Fille Forte

Fille Forte
Rekening


__ADS_3

Aurora dan Citra berlari sepanjang koridor sampai mereka berhenti karena merasa lelah.


Citra menyentuh lututnya dan mengatur napasnya tersengal, "Ra, kenapa kau berlari?" tanyanya.


Aurora mengaturnya nafasnya terlebih dahulu, "karena aku takut" jawabnya.


"You say you're afraid? Kau baru saja menyemprotkannya dan kau bilang takut" ucap Citra dengan nada tinggi.


Aurora tersenyum cengengesan dan menggaruk tengkuknya, "kakak,"panggilnya.


"Iya, apa?"


"Kayaknya aku harus pergi sekarang"


"Aurora, ini masih terlalu awal jika kau pergi sekarang"


"Tapi aku punya urusan kak, tolong sampaikan pada yang lain" ucap Aurora lembut.


"Ya udah kalau gitu, hati-hati Ra!" balas Citra.


"Bye kak" ujar Aurora melambaikan tangannya.


Aurora melangkah kakinya pergi menuju gerbang sekolah, Citra memandang punggung Aurora yang semakin lama menghilang dari pandangannya.


.................................................................


Terdapat beberapa orang pria yang berada di UKS, ada yang memilih berbaring, bermain game dan ada seorang pria yang mengompres matanya dengan air.


"Sialan itu cewek!" umpat Felix.


"Kenapa lagi lo?" tanya Zayn sembari main game.


"Lo lihat aja sendiri" balas Felix ketus mengompres matanya.


"Lix, siapa yang lakuin ini ke lo?" tanya Vino dengan menutup matanya.


"Siapa lagi kalau bukan itu cewek" balas Felix ketus.


"Cewek yang kemarin?" tanya Reza.


"Iya, siapa lagi yang ngelakuin ini kalau bukan dia" omel Felix layaknya ibu kost.


"Tapi gue salut sama itu cewek" sambung Zayn.


"Gue juga sama" sambung Chiko.


"Baru kali ini ada cewek yang enggak takut dengan kita" timpal Vino.


"Lix, coba lo dekati itu cewek dan buat dia baper baru itu lo tinggalin, pasti seru" ujar Vino tersenyum smirk.


"Yakin itu cewek akan baper?" tanya Zayn remeh.


"Maksud lo?" tanya Reza.


"Gue bukan apa tapi gue rasa itu cewek berbeda dengan cewek yang sering dekati kita" jelas Zayn.


"Dari dia nusuk Felix aja kita tahu itu jika dia bukan gadis sembarangan" timpal Chiko.


"Tidak usah pikirkan itu. Lix, dekati itu cewek dan buat dia terperangkap dalam jebakan lo" sambung Vino tersenyum licik.


"Vin, lo bilang aja ingin lihat sih Felix ditusuk dua kali itu cewek, bukan?" ucap Reza yang mengerti perkataan Vino.


"Ternyata tertebak" kekeh Vino.


"Sialan lo kampret" umpat Felix melemparkan bantal ke Vino.


Vino langsung menangkap bantal dan menjulurkan lidahnya ke Felix, "bleh.... enggak kena" ejeknya.


"Teman sialan lo" umpat Felix melayangkan tatapan tajam terhadap Vino.


"Mata lo itu ingin gue congkel" seloroh Vino.


"Udah diam lo berdua" timpal Reza melemparkan bantal kepada Felix dan Vino.


"Kampret" ucap Felix dan Vino kompak.


Reza terlihat acuh tak acuh yang ada ia malah santai bermain game dengan Zayn.


§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§


Citra berjalan ke kantin baru saja ia melangkah ia bisa mendengar bisikan orang-orang mengenainya, ia memilih untuk tidak mempedulikan hal itu.


Citra menelusuri sudut kantin sampai ia melihat Raline yang melambaikan tangannya, Citra berjalan ke meja dan duduk dengan yang lainnya.


"Aurora mana kak?" tanya Raline mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Aurora.


"Iya kak, Aurora mana?" tanya Xylona lagi.


Citra menghembuskan nafasnya kasar, "Aurora diskors" ucapnya pelan.


"Hah kok bisa!" teriak mereka semua kompak.


"Gimana bisa Aurora diskors?" tanya Xylona.


"Pasti itu ulah sih Jennie" timpal Shawnette.


Pertanyaan beruntun yang diajukan ke Citra dan omelan mereka membuat kepala Citra pusing.


"DIAM!" teriak Citra lantang yang berhasil membuat mereka kaget dan terdiam, dan seluruh mata mengarah ke arah mereka.

__ADS_1


Citra tersenyum manis, "gini kan enak" ucapnya.


Citra menarik minuman yang berada di tangan Shawnette lalu meminumnya tanpa rasa dosa.


Shawnette yang melihat minumannya diminum oleh Citra cuma bisa mengelus dadanya dan berharap stok kesabarannya bertambah.


"Hah lega. Sampai mana kita tadi?" tanya Citra dengan wajah cerah.


"Yang Aurora diskors kak" balas Raline seraya minum jus.


"Oh ya, Aurora diskors sama bu Jennie" ucap Citra mengambil gorengan Xylona.


"Udah yakin gue pasti ibu Jennie yang lakuin ini" timpal Shawnette dengan nada kesal.


"Alasan Aurora diskors karena apa?" tanya Raline polos.


"Karena nusuk Felix" balas Citra kesal.


"Pasti Tante Viona" decak Shawnette.


"Ibunya kak Felix?" tanya Xylona.


"Iya" balas Shawnette ketus.


Ketika mereka sedang berbicara mengenai Aurora, datanglah segerombolan pria yang duduk bersama mereka.


Para pria itu tanpa meminta izin langsung mendaratkan bokong mereka pada bangku.


Shawnette melayangkan tatapan sinis, "buat apa kalian kemari?" tanyanya ketus.


"Tenang baby, kita cuma ingin ngobrol aja dengan kalian" jawab Felix merebut minuman Citra.


"Cih" decak Citra memandang Felix sinis.


"Oh ya, di mana teman kalian itu?" tanya Felix berbasa-basi.


"Jangan pura-pura tidak tahu!" balas Xylona dingin.


"Jika kalian bertemu dengan Aurora sampaikan padanya aku akan memberikan kejutan yang menarik untuknya" ujar Felix tersenyum manis.


Orang-orang yang melihat senyuman Felix pasti akan terpesona tapi tidak dengan Shawnette dan yang lainnya, mereka tahu senyuman Felix terdapat maksud tersembunyi.


"Nette, apa kabar Galaksi?" tanya Zayn memecahkan keheningan.


"Dia baik" jawab Shawnette singkat.


"Kenapa dia tidak masuk ke sekolah selama beberapa hari ini?" tanya Chiko.


"Dia sedang tidak mood" jawabnya asal.


Mereka cuma beroh - ria dengan mengangguk kepala mereka, dan mengerti perkataan Shawnette.


Seorang gadis dengan seragam sekolah berjalan di alun-alun kota, banyak orang yang memperhatikan dirinya tapi ia tidak ingin mengambil pusing.


Ia berjalan dengan rambut tergerai dan terkadang ia juga melihat sekitarnya, mulai dari melihat aksesoris yang dijual di jalan dan beberapa stan makanan yang berhasil membuatnya tergiur.


Aurora mampir pada stan makanan yang menjual sosis, ia memesan sekitar 20 tusuk sosis, ia memakan sosis bakar begitu lahap bahkan dia sudah menghabiskan sekitar 15 sosis bakar.


"Ini enak sekali!" ucapnya memasukkan sosis ke mulutnya, "aku tidak menyesal sama sekali jika aku diskors karena aku bisa berburu kuliner seperti ini" ucapnya riang.


Aurora melanjutkan memakan sosisnya sampai pandangannya terarah pada sebuah toko di seberang jalan, ia bisa melihat apa yang dijual toko itu melalui kaca.


Sebuah toko musik yang memperlihatkan beberapa alat musik dari jendela toko, Aurora merasa tertarik dengan toko musik tersebut.


Ia menghabiskan semua sosisnya terlebih dahulu lalu membayarnya, Aurora langsung melangkahkan kakinya menyebrang jalan dan berdiri di depan kaca toko musik tersebut.


Ia melihat sebuah biola yang terbuat dari kayu yang berhasil menarik perhatiannya, "biola itu begitu indah!" ujarnya.


Tidak tahu apa yang mengendalikan dirinya, ia memilih masuk ke dalam toko tersebut, ia dapat melihat berbagai alat musik dan bau khas alat musik.


Aurora melihat sebuah piano klasik yang terbuat dari kayu, Aurora menyentuh setiap sisi dari piano tersebut, tanpa ia sadari jari-jarinya menekan tuts piano yang berhasil menghasilkan melodi yang indah.


Aurora tersenyum memainkan piano tersebut sampai seorang pegawai toko tersebut menghampirinya lebih tepatnya alunan piano yang memanggilnya kemari.


Aurora menyelesaikan permainannya sampai terdengar suara tepukan tangan.


Prok......prok.....


Aurora berbalik dan melihat seorang wanita dengan seragam kerja, ia bisa perkirakan usia wanita ini pasti sekitar 21 tahun.


"Aku tidak pernah mendengar permainan sebagus itu" ujar pegawai toko tersebut memuji Aurora.


Aurora meremas ujung roknya, "terimakasih dan maaf aku memainkannya tanpa izin," ucapnya membungkuk sedikit badannya.


"Tidak apa-apa, perkenalkan aku Clara selaku manajer toko ini" ujar Clara mengangkat tangannya.


Aurora langsung membalas uluran tangan Clara, "Aurora" ucapnya.


"Apa kau tertarik dengan piano itu?" tanya Clara tersenyum pada Aurora.


"Aku sangat tertarik dengan piano" balas Aurora yang tidak melepaskan pandangannya dari piano tersebut.


"Piano yang baru saja kau mainkan itu keluaran terbaru, dan merupakan piano kelas tinggi karena menggunakan bahan utamanya adalah gading gajah" papar Clara.


"Gading gajah?" tanya Aurora ragu.


"Iya, ini terbuat dari gading gajah untuk melapisi kayu sprice sehingga melodi yang dihasilkan begitu jernih dan indah" tutur Clara.


Aurora beroh-ria dan menganggukkan kepalanya yang berarti mengerti perkataan Clara.

__ADS_1


Clara tersenyum, "apa kau ingin membelinya?" tanyanya.


Aurora terdiam untuk beberapa saat, melihat Aurora terdiam Clara langsung mengeluarkan jurus seribu bujukannya.


"Kau wajib membelinya karena piano itu begitu unik dan kualitasnya sudah tidak diragukan lagi" bujuk Clara.


"Tapi...." belum sempat Aurora menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh Clara, "jika kau membeli piano ini sekarang aku akan memberikanmu diskon 15%, bagaimana? apa kau tertarik?" tanyanya.


Aurora sedikit tergiur dengan penawaran yang diberikan oleh Clara, "aku sangat menyukai piano ini, mungkin udah saatnya aku kembali belajar lagi dan sudah waktunya Sean mempelajari musik" ucapnya dalam hati.


"Bagaimana?" tanya Clara memecahkan lamunan Aurora.


Aurora tersenyum, "i want it," balasnya.


"Aku akan membuat cek untukmu"


"bisakah kau mengirim piano ini sekitar 2 minggu lagi?" tanya Aurora.


Clara mengerutkan keningnya, "why?" tanyanya balik.


"Aku ingin memberikan piano ini sebagai hadiah ulang tahun untuk adikku" jawab Aurora riang.


"Oh so sweet, sesuai permintaanmu" ucap Clara.


"Terimakasih"


"Tunggu sebentar, aku akan membuat cek- nya" ucap Clara melangkah kakinya meninggalkan Aurora.


Aurora memandang piano yang sudah menjadi hal miliknya, "sudah berapa lamanya aku tidak memainkan piano!" ucapnya pelan menyetuh tuts piano.


Clara menepuk bahu Aurora dan Aurora langsung berbalik melihat Clara yang sudah berdiri di depannya.


"Ini cek-nya" ucap Clara menyodorkan sebuah kertas kecil pada Aurora.


Aurora menerima kertas itu dan memberikan kartu kredit pada Clara, Clara berjalan menuju kasir Aurora mengikutinya.


Setelah semua transaksi selesai, Aurora memutuskan pergi dari toko tersebut, Aurora berdiri sembari memandang jalan raya.


Aurora menghembuskan nafasnya kasar, "Aurora, kau menghabiskan biaya hidupmu selama satu tahun untuk sebuah piano" ucapnya pelan.


"Apa aku harus pergi ke bank untuk melakukan beberapa penarikan dan sekalian mengecek saldo!" ucapnya.


Aurora memilih berjalan kaki saja ke bank karena ia melihat di maps jarak dari toko musik ke bank begitu dekat cuma membutuhkan waktu 15 menit.


Aurora berjalan dengan bersenandung kecil, ia tiba di sebuah bank. Ia langsung masuk ke dalam dan betapa beruntungnya ia tidak perlu mengantri karena tidak ada begitu banyak orang yang datang kemari.


Aurora menghampiri petugas bank, dan ia disambut begitu ramah oleh teller bank.


"Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya teller ramah.


"Aku ingin melakukan penarikan dan memperbarui kartu kredit dan juga memeriksa saldo" jawab Aurora ramah.


Petugas bank itu mengerti, ia meminta buku tabungan Aurora dan ia memberikannya pada teller tersebut.


"Berapa saldo yang ingin anda tarik?" tanya teller.


"Sekitar 20 juta" balas Aurora.


Petugas tersebut memberikan uang yang diminta Aurora begitu juga dengan bukunya, Aurora memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya.


Aurora memilih duduk di kursi yang disediakan oleh bank, ia melihat buku tabungannya, ia bingung melihat saldo di rekening, bukan karena saldo itu berkurang melainkan saldo yang ada di rekeningnya malah bertambah.


"Pasti petugas ini melakukan kesalahan" keluhnya.


Aurora menghampiri teller itu, ia menunjukkan buku tabungannya, "maaf, tapi anda melakukan kesalahan" ucapnya sopan.


Teller bank itu melihat buku itu dan mengerutkan keningnya, "maaf, tapi kesalahan seperti apa yang anda maksud?" tanyanya sopan.


"Ini, tidak mungkin saldo di rekeningku sebanyak ini, pasti anda salah" ujar Aurora.


"Tapi, ini memang keseluruhan saldo anda" balas teller.


"Saya ingin anda mengeceknya sekali lagi, tolong" pinta Aurora sopan.


Teller itu mengecek sekali lagi sesuai permintaan Aurora, teller tersebut memberikan kembali buku itu ke Aurora.


"Tidak ada kesalahan, dan ini memang saldo anda" tutur teller.


"Bagaimana bisa saldo di rekeningku sebanyak ini jika aku sering melakukan beberapa penarikan!" ucap Aurora.


"Ketika saya mengecek rekening anda setiap bulan selalu ada uang yang ditransfer ke rekening anda, bukan satu saja tapi dua" jelas teller.


"Ada orang yang mentransfer uang ke rekeningku? Siapa dia?" tanyanya penasaran.


"Saya tidak tahu" balas petugas itu sopan.


Aurora tidak ingin mengambil pusing dengan masalah saldo yang ada di rekeningnya karena ia tahu siapa yang mengirimkan uang ke rekeningnya.


Jika saja teller tersebut mengatakan satu orang tentu saja dia tahu siapa yang mengirimkannya, tapi teller tersebut mengatakan dua dan itu berhasil membuat ia penasaran siapa orang yang mentransfer uang ke rekeningnya.


"Siapa yang mentransfer uang kemari?" tanyanya dalam hati dengan rasa sedikit penasaran.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update

__ADS_1


See you


__ADS_2