
Aula sekolah yang begitu ramai sampai membuat murid-murid berdesakan, tentu saja penyebab kerumunan siswa adalah kedatangan Auristella seorang pianis yang paling terkenal dan dikenal karena kecantikan yang dimilikinya.
Ada seorang gadis yang berdiri paling depan, "Aku tidak sabar melihat nona Auristella" ujar Aurora riang.
"Ra, ayo kita ke kantin aja" ucap Xylona lesu.
"Iya Ra, ayo kita ke kantin aja! Lihat nona Auristella bisa di kelas, kan?" sambung Raline yang mendukung Xylona.
"Enggak, setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihat nona Auristella, itu adalah hal yang paling langka!" balas Aurora ketus.
"Udahlah biarin aja, kalau udah yang namanya fans pasti gak ada obatnya" saut Shawnette yang fokus pada ponselnya.
Terdengar suara langkah kaki yang diperkirakan adalah langkah kaki Auristella, para guru-guru sudah berbaris rapi untuk menyambut Auristella.
Auristella berjalan begitu anggun siapapun yang melihatnya akan terpesona dengan kecantikannya, ia menggunakan gaun off shoulder berwarna hitam dengan kalung permata di lehernya dan tidak lupa juga netted hat di atas kepalanya yang berhasil memancarkan aura misterius dari dirinya.
Auristella berjalan dengan didampingi oleh Adam selaku pemilik sekolah, ia berjalan di samping Auristella.
Adam yang mengenakan setelan jas berwarna hitam dan postur tubuhnya yang tegak berhasil membuat beberapa murid perempuan meliriknya.
Semua murid yang melihat kehadirannya merasa sedikit terpukau dengan kecantikan yang dimilikinya, bayangkan saja di usia yang tidak begitu mudah ia masih terlihat seperti gadis yang berusia 19 tahun.
"Wah itu nona Auristella, ia begitu cantik daripada yang di foto"
"Lihat wajahnya bahkan diri kita saja kalah dengannya"
"Auranya begitu mahal guys"
"Nona Auristella lihat kemari aku calon menantumu dan pacar dari Vino"
Itu bisikan murid-murid yang kagum dengan pesona dari Auristella, dan juga jangan lupakan kehaluan dari penggemar Vino.
Aurora melihat dengan tatapan yang berbinar, "Dia begitu cantik, aku iri melihatnya!" ucap Aurora pelan.
"Apa itu suaminya?" ucap Raline spontan yang berhasil mendapatkan pelototan mata Shawnette.
"Siapa yang bilang barusan jika itu suaminya nona Auristella?" tanya Shawnette dengan tatapan tajamnya.
Mereka menunjuk Raline dengan jari mereka, "dia" ucap mereka.
Raline menggaruk tengkuknya dan mengangkat alisnya, "memang salah?" tanyanya.
"Tentu saja salah! Yang kau bilang suaminya itu adalah ayahku" ucap Shawnette penuh penekanan.
"Itu pak Adam pemilik sekolah ini? Kau putrinya jadi kau pasti adiknya kak Galaksi, kok aku enggak tahu" tanya Raline menepuk dagunya
"Satu kata untukmu Raline, Goblok!" ucap mereka kompak.
"Ih... kalian masa sama teman sendiri seperti itu!" ujar Raline mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya.
"Raline, kau juga tidak salah! Jika orang melihat mereka berjalan bersama pasti mereka akan berpikir mereka adalah pasangan" ujar Citra menepuk pundak Raline.
"Untung saja tidak ada tante Vina di sini, jika tante ngeliat ini ku jamin sekolah ini akan rata dibuat olehnya" ujar Xylona yang sudah membayangkan hal itu terjadi.
"Dia seperti kak Galaksi!" ujar Aurora.
"Tentu saja like father like son" saut Shawnette.
"Pantas saja kak Aksi keren kalau ayahnya saja begitu tampan" ucap Aurora dalam hatinya.
Mereka mengangguk kecil dan kembali fokus pada Auristella yang berjalan di atas red carpet yang memang disiapkan khusus untuknya.
Para guru berjalan padanya dan memberikan sebuket bunga pada Auristella, ia menerimanya dengan senang hati.
__ADS_1
"Terimakasih" ucap Auristella ramah.
"Aku harap kau menyukai penyambutan yang kami siapkan untukmu" ujar Adam.
"I like it" balas Auris tanpa melihat Adam.
"Ayo kita ke ruang auditorium, kami menyiapkan kejutan khusus untukmu"
"Aku sangat penasaran kejutan apa yang akan kalian berikan"
Adam berjalan menuntun Auristella ke ruang auditorium, para murid juga ikut ke auditorium.
Para guru-guru, Adam dan Auristella duduk di bangku paling depan yang memang disiapkan khusus untuk mereka.
Aurora dan yang lainnya duduk di atas, mereka memilih duduk di sana karena bisa melihat setiap sudut auditorium baik panggung atau orang yang duduk paling belakang sekaligus.
"Nette, kak Alice nyanyi?" tanya Xylona.
"Iya kak Alice yang khusus nyanyi untuk hari ini" balas Shawnette.
"Nyanyi apa emangnya?" tanya Raline.
"Musik klasik" jawab Shawnette.
"What! Itu begitu sulit kau tahu bahkan perlu latihan bertahun-tahun untuk bisa menyanyikan satu lagu saja" ujar Raline.
"Dia memang pintar dalam hal bernyanyi" puji Shawnette.
"Sudah dimulai guys" ujar Citra.
Semua mata fokus terhadap seorang gadis yang memakai gaun berwarna putih off shoulder dengan sentuhan kalung permata berwarna hitam di lehernya, ia berjalan begitu anggun dengan seorang pianis pendamping bersamanya.
Ia adalah Alice Clarabell Roderick tentu saja semua orang mengenalnya berkat kecantikan yang dimilikinya dan ia dikenal memiliki sifat yang baik.
Ia memberikan kode kepada pianis pendamping, pianis itu mulai menekan tuts piano dan Alice mulai menyanyikan sebuah maha karya dari Ludwig van Beethoven yang berjudul Für Elise.
Alice menyanyikan lagu tersebut dengan suara khasnya, semua orang tersihir oleh suaranya, orang yang mengerti tentang musik klasik pasti akan mengetahui makna dibalik lagu tersebut.
Lagu tersebut menggambarkan tentang makna percintaan tersendiri dari Beethoven.
Aurora sangat fokus mendengar nyanyian Alice dan sedikit tersihir dengan penampilannya, ia bahkan membayangkan dirinya sendiri yang menyanyi di atas panggung tersebut.
"Suaranya begitu indah! Andai saja aku memiliki kepercayaan diri mungkin aku bisa tampil di panggung itu" ucap Aurora pelan dan fokus melihat penampilan Alice.
Adam yang melihat penampilan Alice merasa sedikit bangga, "kau bisa melihat bukan jika sekolah ini memiliki murid-murid yang bisa menyanyi musik klasik?" ucapnya.
"Tapi maaf jika perkataanku ini akan menyinggung perasaanmu" balas Auris tersenyum.
Adam mengangkat satu alisnya, "katakan saja" ucapnya.
"Aku rasa Alice tidak memiliki bakat dalam hal bernyanyi musik klasik" ungkap Auris.
"What do you mean?" tanya Adam.
"Lagu yang dinyanyikan oleh Alice begitu mudah dan asal kau tahu lagu tersebut lebih cocok dinyanyikan untuk pemula, jika ada seorang penyanyi profesional yang menyanyikannya penyanyi tersebut akan membuat orang-orang mendengar suaranya terbawa dalam suasana musik tersebut" papar Auris.
"Mungkin saja Alice tidak memiliki banyak waktu untuk menyiapkan lagu terbaik untukmu" pikir Adam.
"Aku tidak akan menjelaskan untuk kedua kalinya, aku harap aku akan segera menemukan murid yang memiliki bakat menyanyi seriosa" ujar Auris dengan mengedarkan pandangannya.
Adam sedikit merasa kecewa dengan perkataan Auris tapi jika dipikir apa yang dikatakan oleh Auris memang benar, tidak ada hal yang menarik dari penampilan Alice dan jika didengar baik-baik Alice seperti menyanyikan lagu tersebut secara terpaksa.
"Yang dikatakan oleh dirinya memang benar!" lirih Adam tersenyum kecut.
__ADS_1
Alice menyelesaikan lagunya dan membungkuk sedikit badannya kembali sebagai berakhirnya penampilannya, semua orang bertepuk tangan meriah untuknya, Alice kembali ke belakang panggung bersama pianis pendamping.
Orang-orang sudah mulai meninggalkan ruangan auditorium, Aurora tidak bergerak sama sekali dari duduknya Citra yang melihat keanehan pada Aurora langsung menepuk bahunya.
"Ra....." panggil Citra seraya menepuk bahu Aurora.
Aurora menoleh pada Citra, "iya kak," jawabnya.
"Apa yang sedang kau lihat? Acaranya sudah selesai ayo kita kembali!" ajak Citra.
"Tidak apa-apa kak, aku berpikir bagaimana jika yang menyanyi di panggung tersebut adalah aku" ucap Aurora lirih.
"Apa kau ingin menjadi seorang penyanyi klasik? Aku rasa jika kau menjadi penyanyi kau akan begitu bersinar di atas panggung" ucap Citra riang.
"Jangankan untuk menjadi penyanyi membayangkannya saja aku tidak bisa kak," balas Aurora dengan nada rendah.
"Tidak ada orang yang bisa menghentikan mimpi kita, lakukan apapun yang kau inginkan sebelum kau menyesal tidak pernah melakukannya!" seru Citra tersenyum pada Aurora.
"Maksudnya kak?" tanya Aurora sedikit bingung.
"Suatu hari nanti kau akan menemukan jawabannya" balas Citra menarik tangan Aurora, "ayo kita pergi dari sini" ajaknya.
"Dimana Xylona, Raline dan Shawnette" tanya Aurora mencari keberadaan mereka.
"Mereka sudah pergi dari tadi sejak Alice bernyanyi, mereka bilang itu membosankan jadi mereka milih pergi ke kantin" papar Citra
"Tapi kenapa mereka tidak mengajak kita?" tanyanya lagi.
"Aurora bagaimana mereka ingin mengajakmu jika kau saja terlalu fokus pada penampilan Alice" decak Citra menarik tangan Aurora, "ayo kita pergi ke kantin" ajaknya.
Aurora pasrah saja Citra menarik tangannya membawa dirinya pergi dari sini, bukannya kesal Aurora malah senang Citra menarik tangannya.
Seorang wanita paruh baya yang sudah lama memerhatikan interaksi Aurora dan Citra, "aku rasa aku sudah menemukannya" ujar wanita tersebut tersenyum.
Terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke arah wanita, ia yang menyadari itu tentu saja mengetahui suara langkah kaki siapa itu.
"Kau datang begitu lama Vino" ujar Auris memainkan anak rambutnya.
"Maaf aku tidak tertarik untuk melihatnya, dan juga bukan mama yang tampil jadi tidak ada masalah kalau aku hadir atau tidak" balas Vino.
"Vino, sebentar lagi kau akan bertemu dengan adikmu" ucap Auris tersenyum bahagia
Vino memijit pelipisnya dan menghembuskan napasnya kasar, "Mama, aku rasa kau harus menemui dokter untuk mengetahui kau masih waras atau tidak" desis Vino.
"Aku rasa itu tidak perlu karena aku masih waras, sayang" ucap Auris menepuk bahu Vino, "oh iya, aku harus pergi sekarang karena ada banyak yang harus ku urus" ucap Auris melangkah kakinya keluar meninggalkan auditorium.
Vino menghela napas panjang dan mengusap keningnya, "Kegilaan apa lagi yang mama lakukan, arghhhhhh......" teriak Vino frustasi dan mengacak rambutnya.
Vino sekali-kali juga menendang kursi yang berada pada tribun penonton walaupun itu tidak ada gunanya, ada seorang gadis yang masuk ke dalam auditorium dan mencari sesuatu di kursi penonton.
Setelah menemukan apa yang dicarinya ia memutuskan untuk pergi tapi ia mendengar suara teriakan, ia penasaran dan berbalik ke belakang.
Ia bisa melihat seorang pria yang menendang kursi dan sekali-kali mengacak rambutnya.
"Kak Vino" panggil gadis itu.
TBC
Don't forget to vote and comment
Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.
Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update
__ADS_1
See you