Fille Forte

Fille Forte
Dream Catcher


__ADS_3

"Guys apa aku boleh cerita?" ucap Aurora pelan.


"Cerita aja" balas Citra.


"Aku dulu korban bully" ucap Aurora tersenyum paksa.


Mereka menutup mulut mereka dan tidak percaya dengan apa yang Aurora katakan.


"Waktu kalian mengajak aku bergabung dengan kalian sebenarnya aku menolak kalian karena aku takut hal yang sama akan terulang kembali" ucap Aurora tanpa sadar mengeluarkan air matanya.


Shawnette menyentuh tangan Aurora, "nangis aja Ra, mungkin itu cara untuk melepaskan semua beban yang ada" ucapnya.


Mereka mengerti dengan apa yang dialami oleh Aurora terutama Citra ia jadi tahu alasan kenapa Aurora membela dirinya karena Aurora melihat Citra seperti melihat dirinya dulu.


"Udah jangan nangis nanti cantik ya hilang, ayo senyum" ujar Citra menarik bibirnya dengan kedua tangannya.


"Daripada kita menangis dan mengingat masa lalu lebih baik kita mencari makanan" ujar Raline.


"Bilang aja kali kalau lapar" ledek Xylona.


Raline mengerucutkan bibirnya yang malah membuat semua orang ingin menonyor bibir Raline.


Mereka berdiri dan menepuk belakang tubuh mereka agar pasir yang menempel di pakaian mereka terjatuh.


Mereka berjalan menyusuri sepanjang pantai dan angin berhembus sejuk menerbangkan rambut mereka, mereka berjalan dan melihat sebuah stan yang menjual aksesoris.


"Guys, lihat ada orang yang jualan di sana!" ujar Citra menunjuk sebuah gerai.


"Kita ke sana yuk!" ajak Aurora.


Mereka menyetujuinya dan berjalan ke sebuah gerai, mereka melihat ada banyak aksesoris yang lucu mulai dari gelang, kalung, dan berbagai aksesoris yang menarik.


"Gelang ini lucu, kan?" tanya Shawnette memegang sebuah gelang yang bewarna abu-abu.


"Iya, ini lucu" balas Citra memandang semua aksesoris yang tersusun rapi di sebuah rak.


Aurora memandang semua aksesoris yang ada tapi dia belum menemukan benda yang disukainya, sampai pandangannya bertemu pada sebuah dream catcher yang berbentuk lingkaran dan jaring-jaring yang tersusun rapi di bawahnya, Aurora menyentuh dan melihat dream catcher.


"Ini indah" ucap Aurora pelan.


"Tentu saja itu indah" balas seorang pegawai toko.


Aurora mendengar suara seseorang di sampingnya, ia menoleh dan melihat seorang nenek yang memakai kacamata.


"Anda siapa?" tanya Aurora sopan.


"Aku pemilik toko ini dan panggil saja aku nek Anggi, apa kau sangat menyukai dream catcher itu?" tanya nek Inggit.


"Aku sangat menyukai karena bentuknya lucu" jawab Aurora melihat dream catcher.


"Apa kau tahu fungsi dari benda itu?"


"Aku cuma tahu benda ini sering menjadi hiasan di kamar"


"Kau salah" balas nenek tersebut.


Aurora mengerutkan keningnya, "maksud nenek apa?" tanyanya.


"Dream catcher ini bisa menangkap mimpi-mimpi yang baik dan menjauhkan kita dari mimpi buruk" tutur nek Inggit lembut.


"Apa nenek percaya dengan itu?"


"Aku tidak bisa mengatakannya tapi masih ada satu hal yang bisa dilakukan dream catcher" ujar nek Inggit.


"Apa?" tanya Aurora sedikit penasaran.


"Jika kau memberikan dream catcher pada orang yang sangat kau sukai dijamin pria itu akan menjadi cinta sejati yang kau miliki" ujar nek Inggit tersenyum padanya.


Nek Anggi meninggalkan Aurora agar dia bisa memilih aksesoris, Aurora memandang nek Inggit yang bercengkrama dengan teman-temannya.


"Apa yang nenek itu katakan benar?" ucap Aurora pelan menatap dream catcher di tangannya, "jika aku berikan ke kak Galaksi apa dia akan menjadi cinta sejati ku?" Aurora tersenyum dan pipinya bersemu merah.

__ADS_1


Aurora sedikit tertarik dengan dream catcher itu, dia mengambil 3 buah dream catcher yang bentuk dan warnanya berbeda.


Aurora menghampiri teman-temannya yang asyik melihat dan memilih gelang, Aurora mengambil sebuah gelang liontin bintang.


"Guys, ini cantik, kan?" tanya Aurora menunjukkan gelang itu.


Mereka menoleh dan melihat gelang liontin bintang yang dipegang Aurora, mereka memandang gelang itu sedikit takjub.


"Bagaimana gelang yang dipegang Aurora jadi gelang persahabatan?" usul Citra.


"Ide bagus" jawab Shawnette melihat gelang.


Mereka mengambil gelang liontin bintang dan juga bulan, mereka membayarnya pada nenek Anggi, Shawnette jangan tanya dia membeli berbagai macam aksesoris mulai dari jepit rambut, gelang, kalung dan anting-anting.


Xylona dia cuma membeli bandana, dan gelang. Citra dia hampir sama dengan Shawnette dan Raline dia cuma membeli gelang, kalung dan tali ikat rambut, sedangkan Aurora membeli hair clips, dream catcher, gelang, dan tali ikat rambut.


Mereka keluar dari gerai dan mengeluarkan gelang dari kantong belanjaan mereka.


"Kita tidak akan memakai gelang ini sendiri tapi yang lainnya yang akan memakainya, bagaimana?" usul Aurora.


"Setuju" balas mereka kompak.


Xylona memakai gelang pada Citra dan begitu juga sebaliknya, Raline memakaikan gelang pada Shawnette dan Aurora, dan Aurora memakainya juga pada Raline.


"Mulai sekarang kita adalah sahabat" ujar Shawnette menyodorkan tangannya.


Mereka yang melihat itu langsung menimpa tangan Shawnette dengan tangan mereka dan mengangkat ke atas, "we are Belle Fille" teriak mereka keras.



Mereka kembali ke pantai tapi ada yang berbeda, mereka malah main kejar-kejaran di sepanjang pantai dan terkadang mereka akan terjatuh dan juga berguling di atas pasir putih pantai.


"Capek" ujar Aurora berbaring di pasir.


"Aku harap kita bisa menghabiskan waktu seperti ini selalu" ucap Citra memandang langit senja.


"Aku harap di antara kita tidak akan ada yang berkhianat" ujar Shawnette pelan.


"Ayo dan jangan pernah ada yang berkhianat" ujar Xylona yang mengingat bagaimana Laquitta mengkhianati mereka.


"Ok...." balas mereka kompak.


Mereka memandang matahari terbenam dan sinar senja yang menghilang digantikan dengan langit malam yang bertabur bintang yang indah di angkasa.


"Pulang yuk, ini sudah malam" ajak Aurora.


"Ayo pulang, orang tuaku pasti marah kalau aku pulang terlalu malam" ujar Citra.


"Aku iri dengan kalian" ujar Xylona.


"Iri kenapa?" tanya Raline.


"Aku iri karena orang tua kalian akan mencari dan memarahi kalian jika pulang terlalu malam, tidak seperti aku" keluh Xylona.


"Memang orang tua Xylona kemana?" tanya Aurora.


"Mereka tidak tinggal bersama denganku sejak aku berumur 4 tahun dan mereka tidak pernah mengunjungi aku selain aku yang harus mengunjungi mereka di Prancis" ucap Xylona sedih.


Xylona adalah warga berkebangsaan Prancis, dia dikirim oleh kedua orang tuanya ke Indonesia ketika dia berumur 4 tahun dan sampai sekarang dia tidak tahu alasan dibalik kenapa dia dikirim di negara ini.


Mendengar kata Prancis membuat Aurora terdiam mematung dan ada sebuah suara yang melintas di kepalanya.


Kami adalah orang tuamu


Aurora menutup telinganya berharap tidak mendengar suara itu lagi tapi tetap saja suara itu masih terngiang di kepalanya sampai Citra menepuk pundaknya.


"Are you ok?" tanya Citra sedikit khawatir.


Aurora tersadar ia menoleh dan menggelengkan kepalanya, " aku baik-baik saja" ucapnya.


Citra mengangguk dan mempercayai apa yang dikatakan Aurora. Mereka berdiri dan menepuk sedikit bagian belakang mereka, mereka berjalan ke tempat mobil Xylona di parkir.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam mobil dan duduk, Xylona menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jalanan yang begitu sepi membuat mereka sedikit takut.


Mereka merasakan angin malam yang berhembus menusuk kulit mereka, dan rambut yang berkibar, selama perjalanan pulang mereka memandang bintang-bintang yang menghiasi angkasa.


"Aku berharap ada bintang jatuh" celetuk Raline.


"Lo yakin bintang jatuh tidak berbahaya?" tanya Shawnette.


"Aku pernah baca beberapa artikel yang mengatakan jika bintang jatuh bisa membahayakan bumi" sambung Citra.


"Tapi kalau boleh jujur bintang jatuh dan hujan meteor itu begitu indah dan apalagi Aurora" sambung Xylona.


"Terimakasih Xylona, aku tau aku itu indah" balas Aurora percaya diri.


"Gue bukan muji lo Ra, tapi gue muji Aurora fenomena alam" ucap Xylona ketus.


"Dalam hati Xylona sebenarnya muji Aurora indah, kan?" seloroh Aurora.


"Terserah asal kau bahagia" balas Xylona.


"Shawnette, kok lo dari tadi diam?" celetuk Citra.


Xylona melihat Shawnette yang malah sudah tertidur nyenyak, dia menggeleng kepalanya, "orang ya sudah tidur" ucapnya.


Mereka tertawa melihat Shawnette yang tidur nyenyak, setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit tiba di depan gedung apartemen Aurora.


Aurora turun dengan membawa barang-barang, "kalian hati-hati ya!" ucap Aurora.


"Bye Aurora, have a nice dream" ucap mereka kompak melambaikan tangan kecuali Shawnette yang sedang tidur.


Xylona menjalankan mobilnya meninggalkan gedung apartemen, Aurora melihat bayangan mereka yang sudah hilang, ia berjalan masuk ke gedung, dia masuk ke lift dan memencet tombol lantai 25.


Aurora tiba di lantai 25, dia tidak masuk ke unitnya melainkan dia harus mampir ke unit tetangganya terlebih dahulu untuk menjemput Sean.


Aurora menekan bel yang ada di dekat pintu masuk, tidak lama berselang keluar seorang pria jangkung dengan kulit coklatnya, dan dia memiliki rahang tegas.


"Kak Revan" ucap Aurora.


"Aurora, ayo masuk" ajak Revan.


Aurora masuk ke dalam unit Revan, dia duduk di atas sofa, Revan juga duduk di depan Aurora.


Aurora menyodorkan sebuah kotak yang berisi donat, dia meminta Xylona untuk mampir sebentar di toko kue yang berada di dekat apartemen.


"Ini untuk kakak, makasih karena telah menjaga Sean" ucap Aurora menyodorkan kotak.


"Kau tidak perlu sungkan seperti ini bagaimanapun kita tetangga, by the way makasih donat ya" ucap kak Revan tersenyum manis


"Sama-sama kak, Sean mana ya?" tanya Aurora mengedarkan pandangannya.


"Sean sudah tertidur di kamarku, kau bisa membawanya pulang besok kalau sekarang aku takut tidurnya akan terganggu" tutur Revan dengan suara beratnya.


"Baik kalau begitu besok aku akan menjemput Sean, terimakasih dan maaf mengganggu kak, aku pulang" ujar Aurora.


Revan mengantar Aurora sampai di depan apartemennya, Aurora menoleh, "maaf aku sudah merepotin kak" ucap Aurora lembut.


"Tidak apa-apa, masuk sana" balas Revan.


Aurora membuka pintu dengan sidik jarinya dan secara otomatis pintu tertutup dengan sendirinya, Aurora menghidupkan lampu dan berjalan ke kamarnya.


Aurora mulai membuka kantong belanjaan dan mencari dream catcher yang ia beli, Aurora memasang dream catcher itu di dekat jendela kamarnya.


"Aku harap dengan benda ini aku tidak akan pernah mimpi buruk lagi" gumamnya memandang dream catcher yang tergantung di jendela.


TBC


Don't forget to vote and comment


Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.


Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update

__ADS_1


See you


__ADS_2