Fille Forte

Fille Forte
Jaket


__ADS_3

Aurora terbangun karena sinar matahari masuk melalui sela-sela kamarnya, Aurora merasa terganggu dengan itu tapi dia begitu malas beranjak dari kasur kesayangannya itu,sampai alarm dari ponselnya berbunyi Aurora mematikan alarm itu.


Aurora melihat secara sekilas bahwa sekarang adalah jam 6 pagi langsung beranjak dari kasurnya itu, dia pergi ke kamar Sean untuk membangunkan Sean.


"Sean wake up" ucapnya menggoyang tubuh Sean agar dia terbangun.


"Kakak Sean masih ngantuk!" ucap Sean tanpa mempedulikan Aurora


"Sean jika kau tidak bangun, jangan salahkan kakak membuang semua ice cream yang ada di kulkas," ucap Aurora dengan suara yang begitu tegas


"Kakak jangan!" ucap Sean langsung bangun dari tidurnya dan memasang puppy eyes


"Cepat mandi dan bersiap-siap" ucap Aurora


Sean bangkit dari kasurnya dan mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, Aurora merapikan tempat tidur Sean dan setelah itu dia kembali ke kamarnya, mengambil handuk dan mengikat rambutnya dan masuk ke kamar mandi,dia mandi begitu cepat cuma sikap gigi,cuci muka dan setelah itu, dia memakai seragam putih abu-abunya itu.


Aurora keluar dan pergi ke dapur membuat roti panggang untuk sarapan dan juga bekal untuk Sean.


Sean datang dengan wajah yang kesal dan memeriksa kulkas apa ice creamnya masih ada atau tidak.


"Asyik.....ice cream Sean masih ada di kulkas" ucap Sean memandang kulkas dengan mata yang berbinar


"Sean ayok sarapan" teriak Aurora


Sean datang ke meja dan memakan sarapannya dengan lahap, Aurora memberikan segelas susu, Sean meminumnya dengan cepat, setelah sarapan Aurora meletakkan bekal pada tas Sean dan memasang tas pada belakang punggung Sean.


Aurora ke kamarnya dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas,Aurora menyisir rambutnya dan menghias dirinya dengan memakai moisturizer dan sunscreen pada wajahnya dan sedikit memberi bedak tabur pada wajahnya, Aurora memberikan lip balm pada bibirnya agar lembab dan sedikit lip tint.


Aurora mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya, Sean menunggu Aurora di sofa ketika melihat Aurora sudah keluar Sean mendekati kakaknya, Aurora membawa Sean keluar dan tidak lupa mengunci pintu.


Aurora mengantar Sean terlebih dahulu ke TK dan memberikan Sean kepada guru yang ada di sana setelah mengantar Sean.


Aurora berlari menuju halte bus dan menunggu bus yang datang sekali-kali dia melihat jam yang berada di tangannya yang menunjukkan waktu terus berjalan.


Ada bus yang datang Aurora langsung naik ke bus itu walaupun harus berdiri,bus itu berjalan selama 30 menit dan tiba di halte dekat sekolah.


Aurora membayar ongkosnya dan turun dari bus, ia berlari dan melihat ada seorang guru wanita yang sudah berdiri dengan buku kebanggaannya itu.


Aurora tetap harus sekolah jadi dia berjalan ke arah bu Jennie yang sudah siap mencatat nama-nama murid yang terlambat.


Bu Jennie adalah salah satu guru di Phoenix High School yang menangani masalah murid-murid yang terlambat, tawuran, bolos dan bermasalah, dia memiliki sifat yang tegas dan tidak segan-segan menghukum siapapun yang berbuat salah tanpa pandang bulu.


"Nama dan kelas?" tanya bu Jennie yang sudah siap menuliskan nama Aurora di buku kebanggaannya.


"Aurora Diandra Charity dari kelas 10 MIPA 1" jawab Aurora.


"Kamu tahu jam berapa masuk?" tanya bu Jennie tegas.


"Tahu bu," ucapnya


"Jadi kenapa terlambat?" tanyanya menginterogasi Aurora


"Saya harus mengantar adik saya ke sekolah dulu bu," jawab Aurora pelan.


"Orang tuamu kemana? sampai kamu yang harus mengantar adikmu"


"Tidak ada bu!" jawab Aurora lirih.


"Keluar kota atau ada pekerjaan?" tanya bu Jennie lagi.


"Maaf bu saya tidak punya orang tua!" ujar Aurora dengan suara seraknya.


"Maaf ibu tidak tahu itu!" ucap bu Jennie dengan rasa bersalah


"Tidak apa-apa bu"


"Tapi ibu tetap harus menghukum kamu, cepat pergi ke lapangan dan hormat tiang bendera sampai waktu istirahat," kata ibu Jennie dengan suara tegasnya seperti biasa


"Iya bu" ucapnya pasrah.


Aurora berjalan ke lapangan dan meletakkan tasnya di pinggir lapangan, Aurora menghormati bendera seorang diri di sana karena cuma dia satu-satunya murid yang terlambat.


"Bisa kabur enggak? kok ibu itu terus lihat kemari sih?" gerutu Aurora


Ketika Aurora menghormati bendera dia mendengar suara ibu Jennie seperti memarahi seseorang, Aurora menoleh dan melihat orang yang di marahin ibu Jennie adalah Galaksi.


"Galaksi kenapa kamu terlambat?"


"Saya ketiduran bu," jawab Galaksi dengan santai


"Ibu tidak percaya dengan alasanmu itu! kamu tetap harus dihukum," ujar bu Jennie dengan tegas


"Ibu ayah saya adalah pemilik sekolah ini, ibu tau itu kan?" tanya Galaksi berharap ibu Jennie takut


"Teruntuk kepada Galaksi Oliver Phoenix walaupun ayahmu adalah pemilik sekolah ini, ayahmu sudah memberitahu kepada semua guru yang mengajar di sekolah ini, jika ada murid yang berbuat kesalahan kami bisa menghukumnya siapapun orang tuanya mau dia anak kepala sekolah, presiden, menteri dan anak pemilik sekolah ini tetap harus dihukum agar mereka disiplin, ingat itu baik-baik Galaksi!" balas bu Jennie dengan senyum smirk


"Saya cuma ngetes ibu aja ibu takut atau tidak dengan saya?" jawab Galaksi


"Cepat hormati tiang bendera sekarang" ucap bu Jennie menunjuk tiang bendera yang ada di lapangan


"Sekarang bu!"


"Nggak tahun depan!ya sekaranglah!" teriak ibu Jennie


Galaksi pergi ke lapangan dan meletakkan tasnya di pinggir lapangan dan menghormati tiang bendera di samping Aurora, gadis di sebelah Galaksi merasa gugup karena Galaksi berada di sampingnya.


"Kak Galaksi ada disini bagaimana ini?" ucapnya di dalam hati


Mereka tetap menghormati tiang bendera walaupun matahari yang begitu terik, Galaksi agak gusar dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya itu.


Aurora yang melihat tingkah Galaksi itu paham jika matahari sangat menyakitkan bagi kulitnya itu.


Aurora melepaskan jaket yang selalu dia bawa berada di pinggangnya itu, dia membentangkan jaketnya di atas Galaksi agar matahari tidak mengenai kulitnya, Galaksi merasa ada yang menutup kepalanya, dia melihat Aurora yang berdiri berjinjit menyeimbangkan tinggi Galaksi untuk menutupi dirinya dari matahari, Galaksi menatap Aurora begitu lama sampai dia sadar dan langsung merampas jaket itu dari tangan Aurora dan meletakkannya di atas kepalanya.

__ADS_1


"Terimakasih aku pinjam dulu jaketnya!" kata Galaksi dengan suara seraknya


"Sama-sama kakak bisa mengembalikan jaket itu kapanpun" jawab Aurora


Galaksi kadang mencuri pandang melihat Aurora tapi orang yang dipandang mungkin tidak menyadarinya, mereka diam tidak ada salah satu dari mereka yang ingin membuka obrolan, sampai terdengar teriakan ibu Jennie yang memecahkan keheningan mereka.


"Kalian berdua bisa masuk kelas sekarang!" teriak ibu Jennie


Aurora dan Galaksi meninggalkan lapangan dan mengambil tas mereka, Galaksi pergi terlebih dahulu tanpa memandang Aurora, Aurora yang melihat Galaksi pergi tanpa mempedulikan dirinya itu cuma bisa menghela nafasnya lega karena dia tidak perlu berlama-lama dengan Galaksi, dia tidak ingin jika ada gosip yang menyebar tentang dirinya dengan Galaksi.


Aurora pergi meninggalkan lapangan dia berjalan menuju kantin, dia melihat 10 menit lagi adalah waktu istirahat jadi dia berpikir buat apa dia masuk ke kelas lagi, Aurora tiba di kantin dan memesan semangkuk mie ayam setelah pesanannya selesai Aurora duduk di sudut kantin memakan pesanannya itu.


"Kenapa aku begitu bodoh memberikan jaket kepada kak Galaksi? bagaimana cara meminta jaket itu kembali?" ucap Aurora memakan baksonya


Teng.....teng....


Bunyi bel waktu istirahat tiba,semua siswa keluar dari kelas dan berjalan menuju kantin untuk mengisi perut mereka, baru saja Aurora duduk beberapa menit di sini, dia sudah bisa mendengar teriakkan histeris kaum hawa ketika Vanostra Evil masuk ke kantin tapi bukan cuma berempat tapi ada dua orang gadis dan empat pria yang bersama mereka.


Aurora penasaran siapa kedua gadis itu sampai mereka berani berjalan bersama Vanostra Evil, dia berpikir apa mereka tidak takut dengan mereka.


Raline duduk di depan Aurora tapi dia belum menyadari kehadiran Raline. Aurora terus menatap mereka dan meringis melihat jaket kesayangannya malah dijadikan topi oleh Galaksi.


Raline melihat arah pandang Aurora dan mengerti apa yang sedang dilihat oleh Aurora, dia memanggil Aurora berharap Aurora melihat dirinya.


"Aurora……!" panggil Raline pelan.


Aurora menoleh dan melihat ada Raline yang berada di depan dirinya, dia menggaruk kepalanya sedikit canggung dengan kehadiran Raline.


"Ada apa Line?" tanya Aurora


"Aku sudah duduk di sini tapi aku bingung kenapa kau terus menatap mereka?" tanya Raline penasaran.


"Aku cuma melihat kedua gadis itu dan ada tiga orang pria yang bersama mereka, aku sangat penasaran dengan kedua gadis itu!" ujar Aurora


"Jangan pernah mencari masalah dengan mereka atau kau akan merasakan akibatnya Aurora!" ujar Raline tegas.


"Bagaimana aku ingin mencari masalah dengan mereka jika aku tidak mengenal mereka" balas Aurora pelan.


"Baik aku akan memberitahu siapa kedua gadis itu!" ucap Raline


Mendengar Raline akan memberitahunya membuat Aurora tenang karena dia tidak perlu repot-repot mencari tahu tentang mereka semua.


"Apa kau bisa lihat yang bergelayut manja dengan kak Galaksi?" tanya Raline.


"Iya, aku bisa melihatnya" balas Aurora.


"Dia adalah Helen Grizelle, menurut desas-desus yang ada banyak yang mengatakan bahwa Helen itu adalah seorang penjilat!" terang Raline.


Helen Grizelle seorang gadis yang selalu membuat masalah, dan merasa dirinya yang paling hebat, dia tidak segan-segan melabrak adik kelas jika ada yang ketahuan berusaha mendekati Vanostra Evil.


"Penjilat bagaimana?" tanya Aurora bingung.


"Memang kenyataannya dia itu seorang penjilat, kau tahu ku dengar ibunya adalah seorang pelacur, bahkan sampai sekarang Helen tidak mengetahui siapa ayahnya!" tutur Raline.


Aurora terdiam untuk sesaat, dia melihat seorang gadis yang membawa banyak pesanan dan bingung kenapa gadis itu mendekat ke meja Vanostra Evil.


"Ini pesanan kalian semua!" ucap gadis itu


"Lama amat cuma pesan ini doang" ucap Helen membentak gadis itu.


Teriakan Helen berhasil membuat orang-orang di kantin menatap mereka, dan mereka menganggap itu biasa saja dan tidak ada yang ingin menolongnya.


"Maaf……" ucap gadis itu menundukkan wajahnya tidak berani menunjukkan wajahnya pada Helen.


"Udahlah Helen wajar kali jika dia lama, dia harus antri lagi, kau bisa pergi dan terima kasih udah bawa pesanan kita" ucap Vino.


Gadis itu pergi meninggalkan mereka, Helen kesal karena Vino membiarkan gadis itu pergi, tahukah Vino jika dia ingin bersenang-senang dengan gadis itu.


"Vino kenapa lo suruh dia pergi?" tanya Helen ketus.


"Lo punya otak kan? gue lakukan itu karena ada paparazi yang sedang mengawasi gue" ucap Vino ketus.


"Ternyata tidak enak juga punya ibu seorang pianis terkenal" ucap Helen meremehkan Vino.


"Seenggaknya ibunya adalah orang yang punya kehormatan dan berkelas, tidak seperti ibu lo" saut Zayn yang tidak suka dengan Helen.


Helen ingin sekali menampar pipi Zayn karena dia membuat orang-orang ingat siapa ibunya yang sebenarnya, bagi mereka menyingkirkan dirinya begitu mudah dan itu tidak sebanding dengan kerja kerasnya yang mendekati mereka.


Helen melihat Galaksi dan Alice yang malah menikmati makanan mereka dan tidak niat sama sekali untuk membelanya, membuat Helen semakin kesal dan dapat dilihat wajahnya yang sudah memerah menahan amarah.


Aurora dan Raline melihat gadis itu dan melihat bagaimana cara Helen membentak gadis itu yang berhasil membuat gadis itu menjadi pusat perhatian, dia merasa sedikit kasihan padanya.


"Siapa gadis itu?" tanya Aurora.


"Gadis itu namanya adalah Citra, dia seangkatan dengan kita tapi sebenarnya dia adalah kakak kelas kita" jelas Raline


"Tunggu jika dia adalah kakak kelas kita tapi kenapa dia seangkatan dengan kita? apa dia tinggal kelas?" tanya Aurora


"Dia tidak mengikuti ujian karena satu hal" ucap Raline menghembuskan nafasnya.


"Hal apa itu?" tanya Aurora mengerutkan keningnya.


"Dia korban pemerkosaan" ucap Raline pelan.


Aurora menutup mulutnya dan tidak menyangka atas apa yang dia dengar, alasan gadis itu di bully karena dia korban pemerkosaan, pantas saja tidak ada yang mau menolongnya karena semua orang masih menganggap pemerkosaan tidak akan terjadi jika bukan si korban yang berulah.


"Bagaimana itu bisa terjadi? apakah kak Citra baik-baik saja?" tanya Aurora yang merasa iba.


"Kau tahu aku baru pertama kali ini mendengar ada orang yang bertanya tentang kondisi korban! biasanya orang-orang akan selalu bertanya bagaimana itu terjadi? pasti dia yang memulai duluan tidak mungkin ada asap jika tidak ada api" tutur Raline.


"Kita hidup di negara yang mana rakyatnya menganggap bahwa pemerkosaan itu terjadi karena salah korban" balas Aurora pelan.


"Dan karena alasan itu kak Helen tega membully kak Citra, aku dengar kak Citra termasuk salah satu primadona di sekolah ini sebelum hal itu terjadi, bahkan semua orang menyukai kak Citra ketimbang kak Helen" jelas Raline.

__ADS_1


"Bahkan yang lebih buruknya lagi sesama perempuan menjatuhkan dan menghina perempuan lainnya" ucap Aurora pelan.


"Aku kasihan kepada kak Citra, aku ingin menolongnya tapi aku tidak bisa karena otomatis aku pasti akan berhadapan dengan Vanostra Evil" ucap Raline jujur.


"Raline aku bingung kenapa kau mengetahui semua berita dan gosip di sekolah ini? padahal kita baru dua hari sekolah" tanya Aurora yang baru menyadarinya.


"Sebelum aku masuk ke sekolah baru aku akan mencari seluk-beluk sekolah itu,dan berita apa yang terjadi di sekolah itu" jelas Raline sembari minum air.


Aurora mengangguk kepalanya dan berpikir ada orang serajin itu mencari informasi, dirinya masuk ke sekolah ini saja karena sekolah ini yang paling terdekat. Ketika mereka terdiam untuk sesaat datanglah Shawnette, Xylona, dan Laquitta ke meja mereka.


"Boleh kami duduk di sini?" tanya Xylona


"Boleh silahkan" ujar Aurora dengan begitu sopan


Mereka duduk tapi Aurora dapat memperhatikan ada gelagat yang aneh di antara mereka bertiga.


"Nette lu aja deh yang ngomong" ujar Laquitta


"Kok gue?lu aja deh Xylona"


"Kok malah gue kan lu Laquitta?"


"Kalian mau ngomong apa?" tanya Aurora


"Kami ingin kamu masuk ke geng kami Black Angel,mau kan gabung dengan kita" tanya Xylona


Mendengar ajakan Xylona yang meminta Aurora bergabung dengan mereka membuat dia kebingungan dan dia memandang Raline yang diam saja ketika mereka datang, dan paham mungkin Raline berpikir dirinya akan bergabung dengan mereka dan tidak ingin berteman dengannya lagi.


"Pasti diterima kan geng kita itu udah cantik, famous lagi" ujar Laquitta mengibaskan rambutnya.


"Maaf aku gak bisa gabung dengan kalian"


"Why? apa ada masalah?" tanya Shawnette


"Aku nggak suka berteman jika main geng gini, aku lebih suka berteman dengan yang lain tanpa pandang dia cantik, ganteng atau famous, sekali lagi maaf aku gak bisa"ujar Aurora dengan mantap.


Mereka terdiam untuk sesaat, Aurora memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi dari hadapan mereka begitu juga dengan Raline.


"Aurora kenapa kau tidak ingin bergabung dengan mereka?" tanya Raline.


"Never mind" balas Aurora enteng.


Teng….teng …


Terdengar suara bel yang menandakan waktu istirahat berakhir, tapi terdengar suara salah satu guru, semua murid berhenti dan mendengarkan guru tersebut.


"Kepada semua siswa-siswi kami, kalian bisa pulang ke rumah kalian masing-masing dikarenakan kami para dewan guru akan mengadakan rapat, sekian dan terimakasih!" ujar guru tersebut melalui speaker.


Semua siswa begitu senang karena hari ini mereka pulang lebih awal, jadi mereka bisa pergi bermain atau berkumpul dengan teman-teman mereka. Aurora ke kelasnya dan memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas.


Dia berjalan ke arah luar meninggalkan kelasnya, ketika Aurora berjalan dia melihat Helen yang bergandengan dengan Galaksi.


Galaksi yang merasa risih langsung menghempaskan tangan Helen, Helen yang diperlakukan seperti membuatnya kesal.


Aurora yang melihat itu cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan merasa sedikit kasihan pada Helen.


Semua anggota Vanostra Evil sudah berada di area parkir, Galaksi berjalan mendekati motornya dan seperti biasa Helen akan terus meminta Galaksi mengantar Helen pulang, walaupun Galaksi tidak pernah melakukannya.


"Galaksi antar aku pulang" ucap Helen dengan suara centilnya.


Mendengar suara centil Helen membuat mereka jijik mendengarnya dan berpikir bagaimana bisa mereka berteman dengan Helen.


"Minggir sebelum aku tabrak dirimu dengan motor kesayangan ku ini!" ucap Galaksi tegas dan menatap Helen tajam.


"Galaksi masa kamu seperti itu?" ucap Helen masih dengan suara centilnya.


"Ingat ini baik-baik Helen yang bisa naik motorku ini jika bukan Shawnette, Alice, ibuku dan yang terakhir kekasihku!" ucap Galaksi dengan penuh penekanan.


"Tapi kekasihmu itu aku" ujar Helen penuh percaya diri


"Seumur hidupku aku tidak pernah sudi punya kekasih sepertimu" ujar Galaksi yang mematahkan rasa percaya diri Helen.


Shawnette berjalan ke tempat Galaksi dan teman-temannya berada, ketika dia berjalan mendekati mereka dia sudah mendapatkan tatapan yang begitu tajam tapi dia tidak memperdulikan itu, dia terus berjalan dengan begitu santainya.


Dia melihat Helen yang terus berada di sekitar kakaknya merasa tidak menyukainya, untung saja kakaknya tidak pernah termakan dengan rayuan Helen, Shawnette langsung menggandeng tangan Galaksi.


"Kak pulang bareng yuk!" ucap Shawnette bersemangat


Helen yang melihat Shawnette yang menggandeng tangan Galaksi merasa kesal dan ingin menarik Shawnette jika dia bukan adiknya Galaksi, Shawnette bisa melihat Helen yang mengepalkan tangannya merasa senang.


"Ada neng Shawnette pulang sama bang Ciko aja neng!" saut Ciko


"Gak boleh! kalau lu berani deketin adik gue lawan dulu gue di ring tinju"


"Sialan lu Galaksi!"


"Gue cabut duluan!"


Shawnette dan Galaksi pulang dengan menggunakan sepeda motor, Shawnette tidak mengalami kesusahan ketika menaiki motor Galaksi yang tinggi itu, Galaksi menyalakan motornya, dan pergi meninggalkan pekarangan sekolah.


"Gue juga cabut deh"


"Iya gue juga!"


Mereka semua naik ke motor mereka masing-masing melewati para siswa yang juga ingin pulang dan meninggalkan pekarangan sekolah.


TBC


Don't forget to follow and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian.

__ADS_1


See you


__ADS_2