Fille Forte

Fille Forte
Siap?


__ADS_3

Adam masuk ke kamar putranya Galaksi, dia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena Galaksi tidak menutup pintu kamarnya.


Ia melihat putranya yang tertidur pulas dengan suara dengkuran halusnya, ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ia menggoyang tubuh Galaksi.


"Galaksi, ayo bangun" ucap Adam.


Galaksi tidak membuka matanya malah tidur dengan nyenyak, Adam menggoyang tubuh Galaksi sekali lagi dan tetap saja Galaksi tidak ingin bangun.


"Galaksi, bangun atau papa akan menyiramkan air padamu" ucap Adam sedikit keras.


Galaksi membuka matanya terpaksa dan melihat ayahnya yang sudah berdiri di sisi tempat tidur.


"Papa, Galaksi masih mengantuk" ucap Galaksi mengumpulkan nyawanya.


"Cepat mandi dan bersiap" ujar Adam.


"Untuk?"


"Kita sudah memiliki janji untuk bertemu dokter"


Galaksi terpaksa beranjak dari tempat tidur dengan mata yang masih tertutup, Adam menggelengkan kepalanya melihat cara Galaksi berjalan dengan menutup kedua matanya, ia keluar dari kamar Galaksi.


Galaksi masuk ke kamar mandi, dia melepaskan semua pakaian yang melekat padanya, dia menghidupkan shower untuk mengguyur seluruh tubuhnya, dia menggosok tubuhnya perlahan, selesai membersihkan dirinya, ia berjalan keluar dan mencari pakaiannya yang sudah tersusun rapi di lemari.


Dia memilih menggunakan kemeja berwarna putih dibalut dengan jaket jeans dan celana panjang berwarna hitam.


Ia merapikan rambutnya dengan sisir, dia menatap pantulan dirinya di cermin untuk waktu yang lama, ia bisa melihat kulit wajahnya memerah dan melepuh, bahkan sebagian wajahnya yang hancur itu sudah seperti monster.


Galaksi menyentuh wajahnya, "wajahku akan kembali seperti semula" ucapnya untuk menghibur dirinya.


Galaksi memakai topeng untuk menutupi wajahnya, ia keluar dan berjalan ke arah ruang tamu, bisa dilihat Adam yang sedang duduk meminum kopi.


Adam mendengar suara langkah kaki yang mendekat, dia menoleh, "apa kau sudah siap?" tanyanya.


"Aku sudah siap" jawab Galaksi tanpa memandang ayahnya.


Adam berdiri dari duduknya, "Ayo kita pergi sekarang" ucapnya menepuk pundak Galaksi.


Galaksi mengikuti ayahnya berjalan keluar cuma mereka berdua saja, Adam memutuskan mereka pergi tanpa Jordan karena ini masalah anaknya.


Mereka berjalan berdua, staff yang melihat mereka membungkuk tubuh mereka memberi hormat pada mereka.


Mereka keluar dari hotel dan ada mobil yang sudah disediakan untuk mereka, supir sudah membuka pintu untuk mereka.

__ADS_1


Adam menatap supir itu, "merci mais désolé que vous n'ayez pas à venir avec nous/ terimakasih tapi maaf kau tidak usah ikut dengan kami." ucapnya sopan.


Supir itu tidak ingin bertanya apapun, dia menggeser tubuhnya agar tuannya bisa masuk ke dalam mobil. Galaksi dan Adam masuk ke dalam mobil dengan Adam yang mengendarainya.


Mobil berjalan cuma ada keheningan antara mereka dan suara lantunan musik, Galaksi memandang arah luar dari jendela bisa dilihat orang berlalu lalang tapi ada satu yang menarik perhatiannya yaitu, sepasang kekasih yang bergandengan tangan dan si pria sekali mengecup pipi sih wanita bisa dilihat pipi wanita itu memerah dan juga mereka makan ice cream bersama.


Galaksi menarik sudut bibirnya tipis bahkan ada bayangan seorang gadis yang sudah melintas di pikirannya, dia sudah membayangkan hal yang dilakukan sepasang kekasih tadi tapi ada satu hal yang menarik, yaitu Galaksi sendiri yang membayangkan dirinya sendiri melakukan hal itu dengan kekasihnya.


Adam mengetuk stir dengan jari-jarinya, dia menoleh ke arah Galaksi namun yang malah ia lihat adalah putranya yang tersenyum sendiri seperti orang gila.


"Galaksi" panggil Adam.


Galaksi tidak mendengar panggilan ayahnya, dia masih hanyut dalam imajinasinya.


"GALAKSI" teriak Adam keras.


Galaksi tersadar dari lamunannya dia menoleh dan menatap ayahnya, "kenapa papa teriak? Galaksi enggak budeg pa!" ucapnya jengkel.


"Gak budeg tapi pekak" balas Adam.


"Kenapa papa panggil Galaksi?"


"Papa cuma ingin bilang ketika kau bertemu dengan dokter kau juga harus menceritakan semua hal tentang dirimu padanya"


"Untuk?"


"Apa aku terlihat seperti orang yang kehilangan semangat hidup?"


"Papa rasa iya" seloroh Adam.


Mereka tiba di sebuah rumah sakit yang memiliki 5 lantai, gerbang masuk rumah sakit yang ditanami oleh pohon-pohon kecil dan beberapa bunga anggrek dan mawar, tapi yang paling menarik adalah ada saluran air buatan yang diisi dengan ikan hias.


Adam memarkir mobilnya di parkiran, mereka keluar dan masuk ke dalam, tapi baru saja mereka melangkahkan kaki, mereka bisa mencium bau obat-obatan yang baunya menusuk hidung mereka, dapat dilihat para dokter dan perawat yang sibuk berlalu lalang di koridor.


Mereka terus berjalan saja ke arah resepsionis, staff resepsionis yang merasa kehadiran mereka tersenyum ramah.


"Bienvenue! y a-t-il quelque chose que nous pouvons aider?/ selamat datang! apa ada yang bisa kami bantu?" ucap salah seorang staff resepsionis yang berambut pirang.


"nous avons rendez-vous avec le docteur Mercius, est-il dans sa chambre ?/ kami memiliki janji temu dengan dokter Mercius, apa dia ada di ruangannya?" tanya Adam.


Staf resepsionis rambut pirang menelpon seseorang dan berbicara padanya, selesai menelpon dia kembali memandang Adam dan Galaksi.


"il est dans sa chambre, tu peux entrer et me laisser t'accompagner jusqu'à sa chambre/ dia ada di ruangannya, kalian bisa masuk dan biarkan aku mengantar kalian ke ruangannya" ucap staff.

__ADS_1


Mereka mengangguk kecil dan mengikuti staff resepsionis yang memimpin jalan pada mereka.


Mereka berjalan ada beberapa orang yang mendorong brankar yang terbaring seorang pria dengan kondisi yang tidak berdaya dan pandangan kosong, Galaksi menatap orang-orang itu sampai bayangan mereka hilang dari pandangannya.


"Who's he?" ucapnya pelan.


Staff resepsionis itu mendengar suara Galaksi, "il est le fils du propriétaire de cet hôpital/ dia adalah anak dari pemilik rumah sakit ini" ucapnya ramah.


Galaksi mengangguk kecil dan tidak ingin bertanya apapun tentang pria itu tapi dia tidak tahu ada dorongan apa dari dalam dirinya ingin mengetahui lebih banyak hal tentang pria itu yang baru saja ia lihat beberapa detik lalu, ia menahan dirinya dan melupakan saja pria itu.


Mereka tiba di depan pintu ruangan dokter yang ingin mereka temui, staff berbalik dan menatap mereka.


"C'est la chambre du docteur Mercius, vous pouvez entrer, excusez-moi/ ini ruangan dokter Mercius, kalian bisa masuk, permisi" ucap resepsionis.


"désolé de vous déranger et merci/ maaf telah merepotkan dirimu dan terimakasih" ucap Adam ramah tersenyum pada resepsionis.


Resepsionis itu pergi meninggalkan mereka, Adam memandang punggung resepsionis yang semakin menjauh darinya.


"Aku rasa resepsionis itu tertarik padaku" ucap Adam percaya diri.


Galaksi memasang ekspresi wajah jengkel, "awas genit nanti Galaksi lapor ke mama biar papa gak dapat jatah" selorohnya.


"Sayang, jangan lapor ke mama! Galaksi mau apa akan papa kabulkan asal jangan bilang ke mama" balas Adam.


Galaksi senang karena telah berhasil mengerjai ayahnya, tentu saja dia tahu kelemahan ayahnya adalah ibunya.


"Galaksi gak bilang ke mama tapi kalau ada panggilan dari ibu Jennie papa datang ya" seloroh Galaksi.


"Dasar anak durhaka! Mencari kesempatan dalam kesempitan" balas Adam.


Adam diam memandang Galaksi untuk waktu yang sangat lama, "apa kau sudah siap, Galaksi?" tanyanya.


Galaksi menghembuskan nafasnya dan memberikan anggukan kecil pada ayahnya.


"Aku sudah siap" ucap Galaksi.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update

__ADS_1


__ADS_2