
πππ
Kelopak mata perlahan terbuka. Mata safir itu menatap datar langit-langit rumah lalu tersenyum puas.
'Akhirnya aku berhasil!'
Kruyuuuuk!
Suara perut protes agar segera di isi. Ia pun bangkit dan berjalan keluar kamar menuju dapur.
Di atas meja makan, capcay buatannya tidak ada tapi seorang pria dewasa yang berusia sekitar 20-an sedang mengaduk sesuatu di dalam panci.
Ia pun duduk di kursi sambil memperhatikan masternya yang sedang memasak.
"Bagaimana kondisi mu sekarang, Theo?" kata Master Cedrik tanpa menoleh.
"Cukup baik. Hanya saja, membuka elemen sangat menguras tenaga dan mengguncang mental"
Mister Cedrik meletakkan sup di dalam mangkuk ke atas meja.
Karena sangking laparnya, Theo segera meraih piring dan menuangkan nasi.
"Masakan mu sangat enak Master" puji Theo.
"Jika seorang alkemis tidak bisa memasak, itu akan sangat memalukan"
Theo mengangguk setuju.
"Ulurkan tangan mu"
Theo pun mengulurkan tangan kanannya pada Master Cedrik.
Master Cedrik memeriksa denyut nadi Theo, "Bagus, setidaknya sekarang kamu bisa menyerap mana sedikit lebih cepat dari sebelumnya"
Master Cedrik mengulurkan tangan dan tiba-tiba empat gelang & satu kalung muncul entah dari mana.
"Setelah makan pakai ini"
Theo menerima aksesoris dari Masternya. Meskipun ia tidak suka memakai perhiasan, jika Masternya memerintah maka ia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintahnya.
Beberapa menit setelah selesai makan.
__ADS_1
Theo memakai gelang di tangan kanan dan kirinya lalu memakai kalung.
"Apa ini gelang kaki, Master?"
Master Cedrik mengangguk.
Theo pun memakai gelang yang sedikit lebih besar dari gelang tangan di kaki kanan dan kirinya. Setelah memakai semuanya, Theo menatap Master Cedrik.
"Bukankah ini terlalu berlebihan Master?" kata Theo menatap dirinya sendiri.
Telunjuk dan jari tengah Master Cedrik merapat dan di dekatkan pada mulutnya.
"Buka!" gumamnya dan seketika gelang yang terdapat di tangan dan kaki Theo menghilang dan berubah menjadi beban tak kasat mata.
Theo merasakan tubuhnya tiba-tiba menjadi berat setelah menghilangnya keempat gelang di tangan dan kakinya.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa, Theo. Jalan yang kamu tempuh masih terlalu panjang.
Jika aku membuka semua element pada ranah jiwa mu di saat tubuh mu masih lemah, maka itu sama saja dengan mati"
Theo berlutut memberi penghormatan pada Masternya.
"Murid mengerti. Murid akan menjalankan perintah, Master!" katanya penuh penghormatan.
Juga, sebagai tanda kau telah resmi menjadi murid ku" Master Cedrik tersenyum lembut menatap murid satu-satunya itu.
Theo tersenyum tipis merasakan kehangatan di hatinya, "Salam hormat pada Master!"
πππ
Seorang pemuda bermata safir berlari menghindari kejaran beast.
'Pergerakan ku melambat. Aku harus mengatur timing agar bisa mengalahkan beast serigala'
Theo menunduk memperhatikan kalung berkelopak warna warni di lehernya.
Dia menggenggam erat-erat kalung tersebut, 'Master, aku tidak akan mengecewakan mu!'
Tibalah ia di tanah lapang, ia mencabut pedang seberat 10kg di pinggangnya lalu melapisinya dengan element api.
3 beast serigala menatap liar pada Theo bersiap untuk memakannya.
__ADS_1
Theo menarik napas pelan sambil terus menatap tajam 3 beast itu.
Semilir angin lembut menerpa wajah tampannya, "Mulai!"
Theo dan ketiga beast serigala maju menyerang satu sama lain.
Dua serigala lainnya bergerak ke sisi berlawanan lalu menerkam Theo secara bersamaan.
Theo menarik napas dan menguatkan kuda-kudanya, "jurus ketiga, gerakan melingkar!" gumam Theo.
Theo berputar 360β° dan pedangnya berhasil menyayat perut ketiga serigala tersebut.
"Cih, kulitnya keras sekali!"
Ketiga serigala itu mundur, lalu menyerang secara acak.
Theo mengalirkan element api pada pedangnya sehingga pedang di tangan Theo di selimuti oleh kobaran api.
"Jurus keenam, gerakan melingkar vertikal"
Theo berputar 360β° lalu mengayunkan pedangnya ke atas.
Pedang Theo berhasil mengenai dagu salah satu serigala, dagu serigala itu tampak terbakar oleh api di pedangnya.
Serigala itu melirik Theo lalu dengan marah menggigit pergelangan Theo.
Serigala yang lain hendak mengoyak kepala Theo tapi ia segera melakukan gerakan salto ke belakang.
"Setidaknya aku berhasil membuat salah satunya terluka meskipun sedikit"
Beban yang tidak ia pedulikan kini mulai terasa membebaninya lagi.
"Ternyata aku masih belum terbiasa pada beban ini" gumam Theo melirik pergelangan tangannya.
Ketiga serigala itu berkumpul kembali tanpa melepaskan Theo dari pandangannya.
Theo tersenyum pasrah pada ketiga serigala itu.
"Oy, Oy. Kenapa wajah kalian sangat tidak sabar begitu? Padahal daging ku ini sangat pahit!"
Bersambung...
__ADS_1
πππ
LIKE!