Fille Forte

Fille Forte
Pintu


__ADS_3

Aurora berlari menuju kamarnya dengan badan gemetar, dia menutup pintu kamar dan langsung menjatuhkan dirinya di depan pintu terbuka.


"Mungkin aku salah dengar tidak mungkin ibu tadi sedang berbicara dengan ibu kandungku kan?" ucapnya dan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Apa ibu tahu alasan dibalik kenapa aku bisa berada di panti ini dan juga alasan mengapa kedua orang tua kandungku membuang ku?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Aurora mengingat kembali jika Kila baru saja memberikan dia sebuah gelang, Aurora mencari gelang itu dengan mengobrak-abrik semua isi di dalam kamarnya tapi tetap saja dia tidak menemukannya.


"Dimana gelang itu? aku meletakkannya disini" ucapnya kesal tapi dia merasa ada sesuatu yang menyilau mengenai matanya.


Aurora melihat tangannya yang memakai gelang yang berlapis berlian yang mengeluarkan silaunya, dia merasa sedikit lega bisa menemukan gelang itu.


"Mungkin gelang ini mempunyai jawaban yang ku cari," ucapnya tanpa melepaskan pandangannya dari gelang berlian.


"Aku akan mencari tahu siapa diriku yang sebenarnya dan alasan kenapa ibu tidak pernah menceritakan tentang ibu kandungku" ujar Aurora menatap keluar dan melihat bulan yang indah dari balik jendela.


Ada sebuah ide yang melintas secara tiba-tiba dari kepalanya, "kenapa aku tidak memeriksa ruang kerja ibu?" Aurora bertanya pada dirinya sendiri dan langsung beranjak dari duduknya.


Aurora keluar dan menghidupkan senter dari ponselnya karena setiap lampu yang ada di panti mati, dia berjalan secara mengendap-endap ketika dia sudah berdiri di depan pintu kerja, dia membuka handle pintu tapi sayang pintu itu terkunci.


"Sial kenapa pintu ini malah terkunci! bagaimana caraku masuk kedalam dan mencari semua informasi?" ucapnya dengan nada frustasi.


Aurora sedikit mendobrak pintu tapi tetap saja pintu itu tidak mau terbuka, ketika dia ingin mencoba sekali lagi dia mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya dan juga suara orang.


"Apa ada orang di sana?" tanya orang itu berjalan mendekat.


"Itu suara ibu, pasti ibu mendengar suara aku yang mendobrak pintu ini, bagaimana ini!" ucap Aurora panik dan tangannya sudah gemetar.


Suara langkah kaki itu semakin mendekat ke arahnya dan sebuah silau cahaya senter mengenai wajahnya.


Syakila mengernyitkan dahinya, "Aurora kenapa kau ada disini?" tanyanya.


Aurora dapat merasakan tangan dan kakinya sudah gemetar dan berkeringat dingin melihat Kila yang berdiri di hadapannya.


"Aku ingin ke toilet," jawab Aurora cepat agar Kipa tidak mencurigai dirinya.


Dia menatap Aurora dan berpikir bukannya toilet begitu dekat dengan kamarnya tapi kenapa Aurora berada di depan ruang kerjanya.


"Sayang, kamarmu begitu dekat dengan toilet jadi buat apa kau ke sini?" tanya Kila tidak melepaskan tatapannya dari Aurora.


"Maaf, mungkin aku sudah lupa dimana letak toilet karena aku sudah lama tidak kemari bukan," balas Aurora terpaksa berbohong dan berharap alibinya dapat membuat Kila percaya.


Kila cuma mengangguk kepalanya dan mempercayai perkataan Aurora, "ini sudah malam sudah waktunya kau tidur," ucap Kila mengelus surai rambut Aurora.


"Baik ibu," jawabnya menampilkan senyum manisnya.


Kila kembali berjalan menuju kamarnya, Aurora melihat punggung Kila yang menjauh dan menghilang dari pandangannya.


"Untung saja ibu percaya perkataanku, jika tidak habislah aku," gumam Aurora menghembuskan nafasnya dan kembali menatap pintu berwarna coklat.


"Mungkin belum waktunya aku mengetahui semuanya. Aku akan datang kemari lagi jika aku berhasil mendapatkan kunci pintu ini," gumamnya dan melepaskan pandangannya.


...***...


Seorang pria yang begitu lemas duduk di bawah dinginnya lantai toilet dengan tangannya menyentuh lantai, ia memuntahkan semua isi perutnya, bisa dilihat wajahnya pucat.


Galaksi merasakan perutnya bergejolak di dalam disertai dengan rasa pusing di kepalanya, ia kembali memuntahkan isi perutnya. Setelah dirasakan ia baik-baik saja ia membersihkan area dagu dan mulutnya.


Ia menatap pantulan dirinya di cermin, bisa ia lihat betapa mengerikannya dirinya, ia mencengkram erat sisi westapel dan tangannya secara reflek memecahkan cermin yang berada di hadapannya.


"SIALAN!" teriak nyaring mengacak rambutnya selayaknya orang gila.


Galaksi berhenti mengacak rambutnya dan kembali memandang pantulan dirinya di cermin, "aku akan membuktikan kepada semua orang jika wajahku bisa kembali seperti dulu," ucapnya dengan mata yang memerah dan memasang kembali topeng ke wajahnya.


Galaksi keluar dari kamar mandi lalu menuruni setiap anak tangga, baru saja ia menuruni beberapa anak tangga bisa ia lihat seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan.


Vina yang menyadari kehadiran Galaksi tersenyum, "pagi sayang!" ucapnya lembut.


"Pagi ma," balas Galaksi dengan ekspresi datar.


"Pagi kak," ujar Shawnette dengan nada ceria.


"Pagi," balas Galaksi seraya mendaratkan bokongnya ke kursi.

__ADS_1


Mereka makan dalam keadaan hening cuma terdengar suara dentingan sendok dan garpu tidak ada satu pun di antara mereka yang ingin membuka suara.


"Baguslah kau sekolah. Jangan berbuat masalah!" ujar Adam dengan suara beratnya.


Galaksi memilih untuk tidak merespon perkataan ayahnya, ia masih kesal dengan kejadian kemarin di mana ayahnya memberikan tamparan di pipinya, ia akui ia memang pantas untuk itu tapi ia begitu gengsi untuk mengakui kesalahannya.


Galaksi menyelesaikan sarapannya, ia beranjak dari duduknya, "aku sudah selesai," ucapnya pergi meninggalkan meja makan.


Shawnette melihat Galaksi selesai sarapan, ia memakan makanannya terburu-buru, "kakak, tunggu aku!" teriaknya.


Shawnette berpamitan pada orang tuanya dengan mencium pipinya, "bye papa, bye mama" ucapnya.


Adam mengacak rambut putrinya, "be careful on the way," ucapnya.


Shawnette berjalan cepat menyusul Galaksi, sampai ia di garasi mobil. Shawnette mengatur nafasnya, "kakak" panggilnya.


Galaksi menoleh dan mengangkat satu alisnya, " apa?" tanyanya.


"Berangkat bareng yuk," ujar Shawnette bersemangat.


"Ok" balas Galaksi dingin.


Shawnette mengelus dadanya berharap sabar menghadapi kakaknya ini, jika saja Galaksi bukan kakaknya mungkin ia akan menonjok Galaksi.


Shawnette masuk ke dalam mobil yang sudah ada Galaksi di dalamnya. Galaksi menghidupkan mesin mobil lalu menancapkan gas meninggalkan pekarangan rumah.


Galaksi mengendarai mobil dengan kecepatan sedang karena kepalanya masih sedikit pusing, Shawnette terus mencuri pandang ke arah Galaksi.


Galaksi menyadari Shawnette terus memperhatikannya langsung buka suara, "ada apa?" tanyanya.


Shawnette menghembuskan napasnya kasar, "semalam kakak mabuk kan?" tanyanya langsung.


"Why? Ada masalah?"


"Semalam aku melihat bagaimana kakak bertengkar dengan papa," ucap Shawnette lesu.


"Terus?"


"Terus? Tentu saja aku takut melihatnya kak, selama ini papa tidak pernah melakukan kekerasan pada kita tapi untuk pertama kalinya aku melihat bagaimana papa menghajar kakak itu membuatku takut," pekik Shawnette dengan nafas memburu.


Shawnette terdiam dengan perkataan Galaksi, rasanya seperti pisau yang tertancap di hatinya mendengar perkataan Galaksi yang begitu dingin.


Mereka terdiam dan tidak ada satu pun dari mereka yang ingin membuka suara sampai mobil masuk ke pekarangan sekolah. Shawnette keluar tanpa mengatakan apapun pada Galaksi.


Galaksi juga keluar baru saja ia melangkah kakinya pandangan orang-orang sudah tertuju kepadanya, Galaksi merasa sangat risih namun ia tidak peduli.


Jika kalian berpikir Galaksi akan masuk ke kelas dan mendengar semua perkataan guru tentu saja kalian salah besar. Ia datang ke sekolah jika bukan untuk tidur di UKS buat apa dia datang kemari.


Galaksi membuka handle pintu UKS dan tidak ada siapapun di sana, ia masuk dan langsung saja merebahkan tubuhnya di brankar.


"Cih.....jika aku tidak bisa tidur di rumah seenggaknya ada kasur uks," ujarnya menutup matanya.


Baru saja Galaksi menutup matanya sekitar 15 menit, ia mendengar suara handle pintu terbuka ia berdecak kesal dan melihat siapa yang datang kemari.


Ia membuka tirai yang menutupinya dan sesuai yang ia perkirakan yang datang kemari adalah teman-temannya.


"Hai bro," sapa Felix.


"Hemm..." balasnya dingin.


Galaksi kembali memejamkan matanya dan memilih untuk tidak peduli dengan kehadiran teman-temannya.


Zayn memilih duduk di pinggir brankar, "how are you?" tanyanya.


"Fine," balas Galaksi singkat.


"Kemana aja lo Galaksi udah lama gak kelihatan?" tanya Vino yang merebahkan tubuhnya di brankar yang kosong.


"It's not your business," sarkas Galaksi dingin.


"It's ok, but there's something interesting, you know?" ucap Vino tersenyum smirk.


"What's that?" tanya balik Galaksi.

__ADS_1


"Lo tahu cewek lo baru saja diskors," ujar Vino santai.


Galaksi mengernyitkan dahinya, "sejak kapan gue punya cewek?" ucapnya.


"Ups.... jangan bilang itu cewek bukan siapa-siapa buat lo," ucap Zayn dramatis.


"Cewek mana yang kalian maksud?" tanya Galaksi sekali lagi dengan nada dingin.


"Of course Aurora. Who else if not her!" sambung Felix santai.


Galaksi membelalakkan matanya, "apa alasan dia diskors?" tanyanya dengan nada serius.


"Tanya saja sama Felix," balas Zayn santai.


Galaksi menatap tajam Felix sedangkan orang yang ditatap merasa tidak bersalah sama sekali.


"Apa yang lo perbuat sama Aurora?" tanya Galaksi serius.


"Gue cuma ajak dia untuk jadi pacar gue tapi dia nolak," jawab Felix mengedikkan bahunya.


"Terus?" tanya Galaksi lagi.


" Tusuk dada...." belum siap Felix menyelesaikan kalimatnya Galaksi sudah menarik kerah baju Felix.


"Lo gila apa. Lo nusuk Aurora" teriak Galaksi memperlihatkan urat-urat lehernya.


Felix terdiam dan tidak berkutik, dan Galaksi melayangkan tinjunya ke pipi Felix, Felix tidak memberikan perlawanan apapun pada Galaksi.


"Keparat Lo. Tega lo nusuk Aurora," ujar Galaksi memberikan bogem pada Felix.


"Dengerin gue bangsat" balas Felix dengan membalas serangan Galaksi.


Felix menunjang perut Galaksi dengan salah satu kakinya sampai Galaksi terkapar.


Felix bangkit dan berjalan ke arah Galaksi dan langsung menarik kerah seragamnya, "aturan Aurora yang lo hajar bukan gue," teriaknya.


"Maksud lo apa hah?" teriak Galaksi tidak kalahnya.


"Aurora yang nusuk gue bukan gue yang nusuk Aurora," ujar Felix dengan berteriak.


Galaksi membuka mulutnya dan sedikit tidak percaya, "enggak mungkin dia lakuin hal itu," ucapnya.


"Tapi itu faktanya. Dia nusuk gue kalau enggak percaya tanya aja sama mereka," ucap Felix dengan dagunya menunjuk Zayn dan Vino.


Felix melepaskan tangannya dan mendaratkan bokongnya di lantai. Galaksi diam dan mencuri pandang ke Felix.


Felix sadar Galaksi mencuri pandang langsung membuka suaranya, "apa lo mau minta maaf, tenang karena gue orang baik akan gue maafkan," ucapnya penuh percaya diri.


"Cih.....pede amat lo" decak Galaksi.


Zayn dan Vino juga mengambil posisi duduk di lantai dekat mereka berdua.


"Tumben lo hajar Felix hanya karena cewek," ujar Zayn tersenyum miring pada Galaksi.


"Bukan urusan lo" balas Galaksi ketus.


"Cie.....cie...... kayaknya lo suka sama itu cewek," sambung Vino.


"Enggak," balas Galaksi cepat.


"Di mulut enggak tapi di hati iya," ledek Felix.


"Shut up" ucap Galaksi.


Bukannya diam mereka malah semakin menggoda Galaksi, dan wajah Galaksi sudah memerah menahan emosi.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian.

__ADS_1


See you


__ADS_2