Fille Forte

Fille Forte
Latihan


__ADS_3

Seorang gadis menyanyikan sebuah lagu klasik yang paling sering orang dengar Der Hölle Rache kocht in meinem Herzen atau lebih dikenal Queen of the Night Aria lagu klasik ini sering dinyanyikan di pertunjukan opera, gadis itu bernyanyi mengeluarkan semua suaranya dengan diiringi oleh nada piano yang dimainkan oleh guru musiknya.


Ketika dia hampir masuk bagian terakhir dari lirik tersebut, dia tiba-tiba terbatuk dan merasa tenggorokannya kering dan sakit mungkin karena dia terlalu lama bernyanyi.


Seorang pria paruh baya yang melihat gadis itu tidak dapat menyelesaikan nyanyian langsung saja berteriak kepadanya.


"Apa kau tidak bisa bernyanyi?" teriak pria itu yang duduk di kursinya.


"Maaf papa,aku akan mengulanginya kembali" jawabnya tidak berani menampakkan wajahnya pada ayahnya.


"Sudah berapa kali kau mengulang lagu yang begitu mudah ini? apa kau tidak bisa tidak melakukan kesalahan sama sekali, bahkan kau tidak bisa mengontrol artikulasi dan pernapasan mu" bentak pria itu melemparkan sebuah vas bunga ke arahnya.


Gadis itu berhasil menghindar dari lemparan vas bunga itu, jantungnya sudah mulai berdebar tidak karuan dan guru musik yang juga berada disana dapat merasakan aura yang mencekam dari pria paruh baya yang sedang duduk.


"Cepat ulang kembali tapi bukan lagu yang tadi melainkan Frühlingsstimmen, Walzer, Op. 410 (Johann Strauss II)" ucap pria itu mengandung nada perintah.


"Papa, tapi Alice tidak bisa menyanyikan lagu itu" cicitnya dengan kedua tangannya yang sudah gemetar.


"Kenapa sayang beritahu papa?" tanyanya mengelus surai rambut Alice.


Alice yang merasa akan mendapatkan kemarahan besar dari ayahnya begitu takut untuk mengatakannya tapi dia harus mengatakan itu dengan sedikit keberanian, ia mengangkat suaranya.


"Papa, lagu itu begitu susah karena harus dinyanyikan dengan bahasa Jerman, papa tahu jika Alice tidak terlalu mahir bahasa Jerman,"ucap Alice ragu.


"Susah karena lagunya bahasa Jerman, besok papa akan memanggil guru untuk mengajar bahasa Jerman" ucap pria itu tegas.


"Tapi pa, Alice sudah lelah dan tenggorokan Alice sudah kering, apa boleh aku istirahat?" tanyanya sedikit takut.


"Tentu saja boleh, tapi besok kau sudah harus bisa menyanyikan lagu yang barusan papa sebut" jawab Hans mengelus kepala putrinya.


Hans menatap guru musik Alice yang duduk di depan piano dan berkata padanya, "kau boleh pulang sekarang, tapi besok kau harus datang lebih awal," ucapnya.


"Baik tuan" balas guru itu dan menyusun barang-barangnya.


Hans melangkah kakinya keluar dari ruangan musik, Alice sudah menjatuhkan tubuhnya yang sudah gemetar untuk waktu yang lama dan tangganya yang sudah berkeringat dingin, guru musik itu langsung mendekat pada Alice.


"Alice, apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


"Aku baik-baik saja kak, tapi aku sangat takut dengan papa" balasnya lirih.


"Kau harus tenang bagaimanapun kau akan bernyanyi di hadapan nona Auristella, kau tahu banyak orang yang ingin tampil di depannya dan cuma kau salah satu orang yang beruntung," ujar guru.


Guru musik Alice bernama Katya dia sudah mengajar Alice sejak dia SMP dan karena Katya yang mengajarnya Alice berhasil memenangkan kompetisi resital piano yang paling bergengsi, oleh karena itu Hans mempertahankan Katya untuk mengajar Alice.


"Alice maaf, tapi aku harus pulang sekarang ini sudah malam," ujar Katya sedikit ragu.


"Tidak apa-apa kak, kau pulang saja tidak usah mengkhawatirkan aku," balas Alice.


Katya tidak tega untuk meninggalkan Alice dengan kondisi yang tidak baik, tapi dia harus pulang karena langit sudah begitu malam, Alice melihat punggung Katya yang menghilang dan memegang kepalanya.


"Kenapa papa terus menuntun ku untuk menjadi seorang penyanyi seriosa? aku tidak menginginkannya aku cuma ingin menjadi seorang dokter" gumam Alice pelan.


Zayn masuk ke ruangan musik karena sudah melihat ayahnya yang sudah pergi, selama Alice latihan dirinya tidak pernah melihat penampilan Alice karena dia begitu malas harus melihat ayahnya, Zayn melihat Alice yang duduk di lantai membuat Zayn merasa sedikit kasihan pada saudaranya.


"Alice, kenapa kau seperti ini? apa yang terjadi? apa papa baru saja memarahimu?" tanya Zayn beruntun.

__ADS_1


"Seperti biasa Zayn papa pasti akan marah jika aku melakukan sedikit kesalahan, suaraku begitu sakit ketika harus bernyanyi aku merasa sesak mendengar suara alunan melodi piano" ujar Alice tanpa sadar mengeluarkan air matanya.


"Alice, kau tahu bukan papa itu orang yang keras? dia tidak pernah menerima sedikit kesalahan baik yang kecil maupun besar" ujar Zayn lirih.


"Tapi tetap saja dia tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada ku Zayn, aku merasa setiap nada yang keluar dari mulutku membuat telingaku sakit bahkan dadaku sesak ketika harus bernyanyi didepan papa" teriak Alice yang berhasil membuat Zayn bungkam.


Zayn melihat Alice dalam keadaan kacau tidak bisa berbuat apa-apa, masa depan mereka telah ditentukan bahkan sebelum mereka lahir, tapi Zayn tidak dipaksa terlalu keras seperti Alice.


Seorang wanita paruh baya yang memakai gaun malamnya yang sedikit terbuka di bagian dada masuk ke ruangan musik, dia melihat putra dan putrinya yang duduk di lantai, bibirnya gemetar tidak bisa mengatakan apapun.


Alice menyadari keberadaan ibunya malah menatap tajam ibunya seperti melihat musuhnya sendiri.


"Buat apa kau kemari?" bentak Alice kuat.


"Alice, mama cuma ingin me.." belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya, Alice sudah memotongnya, "Sudah berapa kali aku katakan jangan pernah menunjukkan wajahmu jika aku sedang berada di ruangan ini," teriak Alice.


Anna yang diteriaki oleh putrinya merasa dadanya sesak dan sakit di waktu yang bersamaan seakan-akan dia baru saja ditusuk dengan benda tajam, Zayn menatap ibunya merasa sedikit iba.


"Alice, kau tidak boleh berbicara kasar seperti itu pada mama" ujar Zayn tegas.


"Apa kau membela dia? kau sama saja Zayn" ucap Alice.


"Bagaimanapun dia ibu kita, kita harus menghargai dia" ujar Zayn bijak.


"Tidak ada orang yang ingin memiliki ibu seperti dia yang tidak tahu malu" ucapnya melayangkan tatapan tajamnya pada ibunya.


"Alice tutup mulutmu" teriak Zayn tidak terima ibunya dihina


"Apa yang ku katakan itu semua benar! kau tahu kita tidak akan lahir jika saja dia tidak memiliki keberanian dengan naik ke ranjangnya papa" teriak Alice yang tidak mau kalah.


Plak..


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Anna khawatir tapi Alice malah menolaknya.


Alice memegang kerah piyama Zayn dan menariknya, "kau tidak punya hak memukul ku," Alice berteriak kuat pada Zayn.


Zayn tahu jika dia sudah melakukan kesalahan dengan menampar Alice tapi dia tidak sengaja melakukan itu, seandainya saja Alice tidak menghina ibu mereka pasti dia tidak akan mengangkat tangannya pada Alice.


Alice mencengkeram kuat bahu Zayn dan memandang dia dengan tajam, "kau sama saja dengan ibumu," ucapnya memukul dada Zayn lalu menolaknya.


Untung saja Zayn bisa menjaga keseimbangannya sehingga dia tidak terjatuh, Alice melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Anna yang masih tergeletak di lantai dan Zayn.


Zayn mendekat ke ibunya dan membantunya berdiri, "mama apa ada yang sakit?" tanyanya memeriksa setiap inci tubuh ibunya.


"Tidak ada yang sakit sayang selain hatiku" balas Anna menyentuh dadanya.


"Ma, tolong maafkan Alice!dia tidak ingin melakukan ini" mohon Zayn berharap ibunya bisa memaafkan saudaranya.


"Tanpa kau minta mama pasti akan memaafkan Alice, sayang ini sudah malam pergi tidur sekarang, besok kau sekolah" ujar Anna lembur.


"Baik ma," balas Zayn mencium kedua pipi ibunya.


Zayn pergi dari ruangan musik dan tinggallah Anna yang masih tetap berdiri di ruangan itu, Anna menjatuhkan tubuhnya yang dan mengeluarkan isak tangisnya.


"Seandainya aku punya keberanian mungkin aku tidak akan diam saja melihat putriku diperlakukan seperti itu" gumam Anna menangis sesenggukan.

__ADS_1


Tidak ada siapapun yang berada di ruangan tersebut selain dirinya, cuma dinding saksi yang melihat dan mendengar betapa hancurnya dan rapuhnya dia.


.................................................................


Semua orang berkumpul untuk sarapan pagi seperti biasa tidak ada obrolan di antara mereka, cuma ada suara dentingan sendok dan garpu, sampai seorang pria paruh baya membuka suaranya.


"Alice, setelah selesai sekolah kau harus langsung pulang ke rumah,papa tidak ingin mendengar alasan apapun, pukul 3 sore kau sudah harus berada di ruangan musik" ucap hans tegas dengan nada yang mengandung perintah.


"Tapi papa Alice sudah ada janji dengan teman Alice" ucapnya pelan menunduk kepalanya.


"Papa tidak peduli dengan hal itu" ucap Hans menatap tajam Alice.


"Sayang, kau tidak perlu tegas seperti itu, kau bisa bukan beri Alice waktu untuk menghabiskan waktu dengan teman-temannya" bujuk Anna.


"Baik, aku akan memberikan dia waktu satu hari untuk beristirahat dan besok jangan lupakan untuk latihan karena kau harus bernyanyi untuk penyambutan Auristella di hari Senin" ujar Hans masih tetap dengan suara tegas.


Alice mendengar itu sedikit merasa lega dan menarik sudut bibirnya, Anna melihat putrinya yang bahagia juga merasa bahagia karena baginya kebahagiaan anak-anaknya adalah nomor satu.


"Sayang, aku harus berangkat ke kantor sekarang" ujar Hans seraya beranjak dari kursinya.


Anna sedikit merapikan dasi suaminya dan juga mencium telapak tangan Hans, "hati-hati sayang" ujarnya dengan suara lembutnya.


Hans mencium kening Anna seperti biasa, dia selalu melakukan hal ini terhadap Anna, dia berkata, "aku pergi sayang," ucapnya.


Anna menatap punggung suaminya yang menghilang dari balik pintu besar yang kokoh, dia melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda, Alice dan Zayn selesai memakan sarapan mereka, Zayn berpamitan pada ibunya tapi tidak dengan Alice.


"Ma, Zayn pamit" ucap Zayn lembut.


"Belajar yang rajin sayang,dan bawa motornya jangan ngebut" nasehat Anna pada putranya.


Alice berdengkus kasar melihat Zayn berpamitan dengan ibunya, dia memanggil Zayn dengan suara yang keras, "Zayn, sampai kapan kau akan terus berpamitan pada wanita itu," teriaknya.


Mereka berdua memandang Alice yang berdiri di dekat motornya Zayn, hati Anna sedikit sakit mendengarnya bukan panggilan ibu atau mama melainkan wanita itu seakan-akan dia orang asing di hidup putrinya.


Zayn bisa melihat mata ibunya yang sudah berkaca-kaca, dia menghembus nafasnya kasar dan berkata, "mama, jangan dengarkan perkataan Alice! dia sedang kesal pada papa tapi cuma kepada mama dia bisa meluapkan kekesalannya" ujarnya.


"Jangan khawatir Zayn, aku bisa memaklumi hal ini mungkin cuma dengan ini dia bisa meluapkan amarahnya" balas Anna lirih.


"Ma...."


"Berangkatlah sekarang sayang nanti kau terlambat," ucap Anna.


Zayn melangkah kakinya mendekat ke motornya, Alice sudah duduk terlebih dahulu tanpa menunggu Zayn, Alice menatap tajam Zayn dan berkata, "buat apa kau menghargai wanita itu?".


"Mau berapa kali aku menjelaskan kau tidak akan pernah mengerti," balas Zayn ketus sembari memakai helm pada kepalanya.


Zayn menjalankan motornya yang meninggalkan pekarangan rumah, Anna menatap kepergian anaknya, dia menghembuskan nafasnya dan memijit pelipisnya.


"Mungkin ini sudah takdirku, tuhan menghukum diriku karena aku telah merebut suami dari wanita lain" gumamnya kecil menatap dedaunan.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.

__ADS_1


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian.


See you


__ADS_2