Extraordinary Prince

Extraordinary Prince
Bab 35 ~ Ajaran Pilar Cahaya


__ADS_3

👑👑👑


Halo! Lux mau ngasih info kalo Lux lagi bikin novel khusus untuk lomba. Jadi mungkin Lux akan jarang up novel Extraordinary Prince karena pikiran Lux akan bercabang.


...Lux akan update jika mendapat 10 komentar di chapter terakhir yang Lux upload....


Novel Barunya akan Lux upload di Noveltoon. Jangan lupa baca ya kalo udah rilis😉



👑👑👑


“Ku pikir akan mendapat samsak tinju, tapi siapa sangka samsak tinju itu akan malah balik menyerang” kata Kenzi yang berjalan di samping Theo menuju tempat khusus 10 pemenang.


“Kenapa tidak? Bahkan ketika diam pun, samsak tinju tetap membuat sakit pemukulnya” balas Theo.


“Kamu menantangku?!” kata Kenzi kesal.


'Lah? Bukannya dia duluan yang mulai? Kenapa malah dia yang baper?' kata Theo dalam hati


“Mana mungkin.” balas Theo yang tidak mau ambil pusing.


***


Sepuluh peserta berikutnya dipanggil oleh mc. Leizen dan Nafis termasuk ke dalamnya.


“Semoga saja mereka berdua bisa bekerjasama sama” kata Helios memberi komentar.


“Aku tidak terlalu yakin. Junior Leizen terlalu pendiam dari Theo. Tapi setidaknya mereka akan saling menjaga” kata Zeno.


“Ku harap begitu”


👑👑👑


Di aula Akademi Cumulus.


“Kenapa Theo tidak menggunakan sihir selama pertarungan tadi?” tanya Rafael bingung.


“Mungkin saja mana nya tersisa sedikit, jadi ia harus menghemat untuk babak final” kata Oxyn menjelaskan.


“Dia itu, kenapa hanya mengandalkan ilmu pedangnya saja?! Arghh... Tapi aku juga senang dia maju ke babak berikutnya.” kata Rafael yang frustasi sendiri.


“Kamu itu sebenarnya senang apa kesal, Rafa?” tanya Oxyn yang bingung melihat tingkah Rafa.


“Apa kamu tidak lihat, Sin? Aku kesal bercampur senang. Kamu harus mengerti perasaan ku, kawan”


“Baiklah, terserah kau saja”


👑👑👑


Di tempat yang tidak di sebutkan.


“Arrrggghhh.....!” jerit seorang wanita berambut putih.


“Tahanlah, sebentar lagi sakitnya akan mereda” kata wanita lain yang juga berambut putih.

__ADS_1


“Master... Huh... Huh... Sebenarnya... Api apa itu? Kenapa tidak pernah padam?” tanya wanita itu yang tak lain adalah Mara, sang tokoh utama kita.


“Aku juga tidak tahu, selama ini aku belum pernah gagal dalam menyelamatkan orang sakit” kata wanita lain yang tak lain adalah pilar cahaya.


“Apa tidak sakit lagi?”


“Iya... Huh... Huh... ” kata Mara yang berkeringat karena menahan sakit.


“Sepertinya ini ulah organisasi Scarlet. Tapi jika ini ulah mereka, seharusnya tidak ada yang tersisa”


Saat ini, kulit punggung Mara sedikit demi sedikit meleleh dan menampilkan tulang punggung nya. Sangat ngeri.


Api yang sebelumnya masuk ke dalam tubuhnya itu hanya bisa diperlambat oleh pilar cahaya, tapi rasa sakit itu akan kembali menyerang setelah 2 hari kemudian.


“Tidak ada pilihan lain selain meminta pelaku untuk memadamkan energi api dalam tubuh mu”


“Aku akan berusaha keras untuk menjadi kuat dan membunuh orang yang telah membunuh ibu ku!” kata Mara penuh tekad.


“Jangan terlalu berlebih untuk membalas dendam, karena itu tidak baik untuk mu nantinya” nasihat pilar cahaya.


Mara mengangguk mengerti, padahal dalam hatinya ingin mencabik-cabik orang sampai tak tersisa.


“Apa kamu tertarik untuk masuk Akademi, Mara?” tanya pilar cahaya.


“Eh? Akademi? Bukankah sudah ada Master yang membimbing ku?” kata Mara polos.


“Akademi bagus untuk mu mendapat wawasan baru dan menambah pengalaman.”


“Tapi... aku tidak punya uang untuk masuk Akademi, Master” kata Mara malu. Ia tidak ingin merepotkan Masternya untuk membiayai nya sekolah.


Bukan tanpa alasan kenapa pilar cahaya sangat perhatian pada Mara. Ia telah menganggap Mara sebagai adiknya karena memiliki nasib yang sama. Meskipun tidak semua orang tahu masalalunya, tapi pilar cahaya selalu mengingat masalalu nya yang kelam itu.


“Tidak perlu Master, aku tidak mau jadi beban untuk Master. Jika aku masuk Akademi, bagaimana aku bisa bekerja?” kata Mara yang memang tidak enak hati.


Selama seminggu ini ia kerja di sebuah kedai agar tidak terlalu merepotkan Masternya.


“Jika kamu ingin bekerja, kamu bisa melakukannya setelah pulang dari Akademi, bagaimana?”


“Apa... aku pantas masuk Akademi?” tanya Mara ragu-ragu.


“Tentu saja, kamu punya elemen cahaya. Akademi manapun pasti akan menerima mu, apalagi setelah tahu bahwa kamu adalah murid seorang pilar”


Mara berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. Ia juga ingin bersekolah seperti anak orang kaya atau para jenius.


“Baiklah, tahun depan kamu akan masuk ke Akademi Cumulus”


“Akademi Cumulus? Bukankah itu adalah Akademi pemuda yang ada di layar sihir itu?” kata Mara terkejut sekaligus senang.


Ia tidak tahu nama Theo karena ia telah pulang bersama pilar cahaya ketika babak pertama pertarungan di danau.


“Tentu saja” balas pilar cahaya dengan bangga.


“Tapi kelihatannya, dia seperti seorang bangsawan” kata Mara yang kembali murung dan tidak memiliki harapan lagi.


“Memangnya kenapa jika dia seorang bangsawan? Justru keluarga nya akan senang jika murid pilar cahaya menyatu dengan anaknya” kata pilar cahaya dengan sombong.

__ADS_1


Entah sadar atau tidak, pilar cahaya selalu menyemangati Mara menggunakan title 'Murid Pilar Cahaya' yang membuat Mara berbangga atas hal itu.


“Tapi sepertinya pemuda itu tidak mudah diluluhkan karena sifatnya mirip seseorang--”


'Mirip orang yang ku cintai'


“Jadi aku harus melakukan apa, Master?”


“Kamu harus sedikit lebih agresif menghadapi orang pendiam seperti itu!”


“Benarkah? Apa Master pernah mencobanya?” tanya Mara yang percaya tidak percaya.


“Tentu saja pernah!”


“Apakah berhasil?”


'Tidak!'


“Tentu, kau tidak percaya?”


“Aku percaya, pasti dia langsung tertarik pada Master!” kata Mara penuh kebanggaan.


Seketika pilar cahaya teringat ketika dirinya ditinggalkan oleh laki-laki yang dicintai nya.


“Kamu terlalu meremehkan ku. Jangan rendahkan dirimu lebih dari ini” kata laki-laki tampan itu sedikit mendorong tubuh pilar cahaya yang tiba-tiba akan mencium bibirnya. Setelah itu ia pergi tanpa menoleh sedikitpun padanya.


Padahal tinggal sedikit lagi mereka akan berciuman, tapi pilar cahaya terlebih dahulu ditolak sebelum melakukannya. Sangat ironis.


“Kau berlatihlah dengan giat, aku ada urusan” kata pilar cahaya yang tidak menjawab pertanyaan Mara.


Mara senyum-senyum sendiri lalu bangkit dan keluar rumah untuk berlatih sihir cahayanya.


👑👑👑


“Pemenangnya, Leizen, Akademi Cumulus. Dan Saragas, Akademi Tartaros.” kata wasit mengumumkan.


Nafis tertunduk lesu karena kalah di babak kedua ini.


Awal pertarungan, Leizen dan Nafis masih bisa saling menjaga satu sama lain. Tiba di pertengahan, mereka terpisah karena harus melawan lawan kuat masing-masing.


Semua peserta adalah murid terkuat di akademi masing-masing, jadi mereka tidak bisa di remehkan.


Mungkin juga banyak orang-orang kuat di babak pertama yang gagal karena kurang kerjasama antar rekan sehingga mereka gagal dan tidak bisa menunjukkan kekuatan mereka di pertarungan one by one.


Sangat di sayangkan...


Bersambung...


👑👑👑


Ayo kunjungi novel lain karya Author Lux!



__ADS_1


__ADS_2