Fille Forte

Fille Forte
Panti


__ADS_3

Seorang gadis yang berantakan terdapat tepung dan mentega di wajahnya, dan itu adalah ulah dari adik kesayangannya, Sean mencolek cream ke wajah Aurora, dia tidak tinggal dia juga membalas dengan mencolok coklat ke wajah Sean.


"Kakak geli!" ucap Sean tertawa.


"Makanya jangan jahil sama kakak" balas Aurora berkacak pinggang.


"Kakak, kenapa hari ini kita buat kue?" tanya Sean yang malah memakan kue yang baru saja Aurora keluarkan dari oven.


Aurora dan Sean sedang membuat kue, Aurora membeli bahan-bahan kue sekalian ia menjemput Sean dari tk.


"Sean kuenya jangan dimakan besok kita akan bawa kue itu ke panti" larang Aurora.


"Maaf soalnya kuenya enak, Sean nggak tahan buat makan kuenya" balas Sean melihatkan puppy eyes.


"Ingat jangan dimakan lagi" ulang Aurora tegas.


"Besok kita enggak sekolah?" tanya Sean yang ingin memakan kue tapi Aurora menepuk tangannya.


Aurora terdiam untuk beberapa saat dan berpikir alasan apa yang bisa diberikan pada Sean tidak mungkin ia bilang ke Sean jika ia diskors, dan satu ide terlintas di pikirannya.


"Besok kita tidak perlu sekolah," ujar Aurora.


"Kenapa?" tanya Sean memiringkan kepalanya.


"Karena kakak sudah minta izin ke gurunya Sean, kalau kita tidak akan masuk" tutur Aurora lembut.


"Oh gitu, jadi kita tidak sekolah besok!"


"Iya, Sean enggak mau ketemu sama ibu!" ucap Aurora membelai pipi Sean.


"Sean, mau ketemu ibu" ucapnya bersemangat.


Aurora melihat Sean menguap langsung menghentikan kegiatannya dan membawa Sean ke kamarnya, Aurora meminta Sean untuk menyikat giginya dan mencuci muka, Aurora mencari buku cerita agar Sean bisa tidur dengan nyaman.


Aurora memilah buku cerita dan berpikir untuk membeli buku cerita yang baru karena semua buku itu sudah dibaca, dia berpikir akan menyusun buku dan menyumbangkan kepada panti asuhan.


Sean keluar dari kamar mandi sudah siap dengan piyama yang bergambar karakter Naruto kesayangannya, Aurora duduk dan mengelus pucuk kepala Sean lembut.


"Kakak hari ini Sean nggak mau dibacakan cerita" ucap Sean secara tiba-tiba.


"Kenapa? apa Sean bosan dengan cerita yang kakak baca?" tanya Aurora heran.


"Karena semua cerita itu bohong, kata teman Sean cerita asli itu yang ada cinta-cintaannya, cinta itu apa?" ujar Sean polos.


Aurora menepuk jidatnya dan memijit pelipisnya, ingin sekali dirinya membentur kepalanya di dinding mendengar perkataan polos Sean.


"Sean akhirnya sudah besar, bahkan ketika aku seusia mu aku masih main lompat tali" gumam Aurora.


"Kakak, kok pertanyaan Sean nggak dijawab?" tanya Sean ketus.


"Sean cinta itu adalah seseorang yang sangat kita sayang, seperti kakak dan Sean bukannya kita saling menyayangi satu sama lain" jelas Aurora agar dia mengerti.


"Sean sayang kakak artinya Sean cinta sama kakak?" celoteh Sean.


"Iya sayang" balasnya lembut.


"Jadi waktu Sean sudah besar Sean harus nikah sama kakak" ucap Sean polos.


Aurora terkejut dengan apa yang baru dia dengar, bagaimana bisa Sean mengucapkannya begitu polos dan rasanya dia ingin mencari teman yang diceritakan Sean, dia ingin mencincang tubuh teman Sean karena telah merusak otak polos adiknya.


"Sayang, ini sudah malam waktunya tidur, jika Sean belum tidur jangan harap bisa nonton Naruto besok" ancam Aurora agar Sean berhenti bertanya yang tidak sesuai usianya.


"Kakak jahat! Sean tidur" ujar Sean ketus dan menarik selimut menutupi kepalanya.


Aurora tertawa melihat Sean yang marah padanya bukannya membuat dia takut tapi malah gemas dengan wajah Sean yang memerah.


Aurora mematikan lampu dan keluar dari kamar Sean, Aurora melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda di dapur.


Aurora memasukkan kue-kue yang dibuat ke dalam box dan meletakkannya di dalam kulkas agar tahan lama, setelah selesai pekerjaannya di dapur Aurora mengambil kotak kardus dan memasukkan buku-buku cerita Sean yang sudah tidak digunakan lagi.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Aurora merasa lelah dan ingin sekali merebahkan tubuhnya di atas kasur tapi dia tidak bisa karena prinsipnya sebelum tidur wajib skincare, Aurora bisa hidup tanpa handphone tapi tidak dengan skincare.


Aurora masuk ke kamarnya dan menjalankan rutinitas skincare malam seperti biasa tapi hari ini sedikit berbeda Aurora memakai sheet mask agar wajahnya tidak kusam, kenyal dan bersinar, dia memakai sheet mask selama 15 menit setelah melepaskan itu tidak lupa dia memberikan sedikit moisturizer pada wajahnya dan lip mask pada bibirnya.

__ADS_1


"Tuhan ternyata Aurora itu cantik, bahkan cermin ingin pecah karena tidak tahan melihat kecantikan Aurora ini," ucap Aurora penuh percaya diri di depan cermin.


Aurora berhenti memandang wajahnya di cermin, dia menguap dan merasa mengantuk sekali dia berjalan ke kasurnya, walaupun ia merasa ngantuk tapi ia tidak bisa menutup matanya.


Ia masih penasaran dengan orang yang mentransfer uang ke rekeningnya, "siapa orang yang mentransfer ke rekeningku dan apa tujuannya melakukan itu?" ucapnya berpikir keras.


Aurora menerka semua jawaban yang mungkin cocok dengan pertanyaannya, bukannya menemukan jawabannya yang ada kepalanya malah pusing dan sakit memikirkannya.


"Ahhhhh....." teriak Aurora mengacak rambutnya, "lebih baik aku tidur saja daripada memikirkan itu" ucapnya


Aurora menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, "Selamat tidur Aurora cantik" ucapnya langsung menutup kedua matanya.


Keesokan pagi harinya


Sesuai yang Aurora rencanakan hari ini dia akan pergi ke panti asuhan tempat dimana dia dibesarkan dan dirawat, Aurora berkutat-katik di dapur membuat sarapan, dia memilih untuk membuat sandwich saja yang diisi dengan tomat, selada, telur dan saus mayones.


Setelah selesai dia meletakkan itu ke atas meja, dia mencari keberadaan adiknya biasanya ketika dia masak Sean akan menunggu dengan duduk di dapur, Aurora mendengar suara tv dia berjalan ke ruang tamu dan melihat Sean yang sedang menonton sebuah kartun Teletubbies.


"Sean kakak cari-cari ternyata disini, cepat makan biar kita nggak kesiangan!" ujar Aurora tapi Sean malah asik melihat Tinky Winky dan Dipsy yang sedang berpelukan.


"Kakak kenapa Teletubbies sering berpelukan?" tanya Sean yang selalu mempunyai sejuta pertanyaan yang berhasil membuat orang akan membenturkan kepalanya.


"Karena pelukan bisa memberikan rasa nyaman buat orang yang kita sayang" jawab Aurora lembut sembari mengacak rambut Sean.


Aurora membawa Sean ke meja makan dan memintanya segera menghabiskan sarapan, selama makan mereka cuma diam dan tidak ada yang membuka obrolan, setelah sarapan Aurora langsung mencuci piring dan Sean yang melanjutkan tontonan Teletubbies.


Setelah selesai mencuci piring, Aurora memesan taksi melalui ponselnya dan dia sedikit merapikan dirinya, dia cuma menguncir rambutnya dengan memakai setelan celana hitam dan kaos putih.


Aurora membawa barang-barang yang sudah disiapkan dari kemarin dan mematikan televisi, Sean cemberut karena Aurora mematikan tv padahal Sean lagi enaknya menonton Teletubbies.


Mereka keluar dari apartemen dengan Aurora yang sedikit kesusahan membawa barang-barang, Aurora memilih membawa sebagian terlebih dahulu, dan akan mengambilnya lagi setelah meletakkan ini di depan dan menyuruh Sean menjaganya.


Selesai memindahkan barang-barangnya mereka menunggu taksi pesanan mereka datang.


"Kakak apa kita akan bertemu dengan ibu?" tanya Sean bersemangat.


"Iya, kita akan bertemu dengannya dan kita akan menginap disana" jawab Aurora.


"Karena kita harus sekolah" balas Aurora mencari alasan.


Ibu yang dibahas Sean adalah ibu panti tempat Aurora dibesarkan sebelum dirinya diadopsi, ketika Aurora menemukan Sean yang merawat Sean adalah ibu panti, Aurora tidak bisa merawatnya karena dia harus sekolah.


Taksi yang dipesan tiba, mereka masuk dan supir membantu Aurora membawa masuk barang-barangnya ke dalam bagasi, selama perjalanan cuma diisi dengan celotehan Sean dan suara musik dari speaker.


Mereka tiba di depan panti setelah menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk tiba kemari, Aurora membayar taksi dan mengeluarkan banyak barang, baru saja dia dan Sean berdiri di depan gerbang sudah ada anak-anak yang datang menyambut mereka.


"Yeah….kak Aurora datang"teriak salah anak kegirangan.


"Kak Aurora kok nggak pernah datang kemari lagi?" tanya anak perempuan kecil ketus.


"Maaf Angie, kakak sibuk dan Sean harus sekolah" ucap Aurora mengelus pucuk kepala anak perempuan yang bernama Anggi lembut.


"Kakak kok tinggal sama Sean, kenapa enggak sama Angie?" tanya Angie melipat kedua tangannya dan menatap tidak suka terhadap Sean.


Ketika Aurora ingin menjawab pertanyaan Angie, ibu panti berjalan ke arah mereka dan tersenyum kepada mereka.


Ibu panti bernama Kila dia berumur sekitar 45 tahun, alasan dibalik kenapa dia memutuskan untuk merawat anak-anak karena dia tidak bisa memiliki keturunan bahkan suaminya menceraikan dia karena alasan tersebut.


"Aurora kapan kau sampai sayang?" tanya Syakila lembut menyentuh surai rambut Aurora.


"Barusan sampai bu, ibu apa kabar?" tanya Aurora sembari mencium telapak tangan Syakila.


"Ibu baik sayang" balasnya lembut,dia menoleh dan melihat Sean, "Apa kabar Sean? kangen nggak sama ibu?" tanyanya menyamakan tingginya dengan Sean.


"Sean kangen" balas Sean langsung memeluk Syakila.


Syakila mengusap punggung kecil Sean, dia melepaskan Sean dari dekapannya dan meminta mereka segera masuk karena langit mendung dan akan terjadi hujan.


Aurora membawa barang-barangnya masuk dibantu oleh Syakila, Sean bergabung dengan anak-anak yang lain dan dia merasa senang ketika berada disini.


Aurora naik ke lantai atas dia berjalan menuju sebuah kamar, dia membuka pintu dan langsung membereskan kamar yang akan dia tiduri dengan Sean.


Aurora merapikan tempat tidur agar dia dan Sean merasa nyaman ketika tidur, tapi waktu dia membereskan kamarnya dia menemukan sebuah kotak.

__ADS_1


Dia membuka kotak itu dan melihat beberapa foto yang terdapat seorang anak perempuan dan laki-laki, dan kedua orang dewasa.


"Foto ini bukannya fotoku bersama mereka? kenapa foto ini masih ada padahal aku sudah membuangnya persis seperti mereka yang membuangku dari hidup mereka!" ujar Aurora secara lirih dan tanpa sadar dia mengeluarkan air matanya.


Aurora melihat setiap foto yang memperlihatkan rupa dari kedua orang tua angkatnya dan juga kakaknya, "Aku merindukan kalian semua!" ucapnya lirih mengeluarkan air matanya.


Tok….tok…


Aurora mendengar ada orang yang mengetuk pintu langsung menghapus air matanya dan melihat siapa yang mengetuk, dia melihat ibu Kila yang berdiri dengan wajah yang sendu.


"Ibu sedang apa disitu? ayo masuk ibu!" ujar Aurora tersenyum paksa.


Syakila masuk dan menatap Aurora dalam waktu yang lama dan menghembuskan nafasnya, Aurora bingung dan heran melihat ekspresi ibu panti.


"Apa kau mengingat mereka kembali?" tanya Kila yang berhasil membuat Aurora terdiam untuk sesaat.


"Ibu, selama ini aku selalu bertanya kenapa mereka membatalkan adopsi ku?" tanyanya lirih.


"Seandainya ibu tahu mereka memiliki tujuan lain dengan maksud mengadopsi mu, ibu tidak akan pernah menyerahkan dirimu pada mereka" ucap Kila merasa bersalah pada Aurora.


"Sudahlah ibu lebih baik kita melupakan mereka saja!" timpal Aurora menarik senyuman.


"Kau memang putriku yang paling kuat!" ucapnya mengacak rambut Aurora.


"Ihhh ibu aku bukan anak kecil lagi" ucap Aurora kesal.


"Bagi ibu kau tetap putri kecilku!" ucap Kila begitu dalam.


Mereka terdiam untuk berbagai saat, Kila mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan menyerahkan sebuah gelang yang berlapis berlian berwarna biru kepada Aurora.


"Sayang, ini untuk mu" ujar Syakila menyodorkan gelang tersebut.


"Ibu, ini apa?" tanya Aurora mengangkat satu alisnya.


"Itu gelang sayang" tuturnya halus.


"Aku tahu ini gelang tapi, kenapa ibu memberikannya padaku? gelang ini pasti mahal dari bentuknya saja sudah kelihatan" tanya Aurora bingung.


"Sayang gelang itu milikmu" ujar Kila menghela nafasnya.


Aurora terdiam untuk beberapa saat dan melihat gelang yang berada di tangannya, dia bingung dengan perkataan Kila dan bertanya pada dirinya sendiri.


Dia mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafas, "Ibu, mungkin maksud ibu gelang ini sudah menjadi milikku sekarang tapi, aku tidak bisa menerimanya karena ini milikmu ibu" tolak Aurora halus.


"Sayang, dari awal gelang itu milikmu bukan milikku, aku menemukanmu kau sudah memegang gelang itu di tangan kecilmu" jelas Kila jelas.


"Ibu, jika kau menemukanku beserta gelang ini, itu artinya gelang ini pemberian orang tua kandungku sebelum mereka membuang diriku"ujar Aurora memegang gelang tersebut.


"Iya sayang"


"Apa ibu tahu siapa orang tua kandungku?" tanya Aurora berharap Syakila mengetahuinya.


"Maaf, aku tidak tahu, aku menemukanmu dalam keadaan hujan dan tidak ada siapapun disana" balas Kila mengalihkan pandangannya dari Aurora.


Aurora tersenyum kecut, "Aku sudah menduganya. Ibu, aku selalu bertanya kenapa mereka membuang diriku!" ucapnya tanpa sadar air matanya sudah mengalir keluar membasahi pipinya.


"Sayang, walaupun aku bukan ibu kandungmu tapi aku sangat menyayangimu" ujar Kila tulus.


"Ibu, apa kau pernah memeriksa ke aslian gelang ini?" tanya Aurora mengangkat gelang tersebut.


"Aku tidak pernah melakukan itu, tapi dari sekilas saja itu terlihat asli"


"Aku akan memeriksa gelang ini dan aku harus mencari tahu siapa orang tua kandungku, dan menanyakan apa alasan mereka membuang diriku" ujarnya dengan mata yang menyala penuh kesedihan dan kemarahan.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update


See you

__ADS_1


__ADS_2