
Aurora ke kelas terlebih dahulu untuk mengambil barang-barangnya, lalu memesan ojek online untuknya.
Aurora menunggu di depan gerbang sekolah, tidak ada satu pun orang lagi yang berlalu lalang di depan sekolah, ia menunggu sekitar 20 menit akhirnya ojek pesanannya tiba.
Aurora naik dan memakai helm yang diberikan oleh abang ojol, sepeda motor hidup dan mulai berjalan meninggalkan sekolah.
Aurora memandang langit senja yang hampir gelap, dia tidak beruntung untuk hari ini karena jalan yang dilalui sangat macet karena ini adalah waktu orang pulang kerja dan segala kesibukan lainnya, ia pasti akan pulang begitu larut.
Setelah menghabiskan waktu sekitar 1 jam akhirnya ia tiba di apartemen, Aurora membayar ongkos melalui via online, ia masuk ke dalam dengan berlari kecil.
Aurora menekan tombol lift yang membawanya ke lantai 25, "semoga Sean tidak marah denganku" ucapnya.
Lift tiba di lantai 25 Aurora keluar dan berjalan menuju unit Revan, Aurora menekan bel tidak lama kemudian pintu terbuka yang menampilkan seorang pria memakai sweater hitam.
"Kak Revan!" panggil Aurora.
"Ayo masuk Ra," ucap Revan dengan dagunya menunjuk di dalam unitnya.
Aurora masuk ke dalam, ia bisa melihat Sean yang sudah duduk di meja makan, Sean mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya ia menoleh dan dapat melihat Aurora.
"Sean" panggil Aurora lembut.
Sean tidak merespon panggilan Aurora, yang ada ia malah membuang muka dari Aurora dengan mengerucutkan bibirnya.
Aurora menghela nafasnya, "Sean" panggilnya lagi dan Sean tetap tidak meresponnya.
"Sean marah sama kakak?" tanya Aurora lembut mengelus kepala Sean.
"Udah tahu masih nanya" balas Sean ketus.
Aurora mengelus dadanya, ia tahu Sean pasti marah dengannya bagaimanapun dirinya juga salah karena lupa menjemput Sean.
"Kakak minta maaf, Sean enggak mau maafin kakak?" ucap Aurora.
Sean tidak menjawab sama sekali, ia malah diam dan fokus memakan ice cream, Revan melihat Sean seperti itu menghela nafasnya ia menarik kursi di samping Sean dan duduk.
Revan mengelus kepala Sean, "Sean, kenapa seperti itu pada kakak?" tanyanya lembut.
"Bilang sama kakak Sean enggak mau bicara dengan kakak" balas Sean ketus.
"Kenapa enggak mau bicara sama kakak?" tanya Revan masih dengan suara lembutnya.
"Karena kakak lupa jemput Sean,"
"Kakak tidak sengaja Sean,"
"Tapi tetap saja Sean marah"
"Sean, tidak boleh seperti itu pada kakak, bagaimanapun kakak yang merawat dan menjaga Sean" ujar Revan mengelus surai rambut Sean.
__ADS_1
Sean mengangguk kecil dan berbalik menghadap Aurora, "kakak, Sean minta maaf!" ucapnya.
"Sean nggak salah, kakak yang salah seharusnya kakak tidak boleh lupa jemput Sean" ucap Aurora serak.
"Kakak tahu Sean pikir kakak enggak jemput Sean karena kakak udah enggak sayang Sean lagi" ucap Sean polos mengeluarkan air matanya.
"Enggak, kakak sangat sayang sama Sean, kakak enggak mungkin ninggalin Sean" ucap Aurora menghapus air mata Sean.
"Kakak, janji gak akan ninggalin Sean" ucap Sean mengangkat kelingkingnya.
"Janji" balas Aurora menautkan kelingkingnya dengan kelingking Sean.
Sean memeluk Aurora dan tentu saja Aurora membalas pelukan Sean, Revan melihat adegan kakak beradik itu cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Sudah selesai nangis ya?" ejek Revan.
"Ih kakak" decak Aurora kesal.
"Udah ayo makan selak makanannya dingin" ajak Revan.
Aurora melepaskan pelukannya dan membawa Sean ke meja makan, Aurora menuangkan nasi pada piring Sean dan Revan beserta lauk pauk. Aurora menyuapi Sean seperti biasa.
"kakak, ayam ya" ucap Sean.
Aurora mengacak rambut Sean, "iya, ini ayamnya, enak kan?" tanyanya.
Sean mengangguk dengan mulut yang penuh makanan, Aurora merasa sangat gemas sampai ia menarik pipi Sean.
"Aduh.... Sean kenapa kau begitu lucu!" ucap Revan.
"Sean memang lucu dari lahir" balas Sean penuh percaya diri.
"Sean lucu tapi sayang makan aja masih disuapi kakak, artinya Sean enggak lucu dong" ledek Revan.
"Enggak, Sean itu lucu, imut sama keren" bantah Sean ketus.
"Sean enggak keren karena makan masih disuapi" ejek Revan menjulurkan lidahnya.
Wajah Sean memerah menahan kesal, Sean mulai mengeluarkan air matanya, "kakak" rengeknya.
"Cup...cup....Sean jangan nangis ya sayang" bujuk Aurora menghapus air mata Sean.
"Aduh masa orang keren nangis malu dong" seloroh Revan.
Aurora melayangkan tatapan tajam pada Revan, "kakak," peringat Aurora.
"Iya Ra," balas Revan yang malah senyum nyengir.
Aurora membujuk Sean agar berhenti menangis, Sean menurut dan kembali melanjutkan makan malam.
__ADS_1
Selesai makan Aurora mencuci piring padahal Revan sudah melarangnya tapi Aurora tetap lakukan karena ia merasa tidak enak sama Revan.
Selama Aurora cuci piring Sean dan Revan bermain di ruang tamu, selesai cuci piring Aurora memutuskan untuk pulang ke unitnya.
"Kak Revan, kami pamit!" ujar Aurora sopan.
"Ra, kamu aja yang balik, Sean enggak usah dia tidur sama kakak hari ini!" pinta Revan.
Aurora menggaruk tengkuknya dan tidak tahu harus menjawab seperti apa, "tapi kak, takutnya Sean merepotkan kakak," ujarnya.
"Tidak masalah, aku sudah lama tidak tidur dengan adikku Sean" balas Revan.
"Tapi kak....." belum siap Aurora menyelesaikan kalimatnya Revan sudah memotong, " tidak ada tapi-tapi, hari ini Sean tidur sama kakak," ucapnya tanpa ada penolakan.
Ia melihat Sean bisa ia lihat dari pupil mata Sean yang berharap bisa tidur dengan Revan.
Aurora menghela nafas, "Sean, malam ini tidur sama kak Revan!" ucapnya.
"Hore.....Sean tidur bareng kak Revan!" teriak Sean riang dengan lompatan kecil.
Aurora menarik sudut bibirnya melihat Sean melompat kesenangan, Aurora beralih menatap Revan dengan pandangan serius.
Revan yang merasa dipandang seperti itu oleh Aurora berhasil membuatnya mengerutkan keningnya, "Ra, ada apa?" tanyanya.
"Pokoknya besok Sean harus sekolah dan yang mengantarnya kakak!" putus Aurora begitu saja.
Revan mengelus dadanya dan menghembuskan nafasnya, "Iya Ra, besok kakak yang antar Sean" ucapnya pasrah.
"Terimakasih kakakku yang tampan" ucap Aurora centil.
"Kakak memang ganteng jadi tidak perlu dipuji segala" ucap Revan mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Ihhhh sombong amat" seloroh Aurora.
Aurora melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam, "kak, aku pulang!" ujarnya.
"Mari kakak antar" balas Revan.
Revan mengantar Aurora sampai di depan pintu unitnya, Aurora masuk ke dalam dan menghidupkan saklar lampu ruang tamu.
Aurora melepaskan sepatunya dan berjalan ke kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di kasur empuknya.
"Hari ini enggak usah mandi" putus Aurora.
Aurora merasa matanya begitu berat, "good night and have a nice dream" ucapnya seraya memeluk guling.
TBC
Don't forget to vote and comment
__ADS_1
Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.
Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update