
Seorang guru yang berjalan dengan menggunakan high heels dia berjalan begitu elegan dan juga jangan lupakan sebuah buku yang selalu dia bawa, semua murid menyebut buku itu sebagai buku keramat karena isi dari buku itu adalah kesalahan yang dilakukan oleh murid-murid.
Guru itu adalah ibu Jennie selaku guru BP dia datang ke kantin dengan seorang gadis yang baru saja Shawnette botakin kepalanya, "Siapa yang melakukan hal ini padanya?" tanya ibu Jennie sedikit berteriak agar semua orang bisa mendengarkannya.
Shawnette yang seperti orang tidak memiliki dosa begitu mudahnya mengangkat tangannya tinggi, "saya melakukannya bu" ujarnya.
Bu Jennie memandang Shawnette dan menghembuskan nafasnya, "apa kau bisa menjelaskan apa yang baru saja kamu katakan?" ujarnya tegas.
"Buat apa dijelaskan lagi bu, semua udah jelas sekarang" balas Shawnette.
"Baik tidak ada yang akan dijelaskan lagi tapi kamu bisa milih membersihkan toilet selama seminggu atau panggilan orang tua?" Ujar bu Jennie dengan nada serius.
"Kalau boleh jujur saya lebih milih panggilan orang tua bu" jawabnya begitu mudah.
"Baik, cepat hubungi orang tuamu sekarang dan jumpai ibu hari ini" perintah ibu Jennie.
Aurora tidak terima dengan keputusan itu dia mengangkat suaranya, "Ibu gak bisa gitu dong! Yang salah disini bukan Shawnette tapi mereka" ucapnya keras dan menunjuk Helen.
"Ibu tidak melihat mereka melakukan apa-apa jangan menuduh orang tanpa bukti" ujar Jennie dengan ekspresi datar.
"Cih... jangan menuduh orang tanpa bukti, apa ibu tahu selama ini apa yang telah mereka lakukan?" Aurora menghentikan kalimatnya lalu melanjutkannya, "apa ibu tahu jika selama ini mereka telah membully kak Citra hanya karena dia korban pemerkosaan asal ibu tahu" teriak Aurora keras.
Citra yang disebut namanya tidak bisa menghentikan air matanya keluar, dia meremas dadanya, ibu Jennie terdiam untuk beberapa saat.
"Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu sopan santun? Apa seperti ini bicara terhadap guru?" ujar Jennie sedikit berteriak.
"Tapi maaf bu, saya tidak punya orang tua tapi seenggaknya saya punya hati nurani dengan membela orang yang lemah" ujar Aurora menatap tajam Jennie.
Ibu Jennie bungkam mendengar perkataan Aurora, dia mengalihkan pandangannya dari Aurora tapi dia malah melihat tangan Galaksi yang berdarah.
"Galaksi kenapa dengan tanganmu?"tanya Jennie.
"Karena saya sedang membela orang yang lemah bu" jawab Galaksi persis seperti Aurora katakan.
Ibu Jennie menghembuskan nafasnya kasar dan mengelus dadanya agar dia bisa menahan sedikit emosinya, dia teringat perkataan yang baru saja Aurora katakan.
Ibu Jennie menatap Citra dengan pandangan serius, "Citra jawab pertanyaan ibu secara jujur"ujarnya.
Citra mengangguk kepalanya dan masih menunduk ke bawah.
"Citra, apa benar jika selama ini kamu dibully?" tanya Jennie serius.
Citra tidak menjawab pertanyaan bu Jennie, dia memandang Helen yang sudah menatap dirinya tajam, dia takut untuk menjawab pertanyaan bu Jennie.
"Aku takut" cicit Citra.
Aurora melihat Citra yang memandang Helen bisa dia simpulkan mungkin Citra ketakutan, Aurora mendekati Citra dan menggenggam tangannya.
"Jangan takut kakak tidak sendiri"ujar Aurora menampilkan senyum
Citra melihat tangan Aurora yang menggenggam tangannya membuat dia merasa ketakutannya sedikit berkurang. Citra mengangkat kepalanya dan menjawab pertanyaan bu Jennie, "Iya itu semua benar selama ini saya dibully oleh mereka" ujarnya sedikit berteriak dan menunjuk Helen.
Helen yang merasa terpojokkan tentu saja dia mencari pembelaan, "enggak,itu semua bohong bu"balas Helen.
"Tidak usah berbohong dan segera panggil orang tuamu," ujar bu Jennie berat.
"Jadi orang tua saya tidak perlu datang kan bu?" tanya Shawnette girang.
"Tetap datang apapun alasannya orang tuamu harus datang hari ini," ujar bu Jennie tersenyum pada Shawnette.
Ibu Jennie pergi meninggalkan kantin tapi semua orang yang di kantin masih menatap mereka, Helen menatap tajam Citra lalu mendorongnya untuk saja Aurora di sampingnya jadi dia tidak terjatuh.
"Maksud lo apa hah bilang ke bu Jennie jika gue ngebully lo?" tanya Helen berteriak.
"Karena seorang korban harus mencari keadilan," jawab Citra juga tidak kalah teriak.
"Udah berani ya lo sama gue"
"Beranilah, gue sempat nyesel karena pernah takut sama lo tapi yang ada lo aslinya mental tempe" ejek Citra.
Helen menarik rambut Citra begitu kuat, Citra tidak tinggal diam dia langsung membalas Helen tapi tidak dengan menarik rambutnya melainkan dia memberikan pukulannya pada perut Helen sehingga membuatnya terjatuh.
"Udah kak hajar terus" teriak Xylona memberikan semangat pada Citra
Helen berdiri dan membalas Citra dan terjadilah aksi baku hantam antara mereka berdua, Citra menghajar Helen membabi-buta mungkin setiap pukulan yang diberikan terdapat kemarahan dan kesedihan di setiap pukulan.
Ibu Jennie datang kembali ke kantin ketika mendengar dari tukang bersih bahwa terdapat perkelahian, ibu Jennie menghembus nafas kasar dan memijit pelipisnya.
"Berhenti" perintahnya dia mendekat dan berusaha memisahkan mereka berdua, bukannya berhasil memisahkan mereka berdua yang ada Bu Jennie malah terkena pukulan dari Helen di hidungnya.
__ADS_1
"Aduh hidung mancung ku malah pesek" rengek bu Jennie mengusap hidungnya.
Ibu Jennie sudah mengeluarkan tanduk dari kepalanya dia langsung menarik Helen mundur ke belakang, Citra berhenti memberikan pukulannya.
"Kalian berdua baru ibu tinggalkan bentar untuk menelpon orang tua kalian bukannya telpon malah jambak-jambakan enggak jelas," teriak Bu Jennie tenggorokannya yang sudah kering tapi dia harus melanjutkan kalimatnya "kalian semua ikut ibu,"perintahnya. Ia beralih menatap Shawnette "termasuk kamu juga" tunjuk ibu Jennie.
"Saya Bu?" tanyanya menunjukkan dirinya.
"Enggak, udah tahu masih nanya. Cepat jalan," ucap Bu Jennie.
Mereka bertiga mengikuti ibu Jennie ke ruangannya, dapat dilihat dari ekspresi Shawnette yang terlihat biasa saja dan Citra yang merasa puas, sedangkan ekspresi Helen menunjukkan protes.
Aurora memandang darah yang menetes dari tangannya Galaksi, dia langsung menarik Galaksi.
Galaksi mengerutkan keningnya Aurora yang akan membawanya ke suatu tempat Galaksi tidak ada bertanya dan protes.
Ada sekumpulan pria yang memandang pertengkaran itu begitu santainya seraya memakan gorengan.
"Gue enggak sangka Citra jago berantam juga," celetuk Vino.
"seandainya setiap hari ada pemandangan seperti ini pasti gue betah," ujar Zayn.
"Jika setiap hari seperti ini maka dijamin Bu Jennie stress," celetuk Felix.
"Bagus dong seenggaknya gue enggak perlu dengar teriakan bu Jennie yang indah," seloroh Chiko.
"Coba aja semua cewek kalau berantem main aduk tonjok daripada mulut dan berkoar-koar di sosmed mungkin dunia lebih adem," ujar Reza.
"Tapi gue juga enggak sangka ternyata Shawnette bar-bar juga" saut Chiko.
"Gue pikir itu anak anti berantem dan ribut tapi nyatanya itu anak malah botakin rambut anak orang," saut Felix
"Neng Shawnette memang cocok jadi pacar bang Chiko" ujarnya percaya diri.
Mereka memasang ekspresi jijik melihat Chiko yang terlalu percaya diri.
"Yakin? Lo macam gak tahu aja pawangnya" saut Risky.
"Gak usah ingatin gue deh" ucap Chiko ketus
"Itu cewek yang tadi nampar Helen siapa sih namanya?" tanya Risky.
"Bukannya itu cewek yang hampir ditabrak Galaksi kemarin" celetuk Zayn.
"Yang tadi itu ayang beb gue" teriak Felix histeris.
"Woi Felix teriakkan lo macam anak perawan aja" saut Reza.
"Gimana gue enggak teriak ternyata itu cewek ayang beb gue" ujar Felix.
"Felix sejak kapan itu jadi ayang beb lo?" saut Risky.
"Mulai hari ini itu cewek milik gue" ujar Felix.
"Yakin? Gue rasa itu cewek yang ada jijik kali lihat lo" celetuk Vino.
"Kampret" balas Felix.
"Lo semua enggak ada yang bingung apa?" tanya Vino.
"Bingung?"
"Maksudnya gini lo enggak ada bingung gitu kenapa Galaksi ikut campur perkelahian tadi" ujar Vino.
"Iya gue juga baru sadar" saut Reza.
"Biasanya itu anak masa bodoh dengan sekitar terutama sama Helen" saut Ciko.
"Tadi aja gue barusan lihat itu cewek narik Galaksi" saut Risky.
"Apa ada sesuatu antara mereka berdua?" celetuk Vino.
"Bisa jadi" balas mereka semua
Mereka berjalan dan sampai di UKS Aurora membawa Galaksi dan meminta kepada petugas yang berada di UKS, petugas itu memberikan kotak P3K, Galaksi duduk di atas brankar.
__ADS_1
Pertama Aurora menyapu serpihan kaca dari tangan Galaksi , ia begitu teliti melakukannya, kemudian dia membersihkan luka dengan alkohol, Galaksi memandang wajah Aurora dan berhasil membuatnya menarik sudut bibirnya.
"Kenapa kau mau terlibat dengan urusan Helen?" tanya Galaksi.
"Aku gak suka aja cara Helen memperlakukan kak Citra, dari caranya seperti itu sama aja dia merendahkan kaumnya sendiri" balas Aurora membalut luka Galaksi, "oh iya kenapa kakak membela aku ketimbang Helen?" tanyanya.
"Sama sepertimu yang membela kaum wanita."
"Kakak bohong"
Galaksi mengangkat satu alisnya "maksudnya?" tanyanya.
"Jika kakak membela perempuan pasti kakak tidak akan tinggal diam aja melihat Helen yang membully kak Citra"
Galaksi bungkam dengan perkataan Aurora, ia akui itu memang benar dia tidak pernah ada niat ingin membela atau ikut campur.
"Betulkan? buktinya aja kakak terdiam"
"Yang kau katakan memang benar"
"Tapi aku tidak masalah karena berkat kakak botol kaca itu tidak melukai kepalaku tapi maaf kakak harus terluka"
"Ini hanya luka kecil bukan air keras" ujar Galaksi yang tidak tahu apa yang baru saja dia katakan.
Aurora menundukkan kepalanya "maaf dan terimakasih" ujarnya beranjak dari brankar.
Aurora melangkah kakinya keluar dari UKS dan Galaksi ia malah memandang punggung Aurora yang menghilang dibalik pintu UKS.
"Kau tahu aku sangat tertarik dengan mu" gumam Galaksi mengangkat jaket yang berada pada badannya dan mencium aroma yang ada pada jaket itu.
**TBC**
**Don't forget to vote and comment**
**Follow Ig author tasya\_1438 dan akun tiktok author tasya\_1438**.
**Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian**.
**See you**
__ADS_1