Fille Forte

Fille Forte
Anbu


__ADS_3

Galaksi membawa motornya dengan kecepatan penuh, wajah Shawnette yang pucat seperti orang yang baru saja menonton film hantu, dia memprotes cara Galaksi yang membawa motor.


"Kakak bawa motornya enggak bisa apa pelan?" teriak Shawnette


"Enggak...!" balas Galaksi


"Kakak pelan-pelan dong bagaimana jika kita kecelakaan?" ujar Shawnette yang sudah berpikir tidak-tidak


"Aku sudah pernah mengalami kematian Shawnette jadi aku sudah terbiasa!" balas Galaksi mengingat peristiwa itu.


"Kak jangan memikirkan peristiwa itu lagi!" lirih Shawnette


"Nette apa kau tidak malu memiliki kakak yang buruk rupa?" tanya Galaksi pelan


"Kakak jangan pernah menanyakan itu lagi, aku sangat menyayangi kakak!" ujar Shawnette lembut.


"Thanks Shawnette you are my the best sister" ucap Galaksi tersenyum


"Kak kita tidak usah pulang ya!"


"Kenapa?"


"Kita udah lama nggak jalan bareng lagi, jadi aku ingin jalan dengan kakak!"


"Sesuai keinginanmu my princess!"


Galaksi dan Shawnette pergi jalan-jalan mereka tidak mendatangi mall, cafe atau restoran mewah, mereka hanya keliling tidak jelas tapi itu bisa membuat mereka tersenyum, tertawa dan bahagia.


"Kak kita ke pantai yuk!"


"Ayuk....!"


Galaksi membawa motornya ke sebuah pantai yang nampak indah, terdengar suara ombak yang dapat menenangkan hati ketika mendengarnya, angin pantai yang sejuk dan pasir pantai putih yang bisa membuat kita jalan tanpa menggunakan alas kaki.


Shawnette melepaskan sepatunya begitu juga Galaksi, mereka berjalan mengelilingi pantai dan rambut Shawnette yang tergerai dan terkena angin itu membuat dia memancarkan aura pada dirinya.


"Kak ayo kejar aku!" teriak Shawnette berlari menjauh dari Galaksi


"Kakak akan menangkapmu Shawnette" balas Galaksi mengejar Shawnette


Mereka berlarian di sepanjang pantai, sampai mereka lelah Shawnette duduk di hamparan pasir putih itu dan Galaksi malah tidur melihat ke atas yang menampilkan langit senja.


"Capek kak!" keluh Shawnette


"Tapi ini adalah hari yang menyenangkan bagi kakak karena bisa menghabiskan waktu bersama adik kakak yang tersayang" ujar Galaksi yang berhasil membuat pipi Shawnette merah.


"Kakak jika terjadi apa-apa dengan ku apa yang akan kakak lakukan?" tanya Shawnette


"Jika ada yang ingin mencelakai mu kakak akan membuat hidup orang itu sengsara di tangan kakak!" balas Galaksi dengan suara tegasnya


"Kakak jika kau memiliki kekasih siapa yang akan kau selamatkan terlebih dahulu jika salah satu dari kami ada yang celaka?" tanya Shawnette secara tiba-tiba


"Tentu saja adikku Shawnette!kau tahu tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyingkirkan posisimu dari hidupku!" balas Galaksi mengacak rambut Shawnette


"Iiihhhh kakak rambut Nette jangan di acak!" ucap Shawnette mengerucutkan bibirnya


Galaksi memasang senyum nyengir pada Shawnette, ingin dia menghajar kakaknya tapi dia terlalu sayang pada Galaksi, mereka memandang matahari terbenam dengan suara desiran ombak dari laut dan angin dingin yang menusuk kulit mereka.


"Nette, sudah gelap waktunya pulang" ucap Galaksi beranjak dari duduknya.


"Ih kakak, Shawnette masih ingin lama disini" rengek Shawnette mengerucutkan bibirnya.


Galaksi melihat Shawnette mengerucutkan bibirnya bukannya takut malah membuatnya menarik pipi adiknya.


"Ih kakak kok pipi Nette ditarik?" protes Shawnette mengelus pipinya.


"Never mind" balas Galaksi menepuk belakang punggungnya.


Galaksi jalan ke tempat motornya diparkir, Shawnette begitu malas untuk pulang tapi dia harus pulang karena langit sudah malam, dia naik dan memakai helm yang diberikan oleh Galaksi.


Galaksi menghidupkan mesin motornya dan membawanya dengan kecepatan tinggi, dia membawa motor begitu mudah, Shawnette cuma bisa memeluk pinggang kakaknya erat takut dia akan terjatuh.


"Kakak, sebelum kita pulang mampir yuk ke tempat orang yang jual mie ayam" ucap Shawnette imut.


"Of course baby" balas Galaksi fokus melihat ke depan.




Aurora sedang fokus mengerjakan tugas fisika yang diberikan oleh gurunya, dia mengerjakan tugas itu begitu mudah tanpa mengalami kendala sedikitpun, selesai Aurora menyelesaikan tugasnya dia menyusun buku-bukunya dan merapikan meja belajarnya.



Sean masuk ke kamarnya karena Aurora tidak mengunci pintu, Aurora yang menyadari kehadiran Sean mengernyitkan dahinya.



"Sean ada apa?" tanya Aurora dengan suara lembutnya.



"Kakak, Sean lapar!" ucap Sean memegang perutnya.



"Sean lapar?"



"Iya Sean lapar"



"Sean ingin makan apa?"



"Mie ayam!" jawab Sean dengan semangat.



"Ya udah ayok!" ujar Aurora.



Aurora mengambil dompetnya di atas meja belajarnya, dan tidak lupa membawa jaket untuk dirinya dan adiknya, Sean menunggu di depan pintu sampai Aurora datang, Aurora mengunci pintu dan mereka pergi keluar.



Mereka pergi seperti biasa dengan berjalan kaki, Aurora menggandeng Sean agar dia tidak tersesat, pernah Aurora tidak menggandeng Sean yang ada Sean malah terlepas dari pandangannya.



Aurora mencari Sean kemana-mana sampai dia menyerah dan ingin melaporkan Sean hilang ke polisi, tapi dia pulang terlebih dahulu untuk mengambil foto Sean dan betapa kagetnya Aurora melihat Sean yang duduk di depan pintu.



Sean menceritakan semua yang terjadi dan mengatakan dia mengingat jalan pulang sehingga dia bisa tiba di apartemen, Aurora merasa lega dan menasehati Sean agar tidak pernah melakukan itu lagi.



Mereka berjalan sekitar 15 menit sampai mereka di tempat orang yang menjual mie ayam dengan gerobaknya, banyak orang yang mengantri untuk membeli mie ayam, tiba giliran Aurora dia memesan 2 porsi untuk dirinya dan Sean, Aurora membawa Sean untuk duduk dan memakan makanannya.



Aurora memberikan cabe di mie-nya, Sean yang melihat itu ingin mencampurkan cabe ke mie-nya juga tapi Aurora melarangnya karena itu akan membuat dia sakit perut, Sean mengerucutkan bibirnya yang malah membuat Aurora semakin gemas melihat wajah Sean.



Sean memakan mie dengan begitu lahap seperti orang yang sudah tidak makan selama 2 hari, Aurora menggelengkan kepalanya melihat cara makan Sean, ketika mereka makan ada sepasang kekasih datang ke meja mereka berdua, Aurora tidak melihat siapa mereka dia cuma fokus pada makanannya.



"Apa kami boleh duduk di sini?" tanya seorang gadis



"Iya silakan!" balas Aurora



Sepasang kekasih itu duduk di depan Aurora dan Sean, Aurora berharap sepasang kekasih ini tidak menodai mata polosnya Sean dan dirinya.



"Semoga mereka tidak menodai mataku yang polos ini dengan keromantisan mereka berdua!" ujar Aurora dalam hatinya sambil memakan mie ayam.



Aurora dapat mendengar percakapan mereka berdua, laki-laki itu melarang kekasihnya untuk menuangkan banyak cabe pada mie-nya.



"Nette jangan banyak taruh cabe ya!" ucap pria itu tegas.



"Ihh kakak jika kita makan mie ayam tanpa cabe rasanya itu hambar tahu!" balas gadis itu.



"Pokoknya nggak boleh cukup satu sendok saja!" putus pria itu



"Cuma satu sendok?mana ada rasanya kak!" protes gadis itu.



Aurora merasa mengenali suara gadis yang berada di depannya ini, dia mengangkat kepalanya dan melihat sepasang kekasih yang dipikirnya itu adalah kakak beradik, dan mereka adalah Shawnette dan Galaksi yang masih memakai seragam sekolah mereka.



Sean melihat kakaknya menatap dua orang itu bingung, Sean juga menatap mereka berdua tapi Sean memandang Galaksi dengan tatapan yang berbinar.



"Kakak ada anbu!" ujar Sean memandang Galaksi yang menggunakan topeng dengan tatapan yang berbinar.



Sean mengira Galaksi adalah anbu yang ada di Naruto karena setiap anbu yang ada di Naruto pasti memakai topeng, karena Galaksi memakai topeng maka Sean menganggap Galaksi adalah anbu, Sean itu penggemar berat Naruto semua barang-barang mulai dari tas, selimut semua adalah gambar karakter Naruto.



Galaksi melihat seorang anak kecil yang menatap dirinya dengan pandangan kagum membuat dia teringat setiap pandangan yang diberikan kaum hawa padanya. Galaksi yang melihat itu menarik sudut bibirnya yang kecil tidak ada satupun yang bisa melihat senyumannya itu.


__ADS_1


Aurora melihat Galaksi yang menatap Sean, membuat dia khawatir dan berpikir apakah Galaksi merasa tidak nyaman dengan Sean yang menatapnya, Aurora langsung menasehati Sean agar tidak melihat Galaksi dengan tatapan seperti itu.



"Sean sayang....kita tidak boleh menatap orang seperti itu, mungkin saja dia tidak merasa nyaman!" ujar Aurora lembut mengelus kepala Sean.



"Tapi kakak anbu tidak marah!" balas Sean menunjuk Galaksi.



"Dia memang tidak terlihat marah tapi bagaimana dengan nasib kita berdua Sean!" ujar Aurora dalam hatinya.



Galaksi melihat gadis itu yang menasehati adiknya agar tidak melihat dirinya seperti itu paham, dia berpikir mungkin dirinya merasa tidak nyaman dengan ditatap seperti itu.



"Tidak apa-apa aku tidak masalah atas hal itu!" ujar Galaksi tegas.



"Sekali lagi maaf jika kakak merasa tidak nyaman!" ucap Aurora lembut.



"Kak anbu kenal sama kakaknya Sean?" tanya Sean dengan suara khas anak-anak



"Tentu saja kami kenal,kami satu sekolah" bukan Galaksi yang menjawab melainkan Shawnette yang asyik makan ayam.



"Jadi namamu Sean?" tanya Galaksi lembut.



"Iya nama Sean nggak bagus ya?" tanya Sean yang ingin mengeluarkan air matanya.



"Namanya Sean bagus dan keren untuk Sean!" jawab Galaksi menyentuh pipinya Sean.



"Sean keren sama seperti kakak!" ucap Sean bersemangat.



"Iya sama seperti kakak!" balas Galaksi.



"Nama kak anbu siapa?" tanya Sean penasaran.



"Nama kakak Galaksi!" balasnya sambil memakan mie.



"Tapi Sean ingin panggil kakak, kak anbu boleh?" tanya Sean dengan mulutnya yang terisi penuh dengan bakso.



"Sean jangan bicara sambil makan!" ucap Aurora menasehati Sean.



"Maaf kak, Sean lupa!" balas Sean menunjukkan senyumnya yang memperlihatkan giginya.



"Dengar perkataan kakak mu ya adik kecil!" saut Shawnette.



Sean melihat Shawnette yang sedang memakan mienya dan merasa tidak suka dengan kehadirannya, Sean memasang muka kesalnya.



"Kak anbu dia siapa?" tanya Sean menunjuk shawnette.



"Dia adik kakak!" balas Galaksi singkat



"Tapi kok kalian berduaan tidak mirip?kak anbu keren sedangkan kakak itu tidak keren sama sekali!" ucap Sean



Mendengar Sean mengatakan itu membuat Aurora menepuk jidatnya dan memijit pelipisnya, "Sean aku sangat suka ketika kau berbicara tapi tidak untuk sekarang, kau akan membuat hidup kita berakhir!" ujar Aurora dalam hatinya.



"Tentu saja dia tidak keren!" jawab Galaksi




"Sean pikir itu pacar kak anbu!" ucap Sean



"Sean tahu darimana pacaran?" tanya Aurora tegas.



"Dari teman Sean di TK!" balas Sean



"Oh tuhan adikku sudah tidak polos lagi!" ujar Aurora lesu



"Jika dia pacar kakak kenapa?" tanya Galaksi



"Sean nggak suka soalnya kakak harus jadi pacar kakaknya Sean!" ucap Sean bersemangat tapi tidak dengan Aurora.



"Terimakasih adikku tersayang, bersiaplah kakakmu ini akan kehilangan nyawanya!" ujar Aurora lirih



"Sean suka sama kakak?" tanya Galaksi lagi



"Iya Sean suka, cuma kak anbu yang boleh jadi pacar kak Aurora" ucap Sean spontan



"Pintar juga ini bocah!" kata Shawnette dalam hatinya tersenyum melihat interaksi kakaknya dengan Sean.



"Maaf kak mungkin Sean salah paham!" ujar Aurora berharap Galaksi tidak marah.



"Tidak apa-apa!" balasnya tanpa melirik Aurora



"Kak anbu juga suka Naruto?" tanya Sean



"Enggak Naruto itu nggak seru!" saut Shawnette



"Naruto itu seru tahu! kakak juga harus menonton biar kakak bisa jumpa kembaran kakak Sakura!" protes Sean menatap Shawnette dengan wajahnya yang kesal.



"Apa kau samakan aku dengan Sakura?" tanya Shawnette



"Iya kakak mirip Sakura yang kerjaannya tiap hari marah-marah, mukul Naruto dan buat orang kesal persis seperti kakak galak!" jawab Sean



"Kau bilang aku galak?" tanya Shawnette



"Iya kakak galak pantas muka kakak cepat tua!" ucap Sean meledek Shawnette



"Dasar bocil!"



"Bleh.... bleh......"



Sean menjulurkan lidahnya dan meledek Shawnette, orang yang diperlakukan seperti itu merasa kesal dan ingin sekali menutup mulut anak itu, sampai Galaksi membuka suaranya dan menasehati Sean.



"Sean sayang kau tidak boleh seperti itu!" ucap Galaksi lembut



"Kenapa?" tanya Sean

__ADS_1



"Kita harus menghormati yang lebih tua dari kita!" balas Galaksi berusaha lembut terhadap Sean agar dia mengerti.



"Ooooo gitu, kak galak!" panggil Sean



"Apa?" balas Shawnette jutek



"Sean minta maaf!" ucapnya dengan puppy eyes berharap Shawnette mau memaafkannya.



Shawnette yang melihat Sean yang menunjukkan puppy eyes itu merasa gemas dengan wajah Sean dan malah menarik pipi Sean yang gembul itu.



"Kak galak kok pipi Sean ditarik?" protes Sean



"Kamu gemas jadi kak tarik deh!" balas Shawnette menarik pipi Sean



"Kak anbu tolongin Sean!" rengek Sean



Aurora dan Galaksi tertawa melihat Shawnette yang menarik pipi Sean, Aurora yang melihat senyum Galaksi itu membuat dirinya terpesona.



"Kak Aksi walaupun seperti itu tapi bisa membuat jantung orang berdebar!" ucap Aurora dalam hatinya.



Aurora mendengar suara bisikan yang keras dan bisikan itu tentang Galaksi bahkan orang-orang juga menatap meja mereka.



"Itu orang aneh banget masa pakai topeng macam orang gila" bisikan seorang pria.



"Mungkin wajahnya jelek jadi dia pakai topeng karena malu orang-orang melihat wajahnya yang buruk rupa" bisikan seorang wanita menor.



Aurora menatap Galaksi dengan tatapan yang mendalam Aurora tahu Galaksi mendengar semua hinaan itu, Aurora memegang tangan Galaksi dan Galaksi menatap tangan Aurora yang berada di atas tangannya.



"Jangan pernah mendengarkan orang-orang yang menghina dirimu karena mereka tidak tahu perjuangan apa yang kau lakukan bisa sampai di titik ini" ujar Aurora mengusap punggung tangan Galaksi.



Galaksi sedikit merasa tersentuh dengan perkataan Aurora,dia tidak tahu kenapa dia malah mencium punggung tangan Aurora, orang yang diperlakukan seperti itu malah menyemburkan warna merah dari pipinya.



"Terimakasih" ucap Galaksi lembut.



Mendengar suara Galaksi yang lembut berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat dan seperti ada kupu-kupu yang terbang di dalam tubuhnya, Shawnette melihat kakaknya yang mencium punggung tangan Aurora menarik sudut bibirnya.



"Mungkin Aurora lebih cocok menjadi kakak ipar daripada sahabatku" gumam Shawnette kecil menggelengkan kepalanya.



Malam semakin larut membuat Aurora harus pulang karena Sean sudah tertidur di atas meja, Galaksi membayar pesanannya begitu juga dengan Aurora, ketika Aurora ingin membayar Galaksi malah membayar pesanannya juga.



"Udah kak nggak usah biar aku bayar sendiri!" larang Aurora



"Sudah tidak apa-apa anggap saja ini sebagai permintaan maafku di sekolah, lebih baik kau pulang!"



"Tapi kak...."



"Pulang saja ini sudah malam dan maaf aku tidak bisa mengantarmu karena aku membawa motor"



"Terimakasih kak, aku pulang duluan kak!"



Galaksi memegang pergelangan tangan Aurora yang membuat Aurora berhenti dan memandang Galaksi, pandangan mereka saling bertemu.



"Oh iya, aku belum mengetahui namamu, siapa namamu?" tanya Galaksi lembut.



"Aurora kak" jawabnya menundukkan kepalanya.



"Namanya bagus seperti orang yang punya nama" ujar Galaksi berhasil membuat pipi Aurora memerah.



"Terimakasih kak" ujarnya malu.



"Pulang sana ini sudah malam,oh iya sebelum tidur sebut namaku maka kau akan bermimpi indah" gombal Galaksi yang membuat Aurora tertawa.



"Kakak bisa aja tapi aku permisi kak ini sudah malam" ucap Aurora yang masih tersenyum.



"Hati-hati" balas Galaksi.



Aurora berjalan sambil menggendong Sean meninggalkan Galaksi, Galaksi melihat punggung Aurora yang semakin lama menghilang, dia ingin mengantar Aurora tapi dia membawa motor bukan mobil, Shawnette berteriak dan membuyarkan lamunan Galaksi.



"Kakak ayo kita pulang!" teriak Shawnette yang sudah berdiri di sebelah motor.



Galaksi mendengar teriakkan Shawnette mendekatinya dan naik ke motor, dan menyalakan motornya dan mereka dapat merasakan angin malam yang berhembus menusuk kulit mereka.



"Kakak apa kau juga merasa wajah Sean seperti mirip seseorang?" tanya Shawnette



"Aku juga merasa seperti itu Nette seakan kita pernah melihat wajah itu!" balas Galaksi



"Tapi Sean begitu lucu rasanya aku ingin membungkus Sean dan membawanya pulang!" seloroh Shawnette



"Kau harus menghadapi kakaknya jika ingin membawa Sean kabur" saut Galaksi



Mereka terdiam untuk sesaat dan menikmati angin malam yang dingin ini, Shawnette membuka suaranya dan membuat Galaksi bingung.



"Kakak aku berharap kau bisa bersama gadis itu!" ucap Shawnette ceplas-ceplos.



"Jangan aneh-aneh Nette, bagaimana bisa bersama jika kami saling tidak mengenal!" balas Galaksi fokus ke depan.



"Jodoh siapa yang tahu kak!" ucap Shawnette menyandarkan kepalanya di punggung Galaksi.



Galaksi membawa motornya dengan kecepatan sedang karena Shawnette yang tertidur di punggungnya, Galaksi tidak ingin tidur adiknya terganggu. Galaksi juga membayangkan seorang gadis yang melintas di pikirannya dan menarik sudut bibirnya.



"Aurora....gadis yang menarik!" ucap Galaksi pelan fokus mengendarai sepeda motornya.



**TBC**



**Don't forget to like and comment**



**Follow Ig author tasya\_1438 dan akun tiktok author tasya\_1438**.



**Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian**.

__ADS_1



**See you**


__ADS_2