Fille Forte

Fille Forte
Gelitik


__ADS_3

Galaksi melihat-lihat kamar Sean yang di dominasi warna biru dan tempat tidur yang bergambarkan karakter Naruto, bisa ia simpulkan anak kecil di depannya adalah pecinta anime negeri sakura.


Sean mengeluarkan buku gambar dan pensil warnanya, ia meletakkannya di atas tempat tidur.


"Kak anbu sini" ajak Sean.


Galaksi mendekat dan duduk di kasurnya Sean, ia menatap dan mengangkat satu alisnya.


"Sean, ingin buat apa?"tanya Galaksi lembut.


"Kak anbu bisa ajarkan Sean menggambar?" tanya Sean.


"Bisa sini pensilnya" jawab Galaksi mengulur tangannya meminta pensil.


Sean memberikan pensil ke tangan Galaksi, ia melihat Galaksi yang sudah membuat garis-garis dan bentuk di kertas, pertama Galaksi membuat bentuk wajah dan rambut, kemudian dia membentuk mata, hidung, dan sentuhan terakhirnya kumis kucing yang ada di pipi Naruto.


"Kak anbu hebat!" teriak Sean girang bertepuk tangan.


"Bagus kan gambar kakak" ujar Galaksi mengibas rambutnya.


"Kak anbu bisa buat gambar kakak?" tanya Sean sedikit bersemangat.


Galaksi menggaruk tengkuknya dan senyum cengengesan, "maaf kakak gak bisa"


"Sean pikir kak anbu bisa" ujar Sean lesu mengerucutkan bibirnya.


Galaksi tidak tahan melihat pipi gembul Sean yang memerah malah menariknya.


"Kak anbu, pipi Sean jangan ditarik nanti Sean enggak ganteng lagi" protes Sean.


"Bagus dong" ucapnya mengerjai Sean.


"Kak anbu" teriak Sean keras.


Aurora berdiri bersandar pada pintu kamar, ia menggeleng kepalanya dan tersenyum tipis melihat dua orang di depannya yang berbeda usia.


"Ayo kita makan" ujar Aurora keras agar mereka bisa mendengar suaranya.


Mereka memandang Aurora yang berdiri bersandar pada pintu, Sean berdiri dan langsung berlari ke Aurora dan memeluknya.


"Sean, kenapa sayang?" tanya Aurora mengelus surai rambut Sean.


"Kak anbu jahat masa pipi Sean ditarik nanti Sean gak ganteng lagi gimana?" ujar Sean dengan suara khas anak-anak.


Galaksi dan Aurora malah tertawa mendengar suara Sean yang imut, Galaksi berdiri dan langsung mengangkat tubuh Sean.


"Tadi Sean bilang kakak jahat, ya kan?" ujar Galaksi.


Sean mengangguk kepalanya, "iya kak anbu jahat".


Galaksi malah menggelitik telapak kaki kecil Sean dengan tangannya, Sean tertawa menahan rasa geli.


"Kak anbu geli" ucap Sean yang tertawa.


Galaksi terus menggelitik telapak kaki Sean, Aurora yang merasa Sean sudah kelelahan mengambil ahli menggendong Sean.


"Sudah cukup bermain sekarang waktunya makan" ujar Aurora.


Mereka berjalan ke arah dapur, Aurora menarik kursi untuk tempat Galaksi duduk, Aurora memasak mie instan dengan telur di atasnya.


"Maaf kak, jika makanannya sederhana!" ujar Aurora kikuk.


"Tidak apa-apa, aku malah suka makan mie instan apalagi yang goreng" balas Galaksi yang sudah memakan mie dengan lahap.


Aurora mengernyitkan dahinya, "Kak Galaksi lapar ya sampai semuanya kakak bilang enak?" tanyanya.


Galaksi malah tertawa mendengarnya, Aurora mengangkat satu alisnya melihat Galaksi yang malah menertawakan dirinya.


"Memang ada yang lucu kak" tanya Aurora datar.


"Gak ada sih, kau bingung kenapa aku bilang mie ini enak?" tanya Galaksi mengangkat mie dengan garpu.


"Iya"


"Kau tahu mie instan adalah makanan favoritku" ujar Galaksi.


"Bukannya makanan seperti ini biasanya tidak dimakan oleh orang kaya?" tanya Aurora.


"Aurora... Aurora, pasti kebanyakan nonton series ikan terbang yang ceritanya orang kaya yang makan roti waktu sarapan dengan jus jeruk dan baru duduk lima menit sudah bilang aku sudah terlambat, habis itu dia minum jus sedikit" jelas Galaksi.


"Kok kakak tahu?"


"Jelaslah, orang setiap hari pelayan di ruman nonton ikan terbang"


"Kak anbu tahu kakak kalau nonton ikan terbang ada yang ganggu pasti kakak macam kucing garong" saut Sean


"Gak ada, kakak gak pernah gitu ya" elak Aurora


"Sean, kasih tahu kakak Rora itu gimana?" pinta Galaksi pada Sean.


"Kakak hobinya pakai bedak sama nonton ikan terbang" jawab Sean spontan.


"Galak enggak?" tanya Galaksi lagi.


"Galak, waktu nonton ikan terbang kakak macam kucing garong" ujar Sean semangat.


Wajah Aurora sudah memerah menahan emosi agar dirinya tidak mengeluarkan tanduk gaib dari kepalanya, ingin sekali dia menutup mulut dua manusia yang berada di depannya.


"Kak anbu lihat muka kakak sudah merah" ujar Sean tertawa.


"Mungkin sebentar lagi dia akan mengeluarkan tanduknya, takut nggak?" seloroh Galaksi.


"Sean takut" balas Sean.


"Waktu kakak hitung 1 sampai 3 Sean harus lari ya!" ujar Galaksi.

__ADS_1


Sean mengangguk kepalanya, "baik kak anbu".


Galaksi mulai menghitung, " satu....dua....tiga....Sean lari sebentar lagi ada banteng ngamuk" teriaknya.


Sean dan Galaksi mulai berlari, Aurora masih bengong dan mencerna apa yang terjadi, setelah berpikir dia paham dan mulai mengejar mereka.


"Sean.....kak Aksi....!" teriak Aurora nyaring


Mereka malah main kejar-kejaran seperti kucing dan tikus, Galaksi malah berlari di atas meja dan Sean yang berlari di sekitar sofa, mereka masih saling mengejar satu sama lain.


"Kakak tangkap Sean" teriak Sean.


Aurora berhenti dan mengatur nafasnya sebentar, ketika dia merasa cukup ia kembali mengejar Sean dan Galaksi.


Bisa dilihat keringat sudah membanjiri tubuh mereka, mereka lelah dan berbaring di ruang tamu yang cukup luas, Sean berada di tengah mereka selayaknya sebuah keluarga harmonis.


"Kakak, Sean capek" keluh Sean.


"Sama, kakak juga" balas Galaksi yang mengatur nafasnya.


"Makanya jangan nakal" ujar Aurora menatap Sean tajam.


Galaksi memberikan kode kepada Aurora melalui gerakan kecil tangannya, dia bisa mengerti kode Galaksi langsung mulai menggelitik tubuh kecil Sean.


"Hihi.... geli" ujar Sean.


Galaksi dan Aurora menggelitik tubuh Sean, bukan Sean saja Aurora mulai menggelitik tubuh Galaksi.


"Aurora udah" ujar Galaksi tertawa.


"Ini hukuman buat kak anbu" ucap Sean mulai menggelitik tubuh Galaksi.


Mereka saling menggelitik satu sama lain, mereka tertawa bahagia, Galaksi merasa sedikit hangat dan merasa tidak pernah tertawa selepas ini, ia memandang senyum Aurora dan Sean.


"Mulai sekarang aku akan melindungi kalian" ucap Galaksi mantap dalam hatinya.


Galaksi melihat langit yang sudah malam melalui jendela, dia beranjak dari duduknya, Aurora mengangkat satu alisnya dan melihat Galaksi yang membereskan barang-barangnya.


"Kakak mau kemana?" tanya Aurora.


"Maaf Ra, tapi aku harus pulang ini sudah malam" jelas Galaksi.


"Kak anbu mau pulang? Jangan disini aja" pinta Sean.


Galaksi menyamakan tingginya dengan Sean, ia menyentuh dan mengacak rambut Sean, "maaf kakak harus pulang! Tapi, kakak janji akan datang lagi kemari" ucapnya.


"Janji?" tanya Sean yang mengulurkan kelingkingnya.


Galaksi menautkan kelingkingnya dengan Sean, "janji".


" Sean disini dulu kakak mau antar kak Aksi" ujar Aurora yang dibalas anggukan kecil oleh Sean.


Aurora dan Galaksi keluar, mereka berjalan tidak secanggung seperti tadi, mereka kadang mengobrol dan Galaksi yang menggombal Aurora.


Mereka tiba di tempat parkir, Galaksi duduk di atas motor dan memakai helm, sebelum pergi dia memandang Aurora.


"Jangan lupa sebelum tidur sebut namaku maka kau akan bermimpi indah" gombal Galaksi.


"Jika sebut nama kakak bisa buat mimpi indah, maka kakak juga harus sebutkan nama aku biar kakak bisa memimpikan gadis cantik seperti aku" balas Aurora menggombal Galaksi.


Mereka tertawa mendengar gombalan mereka, Galaksi mulai menjalankan motornya dan tidak lupa berpamitan pada Aurora.


"Ra, aku pulang ya!" ujar Galaksi.


"Hati-hati kak" balas Aurora.


Aurora memandang motor Galaksi yang semakin menjauh dari pandangannya, dia tersenyum dan menyentuh dadanya yang berdegup kencang.


"Mungkin aku sudah mulai jatuh cinta sama kak Aksi" ujarnya tersenyum.




Galaksi mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, ia bisa merasakan angin malam yang menusuk kulit putihnya.



Dibalik wajahnya yang tertutup oleh helm, ia tersenyum dan bisa dilihat raut wajahnya yang bahagia.



Galaksi tiba di kediamannya, dia memarkir motornya dan masuk ke dalam, dia melihat ibu dan ayahnya yang sedang menunggu dia di ruang keluarga.



"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Vina lembut.



"Iya ma, maaf Galaksi pulang malam soalnya Galaksi....."



Belum siap Galaksi menyelesaikan kalimatnya, Adam sudah menyambung, "kau pergi ke rumah seorang gadis bukan?" tanya Adam.



Galaksi mengangkat satu alisnya, "darimana papa tahu?" tanyanya.



"Kau lupa papa selalu memerintahkan seseorang untuk mengawasi kalian" Ujar Adam seraya meminum kopi.


__ADS_1


"Oh iya, aku lupa betapa susahnya menjadi anak orang kaya" seloroh Galaksi.



"Kau ke rumah seorang gadis? Siapa dia sayang? beritahu mama!" tanya Vina secara beruntun.



Galaksi memutar bola mata malas, ia begitu malas harus menjawab pertanyaan ibunya, sampai Adam membuka suaranya.



"Galaksi, ini sudah satu tahun sejak kejadian itu bukan?" tanya Adam.



Galaksi paham apa yang dimaksud ayahnya, ini tentang penyiraman air keras pada wajahnya, "Iya, ini sudah setahun" jawabnya.



"Istirahatlah besok kau harus bangun pagi-pagi karena besok kita akan ke Prancis" ujar Adam.



"Cuma kita berdua?" tanya Galaksi.



"Iya, cuma kita berdua, ibumu dan Shawnette tidak ikut" jawab Adam.



"Sayang, istirahatlah dan tidur" ujar Vina lembut.



Galaksi mencium pipi ibu dan ayahnya, dia naik ke atas dan meninggalkan mereka.



Vina memandang punggung anaknya yang naik ke atas, dia menghembuskan nafasnya kasar dan menatap intens suaminya.



" kau yakin dengan apa yang kau lakukan?" tanya Vina datar.



"Tentu saja aku yakin" balas Adam tenang.



"Kau tahu resiko operasi itu"



"Bagaimana lagi ini sudah keputusan putra kita, walaupun dia ingin melakukannya kita harus mencari pendonornya"



"Apa kau sudah menemukannya?"



"Aku belum berhasil menemukan pendonornya, ada seseorang yang ingin mendonorkan wajah dan sel jaringannya tapi sayang DNA-nya tidak cocok dengannya"



"Sayang, aku mohon kita lakukan yang terbaik buat putra kita" ujar Vina yang bersandar pada bahu suaminya



"Tentu saja aku akan melakukan terbaik" balas Adam mengelus surai rambut istrinya.



"Sayang, siapa gadis itu yang berhasil membuat Galaksi datang ke rumahnya?" tanya Vina.



"Dia murid di sekolah Galaksi, dan aku sangat tertarik padanya" balas Adam.



"Aku harap dia gadis baik untuk Galaksi"



"Aku akan mengawasi gadis itu mulai sekarang dan akan menguji dia apa dia layak masuk ke keluarga Phoenix" ujar Adam tersenyum yang sudah menyusun rencana.



**TBC**



**Don't forget to vote and comment**



**Follow Ig author tasya\_1438 dan akun tiktok author tasya\_1438**.



**Ayo berikan komentar kritik dan saran kalian**.

__ADS_1



**See you**


__ADS_2