
Seorang pria yang sedang tertidur begitu nyenyak, sinar matahari masuk melalui celah yang ada di ruangan tapi dia tetap tidak ingin bangun dari tidurnya, sampai seorang wanita paruh baya berteriak di telinganya.
"Galaksi wake up" teriak Vina dengan suara khasnya
Galaksi yang mendengar suara teriakan langsung saja bangun dari tidurnya dan menutup telinganya agar tidak sakit mendengar teriakkan ibunya yang tercinta.
"Mama, bisa nggak satu hari saja nggak teriak?" ujar Galaksi jengkel terhadap ibunya.
"Teruntuk kepada putra mama yang tercinta, mama tidak bisa sayang jika mama tidak teriak itu artinya mama sedang sakit" seloroh Vina menampilkan senyum manisnya.
Mama Vina melihat wajah putranya yang mengalami kerusakan,dia melihat kulit yang melepuh dan beberapa luka yang berada pada wajahnya.
Ketika dia melihat wajah anaknya dia tidak tahan untuk mengeluarkan air matanya tapi dia tidak melakukannya di depan anaknya, karena dia tidak ingin anaknya merasa khawatir dan menganggap dirinya berbeda dengan orang lain.
Vina menyentuh wajah Galaksi dengan tangannya yang halus dan lembut itu, dia mengelus wajah Galaksi, dia dapat merasakan wajah yang begitu kasar.
Galaksi melihat ibunya menyentuh wajahnya segera melepaskan tangan ibunya dari wajahnya itu.
"Maaf pasti mama malu punya anak yang buruk rupa!" ucap Galaksi lirih
"Tidak sayang mama tidak pernah malu memiliki anak sepertimu, bahkan jika kau lumpuh total sekalipun mama tetap akan menyayangi dirimu, jadi jangan pernah katakan itu lagi, itu membuat hati mama sedih sayang!" ujar Vina membawa Galaksi ke dalam pelukannya
Galaksi merasa nyaman dengan pelukan yang diberikan ibunya, dia dapat merasakan wangi vanila khas ibunya, itu membuat dia merasa tenang.
"Ma.....apa kalian sudah menemukan pendonor untuk ku?" tanya Galaksi
"Belum sayang, kami belum menemukan pendonor yang cocok DNA-nya dengan kamu" jawab mama Vina menghela nafasnya
"Aku akan mencari pendonor yang cocok dengan ku sendiri!" ujar Galaksi tegas
"Sayang apa kau yakin dengan operasi itu? kau tahu bukan efek samping dari operasi itu?" tanya mama Vina serius
"Aku sudah tidak pedulikan dengan efek sampingnya" jawab Galaksi dengan suara seraknya
"Sayang kau tahu dengan wajahmu yang sekarang mungkin kau akan menemukan gadis yang tulus mencintaimu!" ucap Vina bersemangat
"Mama bahkan wajahku yang seperti ini saja, para gadis sudah mengejarku untuk masuk ke dalam keluarga Phoenix ini!" balas Galaksi ketus
"Mama yakin gadis itu akan berhasil meluluhkan hatimu dan yang pasti gadis itu memiliki hati yang begitu baik!" ucap Vina
"Terserah mama aja!" balas Galaksi
Galaksi beranjak dari kasurnya,dia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, mama Vina melihat putranya itu tersenyum dan mengucapkan sesuatu.
"Aku yakin seorang gadis akan datang ke dalam hidupmu dan meluluhkan hatimu yang beku!" ucapnya pelan.
Vina keluar dari kamar Galaksi,dia berjalan menuju ke kamar putrinya, ia membuka handle pintu dan bisa melihat putrinya yang masih tertidur.
Kasur yang berantakan, bantal yang sudah tercampak, selimut yang sudah tidak menutupi tubuh putrinya itu.
Dia tersenyum melihat tingkah putrinya yang sedang tertidur itu, dia menggeleng kepalanya dia mengangkat bantal dan membawa bantal itu ke tempat tidur.
Dia menggoyangkan tubuh putrinya tapi yang ada Shawnette tidak mau bangun dan terus tidur, Vina yang lelah anaknya tidak bangun, tiba-tiba ada ide jahil yang melintas di kepalanya.
Vina masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Shawnette, dia mengangkat air dan berjalan mendekati Shawnette yang masih tertidur pulas, Vina menyiram Shawnette.
Byur...............
Shawnette berhasil bangun, seluruh tempat tidurnya basah termasuk dirinya
"Siapa yang siram air kemari?" teriak Shawnette
"Tentu saja mama sayang!" saut Vina dengan suara yang dibuat sedikit seram
Shawnette menoleh dan melihat Vina yang berdiri di dekat kasurnya, dia langsung mengubah ekspresinya yang kesal dengan wajah polos.
"Mama kok nyiram Shawnette? kalau Nette sakit bagaimana?" tanya Shawnette bernada manja.
"Kalau sakit ya udah tinggal menunggu saja!" seloroh Vina
"Masa mama doain anak mama sendiri meninggal sih?" protes Shawnette
"Kalau enggak mau meninggal segera mandi dan bersiap-siap, setelah itu turun ke bawah!" teriak mama Vina yang mengandung perintah
"Mama nggak usah teriak juga kali ini bukan hutan!" balas Shawnette teriak
"Segera mandi sekarang!" teriak Vina
Shawnette terpaksa beranjak dari tempat tidurnya, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Vina merapikan kasur anaknya yang berantakan sendiri, ketika dia membereskan meja belajar dia menemukan sebuah bingkai foto, dia membalik foto itu dan bisa lihat foto itu adalah foto Galaksi dan Shawnette ketika mereka kecil.
__ADS_1
Vina mengingat momen ketika mereka masih kecil, kelakuan mereka yang menggemaskan, dia ingin bisa kembali lagi ke masa di mana anaknya belum tumbuh remaja.
Dia keluar dan turun ke bawah untuk menyiapkan beberapa hidangan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang akan segera datang.
Galaksi turun ke bawah dengan memakai celana dan kaos oblong berwarna hitam dan juga jangan lupakan topeng yang selalu dipakainya, Galaksi menaikkan alisnya memandang ibunya yang sedang menata makanan di atas meja.
"Mama, kenapa mama memasak sebanyak ini? apa ada acara?" tanya Galaksi seraya menuangkan jus ke gelas.
"Apa kau lupa! hari ini akan ada acara kumpul dengan sahabat-sahabat papa dan mama dan teman-temanmu akan datang kemari" balas Vina yang sedang menyusun cake.
Acara yang dimaksud oleh Vina adalah acara kumpul dengan sahabat mereka ketika sekolah, acara ini dilakukan setiap sebulan sekali dan diadakan di rumah mereka secara bergiliran, tujuan dari acara ini berharap persahabatan mereka tetap terjaga, kuat, dan bisa diteruskan oleh anak-anak mereka.
Jam menunjukkan pukul 9 sudah ada sepasang suami istri yang datang beserta dengan dua anak kembarnya, Adam yang melihat kedatangan mereka langsung menyambut mereka secara hangat.
"Hello bro" ucap Adam dan melakukan salam khas mereka ketika bertemu.
"Apa kabar Adam?" tanya pria paruh baya
"Aku baik Hans, kamu?"ujar Adam.
"Aku juga," balas Hans.
Hans Roderick seorang pebisnis yang menjalankan real estate, dia memiliki sifat yang tegas baik terhadap karyawannya dan anak-anaknya.
Vina yang mendengar ada suara dari arah depan langsung saja berjalan dan melihat tamu yang datang ke rumah mereka.
"Hai Anna, apa kabar?" ujar Vina mencium pipi Anna dan begitu juga sebaliknya.
"Aku baik Vina dan kamu?" ujarnya dengan suara lembutnya.
"Aku juga baik" balas Vina
"Zayn, Alice salam sama Tante dan om" pinta Anna terhadap putra dan putrinya.
Alice dan Zayn adalah saudara kembar yang berbeda cuma 10 menit dan mereka berdua memiliki sifat yang bertolak belakang, jika Zayn ramah maka Alice adalah orang yang selalu mengeluarkan kata-kata pedas dari mulutnya.
Mereka berdua menyalami Vina dan Adam, Vina meminta mereka untuk duduk dan juga memerintahkan pelayan agar membawa minuman untuk mereka.
"Bagaimana perkembangan bisnismu Hans?" tanya Adam yang memang seorang pebisnis.
"Seperti biasa berjalan lancar" jawan Hans sedikit sombong.
Ketika mereka mengobrol datanglah dua keluarga, mereka langsung menyambut mereka dan meminta mereka untuk duduk.
"Aku baik kak" Jawab Viona.
"Bagaimana denganmu bro?" tanya Adam pada Aksa.
"Look, seperti biasa tidak ada yang berubah" jawabnya.
Mereka berbasa-basi dan melepaskan kerinduan yang ada di antara mereka, Vina memandang Auristella yang terlihat murung.
"Auris apa kau baik-baik saja?" tanya Vina menyentuh pundaknya Auris.
"Tenang saja Vina, dia baik mungkin dia kecapean karena dia baru saja kembali dari Italia" jawab Alex sebelum Auris mengatakan sesuatu yang tidak diinginkan.
Vina menganggukkan kepalanya saja dan menganggap alasan itu logis, seperti biasa setiap mereka kumpul mereka akan membahas bisnis, politik, dan beberapa tren fashion, anak-anak cuma bisa memutar bola mata malas mereka mendengar semua percakapan orang tua mereka.
"Oh iya, Auris ku dengar kau akan mengajar di Phoenix High School, apa itu benar?" tanya Hans.
"Iya itu benar, aku akan mulai mengajar minggu depan karena aku harus mengurus beberapa urusan yang penting" jawab Auris seraya meminum kopi.
"Aku harap kau bisa mengajarkan Alice bagaimana cara bermain piano yang baik dan cara menyanyi musik klasik" ujar Hans yang berhasil membuat Alice mengepalkan tangannya.
"Tentu saja aku akan mengajarnya" balas Auris menampilkan senyum manisnya.
"Aku sangat menyukai musik klasik dan berharap dia akan menjadi primadona, tapi sayang aku tidak memiliki seorang putri melainkan seorang putra yang berhasil membuatku kena serangan jantung setiap hari" seloroh Viona yang berhasil membuat mereka semua tertawa.
"Di antara kita yang memiliki anak perempuan cuma Vina dan Anna,yang lainnya memiliki anak laki-laki" ujar Aksa
Auristella memegang gelas begitu erat dan menampilkan tatapan tajamnya pada suaminya, "bukan cuma mereka tapi aku juga memiliki seorang putri"
Semua orang yang mendengar kata-kata Auris merasa sedikit iba padanya, dan merasa tidak enak kepada Auris.
"Auris, maafkan aku" ujar Aksa merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, jika dia masih hidup mungkin dia sudah sebesar Shawnette" balas Auris tetap menampilkan senyumnya.
"Kau mengingat putrimu? Auris aku tahu kau pasti belum mengikhlaskan kepergian nya tapi bagaimanapun hidup tetap harus berjalan" ujar Viona yang bisa merasakan kesedihan Auris.
Auris mengandung kembali setelah usia Vino sekitar satu tahun, dia sangat antusias ketika mengetahui bayinya adalah perempuan tapi sayang bayinya meninggal ketika dilahirkan, itu menjadi pukulan yang menyakitkan buat dirinya.
__ADS_1
Gelas yang digenggam Auris langsung pecah dan semua orang fokus menatap dirinya, mereka melihat darah mengalir dari tangannya.
"Auris, tanganmu berdarah apa kau tidak apa-apa?" tanya Viona yang tidak melepaskan tatapannya dari tangan Auris.
"Aku tidak apa-apa mungkin aku terlalu kuat memegang gelas ini sehingga pecah, permisi aku harus ke toilet" ujar Auris membungkuk sedikit badannya.
"Apa perlu ku antar?" tanya Vina ramah selaku tuan rumah.
"Tidak perlu, ini bukan pertama kalinya aku datang kemari" tolak halus Auris.
Melihat Auris berjalan menuju toilet membuat mereka khawatir pada Auris, apalagi melihat secara langsung bagaimana Auris memecahkan gelas di tangannya.
"Aku merasa sedikit tidak enak padamu Alex, maafkan aku," ujar Aksa.
"Tidak usah seperti itu, mungkin Auris belum bisa mengikhlaskan putrinya, bagaimanapun dirinya yang mengandung dan melahirkannya" tutur Alex.
"Jika aku menjadi Auris mungkin aku sudah gila kehilangan anakku" ujar Vina lesu menatap saudaranya Viona.
Vino memandang ibunya dan mengernyitkan dahinya melihat ekspresi wajah ibunya, dia merasa ada sesuatu yang aneh dari ibunya, dia juga melihat pandangan ayahnya yang terus menatap ibunya.
"Ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari diriku, tapi apa?" tanya Vino dalam hatinya.
Vina memanggil pelayan untuk membersihkan beling kaca, mereka tetap melanjutkan obrolan mereka.
"Anna, aku dengar Alice ingin menjadi seorang penyanyi klasik, apa itu benar?" tanya Adam.
"Iya, itu benar kau tahu bukan ketika Alice berumur 5 tahun, dia sudah menunjukkan kemampuannya dalam bermain piano, dan dia juga pernah memenangkan kompetisi resital piano ketika dia berumur 10 tahun" jawab Anna bangga.
"Melihat kemampuannya aku ingin memasukkan dia ke sekolah khusus seni tapi sayang dia gagal dalam ujian masuk" ujar Hans yang menatap Alice.
"Tapi Vino juga menunjukkan keterampilannya dalam hal bermusik juga, aku pernah melihatnya bermain biola ketika dia berumur 6 tahun" saut Aksa yang memang secara langsung melihat bakat Vino.
"Bukannya itu wajar? ibunya adalah seorang pianis dan penyanyi sopran tidak mungkin anaknya tidak memiliki bakat dalam hal bermusik" ujar Alex dengan nada sedikit sombong.
"Aku pikir dia akan mengikuti jejak Auris tapi dia malah mengikuti jejakmu Alex" saut Vina.
"Aku cuma memiliki satu anak dan juga pewaris keluargaku, aku tidak masalah jika dia mengembangkan keahlian dalam bidang musik tapi dia juga harus belajar cara mengendalikan perusahaan di bawah genggamnya" ujar Alex yang memang berdasarkan fakta.
"Aku dengar banyak sekolah seni yang menawarkan agar Vino bisa bersekolah di tempat mereka" saut Viona.
"Tentu saja, putraku itu begitu cerdas dan berbakat" ujar Alex bangga.
Inilah yang paling anak-anak benci ketika orang tua mereka berkumpul pasti akan selalu ada anak yang dibandingkan di depan anak itu sendiri, Alice sudah menahan emosinya ketika ayahnya menceritakan tentang kegagalannya masuk ke sekolah seni dan juga bangganya Alex menceritakan kehebatan putranya.
Felix jangan ditanya, dia tidak peduli ketika orang tuanya menceritakan kehebatan anak lain di depannya mungkin dia sudah terbiasa dengan hal ini dan tidak mau menganggap serius.
"Tante, aku izin mau ke toilet" ujar Alice sopan.
"Silakan sayang" balas Vina lembut.
"Apa perlu ku antar kak?" tanya Shawnette.
"Tidak perlu" jawab Alice.
Alice berjalan menuju ke toilet dia berpapasan dengan Auristella yang baru saja keluar dari toilet, Auris menyentuh tangannya Alice dan berkata.
"Lakukan apapun yang kau inginkan, aku akan mendukungmu tapi jika kau ingin menjadi seorang penyanyi klasik aku bersedia melatih dirimu Alice" ujar Auris menepuk pundaknya Alice dan pergi meninggalkannya.
Alice menatap punggung Auris yang menghilang dari pandangannya dan menggumakan sesuatu, "seandainya saja kau tidak menjadi seorang pianis mungkin orang tuaku tidak akan pernah menuntut aku menjadi pianis dan penyanyi klasik."
Alice masuk ke dalam toilet,dia menatap pantulan dirinya di cermin, dia mendengar suara ponselnya berbunyi dan panggilan itu berasal dari teman ekskul nyanyi.
"Iya, ada apa?" tanya Alice yang tidak mau berbasa-basi.
"Alice, kata kak pembimbing kau yang akan menyanyi untuk menyambut kedatangan nona Auristella, dan mulai senin kau sudah latihan" ujar temannya.
"Apa kau gila! aku cuma dikasih waktu seminggu untuk berlatih" protes Alice.
"Aku tidak tahu tapi kau harus berlatih untuk penyambutan nona Auristella minggu depan" ujar temannya memutuskan panggilan secara sepihak.
"Halo" panggil Alice dan melihat panggilan terputus dia melemparkan ponselnya dan berhasil memecahkan cermin yang ada di toilet.
"Sialan, pasti tua Bangka itu sudah tahu" gumam Alice.
TBC
Don't forget to like and comment
Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.
Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian.
__ADS_1
See you