
πππ
Theo mencoba menarik tangannya yang tertimpa pedang. Namun sayangnya pedang tersebut sangat berat hingga tak bergerak sedikit pun. Bahkan lantai nya pun ikut retak.
"Masterπ₯Ί!" kata Theo memelas.
Mister Cedrik tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah murid pribadinya yang saat ini tengah memelas.
'Master, apakah kamu akan marah di alam sana jika aku menjahili keturunan mu?' kata Mister Cedrik dalam hati.
"Master ... Berapa berat pedang ini?" tanya Theo sambil meringis. Tulang-tulangnya yang remuk menusuk daging tangan membuatnya merasakan sakit.
"100kg" jawabnya santai.
"Apa kamu tidak berniat membantu murid mu ini, Master?" tanya Theo lagi dengan wajah memelasnya.
Dalam hatinya dia menangis karena harus mempunyai Master seperti Mister Cedrik.
'Sialan ini. Akan ku balas suatu hari nanti!'
Mister Cedrik mengeluarkan potion berwarna biru laut lalu di letakkan di atas meja.
"Potion ini berguna untuk menyusun kembali tulang yang patah dan retak. Selain itu potion ini juga berfungsi menambah stamina seperti potion merah.
Tapi potion ini lebih baik dari potion lainnya. Bahan yang digunakan juga lumayan sulit--"
"Berikan itu padaku, Master!" potong Theo kesal mendengar penjelasan Masternya.
Mister Cedrik melirik Theo sejenak lalu kembali menatap potion di hadapannya.
"Sayangnya potion ini sangat mahal--"
"3 keping emas?!"
__ADS_1
"Bagaimana jika segini?" kata Mister Cedrik sambil menunjukkan lima jarinya.
"Setuju!"
Mister Cedrik melempar potion biru laut itu pada Theo, Theo menangkap potion yang di lempar menggunakan mulutnya lalu dengan susah payah ia membuka dan meminumnya.
Theo merasakan tubuhnya penuh dengan energi mana. Tulang yang retak pada kedua tangannya bergenerasi kembali.
"Ini ... lebih dari tingkat sempurna! Master, bagaimana kamu membuat potion ini?" tanya Theo semangat.
Mister Cedrik mendengus kesal, "Lebih baik kamu angkat pedang itu dan pergi dari sini!"
Theo mengangguk, dia mengerahkan seluruh kekuatannya agar bisa menggerakkan pedang itu.
Ketika Theo sedang serius mengangkat pedang, Mister Cedrik berceletuk, "Jangan lupa membayar 50 keping emas"
Kekuatan Theo seketika menghilang, "Kamu ingin memeras ku Master?!"
Theo tidak habis pikir dengan isi kepala Masternya itu!
"Yang mengatakan 5 keping emas siapa?! Aku memberi mu penawaran 50 keping emas!"
Theo benar-benar ingin menangis sekarang!
'Uang jajan ku!!!!' ronta Theo dalam hati.
"Kenapa kamu membuat ekspresi seperti itu? Sebagai pangeran dari kerajaan terbesar tentu saja itu sangat murah!"
Theo tidak menjawabnya, ia sudah menanamkan dalam hati untuk bertanya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Entah setan dari mana, Theo berhasil mengangkat pedang tersebut dalam sekali tarikan.
Kemudian dia mengeluarkan 50 keping emas dari dompet penyimpanan yang dibungkus kantong.
__ADS_1
Kantong itu Theo simpan di atas meja Mister Cedrik setelah itu dia memberi hormat dan keluar ruangan dengan perasaan kesal.
'50 keping emas ku!!!' rengek Theo dalam hati.
Theo penyimpan pedang ke dalam dompet penyimpanan lalu dia berjalan kembali ke kelas nya.
Di saat Theo sedang berjalan, tiba-tiba ia teringat kejadian dirinya melempar tas ke wajah Rafael.
'Dua kerajaan besar tidak akan berperang kan hanya karna aku melempar tas ke wajah Rafael?
Sudahlah lupakan, jika memang harus berperang itu bukan masalah!'
"Theo!" panggil seseorang.
Dari suaranya Theo sudah menebak pemilik suara tersebut.
"Apa kamu mau ke ruang ganti?" tanya Rafael yang sudah berada di samping Theo.
"Untuk apa ke ruang ganti?"
"Apa kamu lupa setelah ini pelajaran olahraga?"
"..."
'Sial! Aku lupa!"
"Bolehkah aku membolos sekali saja?"
"Hmm...?"
Bersambung...
πππ
__ADS_1
LIKE!