
πππ
Theo berjalan menuju meja pustakawan untuk menyampaikan buku yang akan ia pinjam.
"Aku ingin meminjam semua buku di kartu ini." katanya sambil meletakkan kartu di atas meja.
Pustakawan itu mengibaskan tangan dan muncul tumpukan buku yang akan Theo pinjam dari kartu tersebut.
"Sebanyak ini?" tanyanya tidak percaya, karena buku yang ingin Theo pinjam kurang lebih 30 buku.
Theo mengangguk sebagai tanggapan.
"Baiklah tunggu sebentar, aku akan mencatatnya terlebih dahulu" katanya sambil mengeluarkan buku catatan dari laci.
Ia mulai menulis setiap judul buku yang akan Theo pinjam dan menyelipkan sebuah kertas di halaman terakhir setiap buku yang telah ia catat.
"Apa kamu akan membaca semua ini, Theo? Kurasa jika aku yang membaca semua ini otak ku akan mengeluarkan asap" kata Rafael bergidik ngeri.
"Kamu terlalu berlebihan" balas Theo acuh.
"Tidak, aku sama sekali tidak berlebihan. Ngomong-ngomong, apa kamu ingin melihat buku teknik yang aku pinjam?"
"Tidak. Sebaiknya kamu simpan itu sebagai salah satu rahasia dibalik lengan bajumu"
"Seperti yang diharapkan dari rival ku! Baiklah, aku akan berlatih dengan keras!"
"Jangan berlatih terlalu keras, aku tidak bisa membayangkan jika nanti kepala mu botak"
Theo membayangkan kepala Rafael botak karena terlalu keras berlatih.
Pustakawan yang mendengar ucapan Theo tersedak saliva nya sendiri.
"Uhuk ... uhuk! Berlatih terlalu keras tidak akan membuat seseorang menjadi botak. Kamu terlalu berlebihan, murid." katanya sambil menenangkan diri.
"Tapi berlatih juga harus sesuai aturan, jangan sampai melupakan istirahat." lanjutnya.
__ADS_1
'Mana ku tahu itu benar apa salah? Aku hanya melihatnya di anime.' keluh Theo dalam hati.
"Hahah, lelucon mu sangat lucu rival ku!" kata Rafael yang malah tertawa terbahak-bahak.
'Apa yang dia tertawakan?!'
"Sudah selesai, tenggat waktunya satu bulan, jika lebih dari itu maka akan dikenakan denda setiap bukunya" kata pustakawan sambil menyerahkan kartu perpustakaan milik Theo.
Theo menyimpan kartunya ke dalam dompet penyimpanan lalu pergi meninggalkan Rafael.
"Eh ... tunggu aku rival ku!" teriaknya tetapi diabaikan oleh Theo.
"Aku ingin meminjam buku ini" katanya sambil menyerahkan kartu miliknya.
Pustakawan itu mengeluarkan buku dari kartu milik Rafael dan mencatatnya.
πππ
Di ruang batra potionering, Theo tengah serius memasukkan bahan regenerasi ke dalam kuali kecil.
Tak terkecuali dengan Oxyn, dia sangat bersemangat agar bisa mengalahkan tingkat kemurnian Theo.
Setelah beberapa saat, Mis Elena mengecek semua ramuan hasil muridnya.
"Pangeran Theodoric, tingkat kemurnian 79%. Pangeran Oxyn, tingkat kemurnian 70%.
Sisanya dibawah 60%. Sekian, sampai bertemu di kelas selanjutnya" kata Mis Elena berlalu pergi.
Sampai saat ini, Theo selalu menjadi yang terbaik dari semua murid. Entah itu dari segi kekuatan atau ilmu pengetahuan, dia sama sekali tidak memiliki celah. Theo adalah seorang jenius sejati!
Pangeran Oxyn tercengang mendengar pernyataan Mis Elena, "Tu-tujuh puluh persen?! Itu berarti ... itu berarti, tingkat kemurniannya buruk?!" gumamnya tidak percaya.
'Bagaimana ini? Kenapa perbedaannya jauh sekali? Apa yang salah dari racikan ku? Apa aku melakukan kesalahan?'
Oxyn tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga hawa keberadaan Theo membuatnya tersadar ketika Theo melewatinya.
__ADS_1
Oxyn menatap punggung Theo yang perlahan menjauh, entah kenapa Oxyn merasa punggung itu sulit di capai, tapi ia terus berusaha menggapainya bahkan berkeinginan untuk berjalan di depannya. Di sisi lain ia sadar bahwa,
Itu mustahil!
Oxyn mengepalkan tangan berusaha menurunkan ego dan harga dirinya. Matanya di selimuti tekad kuat, ia mulai beranjak dari tempat duduk dan pergi menyusul Theo.
Di lorong akademi, Oxyn memanggil Theo, "Pangeran Theodoric!" panggilnya sedikit berteriak.
Theo yang merasa namanya dipanggil pun segera menghentikan langkahnya lalu berbalik badan untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Hmm?" Theo mengangkat sebelah alis ketika melihat Oxyn tengah berdiri beberapa langkah darinya.
Oxyn menatap mata Theo lalu berjalan mendekat dengan tangan masih mengepal erat.
Setelah berada dua langkah dari Theo ia berhenti tetapi tidak mengalihkan tatapannya dari Theo.
"Salam pada Pangeran Theodoric!" kata Oxyn.
Theo yang di tatap seperti itu pun bingung dengan maksud Oxyn.
"Salam pada Pangeran Oxyn! Apa Pangeran memiliki keperluan dengan ku?" tanya Theo to the point.
"Iya, ada. Jika Pangeran sedang tidak sibuk, bisakah kita mengobrol sebentar?" tanyanya sopan tetapi terdengar sedikit memaksa.
"Kebetulan aku akan pergi ke perpustakaan" balas Theo sambil tersenyum tipis tetapi tidak sampai membuat lesung pipi. Itu hanyalah senyum formalitas.
"Kalau begitu kita mengobrol di perpustakaan"
"Mengobrol di perpustakaan akan mengganggu yang lain, sebaiknya kita mengobrol di kantin"
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan menunggu Pangeran Theodoric di lantai 2"
Theo mengangguk dan mereka pun berpisah. Wajah Theo kembali dingin dan datar seperti tidak ada yang menarik perhatiannya.
Bersambung...
__ADS_1
πππ
LIKE!