
👑👑👑
Beberapa menit setelah menunggu ke 100 peserta kompetisi, akhirnya kompetisi berjalan ke babak selanjutnya.
“Babak Kedua: Bertahan!
Saya akan menyebut 10 peserta ke dalam arena dan 2 peserta yang masih bertahan sampai akhir akan lolos ke babak berikutnya!” teriak pembawa acara penuh semangat.
“Wooooooo!!!” teriak para penonton penuh semangat.
“Sebelum saya menyebut para peserta, para peserta wajib mematuhi peraturan.
Pertama, kalian di wajibkan bertarung dan tidak boleh berdiam diri.
Kedua, pengawas akan menghentikan pertarungan jika salah satu dari kalian sudah tidak sanggup.
Ketiga, kalian hanya boleh menggunakan senjata yang telah di sediakan.
Keempat、 dilarang curang.
Baiklah, kita mulai ke babak berikutnya!”
“Wooooo!!!!”
“Theodoric, tingkat 1, Akademi Cumulus! Goro, tingkat 3, Akademi Forest!
Senta, tingkat 3, Akademi Tartaros!
Bona, tingkat 3, Akademi Sulfan!
Fred, tingkat 3, Akademi Cocellia!
Billiard, tingkat 3, Akademi Walet!
Kenzi, tingkat 3, Akademi Fortuna!
Frenzi, tingkat 3, Akademi Crown! William, tingkat 3, Akademi Bronze!
Dan, Meydira, tingkat 3, Akademi Bellezac!”
“Wooooo!!!”
“Apa! Akademi Cumulus mengirim tingkat 1?!”
“Sepertinya pemuda cumulus itu satu-satunya peserta tingkat 1!”
“Apa mereka bodoh mengirim tingkat 1?!”
“Aku sangat penasaran kekuatan tingkat 1 itu, sayang”
__ADS_1
Tribun gempar setelah mengetahui Akademi besar seperti Akademi Cumulus mengirim tingkat 1 yang tak lain adalah Theodoric.
Para peserta juga ikut terkejut apalagi peserta yang saat ini berada dalam arena dan akan segera berhadapan dengan Theodoric.
Di tempat para peserta.
“Ekspresi mereka seperti kita dulu” kata Nafis.
“Tidak heran kenapa mereka sangat terkejut, lagipula tidak ada lagi yang mengirim tingkat 1 setelah ratusan lalu berlalu” balas Zeno.
Pemuda es juga ikut terkejut setelah orang yang diajaknya bicara tadi masih tingkat 1. Tapi mengingat babak sebelumnya, ia tidak meremehkan Theo.
Theo masih berjalan tenang menuju tempat senjata tanpa memperdulikan berbagai macam komentar dari penonton .
'Berhenti lah terkejut seolah melihat hantu' katanya dalam hati.
Theo mengabaikan senjata tombak, palu dan berbagai senjata besar lainnya di sampingnya dan melihat berbagai macam senjata di meja khusus senjata pipih.
Ia memegang pegangan pedang satu persatu mencari senjata yang menurutnya 'pas'. Setelah memilih, ia kembali ke dalam arena dan menunggu kesembilan lawannya memilih senjata.
Keluarga nya menatap arena dengan wajah tenang tanpa ekspresi alias datar. Meskipun sebenarnya mereka sangat gugup melihat Theo yang akan bertarung sebentar lagi.
“Silahkan ke tempat masing-masing. ” kata wasit dan 10 peserta itu pun melompat ke luar arena.
“3”
“1! Mulai” kata wasit.
Mereka pun melesat masuk ke dalam arena dan menyerang peserta secara acak.
Booom!
Ledakan pertama tercipta ketika 10 peserta itu bentrok.
Saat ini Theo sedang berhadapan dengan Akademi Sulfan. Ia terlihat tidak serius. Bahkan wajahnya tidak mengerut sama sekali membuat lawannya geram melihat wajah tenangnya.
'Aku tidak boleh membuang waktu. Apa sebaiknya aku lempar saja mereka keluar arena agar pertarungan cepat berakhir?'
Belum satu menit pertarungan berlangsung, Theo malah sudah memikirkan cara agar pertarungan cepat berakhir.
Ketika Theo sedang berpikir, sebuah serangan muncul dari depan. Theo langsung mundur untuk menghindar.
Bruk!
Ketika Theo mundur, punggungnya malah bertubrukan dengan peserta lain. Lawan di depannya tidak menyia-nyiakan waktu dan segera menyerang Theo.
Theo dan peserta di belakang nya menghindar sehingga lawan mereka berubah dengan peserta lain.
“Si4l, padahal tinggal sedikit lagi aku melenyapkannya!” kata peserta yang sebelumnya melawan Theo.
__ADS_1
“Ya, kau pembawa sial bagiku. Padahal aku akan melenyapkannya!” balas peserta yang sebelumnya melawan peserta yang menubruk Theo.
“Apa katamu?! Terimalah ini! Hiyaaa!”
Mereka pun bertarung sengit seperti peserta yang lainnya.
Berbagai macam serangan nyasar berhasil Theo hindari sambil melawan pemuda yang ditubruknya tadi.
“Aku benci wajah mu itu!” katanya sambil mengeluarkan sihir api dengan kekuatan penuh.
'Kau salah membenci orang. Seharusnya kau benci saja desaigner game ini. Dia adalah penciptanya' kata Theo dalam dalam hati.
'Aku ingin sekali mengubah ekspresi datarnya itu dengan ketakutan!' Kata lawan Theo dalam hati.
“Rasakan lah ini!!!” teriaknya dan arena pun berguncang.
10 menit kemudian, tersisa 4 peserta di arena. Selama pertarungan, Theo tidak mengeluarkan sihirnya tapi hanya mengandalkan kekuatan fisiknya untuk melihat seberapa lama ia bertahan.
Sekarang, mereka bertarung satu lawan satu.
Theo melesat dengan pedang yang menodong ke lawan.
Srringg
Lawan Theo menghindar, tapi justru itulah yang Theo inginkan.
Ketika lawannya mundur, Theo menambah kecepatan nya dan menendang perut lawannya.
Brug!
“Si4l! Aku tidak terima ini!” teriaknya, namun ia tidak bisa masuk kembali ke dalam arena yang telah dipasang array.
Peserta itu melihat layar sihir dan namanya menghilang menandakan ia telah kalah dan tak bisa ke babak berikutnya.
Tak lama kemudian, peserta lain berhasil membuat pingsan lawannya lalu ia pun berhenti menyerang.
“Pemenangnya, Kenzi, Akademi Fortuna. Dan Theo, Akademi Cumulus.” kata wasit mengumumkan.
Kenzi menatap Theo dengan tatapan kompetitif, ia tidak menyangka tingkat 1 itu akan lolos ke babak berikutnya. Sebelumnya ia berpikir Theo akan menjadi samsak tinju para peserta, tapi nyatanya ia justru lolos.
'Dia tidak boleh diremehkan. Selama pertarungan, aku tidak melihatnya mengeluarkan sihir sekalipun' katanya dalam hati.
Theo dan Kenzi pun berjalan menuju tempat yang telah disediakan khusus 10 pemenang babak kedua.
Bersambung...
👑👑👑
LIKE!
__ADS_1