
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
Theo menyusuri lorong akademi menuju kelas.
'Sampai saat ini aku belum bertemu pemeran utama penyebab kehancuran dunia ini. Sedangkan semua pemeran pria sudah bertemu dengan ku, kecuali dia-- yang berada di Akademi lain'
'Apa dia akan ikut kompetesi Royal Battle?'
“Theo!”
Panggil pemuda yang menghampiri Theo sambil bergandengan tangan dengan seorang gadis.
Tepat setelah Rafael tiba, Theo tidak bisa untuk tidak berbicara sarkas pada kedua sejoli itu.
“Apa kamu tidak tahan untuk tidak menunjukkan hubungan terlarang mu dengan wanita lain? Setidaknya lakukan itu setelah kamu benar-benar telah mengakhiri pertunangan mu.
Jaga wibawa mu layaknya seorang Pangeran, bukan seperti berandal yang tidak tahu aturan.” Sarkas Theo menatap datar Rafael.
Meskipun ucapan Theo sangat tenang dan datar, nyatanya Sera sangat malu akan hal itu. Sedangkan Rafael hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sera melepas tangan Rafael dengan kasar lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata.
“Tunggu!” cegah Rafael, namun Sera tidak memperdulikan nya.
Theo kembali berjalan tanpa memperdulikan Rafael.
Rafael bingung harus mengejar Sera atau mengikuti Theo. Ia menatap punggung Sera dan Theo secara bergantian.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Rafael lebih memilih mengikuti Theo daripada mengejar Sera.
Belum jauh dari sana, Sera berbalik berharap Rafael mengejarnya, namun raut wajahnya semakin kesal melihat Rafael yang malah berjalan cepat mengikuti Theo daripada mengejar dirinya.
Sera menghentakkan kaki lalu berlari dengan marah.
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
“Tunggu, Theo...!” Rafael berjalan mundur dihadapan Theo.
“Apa kamu marah?” tanya Rafael menelisik.
Theo mengerutkan dahi mendengar pertanyaan ambigu Rafael.
“Tidak” balas Theo datar.
Rafael mencoba mencari kebohongan pada raut wajah Theo, namun ia tidak menemukan apapun.
Rafael paling tidak bisa menebak perasaan Theo melalui raut wajah karena Theo selalu memasang wajah datar dan berkata dengan tenang.
Jika tidak melihat Theo, mungkin ia tidak akan percaya ada manusia seperti itu.
Ooh, jangan lupakan Leizen yang lebih parah dari Theo!
“Lalu... kenapa kamu berkata seperti itu pada ku di depan Sera?” tanya Rafael memasang wajah serius.
Pletak!
Saat ini Rafael sangat 'menggemaskan' hingga Theo tidak bisa menahan diri untuk tidak menjitak nya.
“Aduuuh! Kenapa kau menjitak ku!” protes Rafael tidak Terima.
Lihat! Wajah bodoh Rafael kembali.
Di mata Theo, wajah Rafael terlihat seperti orang bodoh yang mudah ditipu meskipun sebenarnya Rafael tidak mudah ditipu. Gelarnya sebagai Pangeran bukan sekedar pajangan. Tapi tetap saja, di mata Theo, Rafael selalu bertindak bodoh.
“Tangan ku tergelincir” dalih Theo tenang.
“Yang benar saja! Kali ini kebohongan mu terlihat jelas, kawan! ” sanggah Rafael.
“Apa kau lupa jika hari ini cukup berangin?” kata Theo mengisi kebohongan dengan sedikit kebenaran.
“Aaah, benar juga. Angin nya cukup kencang hari ini. Tapi ini sangat menguntungkan, para gadis harus menjaga rok nya agar tidak terbang” kata Rafael sambil menoleh ke halaman dan melihat para siswi yang berjalan sambil menekan rok mereka.
Sudut bibir Theo berkedut. Ia ingin menabok wajah sok serius itu sekarang juga. Tapi Theo menahan diri dan menghembuskan napas lelah.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di kelas dan tidak butuh waktu lama pelajaran pun di mulai.
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
Bel pulang berbunyi dan semua murid akademi cumulus bersiap pulang.
Theo berjalan dengan berwibawa dan tenang tanpa mempedulikan sekitarnya. Itu yang orang lain rasakan ketika melihat Theo. Tapi sebenarnya Theo selalu mengawasi sekitarnya dengan hati-hati dan tidak mencolok.
“Junior Theo!” teriak seseorang yang telah Theo ketahui dari suaranya.
Theo berhenti melangkah dan menunggu seorang pemuda yang menghampiri nya dengan tergesa-gesa. Pemuda itu adalah Danis.
“Kapan junior Theo akan berkunjung?”
Melihat wajah serius Danis, Theo bisa menebak persyaratan yang ia ajukan berhasil.
“Sekarang aku hanya bisa meminum seteguk teh tanpa menghabiskan nya. Jika ada kesempatan, aku akan sedikit meluangkan waktu untuk mengobrol dengan mu.
Tentu saja itu tidak akan lama” kata Theo menjelaskan.
Danis mengangguk setuju, lagi pula Theo adalah satu-satunya harapan bagi kesembuhan ayahnya. Ia menuntun jalan menuju rumahnya.
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
Danis mengajak Theo ke salah satu kamar yang di dalamnya terdapat seorang pria 40-an sedang terbaring tidak bisa bergerak.
Pria itu hanya bisa menggerakkan jempol tangan dan kepala. Tidak lebih seperti mayat hidup.
Ketika mereka masuk, Pria itu menoleh lalu tersenyum lembut pada Theo.
“Ayah, aku membawa Pangeran Theodoric kemari” kata Danis lembut.
'Sungguh anak yang berbakti'
“Maafkan saya tidak menyambut Anda dengan sopan Pangeran.” kata pria itu yang bernama Jake.
“Aku memakluminya. Hari ini aku hanya akan memeriksa mu, Mister Jake. Jika penyakit mu belum kronis, aku akan menuliskan resep dan dilanjutkan di lain hari.” balas Theo.
“Tidak perlu terburu-buru, Pangeran. Saya memiliki banyak waktu untuk menunggu Anda. Lagi pula saya tahu Anda sibuk, jadi jangan memikirkan pria tua ini” kata Jake tersenyum lembut.
Hanya karena Danis, anaknya. Pria itu tetap tegar pada keyakinan anaknya meskipun berulang kali menelan pil kekecewaan.
“Anda masih sangat bugar Mister Jake. Sepertinya senior Danis menjaga Anda dengan sangat baik” balas Theo tidak berbohong dan melebih-lebihkan keadaan Jake.
“Aaah, saya juga sangat bersyukur Danis menjaga saya dengan sangat baik” kata Jake sambil melirik Danis.
Berbicara dengan Theo membuat perasaannya menjadi hangat.
“Kalau begitu saya akan mulai memeriksa” kata Theo.
Danis dan Jake mengangguk dan membiarkan Theo memeriksa Jake dengan fokus.
Theo menyalurkan mana ke seluruh tubuh Jake sebelum pada akhirnya dahinya mengernyit.
'Apa-apaan ini? Banyak urat saraf yang berada di posisi yang salah. Bukan hanya itu, tulang-tulang pria ini di penuhi dengan retakan. Sedikit gerakan saja, pria ini akan merasakan sakit yang amat sangat.'
'Elemen intinya tidak retak, tapi dia tidak bisa mengisi elemen intinya dengan mana. Sepertinya kondisi tubuhnya yang membuatnya kesulitan berkultivasi.'
Theo mengerti satu hal, sepertinya luka awalnya tidak parah tapi pengobatan dari tabiblah yang membuat Jake seperti ini.
Jake menatap wajah tenang Theo. Ia seolah mencari keraguan pada wajah itu untuk bisa mengobati nya. Namun, ia hanya mendapati wajah tenang dan datar Theo sehingga ia tidak tahu apa yang sedang Theo pikirkan saat ini.
Jantung Danis berdebar melihat keseriusan Theo. Wajah datar dan tenang itu tidak dapat memberinya jawaban apapun yang membuatnya gusar sendiri.
Tanpa mereka ketahui, saat ini Theo sedang menimang-nimang sesuatu---
“Ini bisa di sembuhkan...”
Danis menghela napas lega berbeda dengan Jake yang terlihat serius.
Tabib sebelum nya juga pernah berkata seperti itu namun mereka menyerah di tengah jalan, maka dari itu Jake tidak terlalu berharap pada Theo.
“Jari mana yang saat ini ingin Anda gerakan Mister?” tanya Theo.
__ADS_1
“Telunjuk kanan! ” jawab Jake cepat.
Theo mengangguk.
“Alirkan mana mu pada ku.” kata Theo pada Danis.
Tanpa banyak bicara, Danis menempelkan kedua telapak tangannya pada punggung Theo.
Theo memegang pergelangan tangan Jake lalu mulai berkonsentrasi.
Jake merasakan sesuatu yang masuk ke dalam dirinya. Rasanya hangat dan dingin secara bersamaan.
“Ini akan sakit. Jika Anda tidak kuat menahannya, bicaralah.” kata Theo pada Jake.
Jake mengangguk. Jantungnya berdebar kencang. Benarkah Pangeran itu bisa mengobati nya?
Beberapa saat kemudian, ia merasakan sakit yang teramat sangat di seluruh tubuhnya. Ia merasa seperti ada yang bergerak di dalam tubuhnya.
Jake menahan teriakannya sedangkan Danis mulai berkeringat dingin karena mana nya terhisap besar-besaran.
Lima menit kemudian, Jake meronta meminta Theo untuk berhenti karena tidak kuat menahan rasa sakit.
Theo menghentikan pekerjaan nya dan memberikan Jake jeda untuk mengatur napas.
Danis ikut mengatur tanpa melepaskan tangannya di punggung Theo.
Tiga menit kemudian
“Bisa kita mulai kembali?” tanya Theo. Jake mengangguk.
Rasa sakit kembali menghampirinya ketika Theo menyentuh pergelangan tangannya.
Dibelakang, Danis mencoba tetap bertahan agar tidak kehilangan kesadaran di saat-saat penting.
Empat menit kemudian
“Selesai...” kata Theo membuat kedua orang itu bernapas lega.
Danis terduduk lemas di lantai karena mana nya sedikit lagi akan terkuras habis jika belum selesai. Untungnya Theo selesai sebelum mananya benar-benar habis.
“Sekarang Anda bisa menggerakkan jari telunjuk Anda” kata Theo sambil tersenyum.
Jake menggerakkan jari telunjuknya lalu tersenyum penuh haru. Meskipun tubuhnya masih tidak bisa bergerak, setidaknya Theo benar-benar bisa menyembuhkan nya.
“Penyakit Mister Jake memang bisa disembuhkan. Tapi seperti yang kalian tahu bahwa itu tidak mudah.
Saya sendiri tidak akan mampu karena saya tidak mempunyai mana sebesar itu. Dan lagi, penyakit ini memerlukan waktu 2 bulan atau lebih dengan pengawasan penuh.”
Danis dan Jake tau bahwa Theo bukanlah seorang pengangguran yang tidak punya kerjaan.
Apalagi kompetisi Viceroy dilaksanakan minggu depan, pasti Theo akan sangat sibuk berlatih dari sekarang. Jadi pengobatan selama dua bulan dengan pengawasan penuh akan sangat menyita waktunya.
“Junior Theo, apa Anda punya saran?” tanya Danis.
“Aku bisa memberikan pengobatan selama dua bulan. Tentu saja dengan bantuan mana dari mu. Tapi untuk pengawasan, lebih baik kau percayakan pada tabib kepercayaan kalian. Aku akan memeriksa nya seminggu sekali.”
“Baiklah, besok saya akan mengenalkan tabib kepercayaan kami”
“Tidak untuk besok, tapi setelah Viceroy”
Danis nampak berpikir sejenak.
“Jika Anda tidak keberatan, saya sama sekali tidak masalah jika harus menunggu Anda kembali dari Viceroy. Sebuah kehormatan bagi saya menunggu Anda, Pangeran” kata Jake tanpa menunggu Danis bicara.
“Terimakasih atas pengertiannya Mister. Saya tidak bisa berlama-lama di sini”
“Kalau begitu biar Danis mengantarkan Anda. Saya ucapkan terimakasih pada Anda yang bersedia meluangkan waktu Anda untuk mengobati saya.”
Theo tersenyum mengangguk lalu pergi.
Bersambung...
đź‘‘đź‘‘đź‘‘
__ADS_1
LIKE!