
"Kak Vino" panggil gadis itu.
Vino berbalik dan dapat melihat seorang gadis dengan rambut pirang yang dibiarkan tergerai yang menatap dirinya dengan pandangan khawatir.
"Ngapain kau di sini?" tanya Vino dingin dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Aku ingin mengambil ini" jawab gadis itu menunjukkan ponsel di tangannya.
"Jangan pernah mengatakan apapun yang kau lihat di sini, Xylona!" desis Vino.
"Baik kak" cicit Xylona menundukkan kepalanya.
Vino berjalan mendekat pada Xylona dan mengangkat dagunya Xylona, "jika sampai orang-orang mengetahuinya orang yang pertama kali aku cari adalah kau, apa kau mengerti!" ujar Vino dingin menatap tajam Xylona
Vino melepaskan tangannya secara kasar dari dagu Xylona dan pergi meninggalkan Xylona sendiri di ruangan itu.
Xylona memandang punggung Vino y menghilang dibalik pintu ruang auditorium dan tersenyum, "kak Vino tadi keren amat" ucapnya riang.
Xylona sedikit melakukan lompatan kecil merasa senang, pasti orang-orang akan bingung dengan tingkahnya ini bukannya merasa terintimidasi dengan ancaman Vino ia malah senang.
"Aku harus beritahu semuanya" ujar Xylona bersemangat.
Xylona berlari keluar dari auditorium dan berlari menuju kantin, terkadang ia tidak sengaja akan menabrak orang tapi ia tidak mempedulikan hal itu.
Xylona tiba di kantin dan duduk di bangku tempat teman-temannya berada, mereka mengerutkan dahi melihat Xylona yang ngos-ngosan dan keringat yang bercucuran dari dahinya.
"Lo kenapa?" tanya Shawnette.
"Panjang ceritanya" jawab Xylona mengatur napasnya.
"Pendekkan" saut Raline.
"Makasih!" ucap Xylona yang malah merebut minuman Aurora dari tangannya dan meminumnya tanpa dosa sama sekali.
"Ihhhh Xylona kok minumnya aku diambil sih" decak Aurora.
"Sorry Ra, gue haus" balas Xylona senyum nyengir terhadap Aurora
Aurora yang melihat minumannya yang diminum oleh Xylona cuma bisa mengelus dadanya dan berharap stok kesabarannya masih banyak untuk menghadapi tingkah absurd Xylona ke depannya.
"Kenapa Xylona lari tadi macam orang dikejar setan?" tanya Citra seraya memakan gorengan.
"Panjang ceritanya kak" balas Xylona riang.
"Pendekkan!" saut Aurora.
"Pokoknya enggak bisa dijelaskan tapi ini sungguh....." ujar Xylona begitu bersemangat.
"Ya udah mending lo diam aja deh, kalau enggak ada yang mau dibilangin" timpal Shawnette ketus.
"Ihhh Shawnette...." rengek Xylona seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.
"Bukan teman gue" saut Raline dan semua mengangguk kecil membenarkan perkataan Raline.
"Kalian enggak ngerti tadi kak Vino mengan....." ucap Xylona yang segera menutup mulutnya.
Aurora mengangkat satu alisnya, "emang kak Vino ngapain Xylona?" tanyanya.
Xylona meremas ujung roknya dan bingung bagaimana cara memberitahu teman-temannya, Xylona membuang muka dari mereka bukannya merasa aman menghindari pertanyaan teman-temannya, yang terjadi malah Xylona mendapatkan tatapan tajam dari Vino yang duduk di sebelah meja mereka.
Xylona menelan salivanya dan segera berbalik arah, ia jiga menutup bagian wajahnya, mereka cuma bisa menghela napas melihat Xylona yang begitu aneh.
"Xylona, kenapa lagi?" tanya Shawnette sedikit ketus.
"Itu ada kak Vino di sebelah meja kita" jawab Xylona menunjukkan Vino dengan jari tangannya.
Mereka berbalik dan dapat melihat arah tatapan Vino yang mengarah pada Xylona, mereka sedikit merasa takut dengan tatapan Vino.
"Itu orang seram amat" ujar Raline.
"Iya, seram macam genderuwo" timpal Citra.
"Lona, emang kak Vino ngapain natap Xylona macam itu?" tanya Aurora.
"Aku akan ceritakan nanti tapi tidak di sini" ucap Xylona yang masih menutup wajahnya.
Mereka mengangguk-angguk kecil dan kembali melanjutkan memakan makanan mereka.
Aurora mencuri pandang ke arah meja di sebelahnya dan mengedarkan pandangannya mencari seseorang tapi orang yang dicari tidak ada.
Felix yang melihat Aurora memerhatikan meja mereka merasa sedikit percaya diri.
__ADS_1
"Guys, lihat itu cewek" ujar Felix menunjuk Aurora dengan dagunya.
Mereka semua menoleh dan melihat meja yang berisikan lima orang gadis cantik.
"Terus apa hubungannya?" tanya Zayn
"Lo lihat enggak cewek yang rambutnya di kepang dua itu!" ujar Felix.
"Cewek yang mana? Perasaan ada dua cewek yang rambutnya kepang dua" balas Reza yang mencuri pandang.
"Bukan sih cewek culun yang pakai kacamata tapi gadis itu" ucap Felix mengarahkan jari tangannya ke arah Aurora.
Mereka melihat Aurora dan sedikit tersihir ketika melihat Aurora yang tersenyum dan tertawa.
"Aduh jodoh gue cantik amat!" ujar Reza menopang kedua pipinya.
"Pala lu itu jodoh lo yang pasti itu milik gue" saut Risky penuh percaya diri.
"Enggak usah kepedean lo semua, itu cewek milik gue!" timpal Felix dengan nada penuh penekanan.
"Yakin? Bukannya itu cewek yang ditolong sama Galaksi?" saut Zayn.
"Gue kok baru sadar kalau itu cewek pernah main jambak-jambakan sama Helen" sambung Reza.
"Tapi sayang pertengkaran itu dihentikan Galaksi, kan"
"Dia begitu cantik tapi sayang gayanya macam orang kampung" timpal Vino yang daritadi diam dan tidak ingin menanggapi obrolan mereka.
"Woi Vino lo daritadi diam tapi sekali bicara bisa menusuk hati orang" ucap Zayn.
"Tapi yang dikatakan Vino itu benar, sepertinya itu cewek mudah ditaklukkan" ujar Felix tersenyum smirk memandang Aurora.
"Yakin?" tanya Zayn mengangkat satu alisnya.
"Maksud lo?" tanya Felix balik.
"Gue rasa itu cewek bukan seperti mantan-mantan lo yang goblok dan gampang terayu dengan gombalan lo yang murahan" jelas Zayn seraya memasukkan bakso ke mulutnya.
"Buktinya aja itu cewek pernah main jambak-jambakan sama Helen" timpal Reza.
"Kalaupun lo ingin jadikan dia mantan lo yang ke berapa.....?" jeda Risky yang mengingat mantan-mantan Felix.
"Gue jamin pawangnya akan bertindak" timpal Risky menunjuk para gadis yang duduk di dekat Aurora.
"Masih yakin bro?" ucap Zayn remeh.
"Of course bro, dalam kamus gue tidak ada satu pun cewek yang pernah nolak gue" ucap Felix percaya diri.
"Kalau gitu sampari sana" tantang Vino.
"Ok" balas Felix melangkahkan kakinya menuju meja tempat Aurora dan lainnya berkumpul.
Aurora dan lainnya asik mengobrol sembari memakan makanan mereka, tatapan mereka langsung tertuju pada Felix yang berdiri di dekat mereka.
"Kak Felix, ada apa?" tanya Shawnette berbasa-basi.
"Tidak ada apa-apa,kalian lanjutkan saja aku memiliki urusan dengan gadis ini" balas Felix yang sudah menyentuh kepangan Aurora.
Mereka melihat Aurora begitu khawatir jika terjadi apa-apa dengan Aurora, tapi orang yang dikhawatirkan terlihat biasa saja.
Aurora tidak menunjukkan adanya pergerakan darinya, ia masih fokus memakan baksonya.
Felix mencium aroma rambut kepang Aurora, "kau begitu cantik, aku tidak pernah menemukan gadis secantik dirimu! Jika kau mau kau bisa menjadi kekasihku" ucapnya lantang yang berhasil membuat Aurora jadi pusat perhatian.
Para siswi melihat Felix yang menembak Aurora merasa sedikit panas dan iri terhadapnya dan membayangkan Felix mengatakan itu pada mereka.
"Siapa gadis itu sih sampai buat Felix aku tergoda sama dia?"
"Paling itu cewek cuma dijadikan mainan"
"Pasti kak Felix ingin mainin itu cewek"
"Pasti itu cewek yang duluan goda Felix"
"Cih...masih adik kelas aja udah murahan"
Semua orang yang berada di kantin membicarakan Aurora dan Aurora bisa mendengar orang-orang mulai membicarakan yang tidak benar tentangnya.
Aurora menggenggam garpu begitu kuat di tangannya, bisa dilihat dari wajahnya dan matanya yang sudah memerah menahan amarah.
Felix tanpa rasa dosa sama sekali langsung memberikan kecupan di pipi Aurora, "you like it" ucapnya tersenyum smirk.
__ADS_1
Aurora langsung berdiri dari duduknya dan melayangkan tangannya pada pipi Felix.
Plak....
Semua orang yang melihat itu tidak percaya dengan apa yang dilakukan Aurora, bagaimana bisa ia menampar salah satu anggota Vanostra Evil yang dikenal memiliki kekuasaan.
Felix menyentuh pipinya bisa dilihat terdapat bekas tamparan, Felix tersenyum kecut dan menyetuh dagu Aurora, "kau tahu tidak ada satu pun gadis yang pernah memperlakukan aku seperti ini" ucapnya dingin.
Aurora langsung menepis tangan Felix dari dagunya dan melayangkan pisau di bawah dagu Felix, "aku sangat beruntung karena aku adalah orang pertama yang memberikan tamparan pada wajahmu yang sombong itu" ucapnya tidak kalah dingin.
"Aku akan memaafkanmu jika kau mau melakukan apa yang ku inginkan, let's making love with me" bisik Felix di telinga Aurora.
Aurora merasa harga dirinya sedikit terhina, ia langsung menancapkan pisau itu tepat di dadanya Felix, tidak ada rasa sakit sama sekali dari wajah Felix seakan-akan ia sudah terbiasa dengan tusukan.
"Aku memang bukan orang yang memiliki kekuasaan seperti kalian, tapi maaf aku tidak sebodoh mantan-mantan kakak" ucap Aurora tegas dan melepaskan pisau dari dada Felix.
Aurora melangkah kakinya pergi meninggalkan kantin, semua orang di kantin fokus memperhatikan Aurora, bahkan ada satu kata yang pantas untuk Aurora yaitu, keren.
Setelah kepergian Aurora, atmosfer kantin terasa suram dan hawa dingin yang berhasil membuat bulu kuduk merinding itu semua disebabkan oleh
teman-teman Felix yang langsung menghampirinya dan memberikan beberapa pertanyaan untuknya.
"Woi, are you ok?" tanya Zayn sedikit khawatir.
"I'm fine" jawab Felix.
"We must go to hospital right now" ucap Chiko.
"Itu tidak perlu, kalian bisa lihat gue baik-baik aja, kan?" ucap Felix berharap temannya yakin dan tidak perlu mengkhawatirkannya.
"Ok, tapi kita tetap akan ke dokter" putus Zayn tanpa ada ada penolakan.
Felix pasrah saja dengan perintah Zayn, bagaimanapun ia tetap harus ke Dokter, karena Aurora menusuk dirinya begitu dalam, ia akui Aurora begitu hebat sampai ia bisa merasakan nyeri dan perih pada dadanya.
"Lix, gue enggak sangka itu cewek berani juga" ucap Reza.
"Ini pertama kalinya lo diperlakukan seperti itu sama cewek" sambung Risky.
"Gue jadi penasaran sama itu cewek, mungkin gue harus terimakasih karena itu cewek mau nolak lo Lix" seloroh Chiko.
"Lo enggak ada gitu niat mau balas itu cewek?" tanya Vino.
"Tunggu, gue pikir-pikir dulu" balas Felix santai.
Mereka mengambil ancang-ancang pergi meninggalkan kantin tapi sayang itu terhenti, karena kedatangan
Shawnette dan yang lainnya yang berdiri di hadapan mereka.
Felix mengerutkan dahinya, "Nette, ada apa?" tanyanya.
"Kak Felix, apa kakak enggak punya malu!" ucap Shawnette keras.
"What you say?" balas Felix mengangkat satu alisnya.
"Bagaimana kakak bisa melakukan hal sembrono seperti itu pada Aurora? kakak tahu itu hal yang sangat tidak sopan, kan!" ujar Shawnette penuh penekanan.
"Nette, biasa saja kali! Ini bukan hal yang biasa, aku sering melakukannya"
"Walaupun kakak sering melakukannya tapi jangan melakukan hal itu pada Aurora, jika kakak menginginkan itu cari saja perempuan lain asal jangan Aurora" teriak Shawnette lantang.
Shawnette pergi meninggalkan kantin diikuti oleh teman-temannya, sebelum mereka pergi mereka melayangkan tatapan tajam pada Felix dan lainnya yang terdiam dan melihat punggung mereka menghilang dari penjuru kantin.
"Gue enggak sangka, kalau Shawnette berani teriak sama lo" ujar Vino tertawa.
"Gara-gara itu cewek, Nette sampai teriak sama gue" ucap Felix.
"Lix, itu cewek adalah perempuan pertama yang menolak lo, kan?" tanya Vino.
"Yeah, namanya akan segera tertulis di buku sebagai cewek pertama yang berani menolak Felix" ledek Chiko.
"Itu cuma bertahan sebentar, gue akan buat itu cewek yesal karena pernah nolak gue" ucap Felix dengan mata yang menyala.
"Gue merasa tertarik dengan itu cewek" ucap Zayn dalam hatinya yang tersenyum kecil.
TBC
Don't forget to vote and comment
Follow Ig author tasya_1438 dan akun tiktok author tasya_1438.
Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian dan juga kata-kata penyemangat agar author rajin update
__ADS_1