat beberapa monster bergerak di jalan es nya.
“Cih, aku tidak sabar menghajar pemuda es itu dan tim itu yang telah menghambat pergerakan kita!”
“Iya! Mereka sangat sombong!”
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
Di Tribun Kerajaan Ilussio.
Sorak sorai penonton menggema hingga keluar tribun karena sangking senangnya melihat pertunjukan yang sangat menakjubkan itu. Apalagi ditambah komentator kompetisi yang memberi komentar yang membuat semangat penonton semakin membara.
"Jantung saya, jantung pemirsa, jantung penonton yang di coloseum dag dig dug der." seru komentator lantang membuat gelak tawa penonton.
“Apa-apaan itu dag dig dug der? Hahaha... ”
“Wohooo... Para pemuda yang sangat bersemangat. Jebret Jebret Jebret!”
“Hahahha.... ”
"Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”
__ADS_1
“Tumben bijak! Hahahah... ”
***
Aula Akademi Ilussio
Semua murid juga tertawa mendengar komentator kompetisi viceroy. Mereka membayangkan duduk di kursi coloseum menonton kompetisi, pasti sangat ramai dan menyenangkan.
Tapi saat ini juga mereka membayangkan menjadi salah satu peserta, tapi mereka sadar terlalu lemah.
Rafael sangat bersemangat melihat Theo dan ke-empat seniornya tampil keren di layar sihir, di sisi lain semangatnya membara melihat Theo yang dapat berjalan dengan siapa saja.
Meskipun kepribadiannya sedikit menyebalkan, tapi entah kenapa Rafael merasa Theo adalah orang yang bisa cocok dengan siapa saja. Sebuah bakat yang tidak dimilikinya.
“Sin, kalau kamu melihat ku malas-malasan, tolong cambuk aku 100 kali!” kata Rafael tegas.
“Aku akan melakukannya. Lagipula kita harus membuktikan bahwa kita pantas menjadi teman yang dapat diandalkan oleh Theo” kata Oxyn yang juga kagum pada Theo.
Theo adalah panutannya. Tidak hanya berbakat dalam alchemist, dia juga memiliki aura yang sangat mengesankan dalam dirinya.
***
Di tempat yang tidak disebutkan.
Seorang gadis berambut putih menatap kagum pada seorang pemuda berambut hitam dan bermata safir yang sesekali muncul di layar sihir karena tim nya berada yang paling depan diantara semua peserta sehingga tim itu sering mendapat sorotan.
Jantungnya berdebar ketika pemuda itu terlihat di layar sihir. Pipinya memanas melihat tatapan matanya yang tajam tetapi meneduhkan. Padahal pemuda itu tidak menatapnya, tapi ia merasa pemuda di layar sihir menatapnya. Sungguh konyol!
Ketika ia sedang malu sendiri, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
“Master” kata gadis itu yang tak lain adalah Classica Mara.
“Ohoo... Kenapa murid ku ini senyum-senyum sendiri?” goda wanita yang juga berambut putih sama seperti Mara.
Mara tidak menjawab dan menatap layar sihir yang kebetulan pemuda yang tak lain adalah Theo sedang di sorot.
“Dia tampan juga, pantas saja muridku ini jatuh cinta padanya” goda masternya itu.
__ADS_1
“Master, jangan menggodaku terus!” kata Mara malu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Kamu adalah muridku, murid pilar cahaya. Kamu bisa mendapatkan pria manapun yang kamu suka” katanya menggoda muridnya itu.
'Apa yang aku katakan ini?' tanya pilar cahaya bingung pada perkataan nya sendiri.
“Master, jangan mengatakan itu” kata Mara yang semakin malu.
“Hmm... memangnya kenapa?”
“Aku harus menjadi kuat terlebih dahulu”
“Ooh begitu.”
“Apa master pernah jatuh cinta?” tanya Mara ragu-ragu.
“Tentu saja. Aku menyukai pria kuat sepertinya” balas pilar cahaya.
Mara bisa menebak pria yang disukai masternya adalah pilar terkuat. Lagipula siapa lagi pria yang dapat menyaingi masternya jika bukan para pilar? Jadi ia menebak salah satu pilar meskipun ia yakin pada pilar pertama yang tak lain adalah pilar terkuat.
“Apa master menjadi sepasang kekasih dengan orang yang master cintai?” tanya Mara polos.
Pilar cahaya tersenyum, “Ayo kita kembali” katanya tidak menjawab.
Mara merasa bersalah.
“Maafkan murid ini master” kata Mara penuh penyesalan.
“Hahah, dia hanya belum menerima ku” kata pilar cahaya yang malah tertawa.
'Dia bahkan tidak melirik ku!' Kata pilar cahaya dalam hati.
Mereka pun meninggalkan tempat diadakannya layar sihir menuju kediaman pilar cahaya. Karena sekarang, Mara tinggal disana bersama pilar cahaya.
Bersambung...
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
__ADS_1