Extraordinary Prince

Extraordinary Prince
Bab 39 ~ Seni Adalah Ledakan!


__ADS_3

đź‘‘đź‘‘đź‘‘


Pastikan jempol kamu tidak mati rasa dan bisa LIKE!


Zeno, Nafis dan Helios menoleh mendapati gadis cantik bergaun hitam dipadu merah sedang memberi hormat. Gadis itu sangat cantik dan imut, diperkirakan umurnya kurang lebih sepuluh tahun.


Leizen dan Theo juga jelas melihat nya. Melihat gadis itu membungkuk memberi hormat, Theo mengangguk menanggapi dan gadis itu pun segera pergi menuju ruang vip di lantai dua diikuti dua pengawal nya.


Semua atensi masih memperhatikan kepergian gadis itu, tetapi tidak dengan Theo dan Leizen yang tetap makan dengan tenang.


Setelah gadis itu tidak lagi terlihat, Kenzi menepuk pundak Theo dengan tidak sabar. Theo hampir tersedak karena tepukan Kenzi yang lumayan keras pada pundaknya, tapi untungnya ia bisa menanganinya.


“Apa kamu mengenal gadis tadi?” tanya Kenzi penasaran. Helios, Zeno dan Nafis menunggu jawaban Theo karena mereka juga penasaran.


“Hmm” Theo mengangguk kecil sebagai jawaban.


“Siapa dia?” tanya Kenzi lagi.


“Putri Raja” jawab Theo seadanya.


“Di-dia... Seorang Putri Raja?”


“Hmm...”


Mendengar jawaban tersebut, entah kenapa seperti terdengar bunyi retakan. Hilang sudah kesempatan nya.


Wajahnya seketika muram, ia mengalihkan patah hatinya dengan makan.


“Kalau dia seorang Putri Raja, itu berarti gadis tadi itu adik mu?” tanya Helios.


“Hmm...” balas Theo seadanya sambil menyumpit wortel.


Kenzi yang hendak memasukkan makanan menghentikan aksinya karena terkejut.


“Kamu... Seorang Pangeran?” kata Kenzi tak menyangka jika ia akan satu meja dengan seorang Pangeran.


“Apa ada yang salah?” tanya Theo bingung.


Leizen hanya mendengarkan dengan tenang sambil menuangkan teh pada cangkirnya.


“Waaah, aku tidak menyangka akan satu meja dengan seorang Pangeran, hahaha” kata Kenzi.


“Kalau begitu bukankah kamu harus memberi hormat?” kata Theo bercanda.


Kenzi berdiri lalu membungkuk hormat pada Theo, “Salam Pangeran, keberkahan menyertai mu”

__ADS_1


“Hmm, duduk lah” balas Theo.


Leizen, Helios, Nafis dan Zeno melihat hal tersebut dengan lucu. Kenzi duduk kembali setelah dipersilahkan.


“Jadi, aku harus memanggil mu apa?” tanya Kenzi kembali mengambil daging yang hendak ia santap tadi.


Mereka pun berbincang-bincang hingga Theo dan Leizen memutuskan kembali ke barak untuk mempersiapkan pertandingan besok.


Di sisi lain, sebuah desa mengalami pembantaian oleh tiga orang tak dikenal, kobaran api membumi hanguskan bangunan disana. Banyak mayat yang berserakan dimana-mana seperti sebuah debu yang tak ternilai.


Melihat pemandangan itu tiga orang yang berisi dua laki-laki dan satu perempuan mengangguk puas seperti baru saja membuat maha karya besar.


“Hahah, seni adalah ledakan!” kata Arham sambil tertawa terbahak-bahak.


*Kata-kata siapa hayoo?


Bowie mengangkut seorang perempuan yang tak sadarkan diri di pundaknya. Ia seperti sedang membawa karung beras.


“Ayo kita pergi, aku masih ada urusan” kata Bowie pergi terlebih dahulu.


“Bowl, kamu sangat tidak tahu seni!” cibir Arham.


Lunar, satu-satunya wanita di kelompok Tiger hanya memutar bola mata malas melihat tingkah kedua rekannya. Yang satu penggila ledakan, sedangkan satunya lagi distributor gadis cantik.


Melihat kedua rekan satu timnya pergi, Arham menghela napas lelah seolah tidak ada yang mengerti kesenangannya. Melihat kobaran api yang mulai padam, Arham melempar sebuah bola api kecil.


Duar!


Ledakan besar kembali terjadi setelah Arham mengeluarkan sihirnya, setelah itu ia menghilang.


đź‘‘đź‘‘đź‘‘


Theo duduk bersila di atas tempat tidur sambil memejamkan mata. Saat ini ia sedang berkultivasi atau bisa juga disebut menyerap mana. Dia bisa disebut sebagai orang beruntung dan tidak beruntung.


Ketidak beruntungan nya adalah memiliki semua inti elemen sehingga ia mengalami kesulitan dalam menyerap mana karena semua inti elemen belum terbuka semua.


“Pangeran” kata seseorang yang memberi hormat pada Theo.


“Bagaimana?” tanya Theo tanpa membuka mata.


“Satu minggu dari sekarang akan terjadi tornado dahsyat di Kerajaan Aqua, tepatnya di daerah gurun pasir. Sudah dipastikan jika tornado kali ini akan menghasilkan inti elemen.” kata Leon menjelaskan. Dia adalah pengawal pribadi Theo.


“Untuk inti elemen es terdapat di benua barat, tepatnya di tanah tak bertuan. Disana terdapat tempat yang selalu dingin, seolah hanya memiliki satu musim. Semua rute menuju kesana berbahaya, dikatakan tidak ada yang pernah kembali dari sana” lanjutnya menjelaskan.


Hening.

__ADS_1


Leon masih memberi hormat menunggu jawaban Theo dengan tenang.


“Kamu bisa pergi” kata Theo. Leon pun segera pergi sesuai perintah.


'Meskipun berbahaya, tapi aku membutuhkan nya. Aku tidak mau mati sebelum dua tokoh utama mati.' kata Theo dalam hati.


'Setelah Viceroy, aku masih punya janji pada Danis untuk mengobati paman Jake. Sedangkan Tornado dimulai minggu depan, seharusnya tidak jadi masalah.'


'Aku harus mempercepat waktu pengobatan paman Jake. Sebelum itu, aku punya pekerjaan yang harus diselesaikan sekarang.'


Theo membuka mata dan segera memakai pakaian serba hitam, setelah itu ia menghilang begitu saja.


đź‘‘đź‘‘đź‘‘


Seorang berpakaian hitam berlari di atap tanpa ada yang menyadarinya. Ia melompat dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Gerakannya sangat cepat dan gesit seolah sedang berlari di jalan rata, sama sekali tidak terganggu dengan apapun.


Orang itu adalah Theo, ia berlari menuju sebuah menara tertinggi di Kerajaan Ilussio. Menara itu adalah buatan Raja pertama Kerajaan Ilussio, entah sihir apa yang digunakan raja pertama untuk membangun menara pencakar langit pertama dan terakhir di dunia.


Tidak ada yang tahu puncak menara tersebut seperti apa karena puncaknya sampai menembus langit seolah menara tersebut adalah jalan menuju langit.


Theo bersiul ketika melihat menara tersebut yang beberapa meter di depannya.


Setelah dia bersiul, muncul sekelompok orang bertopeng dengan senjata masing-masing. Mereka muncul dari berbagai arah menuju menara pencakar langit.


Sebenarnya siulan Theo tidaklah keras, hanya saja sekelompok orang bertopeng itu adalah elit dari para elit. Mereka bisa saling mengirim kode hingga jarak ratusan meter. Mereka adalah pasukan khusus yang diberi nama 'Shadow'.


“Anda sudah kembali, Pangeran.” kata pemuda bertopeng di belakang Theo. Pemuda itu kurang lebih berumur 16 tahun dan seumuran dengan Arthur.


Theo mengangguk menanggapi.


Mereka terus berlari menuju menara pencakar langit.


“Pangeran, Pangeran Pertama sedang menuju kemari.” kata Austin memberi informasi. Theo mengangguk.


“Sepertinya... Pangeran ketiga juga ikut serta.” lanjutnya.


“Pergilah, pastikan Pangeran Ketiga tetap aman” kata Theo memberi perintah.


“Baik!” Austin menjawab dengan tegas dan segera pergi menuju Pangeran Ketiga.


Bersambung...


đź‘‘đź‘‘đź‘‘


LIKE!

__ADS_1


__ADS_2