Fille Forte

Fille Forte
Hukum


__ADS_3

Ting....Ting...


Bel berbunyi yang menandakan waktu istirahat telah selesai semua murid kembali ke kelas masing-masing tapi tidak dengan Galaksi and the geng.


"Kita mau kemana? Bosan gue di kelas," ujar Vino menopang dagunya.


" ke warnet aja," usul Chiko.


"Enggak. Bosan ke situ mulu," timpal Reza dan mereka mengangguk setuju.


"Jadi kita ngapain?" tanya Zayn sedikit ketus.


"Bagaimana cuci mata lihat adik kelas!" celetuk Felix dengan jiwa buaya.


"Dasar Playboy," umpat Galaksi.


"F*ck you" balas Felix.


"Udah jangan berantem, kalau mau ayo kita ke ring tinju," celetuk Reza.


"Pada kita berantem mending kita ke basecamp aja," timpal Zayn.


"I agree," balas Galaksi dan disetujui semua orang.


"Ayo cabut," ajak Felix.


Mereka semua beranjak dari kantin dan melangkahkan kaki menuju tempat motor di parkir.


Mereka menaiki motor mereka masingmasing ketika mereka ingin menghidupkan mesin motor tiba-tiba ada teriakan yang berhasil memekik telinga.


"MAU KEMANA KALIAN!" teriak Bu Jennie lantang.


Mereka diam dan berpura-pura menggaruk tengkuk yang tidak gatal sama sekali.


Bu Jennie merapikan kacamata, "JAWAB!" bentaknya kuat sembari menepuk penggaris rotan di tangannya.


"Anu Bu....kami cuma ingin ambil barang aja," ucap Felix setenang mungkin.


"Iya Bu, kami cuma mau ambil barang aja," timpal Chiko menyakinkan Bu Jennie.


Bu Jennie berjalan mondar-mandir sambil memandang mereka, "kalian sangka ibu percaya dengan alasan kalian! Kalian tahu alasan kalian begitu klasik. Orang tua kalian juga pernah bilang gitu ke ibu ketika mereka ketahuan bolos," ujarnya dengan mata tajamnya.


"Orang tua kita sungguh tidak kreatif!" decak Vino yang bisa didengar oleh telinga mereka.


"Bukan orang tua kalian yang tidak kreatif tapi kalian," ucap ibu Jennie.


"Kok kami Bu?" tanya mereka kompak.


"Siapa yang sekolah duluan kalian atau orang tua kalian?" tanyanya.


"Tentu saja orang tua kami Bu," balas mereka serentak.


"Jadi kalian tahu kan alasan kalian tidak kreatif. Oh ya parkir kembali motor kalian dan ikut ibu sekarang," perintah ibu Jennie tegas yang membuat mereka bergedik ngeri.


Mereka kembali memarkirkan kembali motor mereka dengan perasaan kesal, mereka berjalan mengikuti ibu Jennie yang tidak tahu akan memberikan hukuman apa terhadap mereka.


Ibu Jennie memberhentikan langkah kakinya, mereka juga ikut berhenti dan mengerutkan kening.


"Ibu, buat apa kita di lapangan?" tanya Zayn memandang sekitaran lapangan.

__ADS_1


"Pertanyaan yang bagus Zayn. Bisa kalian lihat bagaimana kondisi lapangan kita?" tanya Bu Jennie balik.


"Lapangan kita berserak bu, banyak daun yang berguguran," celetuk Chiko.


"Chiko pintar!" puji bu Jennie.


Chiko yang mendengar pujian dari Bu Jennie merasa percaya diri dengan membusungkan dadanya. Mereka yang melihat Chiko merasa jengkel.


"Karena lapangan kita kotor, jadi kalian semua wajib membersihkan lapangan ini sekarang!" perintah Bu Jennie tegas tanpa bantahan.


"Kok kami yang bersihkan bu! Ibu tahu enggak kalau mama saya tahu anak kesayangannya kecapean karena bersihkan lapangan, ibu pasti akan dapat peringatan dari mama saya," protes Felix.


"Silakan Felix. Ibu tidak takut cukup masalah kemarin saja yang buat ibu pusing. Jangan tambah lagi masalah ibu," balas Bu Jennie sedikit ketus.


Felix menghentakkan kakinya merasa jengkel dengan ibu Jennie yang tidak takut sama sekali dengan ancamannya. Mereka dengan perasaan dongkol terpaksa membersihkan lapangan itu, sembari membersihkan mereka akan mengeluarkan sumpah serapah untuk ibu Jennie.


... |||...


Murid-murid yang berada di kelas 10 MIPA 1 merasa sangat bosan mendengar penjelasan guru di depan.


Seorang pria yang sudah tua mengajar bahasa Indonesia dan jangan lupakan suaranya yang begitu kecil membuat siapapun yang mendengarnya pasti mengantuk.


Sudah kesekian kalinya Aurora menguap merasa bosan dengan pelajarannya.


Aurora mengangkat tangannya, "pak guru!" panggilnya.


Pak Regar memperbaiki kacamatanya, "apa?" tanyanya.


"Izin ke toilet pak," ucap Aurora malas.


"Udah sana pergi biar perlu enggak usah balik," balas pak Regar ketus.


Aurora mendengar perkataan ketus pak Regar memutar bola matanya malas dan memilih keluar dari kelas.


Xylona dan Shawnette yang melihat Aurora keluar yakin bahwa Aurora pasti membolos.


Xylona memandang Shawnette, "Nette, yuk!" ucapnya.


Shawnette langsung paham dengan perkataan Xylona langsung mengangkat tangannya, " pak!" panggilnya.


"Apa!" balas pak Regar ketus.


"Boleh ke UKS enggak? Kepala saya pusing pak," ucap Shawnette seraya memegang kepalanya.


"Kamu kira saya enggak tahu apa. Kamu ingin bolos kan? Jangan harap saya kasih keluar," putus pak Regar.


"Guru sialan!" umpat Shawnette menghentakkan kakinya.


"Terpaksa kita di sini sampai pulang," ucap Xylona meringis.


... |||...


Aurora berjalan dengan santai di koridor sekolah, ia merasa lega bisa keluar dari kelas dan tidak perlu mendengar penjelasan pak Regar yang begitu membosankan.


Aurora terus berjalan sampai telinganya menangkap suara berisik yang berasal dari lapangan. Aurora melihat sekumpulan gadis dan beberapa pria yang ia kenali.


"Aduh kak Felix keren amat!"


"Kak jadikan aku pacarmu"

__ADS_1


"Tengok Zayn sungguh berdamage sekali"


"Sampah aja kak Vino sapu apalagi pelakor"


Aurora memutar bola matanya malas mendengar pujian-pujian yang dilontarkan mereka pada Vanostra Evil. "Apa hebatnya sih mereka! Orang bodoh pun tahu mereka lagi dihukum," cibirnya.


Aurora melihat Galaksi yang sedang menyapu dan mengerutkan keningnya, "kak Aksi ngapain bersihkan lapangan?" tanyanya terheran-heran.


Aurora memilih turun ke lantai bawah agar ia bisa lebih mudah melihat Galaksi. Aurora berdiri di pinggir lapangan bisa ia lihat jelas keringat membanjir di seluruh tubuhnya.


Galaksi sekali-kali mengelap bulir keringat di pelipisnya, dan juga terkadang tangannya melindungi wajahnya agar tidak terpapar sinar matahari tapi tetap saja itu sia-sia.


Aurora memutuskan untuk ke kantin membeli beberapa botol minuman, setelah selesai Aurora kembali ke lapangan dengan tangannya memegang kantong plastik.


Aurora berjalan perlahan dan menyodorkan minuman di depan Galaksi, "ini kak minum dulu!" ucapnya.


Galaksi mengangkat kepalanya bisa ia lihat Aurora berdiri di depannya dengan menyodorkan minuman.


Galaksi menerimanya dan langsung meneguk minuman tersebut dalam sekali teguk.


"Kak pelan-pelan saja!" ucap Aurora khawatir Galaksi tersedak.


"Terimakasih Ra," ucap Galaksi menyinggung senyum yang berhasil membuat jantung Aurora berdebar.


Aurora merasa matahari begitu panas langsung melepaskan cardigan dan meletakkan itu di kepala Galaksi.


Galaksi menyentuh cardigan dan mengangkat satu alisnya, "Ra, ini...." belum sempat Galaksi menyelesaikan kalimatnya Aurora langsung menutup mulut Galaksi dengan jarinya.


"Hufts....kak Aksi diam aja dan biarkan cardigan itu di kepala kakak biar melindungi kakak dari sinar matahari," papar Aurora.


Galaksi menarik sudut bibirnya mendapatkan perhatian kecil dari Aurora, "makasih Ra," ucapnya.


"Kak Galaksi harus membalasnya."


"Balas dengan apa Ra?"


"Cepat kakak selesaikan dan aku akan beritahu kakak," ucap Aurora melangkah kakinya meninggalkan lapangan.


"Ra...." panggil Galaksi tapi Aurora tetap pergi.


Galaksi menyunggingkan senyumnya ketika melihat Aurora memilih duduk di bangku di depan kelas.


Aurora mengangkat kedua tangannya, "semangat kak!" teriaknya.


Galaksi mendapatkan semangat dari Aurora langsung bersemangat ingin menyelesaikan hukumannya.


Felix yang melihat pemandangan Aurora dengan Galaksi begitu tidak percaya bagaimana bisa gadis incarannya lebih memilih Galaksi daripada dirinya.


"Gue enggak salah lihat apa! Itu ayang beb gue ngapain ganjen sama Galaksi," decak Felix menghentakkan kakinya.


"Udah Felix mungkin lo kurang ganteng aja sampai itu cewek lebih milih Galaksi," celetuk Chiko.


"Apa lo bilang! Mau gue hajar" teriak Felix mengepalkan tangannya sehingga buku-buku tangannya memerah.


"Bisa diam enggak sih! Pada kalian bertengkar mending kalian kerjain ini biar cepat selesai," teriak Zayn tegas dan membuat mereka menghentikan perdebatan mereka.


Mereka melanjutkan hukuman dengan terpaksa, dan sekali-kali mereka akan mengumpat.


Seorang gadis yang berdiri sejak tadi memandang kesal dan tidak suka ke arah Galaksi dan Aurora, mengepalkan tangannya meremas botol minuman dan pergi meninggalkan lapangan dengan mencampakkan botol itu ke tong sampah.

__ADS_1


"Enggak ada yang boleh miliki Galaksi selain gue," ucapnya sedikit berteriak.


__ADS_2