Extraordinary Prince

Extraordinary Prince
Bab 23 ~ Tidak Tertarik


__ADS_3

πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘


"Apa yang kamu pikirkan, hingga tidak mendengar panggilan ku?" tanya Rafael yang kini duduk di sebelah Theo.


Leizen bangkit dari sofa lalu berdiri di hadapan Theo. Theo juga berdiri dan tanpa bicara apapun, Leizen memberi hormat layaknya bangsawan pada Theo.


Theo mengangguk sebagai balasan, karena kedudukan Leizen berada di bawahnya.


"Aku minta maaf karena telah salah paham padamu" kata Theo sambil sedikit membungkukkan badan.


Leizen juga sedikit menundukkan kepala yang Theo artikan sebagai permintaan maaf darinya, setelah itu Leizen pergi tanpa sepatah kata pun membuat Theo terpana di tempat karena merasa cukup aneh.


"Dia sangat unik" komentar Rafael yang juga menatap punggung Leizen yang menjauh.


"Apa kamu kenal dia?" tanya Theo penasaran.


"Tidak terlalu kenal dan juga sedikit kenal. Dia adalah Leizen dari kelas 2-5.


Dia jarang bicara, dan ... tidak pernah bicara.


Karena tidak ada murid yang pernah berbincang dengannya, akhirnya dia di sebut 'Si Bisu'" balas Rafael membuat Theo sedikit bingung dengan penjelasannya.


'Apa dia hanya bicara pada orang kepercayaannya saja? Apa mungkin ... ada alasan khusus kenapa dia dianggap bisu?

__ADS_1


Hmm... Nolep 'kah?' pikir Theo.


"Ayo kita pergi!" ajak Theo.


Akhirnya Theo dan Rafael pun kembali ke kelas.


πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘


Satu minggu kemudian, Theo duduk di atas pohon sambil membaca buku pada saat jam istirahat.


Tempat Theo berada saat ini tidak terlalu ramai, jadi ia sangat menikmati ketenangannya ditemani semilir angin lembut menyejukkan hati.


Terdengar langkah kaki yang melangkah ke pohon yang Theo duduki sekarang. Setelah tiba, seorang pemuda mendongak ke atas.


"Sepertinya junior Theodoric sangat suka membaca buku" katanya memulai percakapan.


"Perkenalkan namaku Danis Erlangga, kelas 2-1. Aku berasal dari kerajaan ini."


Pemuda yang diabaikan itu tidak pantang menyerah atau malah merasa sikap Theo sangat tidak sopan dan sombong terhadap senior, ia kembali membuka suara.


"Aku tidak tahu buku seperti apa yang junior Theodoric suka, jadi aku hanya menebak sesuai batra yang junior Theodoric pilih.


Aku meminjam beberapa buku tentang pengobatan di perpustakaan lantai 2. Jika junior Theodoric tertarik, aku akan dengan senang hati meminjamkannya" kata Danis sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


Theo melirik pada Danis yang berada di bawah pohon, "Jangan bertele-tele, katakan saja apa tujuan mu sebenarnya?!" balas Theo datar tanpa minat.


Danis tersenyum seolah menunggu pertanyaan itu.


"Aku dengar, junior Theodoric adalah alkemis berbakat di kerajaan Ilussio. Aku punya teman yang ayahnya sakit parah, apakah junior Theodoric bersedia memeriksanya sebentar?" tanyanya berharap.


"Tidak tertarik" balas Theo datar.


"Apa junior tidak merasa kasihan pada teman ku? Dia sudah tidak punya ibu."


"Aku tidak peduli, lagi pula dia adalah teman mu bukan teman ku"


"..." Seketika Danis bungkam.


Ia ingin menawarkan koin emas, tapi ia ragu karena merasa Theo tidak kekurangan koin emas.


"Aku akan mempertimbangkannya jika kamu lebih jujur." kata Theo kembali fokus pada bukunya.


Danis tahu apa yang Theo maksud, kebohongannya sama sekali tidak mempan terhadap Theo.


"Naiklah. Aku akan mendengarkan ceritamu. "


Danis menangguk lalu melompat naik ke atas pohon dan duduk di dahan yang lain.

__ADS_1


Bersambung...


πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘


__ADS_2