Extraordinary Prince

Extraordinary Prince
Bab 16 ~ Kisah Klasik


__ADS_3

πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘


Theo masuk ke dalam perpustakaan akademi. Perpustakaan ini cukup luas, di dalam perpustakaan terdapat 3 lantai.


Lantai 1 untuk semua kelas 1, 2 dan 3. Lantai 2 untuk kelas 2 dan 3, dan lantai 3 hanya untuk kelas 3.


Theo berjalan di tengah rak buku yang menjuntai tinggi sambil membaca setiap judul buku yang dilewatinya.


Di lantai 1 hanya terdapat teknik dasar. Sedangkan di lantai 2 & 3 terdapat teknik yang cukup hebat.


Theo menghela napas pelan. Sejak awal dunia ini memang membeda-bedakan status.


Karena status Theo saat ini adalah kelas 1, maka ia tidak di perbolehkan membaca buku di lantai 2 & 3.


'Bukankah ini diskriminasi bagi kelas 1?!'


Tidak ada teknik yang menarik perhatiannya. Ia gatal sekali ingin membaca buku di lantai 2 & 3, tapi apalah daya?!


Tak terasa ia sudah melangkah hingga ujung perpustakaan. Sepertinya tempat ini jarang terjamah. Bisa dilihat dari debu-debu halus pada rak.


'Semoga aja aku bisa menemukan harta karun di sini!'


Theo berjalan hingga pojok rak. Ia berjongkok membaca judul buku di paling bawah rak.


"Macam-macam tanaman di dunia." gumamnya.


"Lumayan, aku akan ambil ini!"


Theo mengeluarkan buku dari rak lalu buku itu menghilang masuk ke dalam kartu perpustakaan milik Theo.


Ia membaca judul buku yang lainnya lalu memasukkan semuanya pada kartu. Kebanyakan buku yang Theo ambil adalah seputar alkimia.


Menurut wikipedia, Alkimia adalah protosains yang menggabungkan unsur-unsur kimia, fisika, astrologi, seni, semiotika, metalurgi, kedokteran, mistisme dan agama.


Theo naik ke atas kursi tangga untuk menjangkau bagian tertinggi rak buku.


'Demi hidup tenang dan damai, aku harus jadi kuat dan jadi seorang alkemis!


Maka dari itu, mau tidak mau aku harus belajar alkimia!'


"Semoga saja aku tidak botak karena berlatih seperti orang gila." gumamnya pasrah sambil membaca judul buku di bagian atas rak.


"Memangnya berlatih seperti orang gila bisa menyebabkan botak?"

__ADS_1


Theo menoleh, "..."


Pemuda berambut pirang menatap bingung pada Theo.


Sudut bibir Theo berkedut, ia ingin menendang jauh-jauh pemuda pirang di sampingnya.


"Mau apa kamu di sini?" tanya Theo menahan kekesalannya.


"Aku tidak menemukan mu di kantin. Jadi aku mencari mu dimana-mana, untungnya ada yang melihat mu masuk ke perpustakaan." balas Rafael menjelaskan.


Theo menghela napas lelah, sejak terlahir kembali di dunia otome game, ia sering menghela napas seperti kakek-kakek.


Pantas saja umurnya hanya sebatas kelulusannya. Itu karena ia dikelilingi oleh orang-orang menyebalkan.


"Sebaiknya jangan mengganggu ku jika tidak ada kepentingan." peringatnya acuh lalu mengalihkan pandangannya pada buku-buku yang berjajar rapi di rak.


"Seperti yang di harapkan dari rival ku! Kamu pasti sedang mencari teknik baru.


Baiklah, aku juga akan mencari teknik yang cocok dengan ku!" katanya bersemangat lalu turun dari kursi tangga kemudian menggeser kursi tangganya ke rak yang berlawanan dari Theo.


Hening, tidak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka berdua. Mereka sama-sama fokus mencari teknik baru yang sesuai dengan elemen mereka masing-masing.


'Boneka petir?!' kata Theo dalam hati ketika membaca salah satu judul buku.


Mereka saling bertatapan sekilas, Theo dengan wajah dingin dan tak acuhnya, sedangkan gadis itu membelalakkan mata terkejut karena bisa melihat wajah Theo dari dekat, meski masih 10cm, baginya jarak tersebut sudah sangat dekat.


'Kisah yang begitu klasik!'


Theo turun dari kursi tangga mengabaikan gadis yang masih terkejut itu.


Ketika Theo tidak lagi terlihat dihadapannya, pipi gadis itu merah merona seperti tomat hingga ia tidak bisa menyeimbangkan diri.


Brug!


"Aaarrrghhh!"


Brug!


Brug!


Rafael yang mendengar suara terjatuh langsung menoleh ke belakang memastikan suara tersebut bukan berasal dari Theo.


Setelah memastikan Theo baik-baik saja, ia langsung turun dari kursi tangga dan mengecek sisi berlawanan dari rak Theo.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja, Nona? Mari ku bantu!" tanya Rafael khawatir.


Tak lama kemudian Theo muncul dan memperhatikan Rafael yang sedang mengulurkan tangan pada gadis itu.


Gadis itu menerima uluran tangan Rafael lalu berdiri sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena tertimpa buku.


"Apa kepala mu terluka? Biar ku lihat!"


"Tidak, kepala ku baik-baik saja. Hanya sedikit sakit. Terimakasih karena telah menolong ku, Pangeran Rafael"


"Sama-sama"


Theo mengabaikan mereka berdua, tanpa bicara, ia mengembalikan buku yang terjatuh ke tempat semula.


Mereka yang melihat Theo menata buku ke dalam rak segera melakukan apa yang Theo lakukan.


Setelah selesai, Theo menatap Rafael.


"Apa kamu sudah menemukan buku yang cocok, Rafa? Jika belum, aku akan kembali terlebih dahulu."


"Aku sudah menemukannya" jawab Rafael.


Theo mengangguk lalu melirik gadis itu, "Berhati-hatilah!" katanya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Seketika pipi gadis itu memanas mendengar nasihat Theo dengan deep voice yang begitu menenangkan.


"Apa kamu benar baik-baik saja, Nona? Apa perlu ku antar ke uks?" tanya Rafael masih khawatir.


"Aku baik-baik saja Pangeran Rafael, sekali lagi aku ucapkan terimakasih." balas gadis itu sedikit menundukkan kepala.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, lain kali lebih berhati-hatilah"


"Baik Pangeran, maaf telah merepotkan mu"


Rafael segera pergi menyusul Theo.


Gadis itu terduduk di lantai sambil memegangi jantungnya yang berdegup kencang karena ucapan perhatian dari Theo.


Bersambung...


πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘


LIKE!

__ADS_1


__ADS_2