
Aurora sangat menikmati semilir angin yang sejuk berhembus mengenai kulitnya, dia sangat menyukai sensasi dingin ini.
Galaksi melihat Aurora menikmati semilir angin dari kaca spionnya menarik sudut bibirnya.
Ia sangat menyukai wajah Aurora yang begitu senang berjalan dengannya, Galaksi memberhentikan motornya di sebuah pantai.
Aurora turun dari motor dan mengerutkan keningnya, "kak Aksi, kenapa kakak bawa Rora ke pantai?" tanyanya seraya membuka helm.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin," balas Galaksi yang sudah berjalan menuju bibir pantai.
Aurora bingung dari semua tempat yang ada kenapa Galaksi membawanya ke pantai, dan ayolah dia sudah sering ke pantai jadi ia juga mulai sedikit bosan.
Aurora tidak ingin mengambil pusing, ia memutuskan untuk menyusul Galaksi saja. Ia berjalan mendekati bibir pantai dan berdiri di samping Galaksi.
"Ra," panggil Galaksi.
Aurora menoleh, "iya kak," balasnya.
"Tadi kau bertanya kenapa aku mengajakmu ke pantai, kan? Kau tahu alasanku mengajakmu ke pantai adalah karena ini adalah tempat favoritku," papar Galaksi menikmati angin sejuk.
"Pasti ada alasan pantai ini menjadi favorit kakak, bukan?"
"Iya, alasannya adalah cuma pantai tempat di mana aku bisa melupakan masalah dan bersenang-senang," ujar Galaksi.
"Kak Aksi, mau main denganku?" tanya Aurora tersenyum pada Galaksi.
"Aku mau. Tapi, kau jangan menyesal," balas Galaksi yang sudah menggendong Aurora ala bridal style.
"Kak Aksi!"
Galaksi berlari mengelilingi pantai dengan menggendong Aurora dan detik-detik kemudian Galaksi melempar tubuh Aurora ke laut dan bisa dilihat tubuh Aurora basah.
"Aurora kau begitu lucu hah....hah...." ujar Galaksi yang sudah tertawa terbahak.
Wajah Aurora sudah memerah menahan kekesalannya.
"Kak Aksi!" teriak Aurora lantang.
Aurora berdiri dan berlari ke arah Galaksi, Galaksi yang melihat pergerakan Aurora langsung saja berlari menghindar dari amukan Aurora.
"Kak Aksi kemari!" teriak Aurora seraya berlari.
"Enggak mau bleh....." balasnya yang menjulurkan lidahnya.
Mereka bermain kejar-kejaran dan juga saling menciprat air ke Galaksi. Mereka tertawa dan bersenang-senang sampai matahari terbenam.
Aurora dan Galaksi yang berbaring di pasir putih melihat matahari terbenam.
"Kak Aksi terimakasih!" ucap Aurora lembut.
"Untuk?"
"Karena membuatku tersenyum hari ini," balas Aurora.
Aurora mendekatkan wajahnya ke Galaksi dan secara tiba-tiba ia memberikan kecupan di pipinya Galaksi.
Galaksi terdiam untuk beberapa saat dan mencerna apa yang sedang terjadi.
Aurora melihat wajah terkejut Galaksi merasa sangat lucu, "kak Aksi ternyata lucu juga ya!" ucapnya.
Galaksi menarik tangan Aurora dan membawanya ke dalam pelukannya, Aurora merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya dan pipinya sudah memerah bagaikan kepiting yang terlalu lama direbus.
"Ra, you are special in my life!" ucap Galaksi pelan bahkan Aurora tidak bisa mendengarnya.
"Kak Aksi lepasin Aurora," pintanya dengan gugup.
__ADS_1
Bukannya melepaskan Aurora Galaksi malah semakin erat memeluknya. "Ra, kamu adalah gadis ketiga yang berani mencium pipiku," ucap Galaksi yang menghirup aroma stroberi pada rambut Aurora.
"Siapa yang pertama dan kedua?" tanya Aurora ketus dengan wajah yang sudah merah padam.
"Gadis yang sangat spesial di hidupku," balas Galaksi dengan nada senang dan tersenyum.
"Artinya kakak playboy"
"What do you mean?" tanya Galaksi mengernyitkan dahinya.
"Kakak mengajakku jalan tapi ternyata kakak udah punya gadis lain bahkan dua lagi. Aku sebagai cewek merasa sakit hati apalagi pacar kakak," ujar Aurora ketus.
"Hahhhhh......hah......." Galaksi malah tertawa terbahak-bahak.
"Kak Aksi, Rora serius tahu."
"Ra, mau tahu gadis itu siapa?" tanya Galaksi yang masih tertawa.
"Enggak," balasnya cepat tapi dalam benaknya ia juga penasaran.
"Mereka adalah ibuku dan Shawnette," ucap Galaksi lembut.
"Bohong!"
"Aku enggak bohong. Kau tahu mereka ada sangat spesial di hidupku, dan alasan kenapa kau yang ketiga adalah karena ibuku dan Shawnette sudah mengambilnya darimu," papar Galaksi seraya membelai surai rambut Aurora.
"Kakak yakin? Kakak enggak bohong, kan?"
"Enggak!"
"Mereka pasti sangat istimewa sampai aku menjadi yang ketiga," seloroh Aurora.
"It's ok if you are not first and second but you are the third," seloroh Galaksi.
"Kakak nyebelin tahu!" teriak Aurora ketus mengerucut bibirnya.
Galaksi terkekeh kecil melihat Aurora blushing. Galaksi bangkit dan menepuk belakang tubuhnya.
"Aurora, ini udah malam. Ayo kita pulang," ujar Galaksi mengulurkan tangannya ke Aurora.
Aurora menerima uluran tangan Galaksi, "ayo kak!" balasnya.
Mereka berjalan ke motor yang diparkir di dekat pohon kelapa. Galaksi menyodorkan helm dan Aurora memakainya.
Mereka naik ke motor dan pulang dalam keadaan basah. Angin malam yang menusuk kulit begitu dingin karena pakaian mereka kenakan basah.
Galaksi melihat Aurora yang menggigil kedinginan dari spion, menjalankan motor dengan kecepatan tinggi menyalip beberapa kendaraan di depan mereka.
Mereka tiba di depan gedung apartemen Aurora, ia turun dan menyodorkan helm. "Kak Aksi makasih udah mau ajak Rora jalan," ucapnya.
"Sama-sama, dan maaf karena tidak bisa mengantarmu masuk ke dalam. Aurora langsung mandi dengan air hangat biar kau tidak sakit," ujar Galaksi sedikit kecewa.
"Kakak juga jangan lupa mandi air hangat. Be careful on the way kak!" ucap Aurora.
Galaksi menghidupkan mesin motornya dan mulai menjalankan motornya. Aurora memandang punggung Galaksi yang semakin lama menghilang dari pandangannya.
Aurora masuk ke dalam dan banyak pasang mata yang melihatnya dalam keadaan basah, untung saja dia tinggal di sini dan orang-orang mengenalnya jika tidak mungkin mereka akan mengusirnya.
Aurora berjalan dengan bersenandung kecil, ia membuka pintu apartemen dengan senyum yang tidak luntur, dan betapa terkejutnya ia melihat Sean yang sudah menunggunya di pintu.
"Sean!" panggil Aurora.
Sean membuang mukanya dengan mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya.
Aurora mengernyitkan keningnya, "Sean, kenapa?" tanyanya
__ADS_1
"Kakak jahat!" ucap Sean ketus.
"Maksud Sean apa bilang kakak jahat?" tanya Aurora dengan nada sedikit marah.
"Buktinya kakak enggak jemput Sean dan biarin Sean tunggu lama sendiri," jawab Sean masih dengan nada ketus.
Aurora menepuk jidatnya, "Sial aku lupa!" ucapnya.
"Kakak jahat masa kakak lupa sama Sean. Kakak udah enggak sayang Sean lagi," timpal Sean yang sudah menitikkan air matanya.
"Huah.......huah....... Kakak enggak sayang Sean lagi huah.....huah ...." ucap Sean dengan nangis histeris.
Aurora menghela nafasnya ingin dia bawa Sean ke dalam pelukannya dan menenangkannya tapi bajunya sedang basah dan dia tidak ingin Sean ikut basah.
"Sean, kalau Sean terus menangis jangan harap semua ice cream di dalam masih ada. kakak buang semuanya," ucap Aurora lembut.
Mendengar ucapan Aurora yang lembut itu artinya kakaknya tidak main-main.
"Kakak jangan Sean berhenti nangis asal kakak jangan buang ice cream Sean," balas Sean dengan memelas.
"Bagus, kakak suka adik penurut. Kakak mandi dulu ya Sean," ucap Aurora mengacak rambut Sean.
Aurora mandi dengan air hangat, selesai mandi ia keluar dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Ia bercermin dan menyentuh bibirnya, "bibir ini kenapa berani kali cium pipi kak aksi! Pipi kak aksi lembut aku suka," ucapnya dengan menarik sudut bibirnya.
...***...
Galaksi membawa motornya dengan perasaan yang baik, ia terus tersenyum. Ia tiba di rumahnya ia memarkirkan motornya di garasi dan masuk ke dalam rumah.
Baru saja ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam, ia sudah dikejutkan dengan seorang pria paruh baya yang duduk di sofa.
"Galaksi, kenapa kau baru pulang sekarang?" tanya Adam dengan nada mengintimidasi.
"Bukan urusan papa, dan pasti papa tahu alasan aku kenapa pulang lama," balas Galaksi ketus.
"Jika sekali lagi kamu bolos maka papa enggak akan segan-segan kirim kamu ke luar negeri. Ingat itu baik-baik," ucap Adam penuh penekanan.
"oh ya... siapa gadis yang bolos bersamamu itu! Aku ingat gadis itu Aurora bukan? She's beautiful and i like it" ujar Adam tersenyum smirk.
"Papa, jangan seret dia ke masalah kita. This problem son with his dad," ucap Galaksi dingin.
"Ok, papa enggak akan seret gadis itu tapi ingat satu hal jika sampai ketahuan kamu papa kirim ke luar negeri," ucap Adam tegas dan melangkahkan kakinya menaiki lantai atas.
Galaksi tidak ingin berlama-lama di ruangan itu ia memilih ke kamarnya, ia menanggalkan seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi dan membiarkan air shower membasahi tubuhnya.
Galaksi selesai mandi ia memakai celana boxer dan kaos, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasurnya.
Galaksi mengusap kepalanya dan sekali ia akan tersenyum menertawakan dirinya sendiri.
"Aurora, i like you and i want you," ucap Galaksi memandang langit-langit kamar.
Galaksi yang menyadari perkataannya menepuk pelan bibirnya, "ini mulut ada-ada aja deh, ngapain juga gue terus mikirin Aurora," ucapnya.
Galaksi terus tidak ingin memikirkan Aurora tapi tetap saja bayang-bayang Aurora dan tawanya menghantuinya.
"Sialan, lama kelamaan gue bisa gila jika gue terus pikirin Aurora," ujarnya mengacak rambutnya selayaknya orang gila.
"daripada gue terus mikirin itu cewek mending gue tidur," ucapnya menarik kasar selimut menutupi seluruh tubuhnya.
TBC
Don't forget to vote and comment
Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.
__ADS_1
Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update
See you