
Galaksi terdiam layaknya sebuah patung di koridor, dia tidak ada menunjukkan tanda-tanda ingin beranjak dari sana sampai tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
Galaksi menoleh, "apa?"
"Lo ngapain di sini, cepat kejar!" ucap Zayn.
"Buat apa gue kejar?"
"Goblok," ujar Felix memukul kepala Galaksi. "Kalau lo enggak mau kejar biar gue aja," ucapnya mengambil ancang-ancang lari tapi kerah bajunya di tahan Zayn.
"Lepasin enggak!"
"Lo jangan ambil kesempatan dalam kesempitan dong," sambung Chiko.
"Si, cepat lo kejar," timpal Vino.
"Males gue," balas Galaksi berbalik arah.
"Lo mau kemana?" tanya Chiko.
"Mau tidur di UKS pada repot-repot kejar Aurora," balasnya santai.
Mereka mendelik mata tidak percaya apa yang baru saja diucapkan oleh Galaksi.
"Emang brengsek Galaksi, enggak tahu diri," sewot Felix.
"Gue jadi Aurora udah gue hajar tuh anak," timpal Vino.
"Galaksi memang cowok brengsek," sambung Zayn.
"Kita ikuti aja itu anak!" ucap Vino tegas tanpa penolakan.
Mereka mendengar perintah Vino mau tidak mau terpaksa mengikuti Galaksi yang punggungnya sudah menghilang dari pandangan mereka.
...****************...
Aurora berlari tidak tentu arah dengan keringat sebiji jagung yang sudah mengalir dari dahinya, tanpa secara sengaja ia menabrak seorang wanita yang sedang membawa setumpuk buku sehingga tubuh mereka mendarat di lantai.
"Auhhhhh....." lirih wanita tersebut.
__ADS_1
Aurora yang mengelus bokongnya yang merasa sakit mendengar suara lirih wanita itu dan betapa syok dirinya mengetahui wanita yang dia tabrak adalah Auristella.
"Maafkan aku, madam!" ucapnya membantu Auris berdiri dan membereskan buku-buku yang tergeletak di lantai.
"Apa anda baik-baik saja? ada yang terluka? Apa yang harus aku lakukan? aku membuat seorang pianis terkenal terjatuh," tanyanya bertubi-tubi.
Auris menyunggingkan senyum melihat tingkah polos Aurora, padahal dirinya cuma jatuh di lantai Aurora mengkhawatirkan dirinya seakan-akan dia baru saja terjun dari gedung pencakar langit.
"Aurora stop! Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja," ujar Auris dengan nada halus.
Aurora menghela nafas dan merasa lega, "syukurlah, aku pikir Anda akan menuntut ku karena insiden ini," ucapnya.
"Buat apa aku menuntut dirimu?"
"Biasanya orang kaya akan menuntut walaupun mereka terpeleset karena kesalahan mereka sendiri," jawabnya polos mengingat episode ikan terbang yang kemarin ia lihat.
"Sepertinya kau kebanyakan menonton tayangan yang tidak sesuai dengan umurmu," ucapnya terkekeh kecil.
Auris tidak pernah bertemu dengan gadis yang memiliki tingkah polos seperti Aurora, gadis-gadis yang biasa ia jumpai sekali ia lihat ia bisa tahu sifat asli mereka.
"Aurora kenapa kau berlarian di koridor? Harusnya kau berada di kelas sekarang bukan?" tanya Auris.
"Jadi, kau tidak sibuk sekarang, ayo ikut aku dan tolong bawa buku-buku ini," ucap Auris menyerahkan setumpuk buku ke tangan Aurora.
Auris melangkah kakinya dan Aurora mengikuti kemana Auris, mereka berjalan dan berhenti. Auris membuka pintu tersebut dan meminta Aurora untuk masuk.
"Letakkan saja di sana," ucap Auris menunjuk meja yang berada di dekat biola.
Aurora meletakkan buku-buku tersebut dan ia memperhatikan sekeliling ruangan yang ia masuki. Bisa ia lihat sebuah piano yang terletak di tengah ruangan, alat musik Selo yang berdiri tegak di sudut ruang dan bangku-bangku tribun.
"Apa ini ruangan anda?" tanya Aurora.
"Iya, ini ruangan pribadiku untuk mengajar. Aku memintanya langsung dengan pendiri sekolah ini," papar Auris.
"Apa kau mau mencoba memainkan piano itu untukku?"
Aurora terdiam beberapa saat, "maaf, aku tidak bisa bermain piano,"ucapnya.
"Kau bukan tidak bisa bermain tapi kau takut untuk memainkan piano ini, bukan?"
__ADS_1
Aurora tidak bisa mengatakan apapun karena yang barusan diucapkan oleh Auristella itu benar, ia takut memainkan piano tersebut dan bagaimana jika ia salah menekan tuts piano.
Auris melihat Aurora diam menyunggingkan senyumannya, "tidak apa-apa, ayo duduk!"
Auris mengiring Aurora duduk di depan piano.
"Kenapa kita duduk di sini?" tanya Aurora.
Auris tidak menanggapi pertanyaan Aurora yang ada malah jari-jari tangannya menari di atas tuts dan menghasilkan melodi yang begitu indah.
Aurora melihat permainan Auris begitu terpukau dengan resital piano yang ia mainkan.
"Apa kau tahu karya siapa yang aku mainkan?" tanya Auris.
"Melodi yang anda mainkan tadi tentu saja aku tahu, itu karya Beethoven – Symphony No. 9," papar Aurora percaya diri.
"Dan tebak kunci piano ini," perintah Auris yang tangannya sudah menari kembali.
"Symphony No. 40 Mozart," jawabnya cepat.
"Lihat, kau mengetahui kunci not piano yang ku mainkan, orang biasa menganggap itu nada yang sama. Itu artinya kau memiliki bakat di bidang musik, Aurora aku bersedia mengajarimu bermain piano dan bernyanyi seriosa apa kau mau?" tanya Auristella secara tiba-tiba yang membuat Aurora bingung.
Auristella melihat mimik wajah Aurora yang kebingungan merasa mengerti pasti gadis itu bingung dengan apa yang ingin dia jawab.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, namun aku ingin kau mencari alasan kenapa kau harus bermain musik, karena musik merupakan perasaan tersirat yang ingin seseorang sampaikan," jelas Auris.
Aurora mengangguk kepalanya layaknya anak kecil yang mendengar omelan ibunya, Auris tidak tahan menahan tertawa menengok tingkah polosnya.
"Aurora sini tanganmu," pintanya mengulurkan tangannya.
Aurora membalas uluran tangan tersebut dan Auris mengarahkan tangannya untuk menekan tuts piano secara perlahan, Aurora merasa perasaan yang tidak biasa dari tubuhnya biasanya ia tidak terbiasa orang menggerakkan tubuhnya tapi kenapa dengan Auris tidak, justru ia merasa nyaman dan ingin terus melakukannya.
Jari-jari tangan Aurora menari dengan lincah seakan ia pianis profesional, Auris melihat kelincahan jari-jarinya memilih melepaskan tangannya dan membiarkan Aurora bermain sendiri.
Terdapat seorang gadis dengan rambut yang terurai berdiri di depan pintu ruangan tersebut, ia terus memandang Aurora yang duduk dengan Auris.
Ia mengepalkan tangannya dan melayang tatapan tajamnya yang tidak menyukai keberadaan orang tersebut di ruangan ini.
"Wait and see," ucapnya tersenyum smirk
__ADS_1