Fille Forte

Fille Forte
Antar


__ADS_3

Seorang pria yang duduk bersandar di atas motornya mengedarkan pandangannya mencari seseorang, teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu dan tinggallah dia seorang di parkiran dan beberapa siswa.


Ia menangkap siluet tubuh seorang gadis yang berjalan, dia menyalakan motornya dan membawa motor itu mendekat ke gadis itu, gadis itu merasa ada seseorang yang mengikutinya langsung berbalik dan melihat seorang pria yang duduk di atas motor.


"Naik..." ujar Galaksi datar.


"Maaf kak, enggak baik pulang dengan orang yang tidak dikenal" elak Aurora.


"Apa perlu kita kenalan lagi? Ayo naik" perintahnya dengan nada datar.


"Bagaimana dengan Shawnette?"


"Tidak usah pikirkan dia sudah pulang dengan ibuku"


"Ayo naik atau aku akan gedong dan buat kau duduk di atas sini" perintah Galaksi tanpa penolakan.


Aurora naik ke motor Galaksi sedikit susah karena motornya yang terlalu tinggi, setelah mencoba dia berhasil naik, Galaksi menyodorkan helm pada Aurora.


"Ini apa?" tanya Aurora polos.


"Itu helm" jawabnya datar.


"Aku tahu ini helm tapi buat apa?"


"Untuk dipakai"


Aurora mengangguk dan memakai helm itu yang terlalu besar di kepalanya, Galaksi melihat kepala Aurora yang tenggelam merasa lucu dan tertawa.


"Kakak kenapa tertawa? Lucu ya?" tanya Aurora yang akan melepaskan helm.


"Tidak usah dilepas"


Aurora tidak jadi melepaskan helm itu, Galaksi menarik kedua tangan Aurora untuk memeluk pinggangnya.


"Pegangan nanti jatuh soalnya aku bawa motornya kencang" ujar Galaksi.


Aurora memeluk pinggang Galaksi erat agar dirinya tidak terjatuh, Galaksi menyalakan mesin dan meninggalkan pekarangan sekolah.


Selama perjalanan Aurora bisa merasakan semilir angin yang menerbangkan rambutnya, ia tidak pernah naik motor selama ini dia sering menaiki bus atau taksi.


Galaksi membawa motornya dengan kecepatan tinggi membelah keramaian kota, ia tetap fokus mengendarai motor dan sekali-kali mencuri pandang pada gadis di belakangnya.


"Aurora dimana alamat rumahmu?" tanya Galaksi keras.


"Di Jalan Young Panah Hijau kak, tapi kita jemput Sean dulu di TK" jawab Aurora keras.


Galaksi menambah kecepatan pada motornya dan Aurora memeluk erat pinggang Galaksi, Galaksi dapat merasakan pelukan yang erat dan berhasil membuatnya tersenyum.


Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit mereka tiba di depan gerbang TK Sean, Aurora turun dan melepaskan helm.


"Terimakasih kak sudah mengantar aku, kakak bisa pulang sekarang" ucap Aurora lembut.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu sampai ke rumah, karena seorang laki-laki jika antar cewek pulang harus sampai di depan pintu rumahnya" ujar Galaksi yang berhasil membuat jantung Aurora berdebar.


Aurora masuk ke dalam dan mencari keberadaan Sean, dia menangkap siluet seorang anak kecil yang duduk di atas bangku dengan menggoyangkan kedua kakinya.


"Sean" panggil Aurora keras


Sean mengangkat kepalanya dan melihat kakaknya, dia beranjak dari duduknya dan berlari ke arah Aurora,


Aurora membuka tangannya lebar-lebar dan Sean langsung memeluknya.


"Kakak, Sean kangen" ujar Sean lucu.


"Ayo kita pulang"


Aurora menggendong Sean dan berjalan ke tempat Galaksi berada, Sean yang menangkap siluet Galaksi matanya langsung berbinar, untuk saja dia tidak melompat jika itu terjadi dijamin Sean akan terjatuh.


"Kak anbu, Sean rindu" ujar Sean.


Galaksi tersenyum dan mengacak rambut Sean, "kakak juga rindu sama Sean" balasnya.


"Kak, kakak pulang duluan saja tidak mungkin kita naik motor bertiga pasti enggak muat" ujar Aurora.


"Siapa bilang tidak muat?" tanya Galaksi mengangkat satu alisnya.


Aurora diam dan malu melihat tatapan Galaksi yang intens menatap dirinya, Galaksi mengambil Sean dari gendongan Aurora dan mendudukkan Sean di tengah.


"Lihat bukan ini muat! Ayo naik!" perintah Galaksi.


Aurora naik ke motor dengan memeluk Sean erat agar tubuh kecil Sean tidak terjatuh, Galaksi melihat Aurora sudah siap dari spion langsung menjalankan motornya.


Selama di jalan cuma terdengar suara Sean yang kegirangan menaiki motor, Galaksi tiba di parkiran khusus tamu apartemen, Aurora turun dan juga menurunkan Sean.


"Kak anbu kapan-kapan bawa Sean naik motor lagi ya" pinta Sean dengan puppy eyes.


Galaksi melihat puppy eyes Sean merasa gemas dan menarik pipi gembul Sean dan memberikan kecupan di pipinya Sean.


"Kak anbu, kok pipi Sean ditarik?" tanya Sean ketus.


"Karena Sean gemas jadi kakak tarik deh" balas Galaksi yang masih menarik pipi Sean.


Aurora melihat pemandangan antara Sean dan Galaksi tersebut dan menggelengkan kepalanya, "kak Galaksi cocok jadi pacar aku" gumamnya.


Galaksi yang merasa mendengar suara dari Aurora langsung bertanya, "Ra, kau bilang apa tadi?"


Aurora yang malu pipinya langsung memerah dan menggelengkan kepalanya, "enggak ada mungkin kakak salah dengar" bohongnya.


Galaksi mengangguk kepalanya dan mempercayai perkataan Aurora, Sean menarik tangan Galaksi dan Aurora dan membuat seakan mereka sedang berpegangan.


"Kak anbu sama kak Rora cocok" ujar Sean polos


Galaksi bukannya melepaskan tangan Aurora dia malah makin menggenggam erat tangannya, Aurora jangan ditanya jantungnya sudah berdebar kencang dan pipinya memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Ayo kita masuk" ajak Aurora berusaha menghindar dari tatapan Galaksi.


Aurora berjalan masih dengan Galaksi yang menggenggam tangannya seakan-akan Galaksi tidak ingin melepaskannya, Sean berada di gendongan Galaksi.


Aurora menekan lift untuk membawa mereka ke lantai 25, selama di dalam lift cuma ada keheningan di antara mereka, lift berhenti dan mereka keluar.


Aurora meletakkan sidik jarinya di finger print, pintu terbuka mereka masuk Aurora merapikan sedikit sofa agar Galaksi bisa duduk dengan nyaman.


"Silakan duduk kak, maaf jika sedikit berantakan" ujar Aurora ramah.


Galaksi duduk dengan Sean yang menemaninya, Sean duduk di pangkuan Galaksi, ia tidak keberatan Sean duduk di pahanya.


Galaksi mengedarkan pandangannya mengamati apartemen Aurora, dia melihat beberapa foto Aurora dengan Sean tapi tidak dengan kedua orang tuanya.


Aurora datang dengan membawa nampan minuman dan makanan ringan, Aurora meletakkan itu di atas meja, "silakan diminum kak" ujarnya sembari duduk.


Galaksi meminum jus jeruk yang disediakan oleh Aurora, jus itu habis ditengguk oleh Galaksi mungkin ia haus karena cuaca yang terlalu terik.


"Kau cuma tinggal berdua saja dengan Sean?" tanya Galaksi mengedarkan pandangannya.


"Iya kak, cuma kami berdua" jawab Aurora sembari minum air.


"Orang tua?" tanya Galaksi intens.


Pertanyaan itu berhasil membuat Aurora berhenti meminum minumannya, dia terdiam beberapa saat dan menghembuskan nafas beratnya.


"Kami tidak punya orang tua" bukan Aurora yang menjawab melainkan Sean.


Galaksi yang mendengarnya merasa sedikit tidak enak terhadap mereka berdua, "maafkan aku" ucapnya pelan.


"Tidak apa-apa kak" balas Aurora.


Sean menarik lengan Galaksi, Galaksi menatap Sean yang duduk di pahanya, "iya sayang" panggilnya lembut.


"Kak anbu, ayo ke kamar Sean nanti Sean tunjukkan mainan Sean" ajak Sean memasang puppy eyes.


"Udah ayuk" balas Galaksi beranjak dari sofa dia mengikuti Sean yang berjalan ke kamarnya.


Aurora melihat mereka pergi dari ruang tamu, dia ke kamarnya dan langsung berganti pakaian, ia memilih menggunakan kaos oblong dan celana panjang karena ada Galaksi di rumahnya.


Ia keluar dan berjalan ke dapur, dia memutuskan untuk memasak makan siang buat mereka.


**TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian.


See you**

__ADS_1


__ADS_2