Extraordinary Prince

Extraordinary Prince
Bab 30 ~ Bagaimana Bisa?


__ADS_3

đź‘‘đź‘‘đź‘‘


Seorang pemuda melesat begitu saja dan berhasil masuk terlebih dahulu ke dalam portal seorang diri.


Theo dan ke-empat senior nya juga ikut melesat beserta peserta lainnya.


Setelah tiba di dalam portal, jalan lebar yang ditujukan sebagai jalan untuk lomba malah membeku.


Di depan sana, seorang pemuda tersenyum mengejek pada semua peserta lalu kembali melesat tanpa memperdulikan umpatan yang tertuju padanya.


Theo mengeluarkan naga kecil berselimut holy rose demon yang mampu membakar apapun.


Naga kecil itu langsung melesat sambil menyemburkan api guna membuka jalan untuk Theo dan ke-empat seniornya.


Theo berlari terlebih dahulu disusul oleh Nafis dan Zeno. Leizen dan Helios berlari di belakang mereka sambil mengeluarkan sihir masing-masing.


Leizen mengeluarkan sihir airnya dan Helios mengeluarkan sihir angin dengan kepadatan tinggi hingga jalan yang telah Theo buka kembali tertutup es. Hal itu mencegah peserta lain memakai jalan yang telah Theo buka.


Para peserta dari Akademi lain tidak berdiam diri, kebanyakan dari Akademi besar seperti Akademi Cumulus memiliki reflek yang baik dan mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.


Berbeda dengan Akademi kecil yang masih kurang terampil dalam pengambilan keputusan seperti saat ini meskipun kebanyakan dari mereka telah tingkat 3.


Berpengalaman bukan berarti Professional!


Melihat akademi - akademi besar telah mengambil tindakan, mereka pun bekerja sama seperti hal nya yang telah dicontohkan oleh akademi besar.


***


Di aula besar akademi cumulus, semua siswa menatap layar dengan serius.


“Siapa orang itu? Sihir es nya kuat sekali!”


“Dia terlalu sombong, apa dia tidak peduli terhadap rekan satu tim nya?”


“Benar. Sihir es nya bukan hanya menghambat musuh, tapi juga menghambat rekan satu tim nya. Sial sekali jika satu tim dengan nya.”


Rafael dan Oxyn pun ikut menatap layar dengan serius.


“Setelah melihat ini, aku merasa Theo jauh lebih baik dari pemuda pengguna sihir es itu” kata Oxyn memberi komentar.


“Hahah... Kamu benar Sin! Meskipun rival ku kuat, tapi dia tidak pernah meninggalkan teman” kata Rafael menanggapi.


“Syukurlah dia bisa bekerjasama dengan para senior. Theo seperti bukan berada di tingkat 1 melainkan setara dengan para senior. ”


“Kau tidak perlu gugup dengan para senior, Sin. Lagipula mereka tidak akan memakan mu. Hahahah...” ejek Rafael.


“Tetap saja mereka adalah senior yang harus di hormati”


Rafael mengerutkan dahi, menurutnya yang sebagai seorang Pangeran, sifat hormat Sin tidak menggambarkan seorang Pangeran. Tua dan muda pasti akan hormat padanya.


Sin terlalu baik untuk seorang Pangeran!


***


Di tempat khusus para mister Akademi. Salah satu mister mengepalkan tangan melihat muridnya yang begitu sembrono tanpa memikirkan rekan satu timnya.


“Sudah ku bilang anak itu tidak pantas di ikutkan kompetisi ini.” gumamnya yang masih bisa terdengar oleh mister di sebelahnya.


“Sudahlah Mister Chen, lagipula ia mengikuti kompetisi ini sesuai prosedur Akademi. ” kata mister yang satu Akademi dengannya.

__ADS_1


***


Kembali ke pertandingan.


Tim Theo terus berlari dan saling menjaga satu sama lain.


Akademi-akademi besar lainnya berhasil menyusul mereka berlima.


“Jangan harap kalian bisa jadi bintang hari ini!” teriak salah seorang murid kepada tim Theo.


Nafis dan Zeno melirik ke sisi kiri dan kanan mereka.


“Oho... apa kau buta hingga tidak bisa melihat bintang hari ini?” balas Zeno penuh provokatif.


Saat ini tim Theo sebisa mungkin menghindari pertarungan karena itu akan menyia-nyiakan waktu, tapi sepertinya peserta lain tidak berpikir kesana.


“Cih, apa domba kesepian itu yang kamu maksud? Tapi sayangnya kami tidak berpikir kesana!”


Salah satu temannya mengarakan bola api pada tim Theo. Mereka menyerang sekaligus bergerak membuka jalan dari elemen es.


“Bertukar!” teriak Zeno.


Zeno dan Nafis dengan cepat bertukar tempat dengan Theo hingga Theo berada di tengah-tengah formasi.


Duar!


Ledakan tercipta ketika bola api itu menabrak sesuatu. Asap hasil ledakan tersebut membuat mereka tidak tahu bagaimana kondisi tim Theo saat ini.


Setelah asap menghilang barulah mereka bisa melihat tim Theo dikelilingi oleh barrier tipis tapi kuat.


“Ada ahli barrier!”


“Sepertinya pemuda itu yang melakukannya!”


“Sial! Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun! Dia benar-benar meremehkan kita!”


Padahal, perangai Theo memang seperti itu.


Melihat semakin banyak peserta yang mendekat, Helios langsung mengambil keputusan.


“Formasi C!” teriak Helios.


Helios dan Leizen segera bertukar tempat dengan Nafis dan Zeno. Sedangkan Theo masih berada di tengah formasi untuk mempertahankan barrier.


Nafis dan Zeno berhenti berlari lalu meletakkan kedua tangan mereka ke tanah.


Semua peserta pun waspada tapi mereka tetapi berlari mendekat.


Krak!


Tiba-tiba tanah bergetar dan membelah diri hingga terbentuk sebuah jurang dangkal.


Syuurrrr.


Setelah tanah itu terbelah dua, Zeno mengisinya dengan air yang sangat deras.


“Sudah cukup, ayo kita kembali ke formasi” kata Nafis menghentikan Zeno.


Zeno mengangguk dan mereka pun segera menyusul Theo, Leizen dan Helios yang sudah pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


Di depan sana, tangan Theo mengeluarkan naga kecil berselimut petir hitam yang ia lemparkan ke belakang.


Naga itu melesat cepat dan menceburkan diri ke dalam kolam buatan Nafis dan Zeno.


Peserta yang sedang berenang pun pingsan karena tersetrum oleh petir Theo.


Tapi peserta yang mengandalkan otaknya dapat melalui kolam listrik itu dengan mudah menggunakan sihir mereka.


Beberapa saat kemudian, Nafis dan Zeno berhasil menyusul mereka karena mereka sengaja tidak berlari dengan kecepatan penuh, hingga setelah Nafis dam Zeno menyusul barulah mereka kembali menggunakan kecepatan penuh.


Naga kecil berselimut holy rose demon terus melesat membuka jalan tapi sekarang tim Theo tidak menutup jalan kembali seperti sebelumnya. Mereka akan menghemat mana sebaik mungkin. Theo pun telah melepaskan sihir barrier nya.


***


Seorang pemuda menoleh ke belakang dan mendapati satu tim yang berhasil menyusul nya.


Dia tersenyum, “Memang pantas disebut murid Akademi terbaik!” matanya berkilat tajam menatap tim tersebut yang tak lain adalah tim Theo.


“Berhatil-hatilah, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu!” kata Helios yang berada di depan barisan bersama Leizen.


“Formasi A!” kata Helios lagi.


Mereka kembali bertukar posisi seperti formasi sebelumnya.


Duar!


Duar!


Boom!


Berbagai macam ledakan terdengar jauh dibelakang mereka, sepertinya para peserta sedang bertarung.


Tim Theo tidak memperdulikan itu dan fokus pada musuh di depan mata mereka.


“Bagaimana dengan ini!” kata pemuda yang jauh di depan sana yang tiba-tiba berhenti.


“Jangan berhenti.” kata Theo mengintrupsi dengan tenang.


Ke-empat seniornya mengangguk dan mengikuti Theo dari belakang.


“Cih, dasar keras kepala!” dengus pemuda itu yang kesal melihat tim Theo terus berlari ke arahnya tanpa takut sedikitpun.


Ia berpikir tim Theo akan waspada terhadap nya, tapi ekspetasi tidak seindah realita!


Pemuda itu menginjak tanah dengan kuat dan...


Booommmm!


Sebuah dinding tebal yang terbuat dari es menjulang tinggi di depan sana.


Melihat itu, wajah Theo tidak berubah sedikitpun, masih tetap tenang seperti biasa.


Duaarrrrrr!


Disaat pemuda itu tersenyum lebar penuh kebahagiaan, tiba-tiba dinding es yang kokoh itu hancur berkeping-keping membuat senyumnya luntur seketika.


“Bagaimana bisa?!”


Bersambung....

__ADS_1


đź‘‘đź‘‘đź‘‘


LIKE!


__ADS_2