
πππ
Theo masuk ke dalam rumah. Dia melihat sekeliling dan tidak mendapati keberadaan Masternya.
"Master? Apa kau ada di rumah?"
Tidak ada sahutan. Akhirnya Theo memutuskan pergi ke dapur dan meletakkan bahan masakan di meja.
Hari ini dia akan menginap di rumah Master Cedrik, jadi dia membeli bahan masakan untuknya makan dan juga masternya.
Theo mulai membersihkan bahan-bahan lalu mengiris bawang dan cabai serta sayuran lainnya. Dia akan memasak capcay karena hari ini akan dia habiskan untuk berlatih pedang.
Theo mulai menyalakan api dengan menggesek dua batu di tangannya. Dunia ini masih sangat kuno hingga mau masak saja harus ribet menyalakan api terlebih dahulu.
Berbeda dengan orang yang mempunyai elemen api, tentunya akan sangat mudah dan cepat dalam menyalakan api.
'Sepertinya aku harus mulai berbisnis korek api!'
Theo tersenyum tipis ketika mendapat sebuah ide.
Beberapa menit kemudian. Makanan telah siap, nasi dan capcay ia letakkan di atas meja makan.
Kriet!
Seseorang masuk ke dalam rumah dan mencium aroma yang sangat menggugah selera di dapur, ia pun pergi ke dapur karena aroma tersebut.
"Salam pada, Master!" hormat Theo sambil sedikit menundukkan kepala.
"Apa yang kamu masak, bocah?" tanya Master Cedrik sambil menatap makanan yang telah tersaji di atas meja.
"Sebut aja Capcay, Master" kata Theo sambil menatap sosok tampan di depannya.
Jika di akademi penampilan Mister Cedrik berambut putih dan bermata orange, kini di depannya terpampang sosok berambut hitam legam dan pupil mata segelap malam, sangat berbeda dengan penampilan Mister Cedrik di akademi.
"Ngomong-ngomong, aku belum terbiasa dengan penampilan asli mu Master"
"Hanya kamu yang bisa melihat wajah tampan ku" balas Master Cedrik sambil duduk lalu mulai menungkan nasi ke atas piring.
"Tapi aku lebih tampan darimu, Master" balas Theo tidak mau kalah.
Ia juga ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan Master Cedrik lalu menuangkan nasi ke piring.
"Lumayan. Mulai sekarang kamu yang memasak setiap hari" komentar Master Cedrik sambil mengunyah.
Uhuk uhuk!
Theo meraih gelas di dekatnya lalu minum dengan kasar.
"Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini agar aku bisa melihat perkembangan mu"
"Bagaimana jika ada yang mencariku tetapi tidak menemukan ku di asrama?"
"Pikirkan sendiri dengan otak kecil mu itu"
__ADS_1
πππ
Selesai makan, Theo diperintah Master Cedrik untuk mulai berlatih.
Pedang yang dipinjamkannya ternyata beratnya bisa diatur sesuka hati.
Pantas saja Theo bisa mengangkatnya, ternyata bebannya telah diganti menjadi 5kg dari 100kg.
"Tebasan melingkar 200"
"Tebasang vertikal 201"
"Tebasan horizontal 202"
Theo terus bergumam setiap melakukan tebasan yang berbeda bentuk. Kepalanya mulai pening tetapi dia terus mengayunkan pedang seberat 5kg dengan kedua tangan.
"Tebasan menyilang 2000!"
Bruk!
Theo ambruk dengan keadaan seluruh tubuh lemas.
'Aku belum pernah olahraga sampai mau mati seperti ini di kehidupan sebelumnya!'
"Apa yang kau lakukan bocah?! Cepat berdiri!" sentak Master Cedrik.
Dengan modal semangat Theo kembali berdiri mencoba menstabilkan napas.
Tarik napas...
"Ikut aku!"
Theo mengikuti Masternya dan berhenti di sebuah danau yang tidak terlalu dalam.
"Telan ini ... dan fokuskan aliran mana ke elemen api mu hingga terbuka"
Theo menerima sebuah batu berwarna merah darah yang sangat panas di tangannya. Batu tersebut seperti baru saja di ambil dari dasar gunung berapi.
"Aw aw aw aw!" Tangan Theo bergantian menerima batu tersebut dari tangan kanan ke tangan kiri lalu dari tangan kiri ke tangan kanan. Begitu seterusnya.
Master Cedrik mendengus dingin melihat tingkah bodoh muridnya.
"Lapisi tangan mu dengan sihir petir, bodoh!" kesalnya.
Theo menuruti perkataan Masternya, meskipun tangannya telah dilapisi sihir petir, panas batu ini masih terasa.
Beberapa saat kemudian, Theo berjalan ke tengah danau yang kedalamannya hanya selutut kaki Theo, setelah itu ia duduk bersila sambil menatap batu di tangannya.
'Apa aku akan mati jika menelan batu ini?'
Gluk!
Theo menelan saliva ketika membayangkan batu panas ini membakar tenggorokannya.
__ADS_1
'Aku harus berani mengambil resiko!'
Theo menelan batu panas itu lalu memejamkan mata. Energi panas tiba-tiba keluar dari dalam tubuh Theo membuat Theo tidak bisa fokus sangking panasnya.
Rasanya seperti kamu di lempar ke tengah gunung berapi!
"Fokus dan alirkan energinya hanya ke elemen api!"
Tiba-tiba suara Masternya terdengar membuatnya lebih bertekad menahan rasa sakit yang teramat sangat ini.
Aliran energi panas terus mengalir ke elemen api nya yang masih tidak merespon aliran panas yang Theo alirkan.
Energi panas itu membungkus elemen api milik Theo layaknya sebuah bola.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Theo masih berjuang! Tetapi elemen api miliknya mulai terkelupas sedikit demi sedikit layaknya ayam yang keluar dari dalam telur.
Krak!
Krak!
Empat jam.
'Sedikit lagi! Sedikit lagi ... aku pasti bisa!'
Elemen api nya terus dibungkus energi api yang secara perlahan mulai memudar karena berhasil di serap oleh elemen api.
Duarr!
Ledakan di tengah danau membuat air membumbung tinggi dan membuat tsunami kecil yang menyapu pesisir.
Beberapa menit setelah air danau kembali tenang, terlihat Theo yang bernapas mengeluarkan api di mulutnya.
Perlahan ia membuka mata, mata safirnya menangkap sosok pertama yang ia lihat adalah masternya yang menatap datar dirinya dari tepi danau.
Brug!
Setelah itu Theo tidak sadarkan diri dan mengambang di danau.
Master Cedrik tersenyum tipis melihat muridnya tidak sadarkan diri.
"Akhirnya dia berhasil." gumamnya puas melihat keberhasilan Theo.
Bersambung...
πππ
LIKE!
__ADS_1